MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Pertemuan


__ADS_3

"Yang," panggil Dinda.


"Hmm," balas Dave yang masih asyik main game.


"Libur besok ke kota xx yuk!" ajak Dinda.


"Ngapain?" tanya Dave.


"Mau ketemu kak Adit." balas Dinda.


Dave menoleh, tanpa disadari heronya mati dibunuh Balmon.


"Ah sialan," kesal Dave karena heronya mati. Padahal hampir saja dia maniac.


Dinda yang mendengar Dave mengupat, menggigit bibirnya panik. Dia berfikir jika Dave sedang marah dengannya karena sudah berani menyebut nama Adit.


Dinda diam, sedangkan Dave masih sibuk menyelesaikan permainannya. Tinggal satu turet lagi akan menang.


"Yes," ucap Dave gembira.


Bukannya tadi marah? Koq sekarang malah senang?


Dave menyudahi permainannya. Meletakkan ponselnya disamping dan duduk menatap Dinda. Dinda yang ditatap merasa sedikit canggung.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Dave kembali.


"Yang mana?" tanya Dinda pura-pura.


"Dinda," panggil Dave yang mulai geram.


"Iya, iya yang." ucap Dinda cengengesan. Kalau suaminya sudah mulai geram, nanti dia sendiri yang bakalan menjadi sasarannya. Bukan sasaran kemarahan, melainkan sasaran nafsu.


"Minggu besok kita ke kota xx ya," pujuk Dinda manja.


"Ngapain sih? Kan jauh banget itu." keluh Dave.


"Ketemu kak Adit." balas Dinda.


Dave menyengitkan dahinya, "Ngapain ketemu dia disana? Malas ah, jauh." tolak Dave.


"Yang, ayolah." pujuk Dinda lagi. Dia harus berusaha ekstra membujuk suaminya ini.


"Kamu mau balik lagi sama dia?" tanya Dave kesal.


Dinda menggeleng. Untuk apa dia balik lagi sama Adit. Dia juga sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama Adit.


"Terus ngapain mau ketemu dia?" tanya Dave kembali.


Udah pikun atau gimana sih?


"Masa sayang lupa sih?" ucap Dinda mengingatkan.

__ADS_1


Dave semakin bingung. Apa dia sudah melupakan sesuatu? Tapi apa yang sudah dilupakannya?


"Sayang nggak ingat waktu sayang masih dipenjara? Bukankah Dinda meminta bantuan untuk mencarikan keberadaan kak Adit? " Dinda mengingatkan.


"Hmm," balas Dave. Dia sudah ingat dan anak buahnya sama sekali tidak bisa mendapat informasi keberadaan Adit pada saat itu.


"Udah ingatkan? Jadi sekarang sayang harus nemenin Dinda." pujuk Dinda lagi.


"Ngapain? Kan kamu udah tau dia dimana. Itu kan udah cukup. Ngapain harus ketemuan lagi?" tanya Dave.


Dinda menghembuskan nafas. Dia tau jika suaminya sedang cemburu. "Dia sudah menikah," ucap Dinda.


"Beneran?" tanya Dave heboh. Berarti istrinya tidak akan direbut lagi oleh cecunguk itu.


Dinda tersenyum, "Beneran, Dandi yang bilang." ucap Dinda.


Dandi? Apa kata-kata anak itu bisa dipercaya? Bagaimana kalau dia hanya mengarang atau salah lihat?


"Dia tau darimana?" tanya Dave kembali.


"Apa sayang nggak tau kalau Dandi minggu kemaren ke kota xx? Dia tidak sengaja ketemu kak Adit bersama seorang wanita hamil dijalan.


Bukankah sudah jelas kalau kak Adit sudah menikah dan wanita hamil itu istrinya?" ucap Dinda.


Bener juga sih.


"Ngapain Dandi kesana?" tanya Dave sedikit penasaran.


"Berkunjung ke makan Naomi," balas Dinda.


"Nggak ada apa-apa." balas Dave. Kenapa dia bisa melupakan jika Naomi sudah tidak ada. Kenapa juga dia tidak ada niatan untuk mengunjungi ke makan Naomi. Mantan macam apa dia ini.


"Apa sayang nggak mau berkunjung kemakam Naomi? Bukankah dia juga mantan sayang?" tanya Dinda. "Jadikan kita bisa sekalian saja." sambung Dinda lagi.


"Yaudah, minggu besok kita kesana." ucap Dave dan dibalas heboh oleh Dinda.


Untuk apa juga dia cemburu jika Dinda ingin bertemu Adit. Toh Adit sudah menikah dan istrinya itu aman dari pebinor. Setidaknya dia masih bisa menjalin silaturahmi dengan laki-laki yang sudah direbut wanitanya. Hahaha. Betapa beruntungnya dia. Sudah berhasil merebut, dan semakin dicintai oleh wanita rebutan nya. Sekalian berziarah ke makan mantan.


*****


Nazumi memasuki kamarnya setelah tadi menidurkan Kayla. Saat ingin merebahkan tubuhnya, tidak sengaja dia melihat ponselnya berkedip. Dilihatnya begitu banyak sekali panggilan tak terjawab dari Dandi.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Nazumi penasaran. Dia lupa membawa ponselnya saat keluar bersama putrinya makan malam diluar.


"Apa ada hal penting yang ingin disampaikan? Apa aku telpon balik aja? Siapa tau penting." ucap Nazumi.


Dia pun menghubungi nomor Dandi. Berkali-kali dihubungi, namun Dandi tidak menjawabnya.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Nazumi menatap layar ponselnya. Mungkin saja Dandi sudah tidur, makanya ponswlnya tidak diangkat.


Keesokan harinya saat Dandi bangun, dia langsung mengecek ponselnya. Benar saja, begitu banyak panggilan dari Nazumi. Sialnya lagi dia tidak sadar karena sudah ketiduran. Ada sedikit rasa penyesalan.

__ADS_1


Dandi lalu bergegas mandi dan akan berangkat bekerja. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nazumi dan mengatakan isi hatinya.


Tepat pukul 8 pagi, sudah waktunya untuk mulai bekerja. Dandi tampak sibuk mencari keberadaan sosok Nazumi. Beberapa kali dia menatap kebelakang, siapa tau Nazumi lewat. Tapi hasilnya masih nihil.


"Kamu kenapa sih Dandi?" tanya rekan kerja disebelahnya.


Dandi tersadar dan menoleh. "Nggak ada apa-apa." balas Dandi.


"Sekarang sudah waktunya untuk kerja. Ayo fokus!" ucap temannya lagi.


"Ah iya, maaf," balas Dandi. Dia tidak sadar jika gerak geriknya mengganggu rekan-rekan kerjanya.


Tring,


Sebuah pesan masuk di ponsel nya.


Dengan sigap Dandi membukanya, berharap jika itu pesan dari Nazumi. Tapi nyatanya hanya pesan dari operator.


Sialan!


Karena sekarang waktunya bekerja, dia harus mulai untuk bekerja. Dia tidak boleh memikirkan hal-hal lain jika tidak ingin mengganggu pekerjaannya. Takutnya Bank akan rugi jika dia salah memasukkan nominal angka karena tidak fokus.


Kini tibalah jam istirahat. Semua rekan kerjanya sudah berhamburan keluar dari ruangan untuk makan siang atau sekedar menyantai. Tidak dengan dirinya yang masih tetap duduk di kursi kerjanya. Selera makannya sudah hilang kala merindukan sosok Nazumi.


Dandi mencoba menghubungi nomor Nazumi. Tapi sama seperti kemaren malam, panggilannya tidak dijawab.


"Kemana dia?" tanya Dandi khawatir.


Dandi akhirnya beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki untuk pergi ke ruangan Nazumi.


Saat sampai tepat didepan pintu ruangan Nazumi, ada rasa sedikit takut dan berdebar. Tidak seperti biasa-biasanya saat dia akan masuk dan menemui Nazumi. Kali ini debarannya dua kali lipat dari biasanya.


Tok tok tok


"Masuk!" suruh Nazumi. Dandi begitu senang saat mendapat jawaban dari Nazumi. Dengan cepat dia membuka pintu dan masuk kedalam.


Dandi mengembangkan senyuman saat berjalan mendekati Nazumi. Namun tidak demikian dengan Nazumi. Dia sedikit merasa aneh dengan tingkah Dandi yang senyum-senyum kepadanya.


"Kemana aja kamu selama ini?" tanya Dandi tanpa basa-basi.


"Aku?" tanya Nazumi sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu," balas Dandi mengangguk.


"Aku nggak kemana-mana koq, aku masih tetap disini dan bekerja. Emang kenapa?" tanya Nazumi kembali. Ada sedikit gelagat aneh yang ditunjukkan Dandi kepadanya.


"Kenapa aku tidak pernah melihatmu beberapa hari ini?" tanya Dandi lagi.


Apa kamu mencari ku? Apa kamu tidak tau jika aku sengaja menghindarimu?


"Kenapa? " tanya Nazumi cuek.

__ADS_1


"Aku merindukanmu." balas Dandi dan membuat Nazumi kaget.


"Apa?!" ucap Nazumi. Dia sampai berdiri karena kaget mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Dandi. Rasanya seperti mimpi tersambar petir di siang bolong.


__ADS_2