
"Dinda, ayo kita pulang." ajak Kikan yang tak kuasa melihat kesedihan Dinda. Ia terpaksa harus membawa Dinda pergi karena semakin lama ia disini, semakin menjadi pula kesedihannya.
"Tante, mau kan temani Dinda lagi?" tanya Dinda disela isak tangisnya.
"Kemanapun pasti tante temani". Kikan meyakinkan dan membantu Dinda berdiri dari duduknya.
Akhirnya Dinda dan Kikan meninggalkan pemakaman tersebut dan menuju ketempat yang diinginkan Dinda.
Kantor polisi
Melayani dan mengayomi masyarakat dengan sepenuh hati
Itulah yang tertulis dipapan besar saat mereka sampai di gerbang kantor polisi tersebut.
Dinda pun keluar dari mobil yang diikuti oleh Kikan karena ia ingin menemani Dinda.
"Tante, biar Dinda sendiri saja." tolak Dinda saat melihat Kikan mengikutinya.
"Tapi tante ingin menemani kamu," ucap Kikan dan tetap Dinda menolak. Kikan pun hanya bisa pasrah dan kembali masuk kedalam mobil sembari menunggu Dinda yang membuat laporan atas kejadian yang terjadi pada rumah dan kembarannya.
Dinda pun berlari dengan semangat memasuki ruang kantor polisi tersebut.
"Selamat sore mbak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pegawai dari kantor tersebut.
"Saya ingin membuat laporan tentang kebakaran dan pembunuhan berencana." Ucap Dinda.
Dinda yang sangat bersemangat menjelaskan kejadian demi kejadian sangat detail tanpa kekurangan satupun dan pegawai tersebut mengetik dengan cepat hingga kewalahan karena Dinda terlalu bersemangat.
Pada saat Dinda menjelaskan dan pegawai tersebut mengetik atas laporannya, Jang kepala kantor baru saja keluar dari ruangannya dan ingin menghampiri para pegawainya. Saat Jang akan menghampiri para pegawainya ia melihat seorang wanita yang dengan semangat menjelaskan tanpa ia tau apa yang wanita itu ucapkan. Ia hanya tersenyum dan mencoba menghampiri wanita tersebut.
"Selamat sore semua." Sapa Jang kepada pegawainya dan kepada Dinda. Dinda pun membalas sapaan tersebut dengan senyuman.
"Terima kasih mbak. Kalau begitu saya permisi." Ucap Dinda kepada pegawai yang mengetikkan laporannya dan kemudian berdiri dan memberi hormat kepada pegawai tersebut dan kepada kepala kantor yang sedang duduk disampingnya. Lalu ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ada apa wanita itu kemari?" Tanya Jang disela melihat kepergian Dinda.
"Sedang membuat laporan." Jawab pegawai tersebut.
"Laporan?" tanya Jang kebingungan
"Dia baru saja membuat laporan tentang kebakaran dan pembunuhan berencana pak seperti yang diberitakan ditelevisi." Jawab pegawai tersebut.
__ADS_1
Jang yang mendengarkan jawaban dari pegawainya tersebut menaikkan alisnya seakan tidak percaya bahwa wanita yang dimaksud Dave tersebut adalah Dinda, wanita yang baru saja berada disampingnya tersebut.
"Laporan ini biar saya saja yang urus!" Pinta Jang kepada pegawainya.
Pegawai tersebut hanya bisa mengiyakan karena ia tau jabatan pak Jang jauh di atas dan iya tidak bisa menolak.
Dikantor
"Celine, tolong keruanganku sebentar!" Dave menekan tombol panggilan yang tersambung ke sekretaris pribadinya. Tak lama kemudian Celine masuk ke ruangan Dave.
"Tolong kamu urus berkas ini. Ingat, jangan ada yang ketinggalan sedikitpun!" Ucap Dave sembari membolak balik kertas dan kemudian menyerahkan kepada Celine sekretarisnya.
Celine yang mendengar perintahnya hanya bisa menelan ludah dengan perintah tersebut. Celine tau bos nya tersebut sangatlah teliti dan berwajah dingin dan membuat ia harus berhati-hati dengan kerjanya agar tidak menjadi sasaran kemarahan bos nya.
Untung aja ganteng, kalau enggak udah ku lempar dengan berkas ini. Kenapa sih aku harus selalu berhadapan dengan bos seperti ini? Ah mungkin sudah nasibku.
Setelah Celine mengambil semua berkasnya, ia pun pergi meninggalkan ruangan bosnya tersebut.
Saat Celine keluar dari ruangan tersebut Dave kemudian mengambil ponsel dan membaca beberapa pesan dari para rekan-rekannya.
[Jonathan]
[Chris]
Aku ingin dua gadis seksi menemaniku di kasino malam nanti
[Brian]
Mari kita bersenang-senang malam nanti
Beberapa pesan yang dikirim oleh rekan-rekannya. Bisa dibilang mereka semua sudah mempunyai keluarga. Namun ketidaktahuan keluarga mereka membuat mereka menjadi menggila dan melupakan keluarga mereka sejenak.
Ini tentu saja menjadi peluang bagi Kasino miliknya. Semakin ramai pelanggan, semakin banyak pemasukan. Tentu saja ia harus menyediakan wanita penghibur yang nantinya akan dipilih oleh kliennya dan akan dibawa ke dihotel untuk dijadikan pemuas.
Para pekerja disana sangat dengan sukarela dan tanpa ada paksaan. Walau selama ini pekerjaan tersebut diserahkan kepada anak buahnya untuk mengurus dan ia hanya tinggal duduk santai dan menerima hasil.
***
Diperjalanan akan menuju kerumah Kikan, Dinda hanya bisa tersenyum sepanjang perjalanan. Betapa tidak, sepertinya ia sangat puas karena berani melaporkan atas kejadian yang menimpanya dan kembarannya. Sebenarnya ia juga takut jika nantinya Dave dan anak buahnya masih mengincarnya. Namun, dengan laporan tersebut ia berharap Dave dan anak buahnya segera ditangkap dan dimasukkan kepenjara sehingga ia bisa hidup dengan tenang tanpa beban.
"Kenapa kamu Dinda? koq senyum-senyum sendiri?" Tanya Kikan penasaran.
__ADS_1
"Oh, nggak ada koq tante. Cuman merasa puas aja sudah melapor dan pelakunya segera ditangkap." Jawab Dinda dengan sembari memberi senyuman.
Kikan yang mendengar jawaban tersebut pun kembali membalas dengan senyuman.
Akhirnya mereka pun sampai dirumah kebesaran Atmawijaya.
Dinda turun dari mobil dan memandang penuh takjub dengan rumah yang begitu besar dan megah. Sangat jauh berbeda dengan rumah yang pernah ia tinggali bersama kembarannya. Ia tidak menyangka akan tinggal dan bekerja dirumah sebesar itu.
Melihat Dinda yang seperti orang yang tidak pernah masuk kerumah orang kaya pun akhirnya membawa Dinda untuk masuk kedalam rumah.
"Wah, besar dan cantik sekali rumah tante." Ucap Dinda yang masih takjub.
"Ah, kamu berlebihan." Jawab Kikan sambil tertawa.
"Nggak nyangka rumah tante sebesar ini. Terima kasih tante sudah sudi menerima Dinda tinggal dan bekerja disini." ucap Dinda lagi.
Kikan pun memeluk dan mengusap rambut Dinda dengan lembut.
"Ayo Dinda, tante antar kekamar kamu." Ajak Kikan.
Dinda pun menurut dan mengikuti langkah kaki Kikan. Hingga akhirnya sampailah tempat dimana nantinya Dinda akan beristirahat.
Kikan membuka pintu kamar tersebut. Disana sudah tersedia tempat tidur, lembari serta paralatan elektronik seperti AC dan Televisi.
Dinda yang melihat kamarnya tersebut hanya bisa membesarkan pupil matanya seakan terkejut bercampur bahagia.
"Dia siapa ma?" tanya Dion yang penasaran saat Kikan membawa seorang wanita kerumahnya.
Dinda yang mendengarkan pertanyaan tersebut pun hanya terdiam tanpa ekspresi. Ia takut jika lelaki tersebut tidak suka dan tidak mau menerima kehadirannya.
"Ini Dinda, mama bawa dia untuk tinggal disini bersama kita."
Dion yang seperti masih bingung dengan apa yang baru saja mamanya katakan hanya menatap wajah Dinda dengan polos. Kikan yang melihat anaknya yang seperti kebingungan pun menjelaskan kepada Dion dari awal pertemuan hingga akhirnya memutuskan untuk membawa Dinda kerumah.
"Jadi begitu ceritanya. Oh ya salam kenal aku Dion." Sembari mengulurkan tangan untuk berjabat.
" Dinda." Jawabnya dengan gugup.
"Nggak perlu sungkan. Disini kita keluarga dan aku juga akan menjadi kakakmu." balas Dion.
Dinda yang mendengar tersenyum bahagia. Ia tak menyangka mereka sangat menerima dan bersahabat atas kedatangannya.
__ADS_1