
Untuk merayakan kebebasan anaknya, Kikan langsung mengajak keluarganya setelah sidang untuk makan disebuah restoran mahal. Tidak lupa juga ia mengajak Cindy yang sepertinya sudah akrab terhadapnya.
"Mama tau pasti anak mama ini sangat baik." puji Kikan dan Dave hanya membalas dengan senyuman.
Sejujurnya Dave sangat lega bisa terbebas dari tempat yang busuk itu. Walau ia harus menahannya untuk beberapa waktu.
"Sepertinya kurang lengkap nih, anak mama kurang satu." ucap Dion disela-sela kebahagiaan Kikan.
"Oh iya mama hampir lupa sama dia. Sepertinya dia juga nggak bakalan mau jika disuruh datang. Nanti mama bawakan saja makanan untuk dia. Ini semua karena kamu nih sudah bikin mama khawatir." ucap Kikan sambil menunjuk-nunjuk wajah Dave.
Mereka pun tampak asyik menikmati hidangan yang telah mereka pesan.
"Jadi kapan kalian nikah?" tanya Kikan disela-sela makannya.
Cindy tampak senang dan ia tersenyum malu-malu dengan pertanyaan Kikan. Namun Dave hanya memasang wajah datar dan memandangi Cindy dengan wajah tidak suka.
"Mama tau kalian pasti kaget dengan pertanyaan mama ini, tapi mama senang kalau Dave sudah bisa menemukan pasangan hidupnya nanti." ucap Kikan dengan yakin.
"Kita nggak ada hubungan apa-apa koq ma." balas Dave dan membuat senyuman Cindy pudar.
Apa-apaan sih kamu Dave, sengaja mau bikin malu aku didepan keluargamu?
Gerutu Cindy karena tidak suka dengan jawaban yang diberikan Dave kepada mamanya.
"Hah, bagaimana bisa? tapi kata cindy dia pacar kamu." tanya Kikan bingung. Ia mengenal Cindy sebagai pacar Dave saat pertama kali bertemu dikantor polisi.
"Kita udah lama putus." jawab Dave sambil sesekali melirik sinis kepada Cindy dan tentu membuat Cindy tidak suka dan malu.
"Maaf tante Cindy udah pernah bohongi tante. Kita memang udah putus cukup lama. Tapi Cindy masih sayang koq sama Dave. Cindy juga berharap bisa balikan lagi. Makanya Cindy selalu menemaninya." ucap Cindy mencoba meyakinkan mama Dave.
Kikan hanya tersenyum. Sama sekali tidak ada rasa marah jika Cindy pernah berbohong kepadanya. Baginya itu hal yang wajar untuk menyenangi hatinya. Apalagi ia sangat menginginkan Dave sengera menikah.
"Tidak apa-apa Cindy, mama tidak marah. Mama tau perasaan kamu ke Dave seperti apa. Mama hanya berharap Dave segera menikah." ucap Kikan sambil memegang kedua tangan Cindy dan membuat Cindy menjadi bahagia.
Jangan harap aku akan menikah dengan perempuan busuk dan tidak perawan sepertimu
__ADS_1
"Kalau gitu, anak mama yang satu itu untuk Dion aja ya ma." Dion bercanda dan membuat Kikan, Roy dan Dave memandangi nya dengan penuh tanda-tanya.
"Kamu suka sama adikmu sendiri?" tanya Kikan penasaran.
"Dion bercanda koq ma. Mana mungkin Dion memacari adiknya sendiri." balas Dion.
"Adik bagaimana maksudnya?" tanya Cindy penasaran.
Selama ini yang ia hanya tau Dave memiliki satu adik angkat yaitu Dion. Bagaimana bisa dia memiliki adik lagi tanpa sepengetahuannya dan Dave juga tidak pernah bercerita kepadanya.
"Dave dan Dion punya adik perempuan. Mama yang membawanya kerumah. Mama Kasihan dia anak yatim piatu." jawab Kikan berkaca-kaca.
Ia sangat menyayangi Dinda sama seperti ia menyayangi kedua anak-anaknya.
"Koq Dave nggak pernah cerita ya sama Cindy kalau dia punya adik perempuan." tanya Cindy sambil melihat wajah Dave yang seperti tidak peduli.
"Aku nggak kenal sama dia. Aku hanya tau mama membawa seorang anak angkat kerumah." balas Dave datar.
Hah, bagaimana bisa tinggal serumah namun tidak saling mengenali? Apa sebegitu sibuk nya Dave sampai-sampai tidak bisa menyempatkan diri berkenalan dengan adik angkatnya.
Dinda memutuskan untuk pulang kerumah karena orang yang ingin ditemuinya dikantor polisi tidak ada dan sudah dibebaskan.
"Ah akhirnya sampai juga dirumah." ucap Dinda saat membuka pintu rumah.
Sebenarnya rasa penasarannya sangatlah besar terhadap Dave anak Kikan yang selama ini tidak pernah ia bertemu.
Dinda hanya bisa membayangi jika Dave anak Kikan adalah sosok rupawan dan baik hati sama persisnya seperti Roy dan Dion keluarga baru nya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Matanya sudah tidak tahan menahan kantuk. Namun Dinda hanya sibuk mondar mandir tak karuan menunggu kepulangan keluarga barunya. Sebenarnya ia juga kangen terhadap mereka apalagi beberapa waktu mereka jarang bertemu dan berbicara.
Dimana mereka? kenapa belum pulang juga? apa aku coba menelpon tante saja?
Dinda lalu meraih ponsel disaku bajunya dan kemudian menekan nomor atas nama Tante Kikan.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi
__ADS_1
Suara yang terdengan dari balik ponselnya saat mencoba menghubungi Kikan
"Kenapa tidak aktif sih? Apa kak Dion aja ya?" Dinda kembali menekan nomor atas nama kak Dion dan panggilan tersebut pun masuk.
"Hallo kak Dion, kakak dimana? tante Kikan sama om Roy dimana? Oh gitu. Iya kak, Dinda nggak akan menunggu. Selamat malam." tutup Dinda mengakhiri panggilan tersebut.
Setidaknya ia sudah bisa bernapas lega karena orang yang ditunggunya sedang baik-baik saja dan sedang berada di suatu tempat.
"Ah, aku mengantuk sekali." Dinda menguap menahan kantuk yang sedari tadi melanda. Dinda pun segera memasuki kamar dan kemudian tertidur dengan pulas.
"Siapa?" tanya Kikan penasaran saat Dion mematikan panggilannya.
"Siapa lagi, ya anak mama lah. Dia udah mencoba menghubungi mama namun tidak aktif. Makanya dia menelpon Dion." jawab Dion dan Kikan segera mengecek ponselnya dan ternyata ponselnya mati kehabisan baterai.
"Sepertinya udah malam, ayo kita pulang. Kasihan kan dia menunggu dirumah sendirian." ajak Roy dan beranjak dari duduknya.
"Ayo!" balas Kikan dan diikuti oleh anak-anaknya.
Merekapun meninggalkan sebuah gedung mewah yang telah seharian mereka menghabiskan waktu disana.
Saat diparkiran Cindy tampak kebingungan dan tidak enakan jika mereka semua mengantarnya pulang kerumah. Karena mereka menaiki dengan satu mobil. Sebab saat akan pergi ke persidangan, Cindy datang menggunakan taksi dan saat diajak berkumpul bersama keluarga Dave ia menumpangi mobil Keluarga Dave.
"Cindy, kamu dianterin sama Dave aja ya." ucap Kikan saat melihat Cindy seperti enggan memasuki mobil keluarganya.
"Bagaimana bisa?" tanya Dave bingung. Jika mobilnya hanya satu dan ia harus mengantar Cindy pulang, bagaimana dengan orang tuanya nanti.
"Papa udah menelpon kang Sunar buat jemput kita disini. Sebentar lagi dia akan sampai." jawab Kikan.
Dave hanya menghela napas panjang karena sebenarnya ia tidak ingin mengantar Cindy. Namun karena suruhan mamanya ia tidak bisa sama sekali membantah.
Cindy yang mendengar hanya bisa tersenyum sumbringah dan bahagia saat mendapati Dave akan mengantarnya pulang.
Senangnya aku dianterin Dave. Aku bisa mencari kesempatan untuk mendekati dan balikan lagi
Cindy hanya tersenyum senang saat Dave memandanginya dengan wajah tidak suka.
__ADS_1