MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Perusak suasana


__ADS_3

"Mbak, saya beneran adiknya. Kalau mbak tidak percaya, hubungi saja dia. Katakan saya menunggunya dibawah." ucap Dinda sedikit kesal. Ternyata para pegawai di perusahaan Dave orangnya sombong-sombong. Sangat cocok sekali dengan Bosnya.


"Udah deh nggak usah pura-pura. Sekarang kamu pergi saja dari sini. Pak Dave nggak bakalan mau menerima orang seperti kamu. Wajah aja kalah dari mbak Cindy." ucap pegawai itu mengusir.


Cindy? Siapa Cindy? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.


"Cindy siapa ya mbak?" tanya Dinda penasaran.


"Kamu nggak tau Cindy? dia pacarnya pak Dave. Udah-udah, pergi sana!" usir pewai itu lagi.


"Ada apa ini?" tanya Cindy yang tiba-tiba datang dan melihat tiga orang wanita sedang adu mulut.


Dua pegawai cewek itu langsung tersenyum kepada Cindy. "Maaf mbak Cindy, ini ada cewek yang ngaku-ngaku adiknya pak Dave." menunjuk kearah Dinda yang masih berdiri membisu.


Cindy menatap dan melihat keseluruhan. Pandangannya tertuju pada kotak yang dipegang Dinda. "Kamu Dinda?" tanya Cindy tersenyum.


Dinda sedikit bingung, bagaimana bisa Cindy pacarnya Dave atau tepatnya lagi pacar suaminya bisa mengenali nya.


Dinda mengangguk. " Iya, saya Dinda." ucap Dinda ragu-ragu.


"Kalian bagaimana sih? dia memang adiknya Dave. Sekarang kalian minta maaf sama dia. Buruan!" suruh Cindy kepada dua pegawai wanita tersebut. Dia tidak ingin ada yang berprilaku buruk kepada saudara pacarnya. Walaupun wanita tersebut hanya berstatus adik angkat Dave.


Dua pegawai itu saling menoleh dan menelan ludah. Sepertinya mereka telah menilai dan slah mengusir orang. Mereka berdiri bersamaan lalu mengulurkan tangan mereka untuk berjabat. "Maafin kami ya. Kami tidak tau kalau kamu beneran adiknya pak Dave." masih mengulurkan tangan.


Rasakan kalian. Itu akibatnya jika berani meremehkanku.


Dinda hanya menatap kedua tangan wanita itu dan tidak membalas dengan uluran tangan. "Udah saya maafin." berjalan nyelonong masuk setelah dibukakan pintu oleh satpam.


"Tunggu dong." panggil Cindy lalu merangkul bahu Dinda.


Dinda sedikit kaget. Kenapa wanita disebelahnya ini mau membantunya dan begitu baik kepadanya.


"Mbak siapa?" tanya Dinda lagi. Walaupun dia sudah tau nama orang disebelahnya setelah diberitahu oleh dua pegawai yang sombong tadi.


Melepaskan rangkulan dan mengulurkan tangan. "Perkenalkan, aku Cindy. Pacar kakakmu." memberi senyuman.


Bagaimana dia bisa mengenali aku?


Membalas dengan berjabat tangan. "Saya Dinda." balas Dinda singkat.


"Aku sudah tau." jawab Cindy.


"Mbak kenal denganku?" tanya Dinda penasaran.


Cindy tersenyum. "Aku memang tidak pernah bertemu denganmu. Tapi aku selalu mendengar namamu oleh mama Dave. Beliau yang memberitahu ku jika kau adalah adik angkat Dave."

__ADS_1


Ternyata mereka sangat dekat.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Cindy bingung.


"Ah, Dinda cuma mau ngantarin makan siang kak Dave." menunjuk kotak nasi yang dibawanya.


"Yaudah, ayo kita keruangan Dave. Kebetulan aku juga ingin menemuinya." menarik tangan Dinda untuk mengikutinya. Bukankah mereka memiliki tempat tujuan yang sama.


Pintu lift terbuka. Mereka keluar dari sana. Dinda terlihat sangat bingung dengan tempat itu. Disana hanya ada satu pintu. Apa disana ruangan Dave? Tapi kenapa hanya ada satu pintu saja? Apa memang tempat ini didesain khusus hanya untuk ruangannya saja?


Dinda mengikuti langkah Cindy sampai tepat didepan pintu ruangan Dave.


Dinda mencoba membuka pintu, namun pintu sama sekali tidak bisa terbuka.


"Kenapa pintunya susah sekali dibuka?" kesal Dinda.


Cindy hanya tertawa kecil melihat tingkah Dinda yang sedikit menggemaskan.


Pintunya pun memakai sidik jari mbak Cindy? Berarti mereka memang sangat dekat.


"Ayo buka pintunya!" suruh Cindy setelah dia menekan sidik jari.


"Kak Dave." panggil Dinda saat dia sudah membuka separuh pintu.


Dave mengembangkan senyum saat melihat Dinda datang. Namun senyumannya kembali pudar saat melihat seorang wanita yang mengekori Dinda dibelakang.


"Sayang, lihat aku datang bersama adikmu." ucap Cindy yang lalu memeluk Dave.


Dave sedikit kaget, namun dia terpaksa membalas pelukan tersebut. Dia melihat Dinda yang masih berdiri memberikan senyuman kepadanya.


Ternyata emang benar mereka pasangan kekasih. Itu berarti aku akan bisa bebas.


Cindy merasa sangat senang karena Dave membekas pelukannya. Itu berarti dia akan semakin dekat bisa kembali lagi bersama Dave.


"Kau bawakan makan siang ku?" melepaskan pelukan dan berjalan menghampiri Dinda.


"Ini kotak makan siang kakak." menyerahkan kotak makan kepada Dave.


"Letakkan disana!" menunjuk sebuah meja sofa.


"Baik." berjalan menuju tempat ditunjuk Dave dan meletakkan kotak nasi disana.


Sebaiknya aku pulang saja. Kan dia hanya memerintahkanku untuk mengantarkan makan siangnya saja. Apalagi sekarang ada pacarnya. Aku tidak ingin menjadi perusak suasana. Berjalan menuju pintu.


"Kau mau kemana?" tanya Dave saat Dinda berusaha membuka pintu.

__ADS_1


"Dinda mau keluar saja kak. Tugas Dinda sudah selesai. Pacar kakak kan sudah ada juga disini. Dinda nggak mau merusak suasana makan siang kakak." memberi alasan agar bisa keluar dari ruangan Dave. Sebenarnya dia merasa tidak betah berlama-lama bersama mereka.


Pacar? Apa wanita ini memberitahu kepada Dinda sebagai pacarku? Dasar tidak tau malu.


"Kau tidak boleh pergi. Kau harus tetap disini. Kita akan makan bersama-sama." cegah Dave.


Sebenarnya Cindy sedikit kesal karena Dave mencegah Dinda pergi. Padahal dia menantikan moment itu. Sekarang dia hanya bisa menerima. Tidak mungkinkan dia menolak ajakan Dave kepada Dinda. Sedangkan Dinda adalah adik Dave sekaligus calon adik iparnya.


"Dinda sudah makan kak. Kakak makan saja berdua dengan mbak Cindy." tolak Dinda lagi.


"Jangan membantah. Aku bilang ikut ya ikut." meninggikan suaranya karena kesal. Dinda sama sekali tidak bisa mendengarkan perintahnya.


Dinda kaget dan wajahnya sedikit pucat. "Baik kak." melangkahkan kaki kembali menuju sofa.


"Kamu kenapa galak sekali sama Dinda. Itu kan adikmu. Liat tu mukanya jadi pucat." menunjuk Dinda yang memang terlihat berubah mimik wajahnya setelah dimarahi Dave.


Apa aku membuatnya takut.


Dave melangkahkan kaki menuju sofa. Duduk dihadapan Dinda diikuti Cindy duduk menggandengkan tangan di lengan Dave.


Dinda hanya menatap. Tidak ada rasa terkejut dengan sikap Cindy. Karena memang Cindy pacar Dave dan itu hal yang wajar dilakukan oleh pasangan kekasih.


Dave tidak menepis tangan Cindy, dia hanya mengikuti permainan Cindy. Lagi pula dia tidak ingin Cindy mencurigainya.


"Kamu masak apa?" tanya Dave sambil membukakan kotak makan siangnya.


"Dinda cuma masak ayam kecap sama sayur asem." balas Dinda.


"Baunya enak sekali." mengibas-ngibas menciumi aroma masakan Dinda.


Mengulurkan sendok makan kepada Dinda. "Suap!" suruh Dave.


"Ha!" kaget Dinda. Bukan kah Dave punya tangan. Lagian masih ada pacarnya disebelah. Kenapa tidak menyuruh pacarnya saja yang menyuapai. kenapa juga harus dia.


Cindy buru-buru merampas sendok yang akan diberikan Dave kepada Dinda. "Biar aku saja yang suapi kamu makan. Kasihan kan sama adik kamu. Jangan jahat dong sama adik sendiri." marah Cindy.


Apa-apaan sih kamu Cindy. Aku hanya ingin disuapi oleh istriku. Bukan kamu.


"Yaudah, terserah kamu." ucap Dave terpaksa. Dia membukakan mulut saat Cindy menyodorkan nasi ke mulutnya.


Dengan terpaksa dia mengikuti kehendak Cindy. Itu hanya dia lakukan didepan Dinda saja. Dia tidak ingin orang lain tau jika Dinda adalah istrinya. Setidaknya dia merasa sedikit tenang karena Cindy menganggap Dinda sebagai adiknya. Begitupun Dinda yang tidak memberitahu siapapun jika dia adalah istrinya.


**BERSAMBUNG.....


JANGAN LUPA VOTE DAN RATE NYA YA TEMAN-TEMAN SEMUA.

__ADS_1


LIKE NYA JUGA JANGAN PELIT-PELIT😁**


__ADS_2