
Calon? apa dia mengaku-ngaku sebagai calon istriku? dasar wanita gila. Gumam Dave kesal.
"Dia bukan calon istri saya. Jangan beri dia masuk ke apartemen ini lagi." perintah Dave kepada satpam dan mereka pun mengangguk.
"Ternyata benar, mbak tadi bukan calon pak Dave. Syukur deh, soalnya mereka tidak cocok." ucap satpam itu lagi saat Dave sudah pergi.
Dave masuk ke apartemennya dengan emosi. Ia lalu menaiki tangga dan menghampiri Dinda. Ia tidak membukakan pintu. Namun, hanya berdiri disebalik pintu.
"Hey, bisa kah kau diam?" pinta Dave kepada Dinda yang terus saja mengedor-ngedor pintu.
"Keluarkan aku sekarang." pinta Dinda sambil terus mengedor-ngedor pintu.
Dave tidak membalas dan hanya menghela napas. Dave lalu turun dan pergi meninggalkan Dinda disana.
Saat diperjalanan, ponsel Dave berdering. Panggilan dari anak buahnya. Dengan segera Dave menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Dave.
"Mereka sudah saya bawa." jawab anak buahnya.
Dave tersenyum puas. Inilah saat yang ditunggu-tunggunya.
"Bawa mereka ketempat yang sudah aku siapkan!" perintah Dave.
Kini mereka telah sampai disebuah gedung yang didalamnya dipenuhi hiasan bunga. Lebih tepatnya tempat akan diadakan akad nikah.
Adit dan Dandi dibawa dengan paksa oleh anak buah Dave. Mereka dipegangi dengan erat oleh anak buahnya agar tidak bisa kabur.
"Tempat apa ini?" tanya Dandi penasaran. Bukankah tempat ini terlihat seperti tempat acara resepsi.
Adit yang juga melihat tempat itu, menatap Dandi dengan wajah kebingungan. Apakah akan ada acara pernikahan ditempat ini.
Saat itu juga, Dave masuk dan menatap Dandi dan Adit dengan wajah penuh senyuman. Tepatnya senyuman kemenangan.
"Lepaskan kami. Kenapa kau membawa kami kesini?" tanya Dandi dengan sedikit emosi.
__ADS_1
Dave tersenyum sambil mengelilingi Dandi dan Adit. "Aku dan Dinda akan menikah disini." balas Dave yakin.
"Apa? jadi kau orang yang selama ini ..." Adit menggantungkan perkataannya, saat Dave menatap tajam kearahnya.
" Ya." jawab Dave singkat. "Dan kau orang yang gagal menjadi suaminya?" Dave mengejek.
" Aku tidak akan sudi menikahkan kau." ucap Dandi lagi.
"Tenang, aku akan buat kau mau menikahkan Dinda denganku." balas Dave semakin yakin.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dandi panik. Ia takut Dave akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti mereka atau Dinda.
"Bawa wanita itu kemari!" perintah Dave kepada anak buahnya. Selang beberapa menit, Dinda pun masuk dipegangi dengan erat oleh mereka.
" Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dandi semakin panik. Apalagi ia melihat wajah Dinda sangat pucat.
"Sekarang saatnya." ucap Dave.
Pak Penghulu duduk dihadapan Dave. Dinda di duduk dengan paksa. Ia tidak bisa melawan lagi karena tubuhnya sudah tidak kuat dan terasa sangat lemah. Dandi juga dipaksa duduk oleh anak buahnya dan tetap dipegangi oleh mereka. Hanya Adit yang tetap masih berdiri.
"Mari kita mulai." ucap pak penghulu.
"Saudari Dandi, anda sebagai wali dari Dinda. Apakah anda ikhlas melepaskan Dinda kepada Dave?" tanya pak penghulu tersebut.
"Saya tidak rela."jawab Dandi cepat.
Pak penghulu hanya menghela napas. Ia tau, ini sangat berat. Namun ia harus tetap sabar menghadapinya. Ia harus menjalankannya atas suruhan Dave. Apalagi ia sudah menerima sejumlah uang dari Dave. Bagaimanapun ia harus tetap menikahkan mereka sampai Dandi benar-benar mau menerimanya.
Berkali-kali pak penghulu menanyakan, berkali-kali pula Dandi menolaknya. Hingga akhirnya Dave melakukan hal yang sudah tidak wajar. Saat Dandi mengatakan menolak, berkali-kali pula pukulan keras mendarat diperut Adit. Hingga membuat Adit terkapar tak berdaya.
"Hentikan!" pinta Dandi. Ia sudah tidak tega melihat Adit yang kesakitan.
Pikirannya buntu. Jika ia menolak, maka Adit yang akan menjadi sasarannya. Jika ia menerima, tentu Adit yang akan terluka hatinya.
Akhirnya dengan berat hati ia menerimanya. Dari pada nantinya Adit mati karenanya dan akan dibenci oleh keluarga Adit.
__ADS_1
"Dandi." ucap Dinda setengah sadar. Air matanya jatuh saat Dandi menikahkannya. Tentu saja ini adalah air mata kekecewaan. Bagaimana mungkin Dandi mau menerimanya.
Akhirnya, acara akad telah selesai. Kini status Dinda dan Dave sudah menjadi suami istri yang sah dimata agama. Hanya hukum yang belum. Karena mereka menikah secara siri agar tidak diketahui oleh orang lain.
Dinda pingsan, dan segera ditangkap oleh Dave. Dave hanya tersenyum. Ia benar-benar sangat puas sekarang.
Dandi tampak sedang duduk dan menarik-narik rambutnya karena kesal dan menyesal. Pilihan yang dibuatnya membuatnya semakin frustasi. Tentu ia akan merasa semakin bersalah kepada Adit. Kini, Adit tidak akan pernah lagi bisa memiliki Dinda.
Adit dibawa kerumah sakit oleh anak buah Dave, atas arahan Dave. Ia harus segera mendapatkan perawatan setelah dihajar oleh anak buahnya.
"Dave." ucap Dandi sambil mengepalkan kedua tangannya. Sempat ingin menghadang Dave dan membawa Dinda, berkali-kali pula anak buahnya berusaha mencegah. Kini ia tinggal sendirian menyesali keputusan yang sudah dibuatnya.
Dinda dibawa kembali ke apartemen oleh Dave. Dave membaringkan Dinda keranjang, karena Dinda masih belum sadar dari pingsannya.
"Sekarang, kau benar-benar sudah menjadi milikku." ucap Dave dengan senyum sinis nya. Ia akan merayakan kemenangannya.
Dinda bangun dari pingsannya. Ia memegangi kepalanya karena merasa masih terasa sakit. Ia bangun dan turun dari ranjang dengan perlahan.
Perutnya juga terasa sakit karena belum makan sama sekali dari pagi. Ia bangun dan berjalan turun untuk ke dapur. Ia lalu makan dengan lahap karena disana sudah disediakan makanan. Entah dari mana asalnya. Itu sama sekali tidak penting. Yang penting laparnya hilang.
"Hy istriku." sapa Dave saat masuk ke dapur.
Dinda tersedak saat ia minum. Istri? apa dia sudah gila? gumam Dinda. Dinda menatap Dave dengan bingung. Apa dia benar-benar sudah menjadi istri Dave atau hanya Dave saja yang berkhayal.
"Kenapa? kaget." Dave tersenyum Dengan sinisnya.
Dinda membesarkan matanya. Kini ia sudah ingat dengan apa yang terjadi siang tadi. Sekarang dia benar-benar sudah menjadi istri dari Dave.
*****
Jang tampak mondar mandir di ruangan nya. Wajahnya memperlihatkan kekhawatiran. Apalagi ia mendapat berita jika Dave menikahi Dinda. Seharusnya ia gembira, namun mengingat Dinda istrinya, maka itu yang sangat di khawatir kan nya. Apa yang akan terjadi pada Dinda setelah ini.
"Kenapa aku begitu khawatir." ucapnya. Hatinya sangat tidak tenang dn gelisah. Ia merasa pasti akan ada badai setelah ini. Pasti Dave akan menyakiti Dinda karena sudah berhasil membalas dendam kepada Dandi.
Hy teman-teman, jangan lupa vote ya.
__ADS_1
Like nya juga, jangan pelit-pelit. Hehehe😁