MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Bertemu Ibu Adit


__ADS_3

Hari ini, mungkin hari terbahagianya Dinda. Dave telah mengizinkannya untuk keluar dari apartemen. Tidak lagi dikurung dan tidak lagi disiksa. Mungkin hanya sedikit diberi kebebasan. Tapi tidak masalah. Walaupun ada pengawal dan selalu dipantau, setidaknya hari ini dan seterusnya dia bisa menghirup udara bebas.


"Ah, aku rindu suasana ini." Dinda sekarang berada diluar apartemen sambil mencium udara. Dari kejauhan, dua orang pengawal siap menjaganya.


Hari ini aku akan kerumah Adit. Aku rindu sekali sama Adit dan Dandi.


Dinda mempercepat langkahnya menuju jalan. Menyetop sebuah taksi yang lewat disana. Tidak lupa juga, para pengawal disana mengikutinya dari belakang.


Mobil taksi sampai ditempat kediaman Adit. Dinda turun dari mobil dengan wajah yang berbinar-binar.


Sudah lama sekali aku tidak kerumah ini.


Dinda memberikan ongkos taksi sebelum taksi tersebut pergi dari hadapannya.


Sesekali Dinda melirik kebelakang. Ingin memastikan para pengawal yang diuruskan Dave untuk mengawasi pergerakannya. Setelah dirasa cukup aman, Dinda melangkahkan kaki menuju depan pintu rumah Adit.


Dengan perasaan yang berdebar-debar, Dinda menekan bel. Beberapa kali dia menekan, namun pintu belum juga dibuka.


Apa nggak ada orang? Tapi rasanya tidak mungkin.


Dinda kembali menekan bel tersebut. Setelah dia merasa menyerah dan akan meninggalkan rumah itu barulah pintu rumah terbuka.


"Ibu." ucap Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.


Wanita didepannya terkejut dan sedikit bingung. "Dinda." dengan cepat dia memeluk tubuh Dinda. Sepertinya dia juga merindukan Dinda.


Dinda diajak masuk kerumah. Dan pintu ditutup rapat seperti biasanya. Kini para pengawal tidak bisa memantau dan melihat apa yang dilakukan Dinda didalam sana.


Mereka duduk disofa ruang tamu. Ibu Adit terus saja mengelus-ngelus tangan Dinda. Seperti mimpi Dinda kembali lagi.

__ADS_1


"Kemana kamu selama ini Dinda?" Ibu Adit membuka pembicaraan. Rasa rindu membuatnya tidak sabaran.


Dinda diam dan tertunduk. Sebenarnya dia juga bingung harus mengatakan apa. Dia tidak ingin membuat Ibu Adit menjadi syok jika dia diculik.


"Dinda... " ragu dan tidak tau alasan apa yang akan dikatakannya kepada Ibu Adit. Apalagi dia sama sekali tidak bisa berbohong.


"Dinda, tidak apa-apa jika kamu tidak bisa mengatakannya. Yang penting kamu sekarang selamat dan kembali lagi." sambil terus menggenggam tangan Dinda dan menyalurkan kehangatan.


Sambil menoleh kiri kanan mencari seseorang. "Dandi mana Bu?" tanya Dinda. Setaunya Dandi masih tinggal dirumah ini dan belum mendapatkan pekerjaan.Dia juga tau sekarang Adit tidak berada dirumah dan sedang bekerja.


Tertunduk lesu dan menahan air mata agar tidak jatuh. "Dandi sudah tidak tinggal disini lagi.


Menatap lurus dan terkejut. "Apa? Bagaimana bisa. Jadi dimana Dandi sekarang tante?" terus mencerca agar Ibu Adit memberitahu keberadaan Dandi.


Ibu Adit menggeleng dan air matanya akhirnya jatuh. Rasa menyesal karena sudah mengusir Dandi tiba-tiba menghampiri. "Maaf Dinda." hanya kata maaf yang bisa diucapkan Ibu Adit. Apalagi melihat Dinda yang sudah berurai air mata.


"Ibu, nggak mungkin Dandi pergi. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Dandi saat Dinda nggak ada? Jawab Bu." menguncang-guncang bahu Ibu Adit.


"Maaf Dinda, Ibu sudah mengusirnya. Ibu nggak tau harus berbuat apa. Ibu sangat stres saat kamu menghilang dihari pernikahan itu. Ibu menganggap Dandi yang membuat kekacauan itu. Dinda, maafin Ibu. Ibu sangat menyesal sekarang. Ibu nggak tau dia dimana. Setiap hari Ibu selalu memikirkan Dandi. Ibu tanya sama Adit tapi dia juga nggak pernah tau Dandi dimana." masih tetap menangis.


Dinda melepaskan pelukan tersebut dan memegang kedua bahu Ibu Adit dan menatap lurus. "Ibu, selama ini Dinda sangat menghargai Ibu dan keluarga. Ibu sudah Dinda anggap sebagai orang tua Dinda. Tapi kenapa Ibu tega mengusir Dandi. Ibu tau kan kami tidak ada tempat tinggal." menangis tersendu-sendu. Dia tidak tau bagaimana nasib Dandi diluar sana.


"Maafin Ibu Dinda. Ibu janji akan mencari Dandi sampai ketemu." meyakinkan Dinda dengan rencananya.


Dinda tersenyum dan kembali memeluk Ibu Adit. Kini keharuan sudah mulai sedikit reda.


"Dinda, kamu akan tinggal disini lagi kan?" tanya Ibu Adit. Dia sangat berharap Dinda kembali lagi bersama Adit. Apalagi selama ini anaknya seperti sudah kehilangan tujuan hidup setelah kepergian Dinda.


"Maaf tante. Dinda udah nggak bisa tinggal disini lagi." menunduk sedih. Dia tau, pasti keluarga Adit sangat mengharapkan dia kembali dan berkumpul seperti dulu. Tapi sekarang, keadaannya sudah berubah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ibu Adit bingung. Kenapa Dinda menolak. Sedangkan yang dia tau Dinda sudah tidak ada tempat tinggal. Tidak mungkin Dinda kembali ke tempat tinggal lamanya.


"Dinda sudah menikah Bu." kembali tertunduk lesu. Dia sudah tidak rau harus berkata apa. Dia tidak bisa menyembunyikan kebenarannya.


Berdiri kaget." Apa? Kamu sudah gila Dinda?" mengelus-ngelus dadanya. Bagaimana mungkin wanita yang dicintai anaknya telah menikah dengan orang lain.


"Maaf Ibu, Dinda nggak bisa memberitahu cerita sebenarnya. Dinda mohon Ibu bisa mengerti." berdiri dan meraih tangan Ibu Adit.


Ibu Adit menepis tangan Dinda yang meraih tangannya. Kini dia sangat murka. Anak yatim piatu yang sudah diterima tinggal dirumahnya telah mengkhianatinya, Keluarganya dan begitupun dengan anaknya.


"Tega sekali kamu Dinda. Kamu tidak tau bagaimana Adit setelah kehilangan kamu. Sekarang ini balasan kamu. Sekarang kamu pergi dari dari sini. Kamu dan Dandi sama saja." mendorong tubuh Dinda keluar dari pintu.


"Ibu, Ibu, dengarkan Dinda dulu Bu. Dinda masih mencintai Adit Bu. Buka pintunya Bu." Mengedor-ngedor pintu agar Ibu Adit membukanya dan memberinya kesempatan untuk menjelaskan betapa dia sangat mencintai Adit.


Kenyataan yang sudah dikatakan telah membuat Ibu Adit membencinya. Apalagi yang bisa diharapkan. Dengan berurai air mata, Dinda meninggalkan kediaman Adit.


"Tega sekali kamu Dinda. Selma ini Kami mennganggapmu sebagai keluarga. Sepertinya mengusir Dandi tidak sia-sia. Ibu berjanji akan membencimu seumur hidup. Dasar perempuan tidak tau diri."


Setelah kepergian Dinda, tidak berselang lama Adit pulang. Hari ini dia hanya kerja setengah hari dan meminta izin untuk pulang lebih awal. Fikiran dan hatinya sedang tidak baik.


"Ibu." panggil Adit saat duduk di kursi teras sambil membuka sepatu.


"Kamu sudah pulang nak? Kenapa cepat sekali?" tanya Ibunya heran. Bukankah waktu pulang kerja pukul lima sore sedangkan sekarang baru pukul satu siang.


"Adit lagi nggak enak badan Bu." jawab Adit lalu masuk kedalam rumah.


Menjatuhkan tubuh disofa sambil memijit pangkal hidungnya. "Bu, Adit kangen sama Dinda." ucapnya sambil menghembuskan nafas pasrah.


Rinduku itu percuma nak. Dinda telah mengkhianatimu.

__ADS_1


"Gimana? Apa ada kabar tentang Dinda?" tanya Ibu Adit. Dia tau anaknya ini selalu mencari keberadaan Dinda. Terkadang sampai tidak ingat waktu makan dan selalu mengkhawatirkan Dinda. Tapi, usaha anaknya itu semua sia-sia. Kini Dinda muncul dengan status dan kehidupan baru.


__ADS_2