MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Hilangnya mempelai wanita


__ADS_3

Pagi ini merupakan hari terbahagianya Adit dan Dinda. Sebentar lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri. Dihadiri oleh kerabat Adit dan tetangga sekitar rumah.


Adit tampak duduk disofa. sebelum nanti akan menghadap pak penghulu. Perasaannya sungguh berdebar. Mengingat sebentar lagi ia dan Dinda akan bergelar suami istri. Moment sejarah yang tak akan pernah ia lupakan.


"Kenapa Dit?" tanya ibunya melihat anaknya yang tampak resah.


"Nggak ada bu, Adit hanya berdebar." balas Adit.


"Tenanglah nak. Jangan terlalu tegang. Santai saja." ucap ibunya lagi.


Adit mengatur napas agar rasa tegangnya hilang. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia berdiri dan berjalan sejenak untuk menghilangkan rasa gugupnya disekitar rumah sebelum waktunya akad dimulai.


"Hai kakak ipar," goda Adit saat menghampiri Dandi yang sedang menyendiri.


Dandi hanya diam. Sebenarnya ia sungguh merasa sedih. Tapi ia berusaha menutupi kesedihannya agar tidak terlihat oleh orang. Bukankah terlalu egois memisahkan pasangan yang saling mencintai.


"Nggak usah sok akrab." ucap Dandi cuek.


Adit hanya tersenyum. Kenapa masih cuek sih sama aku? kan aku adik iparmu. Gumam Adit heran.


Ia tidak habis pikir dengan sikap Dandi yang tidak berubah sama sekali. Bukankah dia yang menyetujui pernikahan ini? tapi kenapa dia masih bersikap cuek kepadanya.


Karena dicuekin Dandi, Adit pun pamit dan pergi meninggalkan Dandi yang sedang asyik menyendiri. Entah apa yang membuatnya tidak mau bergabung dengan para tamu lainnya.


Saat ini, Dinda sedang dirias di kamarnya. Ia terus saja memandangi wajahnya dicermin sembari terus tersenyum. Sebentar lagi statusnya akan berubah.


Kebaya putih dan riasan wajah membuatnya tampak berbeda. Aura kecantikannya semakin terpancar jelas.


Aku bersyukur bisa menikah dengan orang yang sangat aku cintai. Semoga pernikahan ini nanti menjadi pernikahanku seumur hidup. Gumamnya sembari memanjatkan doa.


"Kapan acara akad nya dimulai?" tanya Dinda penasaran. Sedari tadi ia merasa bosan duduk sendirian dikamar. Ia tidak bisa keluar, karena belum ada yang memanggilnya. Belum waktunya untuk ia keluar.


Karena merasa jenuh, ia membuka jendela kamar untuk melihat keadaan diluar. Ia menghirup udara pagi untuk menghilangkan rasa bosan dan cemas yang sedari tadi melanda.


Semua kerabat dan tamu berkumpul. Adit duduk berhadapan dengan pak penghulu. Begitupun Dandi yang juga duduk disebelah pak penghulu sebagai wali nikah.

__ADS_1


"Bagaimana? apa kita bisa mulai akad nya?" tanya pak penghulu tersebut.


Adit tersenyum dan memberi anggukan. Bukankah lebih cepat, lebih bagus.


"Sebelum itu, panggil mempelai wanitanya untuk duduk bersama mempelai pria." suruh pak penghulu itu. Salah seorang kerabat Adit pun bangun dari duduknya untuk menjemput dan membawa Dinda.


Semua tamu menunggu dengan wajah bosan dan resah, begitupun Adit. Hatinya semakin menjadi resah saat orang yang ditunggunya tidak kunjung datang.


Kenapa lama sekali?. Gumamnya sambil terus memandang kearah tangga yang nantinya akan dilewati Dinda.


"Kenapa mempelai wanitanya tidak muncul-muncul?" tanya pak penghulu sambil sesekali meluhat jam tamgannya. Bukankah hampir lima menit mereka semua menunggu.


"Dinda hilang." ucap kerabat Adit saat turun dengan tergesa-gesa.


Semua para tamu kaget. Suasana yang tadinya tenang, kini menjadi ricuh. Tampak mereka sedang berbisik-bisik satu sama lain. Entah apa yang mereka ricuhkan.


"Apa? bagaimana bisa." ucap Adit yang juga kaget. Bagaimana ia bisa menikah jika mempelai wanitanya tidak berada ditempat.


Dandi yang mendengar, dengan cepat bangkit dan berlari menuju kamar Dinda. Adit mengikutinya dari belakang. Sesampai disana, mereka tidak menemui siapa-siapa. Ternyata Dinda benar-benar tidak ada.


****


"Lepaskan aku!" Dinda memohon agar mereka melepaskannya.


Sepanjang perjalanan, ia hanya menangis. Kini riasan wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Kenapa nasibnya selalu sial.


"Kau akan menikah denganku."Dave mencengkeram dagu Dinda dengan kasar dan membuat Dinda merintih kesakitan.


"Lepaskan aku! aku tidak akan pernah menikah denganmu." balas Dinda emosi. Ia tidak bisa lagi menahan kesabarannya.


Sama sekali tidak pernah ia pikirkan untuk menikah dengan pria bermuka dua seperti Dave. Sampai kapanpun, ia tidak akan sudi menikah dengannya.


"Itu terserahmu saja. Aku tidak peduli. Kau akan tetap menikah denganku." ucap Dave lagi dengan senyuman sinisnya.


Dinda meronta-ronta untuk dilepaskan. Ia menahan rasa sakit pada tangannya. Ikatan tali yang kuat telah membuat pergelangan tangannya menjadi tergores.

__ADS_1


Dave meraih ponselnya dan merekam wajah Dinda yang sedang menangis dan memohon kepadanya untuk dikirim kepada Dandi.


"Aku ingin tau, bagaimana reaksi kakakmu saat adik kesayangannya telah aku siksa." ucap Dave dengan tatapan sinisnya kepada Dinda.


Dinda hanya bisa menangis tanpa melawan. Saat ia mencoba melawan, maka berkali-kali pula pipinya akan merasakan sakit akibat tamparan. Sama sekali pria yang tidak punya hati. Masih sanggup melakukan kekerasan terhadap wanita.


Kini mereka sampai disebuah gedung kosong. Dinda di turun paksa oleh anak buah Dave. Mengikuti langkah kaki Dave.


"Ikat dia di kursi!" suruh Dave kepada anak buahnya. Mereka pun dengan sigap melaksanakan suruhan bosnya. Kini Dinda duduk di kursi dengan kaki dan tangannya dililit tali.


Dandi, Adit. Tolong Dinda. Dinda nggak mau disini. ucapnya dalam hati dengan air mata yang bercucuran.


"Kalian jaga dia disini. Jangan sampai lepas! suruh Dave lagi. Ia pun pergi meninggalkan tempat dimana Dinda berada. Masuk ke ruangan lainnya.


Jika kau berani melaporkan kepada polisi, maka kalian tidak akan pernah melihat Dinda untuk selama-lamanya. Dandi mengepalkan tangannya saat selesai membaca pesan tersebut. Rasa dendam kepada Dave kini sudah berapi-api.


"Mau kemana Dan?" tanya Adit panik melihat ekspresi Dandi. Ia juga merasa panik dan kecewa. Pernikahan mereka telah gagal. Hari sakral mereka telah hancur. Gunjingan dan cemoohan kini ia dapatkan dari orang-orang yang tidak tau sama sekali dengan apa yang telah terjadi.


Memaksa menikah, sedangkan wanita sama sekali tidak mencintai. Makanya pengantin wanitanya lari.Itulah kata-kata yang ia dengar saat ini.


Ia sama sekali tidak ambil pusing dengan gunjingan tersebut. Walaupun ia merasa dijatuhkan. Yang terpenting baginya sekarang adalah menemukan Dinda dan membawanya kembali.


"Kita lapor polisi." balas Dandi. Tanpa pikir panjang, Adit pun mengikuti Dandi. Tidak peduli dengan pakaian pengantin yang masih ia kenakan.


Dandi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia sama sekali tidak peduli dengan kondisi jalan yang sibuk dan ramai. Tujuannya lebih penting dari keselamatannya saat ini.


Saat diperjalanan, sebuah mobil mengikuti mereka dari belakang.


BERSAMBUNG


Hy teman-teman, terima kasih sudah setia mendukung karya author.


Jangan lupa vote dan rate 5 nya😊


Like nya juga😊

__ADS_1


__ADS_2