
Dinda tau, didunia ini bukan hanya dia yang menjadi wanita yang paling menyedihkan. Disekap dan diperlakukan tidak adil. Tapi dia sama sekali tidak bisa menerimanya. Dia masih menginginkan kebebasan. Masih ingin berinteraksi dengan dunia luar.
Jika Dave memberinya berbaur didunia luar, maka dia berjanji tidak akan pergi meninggalkannya. Apalagi kabur bukanlah cara yang tepat. Sejauh manapun dia pergi untuk melarikan diri, maka Dave akan dengan mudah menemukannya.
Sebenarnya apa sih yang ada di fikiran Dave hingga dia menyekapku disini. Apa dia tidak pernah berfikir apa yang aku rasakan? Aku hanya ingin keluar. Itu saja!
Dinda membuka pintu kamar lalu masuk dan menutupnya kembali. Ia melihat Dave duduk bersandar diranjang sambil memainkan ponselnya.
Tidak adil. Aku tidak diperbolehkan menggunakan hp. Sedangkan dia dengan santai nya memainkan ponsel sesuka hati
Dinda berjalan mendekat ranjang lalu berbaring disebelah Dave. Rutinitas yang sangat dihindarinya. Sudah beberapa kali Dinda memohon untuk tidur disofa, namun Dave mentah-mentah menolaknya.
"Kak Dave."
"Hmmm." masih sibuk memainkan ponselnya.
"Apa besok aku boleh keluar?" jantungnya begitu berdebar menunggu jawaban yang akan diberikan Dave.
Dave diam dan menghentikan aktifitasnya. Menatap tajam kearah Dinda." Kenapa?" tanya Dave dengan raut tidak suka.
Dinda mengubah posisinya. Dia bangun dan duduk dengan berlutut. "Aku bosan dirumah terus. Apa aku boleh keluar?" tanyanya dengan hati-hati.
Dave menatap dengan tatapan yang sangat menakutkan dan membuat Dinda semakin gematar. Suasana dikamar sangat mencekam. Sangat terasa hawa-hawa panas padahal AC sudah dinyalakan.
"A aku tidak akan kabur. Aku janji!" ucap Dinda meyakinkan. Dikurung dirumah membuatnya sangat bosan dan muak.
Dave memikir sejenak."Tidak!" lalu memainkan kembali ponselnya.
"Kak Dave, aku mohon! Aku tidak akan kabur kemana-mana. Aku tau itu juga sangat mustahil bisa kulakukan."
Dave sama sekali tidak menjawab dan terus memainkan ponselnya. Ingin rasanya Dinda memaki dan mencakar-cakar wajah Dave. Namun rasa takut mengalahkan semuanya.
Kenapa sih memberi izin untuk keluar saja susah. Dasar manusia planet.
Dinda kembali berbaring dan membelakangi Dave. Hatinya sangat sakit. Kenapa hidupnya tidak adil. Menangis secara diam-diam. Tidak ingin Dave melihatnya.
__ADS_1
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia harus melakukan aktifitas yang membuatnya tidak semangat untuk hidup.
Bayangan-bayangan tentang kebebasan selalu saja bersarang difikirannya. Namun semua itu hanya angan-angan belaka.
"Hei, bisa kan kau melakukan dengan fokus?" bentak Dave dan membuat dia tersadar dari lamunan dan angan-angannya.
"I iya kak." balas Dinda terbata-bata.
Apa sih yang aku fikirkan? Kenapa aku selalu memikirkan untuk bisa keluar. Sudahlah Dinda, buang angan-anganmu itu. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa keluar dari neraka ini.
"Kau ingin keluar?" tanya Dave sambil menggigit sandwichnya.
Spontan Dinda mengangkat kepala dan menatap lurus kearah Dave. "Iya kak, aku ingin keluar." jawab Dinda sungguh-sungguh.
Kenapa? Apa dia akan mengizinkanku keluar? Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Lalu untuk apa dia menanyakan itu. Apa dia hanya ingin mengetes dan main-main denganku?
"Buang fikiran itu jauh-jauh." ucap Dave santai.
Kenapa? kenapa dia sangat suka menyakiti hati orang-orang? apa dia tidak pernah berfikir dengan perasaan orang-orang? atau memang dia yang tidak punya hati?
Apa salahnya jika hanya ingin keluar? Toh dia juga tidak akan lari kemana-mana. Mustahil juga itu bisa dilakukannya mengingat siapa yang sudah menyekapnya dirumah ini. Memikirkannya saja sudah mngeri apalagi sampai melakukannya.
Dave membuka tas kerjanya dan mengambil sebuah barang disana lalu menyerahkannya kepada Dinda. " Ini, kau ambil."
Ponsel, dia memberiku ponsel? Apa aku sedang bermimpi? Ternyata dia masih punya hati.
Senyum bahagia terpancar di wajah Dinda saat menerima ponsel tersebut. Tanpa babibu menyambar dan mengambil ponsel tersebut dari tangan Dave.
Tiba-tiba wajah yang tadi ceria berubah murung. Dia memberiku ponsel. Tapi ini bukan ponselku. Dimana ponselku? Kenapa dia memberiku ponsel lain?
Dinda menatap dengan wajah penuh tanda-tanya. Dave melihat hanya tersenyum kecut.
"Ini ponsel untukmu. Dan disana sudah ada nomor ponselku. Jika.ada sesuatu, secepatnya hubungi aku." Dave sudah menduga dengan reaksi yang diberikan Dinda. Lebih tepatnya reaksi kecewa.
Tentu saja itu sudah dipikirkan Dave. Dia sengaja membeli ponsel baru dan memasukkan nomornya disana. Jika dia memberi ponsel milik Dinda, tentu disana dia menyimpan nomor Adit. Dan pastinya dengan sangat bahagia dia akan menghubungi Adit. Hal itu sama sekali tidak diinginkannya.
__ADS_1
"Kak Dave, dimana ponselku?" tanya Dinda. Untuk apa Dave memberinya ponsel baru jika nomor yang ingin di hubunginya tidak ada disana. Sialnya lagi dia tidak hafal nomor Adit ataupun Dandi.
"Ponselmu sudah aku buang. Jadi ponselmu sekarang yang ini. Kau harus menerimanya dan jangan menolak!" balas Dave dengan nada sedikit mengancam.
Dinda hanya tersenyum dan tidak berani lagi untuk bertanya. Apapun yang diperintah Dave, harus dilakukan dan diterima dengan hati lapang. Tidak boleh membantah ataupun menolak. Jika ingin selamat dan tetap hidup, lakukan saja apa yang dikatakannya.
"Sama sekali tidak berguna. Lebih baik tidak punya ponsel jika nomor yang ingin aku hubungi tidak ada." ucap Dinda putus asa.
"Ah baiklah, aku harus mencobanya." Dinda lalu menekan sebarang nomor disana. Siapa tau bisa terhubung ke nomor Adit pikirnya.
Lama berkutat dan yang mengangkat tidak sesuai dengan keinginan membuat Dinda sedikit putus asa.
Kenapa aku sama sekali tidak ingat sih nomor kak Adit. Dasar payah.
*****
Saat Dave sedang berkutat dengan pekerjaannya, terdengar kegaduhan diluar ruangannya.
"Pak Dave, ada pria yang ingin menemui bapak. Saya sudah berkali-kali mencegahnya. namun dia bersikeras ingin menemui bapak."
"Siapa dia?"
"Namanya Adit pak."
Dave lalu memutuskan sambungan telepon. Menatap pintu yang masih tertutup rapat.
"Suruh saja dia masuk!" Dave kembali memutuskan sambungan telepon.
Tidak berselang lama, pintu terbuka dan masuklah sesosok laki-laki menatapnya dengan wajah penuh kebencian.
"Kamu keluar!" perintah Dave kepada Celine. Celine menganggukkan kepala lalu keluar dan menutup kembali pintu.
Dave hanya tersenyum kecut menatap Adit yang tampak puncak kemarahannya sampai keubun-ubun. Ingin sekali dia tertawa se kencang-kencangnya. Melihat betapa lucunya wajah Adit ketika sedang menahan emosi.
"Dimana Dinda!" Adit langsung mencerca karena sudah tidak sabaran.
__ADS_1
Dave kembali ketawa. Tentu saja dia tau apa tujuan Adit sampai datang kemari kalau bukan menyangkut Dinda.