MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Bertemu Adit


__ADS_3

Dinda merasa sedikit gelisah. Sudah dua hari Dave tidak pulang ke apartemen nya. Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Kemana kak Dave. Kenapa dia tidak pulang?" mondar-mandir tidak tentu.


Sebenarnya dia sedikit bersyukur karena Dave tidak berada dirumah. Itu akan membuatnya lebih leluasa berada dirumah. Apalagi jika Dave ada, maka dia akan dengan mudahnya memerintah sesuka hati.


"Apa aku keluar saja? aku bosan disini terus." memutuskan untuk mengambil tas lalu pergi meninggalkan apartemen.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Dandi. Sekarang dia sedang duduk untuk istirahat.


"Ada apa Dinda?" tanya Dandi.


"Kau dimana? masih ditempat kerja?" tanya Dinda meyakinkan.


"Aku ditempat kerja. Ada apa?" tanya Dandi penasaran.


"Ah tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menemui mu." jawab Dinda ragu. Sebenarnya alasan dia menghubungi Dandi hanya ingin menemui Adit.


Dandi mengerutkan keningnya. Kenapa juga Dinda ingin menemuinya. Bukankah baru beberapa hari dia menemuinya. Apa mungkin hanya alasan mengatas nama kan dirinya agar Dinda bisa menemui Adit.


"Kau ingin menemui Adit kan?" tanya Dandi yakin. Sudah pasti Dinda ingin menemui Adit. Jika Dinda datang ketempat kerjanya, otomatis dia akan bertemu dengan Adit. Karena dia dan Adit berada ditempat yang sama. Hanya profesi saja yang berbeda.


Dinda menggigit bibir atasnya. Ada sedikit rasa takut jika nanti diketahui Dave. Tapi rasa rindunya lebih besar untuk saat ini. "I iya Dandi. Aku ingin menemui Adit." jawab Dinda jujur.


Dandi menghembus nafas. Sebenarnya tidak salah jika Dinda ingin menemui Adit. Apalagi mereka saling mencintai. Tapi disisi lain, Dinda sudah menjadi istri Dave dan sangat tidak baik jika perempuan yang sudah menikah menemui laki-laki lain.


"Dave sudah dua hari tidak pulang. Aku bosan dirumah terus." mencoba untuk membujuk. Dia tau pasti Dandi akan melarangnya.


"Apa? jadi kau hanya sendirian dirumah? kemana dia? kenapa dia membiarkan mu sendirian?" tanya Dandi sedikit marah dengan Dave.


"Aku tidak tau dia dimana. Bolehkan aku menemui Adit? aku kangen." jawab Dinda.


"Dinda, kamu itu istri orang. Tidak baik bertemu laki-laki lain diluar. Nanti kalau Dave tau gimana? nanti kamu juga yang harus menanggung akibatnya." Dandi mencoba memperingatkan.


"Kan dia nggak ada dirumah. Boleh ya?" pujuk Dinda lagi.


Dandi menghembuskan nafas. Dia sedikit frustasi melayani titah kembaran nya ini. Begitu susah dibilangin dan keras kepala.

__ADS_1


"Yaudah. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika Dave tau." jawab Dandi.


"Lagian kan Dave nggak tau Adit kerja di Bank. Makasih ya kembaran ku. Muah hahaha." buru-buru mematikan panggilan.


Dandi hanya menggelang-gelengkan kepalanya. Kembaran nya satu ini sangat pintar sekali merayu.


Dinda mempercepat langkahnya menuju taksi pesanannya. Dia begitu sangat hati-hati untuk melangkah. Takut jika nantinya pada anak buah Dave membututinya.


Tapi sepertinya Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Hari ini tidak tampak ada anak buah Dave yang memantau nya.


Selang 20 menit, Dinda pun sampai ditempat kerja Adit. Dinda turun dari taksi dan melangkahkan kaki dengan cepat menuju masuk kedalam Bank.


Hari ini para nasabah tampak sedikit lebih sepi dari hari biasanya. Dinda lalu melangkahkan kaki menuju meja penjaga yang pernah ditemuinya waktu itu.


Dia melihat sekeliling. Tidak tampak Dandi maupun Adit berlalu lalang. Mungkin saja mereka lagi melakukan pekerjaannya.


"Selamat pagi mbak. Masih ingat sama saya kan?" tanya Dinda mengingatkan wanita didepannya.


Wanita itu mengerutkan dahi. Ingatannya kembali ingat dengan sosok wanita yang pernah ingin menemui Adit.


"Kamu yang pernah kesini waktu itu kan? kamu yang ngaku-ngaku jadi adik pak Adit kan?" tanya wanita itu lagi. Dia ingat saat Adit mengatakan untuk lebih berhati-hati dengan orang yang ingin menemuinya. Apalagi mengaku-ngaku mengatasnamakan sebagai adiknya.


"Maaf mbak. Pak Adit berpesan agar saya lebih berhati-hati dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai adiknya pak Adit." kata wanita itu lagi.


"Mbak, saya beneran adiknya. Kalau nggak percaya, coba aja mbak tanya sendiri sama Aditnya." mencoba untuk menantang. Kenapa mereka tidak mempercayainya. Apa dia terlihat seperti seorang penipu yang suka mengaku-ngaku.


Tampak wanita itu berbisik pada teman disebelahnya. Sambil terus menatap Dinda dengan wajah sedikit curiga, wanita itu mencoba untuk menelpon sekretaris Adit.


"Nit, pak Aditnya ada?"


"Ini, ada wanita kemaren yang ingin.menemuinya lagi."


"Iya, katanya sih begitu."


"Baik." sambungan terputus.


"Sebentar ya mbak, sekretarisnya lagi nanya sama pak Aditnya. Apa dia bersedia menerima kehadiran mbak apa tidak." ucap wanita itu masih curiga.

__ADS_1


Selang beberapa menit, telepon kembali tersambung.


"Bagaimana Nit?" tanya wanita itu kepada sekretaris Adit.


"Oh gitu. Yaudah." menutup panggilan dengan wajah sedikit panik.


Setelah mendapat jawaban dari sekretaris Adit, ternyata wanita yang ingin menemui Adit benar-benar memang adiknya.


Menundukkan kepala karena malu. "Pak Aditnya ada di ruangan nya. Ada dilantai 3." ucap wanita itu. Ada rasa sedikit bersalah kepada Dinda.


Dinda hanya tersenyum melihat tingkah wanita itu yang tiba-tiba berubah. Dia sabar tau pasti wanita itu merasa sangat malu kepadanya. Apalagi setelah mengetahui apa yang dikatakannya tidaklah bohong.


"Terima kasih ya mbak. Kalau gitu saya keatas dulu. Jangan malu gitu. Saya memaklumi koq mbak." berjalan meninggalkan wanita itu yang tampakasih merasa bersalah.


Dinda sampai tepat didepan ruanagm Adit. Hatinya begitu berdebar ingin membuka pintu.


Kenapa dengan jantungku. Aku hanya ingin menemuinya bukan mau tawuran.


"Kak Adit?" sapa Dinda saat berhasil membuka pintu ruangan Adit.


Adit mengembangkan senyuman. Dia langsung beranjak dari duduknya dan segera berlari memeluk Dinda.


"Dinda, kakak kangen sekali sama kamu." ucap Adit memeluk Dinda erat.


"Dinda juga kangen sama kakak. Gimana kabar kakak?" melepaskan pelukan dan memegang kedua bahu Adit lembut.


"Kakak sangat tidak baik. Kakak sangat rindu sama kamu Dim." kembali memeluk Dinda.


"Kak, kak." menepuk-nepuk punggung Adit agar dia segera melepaskan pelukannya. Dadanya terasa sesak karena Adit memeluknya begitu kencang. Hingga dia kesulitan bernafas.


Adit yang tersadar segera melepaskan pelukannya lalu membelai rambut Dinda lembut. Mengajak Dinda untuk duduk disofa yang tersedia diruang kerjanya.


Memegang kedua tangan Dinda. "Dinda." panggil Adit. Tapi bibirnya terus memberikan senyuman. Hatinya tidak bisa berbohong jika dia begitu senang hari ini.


"Kakak kenapa sih? kenapa senyum mulu?" tanya Dinda malu-malu. Hatinya juga berkata demikian. Sangat senang bisa bertemu kembali dengan orang yang dia cintai.


Dandi duduk di bangku kosong yang berada didepan ruang kerja Adit. Dia melihat Dinda datang dan masuk ke ruangan Adit. Dia sengaja tidak memanggil Dinda ataupun mencoba bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Sepertinya Dinda akan bahagia jika bersama Adit. Tapi bagaimana caranya agar mereka bisa kembali lagi bersama?" memijit-mijit pangkal hidungnya.


"Apa aku minta bantuan Adit saja untuk melunasi hutang-hutangku pada Dave? aku yakin, demi Dinda dia pasti mau membantuku." ucap Dandi yakin.


__ADS_2