MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Keputusan Dinda


__ADS_3

Dave benar-benar merasa sangat menyesal. Kali ini dia merasakan bagaimana hukum tidak bisa dipermainkan. Sahabatnya Jang tidak bisa membantunya lagi. Tidak ada cara untuk dia bebas dari tuntutan itu. Hanya pasrah dan perasaan menyesal yang masih menyelimuti hatinya.


Andai waktu bisa diulang, maka dia tidak akan pernah terjerumus ke pekerjaan kotor itu. Namun apa hendak dikata. Basi sudah menjadi bubur. Semua itu hanya sia-sia belaka.


"Aku minta maaf Dave, aku sama sekali tidak bisa membantumu." ucap Jang pada Dave.


Dave diam dan sedang meratapi nasibnya kedepan. Dia akan dipenjara dan kemungkinan akan kehilangan Dinda. Sekarang dia benar-benar sudah menaruh perasaan pada Dinda. Akankah kejadian silam terulang kembali?


Bagaimana orang yang sangat kita cintai menaruh perasaan terhadap pria lain. Itu yang Dave tidak inginkan sekarang. Kali ini dia memang benar-benar kalah. Tapi dia masih berharap kepada Dinda. Dia tidak ingin Dinda meninggalkannya seperti Cindy dimasa lalu.


"Aku benar-benar menyesal Jang. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini." sesal Dave.


Jang mencoba menenangkan Dave. Dia mencoba memberi semangat agar Dave tidak putus asa.


"Aku yakin Dinda tidak akan meninggalkanmu." ucap Jang tiba-tiba dan membuat Dave menatap lekat kepadanya.


"Maksud kamu?" tanya Dave penasaran.


"Iya, aku hanya yakin Dinda tidak akan meninggalkanmu. Dia sepertinya bukan perempuan yang akan meninggalkanmu seperti ini." balas Jang.


"Apa kau yakin?" tanya Dave lagi.


"Mungkin saja. Tapi aku sangat yakin. Aku tau dia masih mencintai Adit. Tapi posisinya sekarang dia masih menjadi istrimu." balas Jang lagi.


"Entahlah Jang. Aku hanya pasrah dengan semua ini. Aku siap kehilangan semuanya. Aku pantasendapatkannya." ucap Dave pasrah.


"Hey, dimana Dave yang aku kenal? kau tidak seperti ini. Kau tidak mudah putus asa." Dave mengingatkan.


"Apa yang bisa aku lakukan lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku benar-benar sangat menyesal."


"Sudahlah Dave, tidak usah seperti ini. Sekarang kau masih punya Dinda. Aku yakin dia pasti akan membantumu. Keputusan ada ditangannya." ucap Jang.


Setelah berita penangkapan Dave dan kasusnya dimasa lalu diangkat lagi, Keadaan perusahaan Dave benar-benar kacau. Hotel yang dipercaya orang tua Dave untuk dikelolanya telah diambil lagi oleh orang tuanya. Mereka menyerahkan kepada Dion untuk dijalankan. Rasa sakit hati dan kecewa pada Dave membuat orang tuanya mengambil jalan pintas itu. Mereka juga sangat mempercayai Dion. Mereka telah melihat bagaimana giat dan berusahanya Dion saat mereka tinggal bersama.


"Ma, mama mau kemana?" tanya Dion saat melihat Kikan seperti ingin pergi.


"Mama mau ketemu Dinda." balas Kikan.


"Ma, Dion ikut ya. Dion juga pingin ketemu Dinda." pinta Dion dan dibalas anggukan oleh Kikan.

__ADS_1


Selang 20 menit Kikan dan Dion sampai dikediaman Dinda. Apartemen milik Dave yang ditinggali Dinda.


Bel pintu berbunyi. Dinda yang sedang melihat foto yang didapatkannya saat membersihkan ruang kerja Dave seketika tersadar. Dia buru-buru turun kebawah untuk melihat siapa yang datang ke kediamannya.


Dinda langsung melihat monitor dan dia langsung bisa mengetahui siapa yang mengunjungi.


Dinda membuka pintu. "Tante, Kak Dion?"


Kenapa mereka datang? apa mereka akan memarahiku karena aku menikah dengan Dave?


"Silahkan masuk Tante, Kak Dion." ajak Dinda. Mereka pun menurut lalu duduk disofa.


"Dinda." panggil Kikan.


"Iya Tante." balas Dinda. Dia tidak tau apakah Kikan sekarang sedang marah kepadanya atau tidak. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa ditebak.


Kikan membelai rambut Dinda lembut. " Maafin anak Tante ya. Tante tau selama ini kamu menderita karenanya." ucap Kikan dan membuat Dinda sedikit terkejut. Ternyata Kikan sama sekali tidak marah kepadanya dan malah mengasihaninya.


"Iya Tante." balas Dinda.


"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Dion sedikit khawatir.


"Dinda, Tante tau kamu pasti sangat menderita selama ini. Kamu selalu menyembunyikannya selama ini." ucap Kikan sedih. "Tante juga tau kamu menikah dengannya karena dipaksa kan? kamu mencintai orang lain dan Dave memaksamu menikah. Tante benar-benar kecewa sama Dave." kesal Kikan kala mengingat anaknya.


"Kamu masih ingin bersama dengan orang yang kamu cintai kan?" tanya Kikan pada Dinda.


Dinda diam. Dia sama sekali tidak mengerti aoa maksud yang dikatakan Kikan kepadanya. Dia memang masih mencintai Adit. Tapi kenapa Kikan bertanya seperti itu.


"Sebaiknya kamu bercerai saja dengan Dave. Tante tidak ingin karena Dave cintamu terhalang." ucap Kikan. Walau hatinya sangat menginginkan Dinda tetap menjadi menantunya, tapi karena dia tau Dinda mencintai orang lain dan dipaksa menikah oleh Dave, maka dia rela untuk melepaskan Dinda.


Ternyata orang tuanya pun menginginkan hal yang sama.


"Tante, Dinda tidak akan bercerai." balas Dinda. Kikan dan Dion membelalakkan mata sekan tidak percaya. Untuk apa juga dia mempertahankan pernikahan ini jika dia sama sekali tidak merasa bahagia dan mencintai orang lain.


"Maksud kamu apa Din?" tanya Dion heran. Dia tau bagaimana menderitanya Dinda selama ini. Tapi kenapa dia masih mempertahankan pernikahan yang diambang kehancuran.


"Dinda tau kalian pasti kaget dengan ucapan Dinda. Tapi Dinda mengatakan itu ada sebabnya." balas Dinda.


"Tapi kenapa sayang?" tanya Kikan kebingungan.

__ADS_1


"Selama 2 bulan terakhir ini kak Dave benar-benar sudah berubah. Dia tidak pernah lagi kasar sama Dinda. Dia juga mengizinkan Dinda untuk keluar. Walaupun dia tidak mengizinkan Dinda untuk bertemu orang itu." ucap Dinda.


Apa Dave benar-benar mencintai Dinda. Jika tidak, tidak mungkin dia melarang Dinda bertemu dengan orang yang dicintainya. Semoga saja begitu.


"Tapi bukannya kamu masih mencintai orang itu. Tapi kenapa kamu masih ingin bertahan? Dinda, Tante nggak mau kamu nantinya menyesal dengan keputusan ini." peringat Kikan.


"Dinda memang masih memiliki perasaan pada orang itu. Tapi perasaannya tidak sebesar seperti dulu lagi. Selama kak Dave berubah pada Dinda, Dinda mencoba untuk membuka hati untuknya. Walaupun sampai sekarang masih belum berhasil, tapi Dinda akan terus berusaha." balas Dinda meyakinkan Kikan.


"Kamu sadarkan Dinda?" tanya Dion heran. Dia merasa Dinda bukan seperti Dinda yang dikenalnya.


"Kak Dion, Dinda tau kakak khawatir sama Dinda. Tapi, Dinda punya keputusan sendiri." ucap Dinda.


Dion hanya menghembuskan nafas pasrah. Dia masih tidak menyukai pernikahan Dinda dan Dave seperti dulu. Baginya, Dinda sama sekali tidak cocok jika disandingkan dengan Dave.


"Jika itu keputusan kamu, kakak nggak bisa memaksa." ucap Dion pasrah.


"Tapi bagaimana dengannya Din? apa dia sudah mengetahui keputusanmu?" tanya Kikan lagi.


"Dia belum mengetahuinya Tante. Dinda akan mencoba mengatakannya. Dinda tau ini sangat berisiko. Tapi Dinda nggak mau ada yang terluka." jelas Dinda lagi.


Hampir seharian Kikan dan Dion berada di apartemen itu, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


"Dinda, kita pamit dulu ya. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu." ucap Kikan.


Dinda hanya tersenyum. Dihatinya masih ada sesuatu yang menganjal dan rasa penasarannya sangat besar saat ini.


Apa aku tanya tante aja. Dia kan pasti tau siapa saja teman-teman kak Dave.


Tante, Dinda boleh nanya nggak?" tanya Dinda sedikit takut.


"Apa sayang?" tanya Kikan kembali.


"Apa Tante kenal siapa teman kak Dave saat dia masih kuliah?" tanya Dinda lagi.


Kikan mencoba berfikir dan mengingat-ingat. "Tante kurang tau sih. Cuma seingat tante, dia pernah mengatakan dia punya teman yang masih sekolah waktu itu. Tante nggak tau orangnya yang mana. Mungkin sekarang mereka masih berteman." ucap Kikan setelah mengingatnya.


Aku kira Tante Kikan tau.


"Kenapa Dinda?" tanya Kikan penasaran.

__ADS_1


" Nggak ada apa-apa tante."


__ADS_2