
Bunyi deringan ponsel membuyarkan konsentrasi Dave. Ah siapa lagi ini. Dengan malas, Dave meraih ponsel didalam saku bajunya. Dilihatnya para pengawal yang memantau Dinda sedang menghubunginya.
"Ada apa?"
"Beneran? Kenapa bisa?"
"Baiklah. Terus awasi dia." mematikan sambungan ponsel dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerja.
"Kenapa Dinda menangis? Apa mungkin..."
"Ah tidak tidak. Tidak mungkin Adit menyakitinya. Tapi kenapa bisa menangis?" berfikir keras. "Lebih baik aku telpon Dinda saja dan menanyakan kejadian sebenar." menekan nomor ponsel Dinda.
"Halo." ucap Dave saat nomor dituju telah diangkat Dinda.
Diam sejenak. "Hallo, ada apa kak Dave?" mengusap air mata yang terus jatuh.
"Dinda, kamu baik-baik saja kan?" tanya Dave khawatir. Apalagi suara Dinda terdengar seperti sedang menangis.
"Dinda baik-baik aja kak."
"Apa kamu menangis?" tanya Dave lagi untuk memastikan.
Menghapus air mata lagi. "Dinda nggak nangis koq kak. Dinda baik-baik aja." mengibas-ngibas wajah dengan tangan kanan untuk meredakan tangisan.
"Dinda... hmm yaudah. Kamu baik-baik ya." menutup panggilan.
"Sepertinya benar dia sedang menangis." menghembus nafas kasar dan memijit-mijit dahi.
Kenapa aku khawatir sama dia? Padahal aku hanya memberinya kebebasan. Tapi kenapa hatiku sakit saat tau dia menangis?
Dave memutuskan untuk meninggalkan kantornya dan pergi menuju kantor polisi untuk menemui Jang. Sudah lama rasanya dia tidak menemui Jang sahabatnya itu.
Sesampainya dikantor, Dave langsung menuju ke ruangan Jang.
Tok tok tok
"Masuk!" jawab Jang disebalik pintu.
Dave membuka pintu perlahan. Masuk dan kemudian menutup pintu kembali.
"Tumben lho kemari?" tanya Jang sambil meranjak dari duduknya. Mendekati Dave yang sudah duduk santai disofa ruang kerjanya.
"Kenapa emangnya? koq kayak nggak suka gue kemari?" melipatkan tangan ke dada seraya memicingkan bibir kesal.
__ADS_1
Menjatuhkan bokong disofa empuknya. "Ya bukan gitu sih. Cuman kaget aja." mengangkat kedua bahu serempak.
"Ngapain kesini?" tanya Jang lagi. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Dave mendatanginya. Bukan rahasia lagi jika Dave selalu mendatanginya jika hanya ada masalah, curhat atau meminta bantuan.
Dave diam dan tidak menjawab pertanyaan Jang. Menghembuskan nafas dari mulutnya sembari mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.
"Aku bingung Jang." ucap Dave dan membuat Jang penasaran.
Mengerutkan dahi dan menyipitkan mata. Sepertinya jawaban Dave sangat nanggung dan membuatnya sedikit penasaran. "Bingung kenapa? Yang jelas dong." memukul bahu Dave kesal.
Menatap langit-langit ruangan Jang. "Aku nggak tau kenapa dengan hati ini Aku selalu mengkhawatirkan Dinda." ucapnya lirih.
Jang kaget mendengar kata-kata Dave. Bagaimana mungkin Dave bisa mengkhawatirkan Dinda. Sedangkan yang dia tau selama ini Dave tidak memperdulikan Dinda dan bahkan hanya haus untuk menyiksa Dinda. "Hah, beneran?" tanya Jang tidak percaya.
"Aku juga nggak tau kenapa aku terlalu mengkhawatirkan dia. Hatiku sangat sakit melihatnya menangis." kembali mengingat-ingat dimana saat Dinda menangis karenanya. Sepertinya dia sangat menyesal sekali.
"Atau mungkin lho udah ada rasa sama dia?" Jang menduga mungkin saja Dave ada rasa sama Dinda. Namun Dave belum menyadarinya.
"Ah nggak mungkin lah. Aku belum bisa melupakan Cindy. Tapi aku juga nggak bisa menerimanya lagi. Aku juga bingung Jang." kembali memijit-mijit pangkal hidungnya dan memejamkan mata.
Jang terdiam dan tidak menyanggah. Dia juga tau jika Dave masih mencintai Cindy. Namun karena perselingkuhan Cindy dimasa lalu membuat Dave tidak mau menerimanya lagi. Tapi Jang yakin, Dave menaruh hati kepada Dinda. Tapi rasa itu belum tumbuh dengan mekar dan masih dalam proses.
"Gimana kabar Istri lho. Lho udah nggak nyiksa dia lagi kan?"
Dave terdiam sejenak. Apa dia salah dengar atau memang Jang sengaja meledeknya. "Aku nggak salah dengar kan?" tanya Dave mengerutkan dahi.
Berdiri merapikan jas. "Ya, emang dia istri aku. Aku dan dia sudah sah menjadi pasangan. Tapi..." menahan kata-kata selanjutnya.
"Dia tidak mencintaimu kan?" yakin Jang. Dia tau, Dinda masih mencintai Adit. Pemuda yang ditemuinya saat ingin menemui Dinda dan pemuda yang melaporkan atas penculikan Dinda waktu itu.
"Entahlah Jang. Cuma aku nggak suka dia dekat-dekat Adit lagi. Aku juga udah nggak pernah lagi nyiksa dia." jawab Dave. Walaupun sebenarnya dia masih sesekali membentak Dinda jika suasana hatinya kurang baik atau sedang tersulut emosi.
*****
Dinda melangkahkan kaki setelah turun dari taksi menuju kantor tempat Adit bekerja. Sepertinya dia yakin disini Adit bekerja.
Dinda memasuki pintu masuk lalu berjalan menuju meja penjaga.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya pegawai bank tersebut.
"Apa saya bisa ketemu Adit?" tanya Dinda.
"Adit? Adit Kepala Direktur ?" tanya pegawai itu meyakinkan lagi. Apalagi nama Adit yang bekerja dikantor itu ada tiga orang.
__ADS_1
Dinda diam sejenak. Apa kak Adit jadi direktur? Aduh, aku juga nggak tau. Mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto Adit yang sudah diambilnya waktu berkunjung kerumah tadi.
"Oh Adit ini. Ya, dia Direktur disini. Kalau boleh tau mbak siapa nya ya?" tanya pegawai itu lagi.
"Sa saya adiknya." balas Dinda berbohong. Jika dia mengatakan tunangan itu tidak mungkin. Sedangkan dia sekarang sudah menjadi istri orang lain.
"Sebentar ya mbak." menekan telepon menyambung ke sekretaris Adit.
"Hallo Nit, apa pak Adit nya ada diruangan?"
"Ini ada adiknya mau ketemu."
Diam mendengarkan. "Oh gitu. Yaudah terima kasih." menutup panggilan telepon.
"Maaf mbak, Pak Adit nya sedang tidak ada diruangan. Kata sekretarisnya dia sudah pulang." ucap pegawai itu lagi.
Pulang? Kenapa cepat sekali. Tapi kenapa tadi nggak ketemu dirumah ya?
Berdiri dari tempat. "Makasih ya mbak. Maaf mengganggu." pergi meninggalkan pegawai tersebut.
Membuka pintu dan keluar dari kantor Bank tersebut setelah orang yang ingin ditemui tidak berada ditempat.
Dinda nggak tau harus kemana lagi. Ingin menemui Dandi, sedangkan dia juga tidak tau dimana Dandi berada. Mau menelpon pun tidak ada nomornya.
Saat akan melangkahkan kaki keluar dari area Bank, Dinda menghentikan langkahnya saat melihat seseorang sedang mengelap kaca.
Dandi? Apa itu Dandi? Tapi kenapa dia disini?
Dinda melangkahkan kaki pelan-pelan untuk melihat dan memastikan apakah itu Dandi atau bukan.
"Dandi!" panggil Dinda saat yakin orang diseberang sana kembaran nya.
Dandi menghentikan kerjanya dan menoleh kearah sumber suara. Sepertinya dia sangat familiar dengan suara tersebut. "Dinda."
Setelah mengetahui orang tersebut Dandi, Dinda langsung berlari berhamburan lalu memeluk Dandi erat.
"Dandi, aku kangen." ucap Dinda sedih. Tidak sadar air matanya jatuh.
"Aku juga kangen Dinda." balas Dandi mengelus-elus punggung Dinda.
Dinda melepaskan pelukan dan menatap Dandi haru. " Kamu ngapain disini? " tanya Dinda sedikit penasaran.
"Aku kerja disini. Kamu bisa lihat sendiri kan kerjaan aku." menunjuk kain lap yang dipegangnya.
__ADS_1
UNTUK KALIAN MINTA CRAZY UP, THOR MINTA MAAF. THOR NGGAK BISA JANJI. KALAU ADA WAKTU PASTI AKAN THOR UPDATE LEBIH DARI SATU EPISODE.
MAAF JIKA SEMALAM NGGAK UPDATE. SOALNYA SEMALAM HABIS PAKET😁😁.