
"Kak,mmm,"
"Ada apa Dinda? nggak usah malu sama kakak." ucap Dion yang melihat Dinda seperti ingin bertanya namun malu.
"Dikamar sangat panas. Tapi Dinda nggak tau gimana cara nyalain AC." jawab Dinda dengan gugup sekaligus malu.
Dion yang mendengar hanya bisa tertawa. Baru kali ini ia ketemu dengan orang yang tidak tau caranya menggunakan AC.
"Ayo sini kakak ajarin." Dion pun membantu Dinda cara menghidupkan dan mengatur suhu ruangan. Serta membantu mengajari Dinda menggunakan alat elektronik lainnya dengan sepenuh hati.
"Terima kasih ya kak udah mau bantu Dinda. Maaf ngerepotin." ucap Dinda
"Ah nggak koq. Kalau ada apa-apa kasi tau kakak aja. Kakak akan selalu ada." Dion pun pergi pamit dan meninggalkan Dinda dikamarnya.
Dinda semakin bahagia seakan Dion menjadi pengganti sosok kembarannya yang sudah pergi. Dinda hanya berharap kebahagian dan kenyamanan saat tinggal dirumah barunya ini.
Dikantor
"Hallo ma, ada apa? Dave masih dikantor."
"Apa? Siapa ma?"
"Jangan sembarangan menerima orang masuk kerumah kita. Siapa tau dia jahat."
"Iya ma, ya, Dave pulang agak malam ma."
"Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Iya ma, assalamualaikum."
Dave menutup telepon tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadinya tertunda.
"Siapa lagi sih yang dibawa mama kerumah. Lama-lama tu rumah udah jadi panti asuhan." Ucapnya kesal dengan sifat mamanya yang suka membawa orang yang tidak ia kenal kerumah.
Dikantor polisi
Jang tampak membolak balikkan kertas laporan yang sudah ia cetak. Ia bingung dan sedikit khawatir dengan laporan yang diajukan Dinda.
Sebenarnya ia ingin memberi tahu Dave atas laporan tersebut. Namun ia mengurungkan niatnya saat pertama kali melihat Dinda. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Dave lakukan pada Dinda jika ia mengetahui laporan tersebut.
Entahlah, ia sendiri tidak tau mengapa ia seperti ingin melindungi Dinda. Walau ia dan Dave sangatlah dekat. Namun ia seperti tidak tega jika Dave menyakitinya. Apalagi Jang tau jika Dinda kini hanya hidup sebatang kara tanpa orangtua dan saudara.
__ADS_1
"Bagaimana ini? apa aku harus menutup saja laporan ini?" ucapnya kebingungan.
"Ah peduli apa. Aku hanya tidak tega kepadanya." ucapnya lagi sembari menepuk-nepuk dadanya.
Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. Dinda selesai memasak dan sedang asyik menghidangkan makanan dimeja makan untuk makan malam keluarga Atmawijaya.
"Wah,enak sekali baunya. Pasti enak." Goda Dion yang baru turun dari tangga.
Dinda hanya tersipu malu saat Dion menggodanya. Namun ia berusaha menutupi agar tidak ketahuan oleh Dion. Tampak Kikan dan suaminya juga turun untuk makan malam.
"Dinda, kenapa kamu cuma berdiri disitu? ayo sini kita makan malam bersama." ajak Kikan saat melihat Dinda berdiri.
"Silahkan tante, om, kak Dion makan saja. Dinda nanti saja saat kalian sudah selesai." Menjawab ajakan Kikan tersebut.
Dinda merasa seperti tidak pantas makan bersama mengingat ia bukan siapa-siapa dirumah tersebut.
"Dinda, ayo makan. Tante membawamu kemari bukan untuk dijadikan pembantu. Ayo makan bersama. Walau pun tugas Dinda hanya memasak, jika waktunya makan, kita harus makan bersama pula."Ucap Kikan lagi dan Dinda pun menurut.
"Ini Dinda makan yang banyak ya." Dion memberikan sepiring nasi dan kemudian mengambil lauk pauk dan sayuran yang tersedia dimeja makan dan diberikan ke Dinda.
"Kakak, Dinda bisa ambil sendiri." ucap Dinda malu saat nasi serta lauk dan sayur sudah diambilkan oleh Dion.
"Nggak apa-apa Dinda, ayo makan." Ajak Dion.
Mereka pun tampak asyik menyantap makan malam yang dimasak oleh Dinda. Mereka sangat menikmati makanan tersebut.
"Oh ya, kakak mana?koq tidak makan malam bersama?" Tanya Dion disela-sela mengunyah makan malamnya.
"Kakakmu lagi banyak pekerjaan. Katanya dia akan pulang agak malam." jawab Kikan.
"Tante masih ada anak lagi?". Tanya Dinda yang bingung dengan pertanyaan Dion. Ia hanya tau Dion lah anak tante Kikan.
"Anak tante sekarang tiga. Dion, Dinda dan satu lagi kakakmu."
"Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tante sudah menelponnya tadi siang. Katanya dia akan pulang malam karena pekerjaan dikantor sangat banyak." Jawab Kikan
Wah, beruntung tante punya anak yang rajin dan baik.
Dinda pun tersenyum dan mereka pun kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda beberapa saat.
Di bar
__ADS_1
"Wih, udah lama banget lo nggak kemari?tumben?" Tanya Bro rekan tongkrongan Dave.
Bro yang hanya suka ke bar untuk minum, tapi tidak pernah menyentuh para wanita-wanita penggoda ditempat tersebut serta tidak pernah bermain dengan pekerjaan haram. Ia ke bar hanya sekedar bersenang bersama teman-teman tongkrongannya.
"Lagi bosan gue." Jawab Dave sambil memesan segelas bir.
"Senang-senang aja dulu. Disana ada cewek cakep, perlu gue panggil buat nemenin lu?" Tanya Bro saat melihat Dave dengan muka kusutnya.
"Nggak perlu. Gue nggak butuh itu." tolak Dave.
Bro sebenarnya tau, semenjak Cindy pacarnya Dave kedapatan selingkuh, Dave sudah tidak pernah lagi terlihat dekat dengan perempuan lain mana pun. Jangankan hanya teman bersenang-senang dibar atau kasino, mencari pengganti Cindy pun sepertinya tidak pernah terpikirkan oleh Dave.
Yang Bro hanya tau, Dave berubah setelah Cindy mengkhianatinya. Dave semakin kejam dengan siapapun. Baik perempuan maupun laki-laki dan nakal dengan mengambil alih sebuah kasino yang kini menjadi miliknya dan menjadikan hotel berbintang keluarganya sebagai lahan prostitusi terselubung tanpa diketahui oleh keluarga Atmawijaya.
Bro terkadang merasa kasihan dengan perubahan drastis Dave. Namun ia hanya berharap suatu saat Dave bisa meninggalkan pekerjaan haram tersebut.
Bagaimana jika nantinya pewaris Atmawijaya terjerat kasus usaha terselubung yang sangat dibenci keluarga Atmawijaya.
Dirumah Atmawijaya
Mereka telah selesai makan malam dan Dinda juga telah selesai memberes-beres dan membersihkan tempat mereka makan tadi. Kini Dinda sedang duduk sendiri menonton televisi diruang keluarga Atmawijaya.
"Kog nonton disini?" tanya Dion yang baru keluar dari kamarnya.
" Eh kak Dion. Nggak apa-apa. Enakan nonton disini." Jawab Dinda.
"Boleh kakak ikut?" Pinta Dion.
"Ah silahkan kak, Dinda nggak ngelarang koq." ajak Dinda dengan tersenyum.
Dion pun menerima ajakan Dinda dan duduk disebelah Dinda. Mereka pun duduk dan hanya menatap kearah televisi. Tiada suara dari mereka dan hanya suara televisi lah yang menemani mereka.
Sesekali Dion melirik kearah Dinda dan begitu pun Dinda yang sesekali melirik kearah Dion. Namun mereka hanya diam seperti gugup dan malu satu sama lain.
Kenapa sih koq kak Dion melirik Dinda terus, kan Dinda jadi malu
Gumam Dinda dalam hati
Dinda cantik dan polos. Sepertinya aku beruntung bisa ketemu dan kenal dengannya.
Gumam Dion dalam hati.
__ADS_1