MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Aktivitas Baru


__ADS_3

Pagi yang cerah telah membangunkan Dinda dari tidur nyenyak nya. Matanya terbuka perlahan walau masih ada rasa ngantuk.


Kenapa ini? Kenapa rasanya berat sekali? Astaga, kenapa kak Dave memlukku? Apa dia memelukku sepanjang malam? Kenapa aku tidak sadar?


" Kak Dave." panggil Dinda pelan.


Namun sialnya sang punya nama tidak menghiraukan dan masih tetap tertidur pulas. Ingin rasanya Dinda menggigit tangan yang sudah memeluknya hingga sulit bernafas.


Dinda dengan pelan-pelan melepaskan tangan dan kaki yang sudah menguncinya semalaman. Setelah terbebas, dia langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Dave membuka matanya dan menatap punggung Dinda. Sebuah senyuman tersimpul dari bibirnya. Entah kenapa perasaannya pagi ini begitu senang.


Saat Dinda keluar dari kamar mandi, ia mendapati Dave sedang duduk di senderan kasur. Menatapnya dengan memberi senyuman.


Kenapa kak Dave tersenyum? Tidak seperti biasanya. Dimana tatapan mematikan setiap melihat wajahku?


"Kak Dave sudah bangun? Aku sudah mnyipakan air panas untuk kakak mandi." ucap Dinda.


"Tunggu!" panggi Dave saat Dinda hendak keluar dari kamar.


Dinda menoleh. " Ada apa kak Dave?" tanya Dinda bingung. Ia ingin turun kebawah dan memasak seperti biasanya untuk sarapan pagi.


"Aku ingin mandi." ucap Dave.


Kalau mau mandi ya mandi saja sana. Kenapa juga harus memberitahu ku. Apa sekarang setiap apa yang ingin kamu lakukan akan lapor dulu padaku?


"Bantu aku mandi!" dengan nada pelan namun tegas. Bisa dibilang seperti paksaan yang tidak boleh dibantah.


Dinda hanya mematung. Seperti tidak percaya. Bagaimana bisa Dave menyuruhnya membantu. Padahal dia bukan anak kecil lagi. Kan bisa mandi sendiri. Punya tangan, punya kaki juga. Sakit juga tidak.


Dave beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. "Hei, kenapa lama sekali? Kemari! bantu aku mandi!" pekik Dave. Dinda sama sekali tidak bergeming dan hanya mematung memandangi pintu kamar mandi yang terbuka.


Bagaimana ini? Kenapa aku harus membantunya mandi? Tidak akan terjadi apa-apa kan didalam.


"Dindaaaa." pekik Dave lagi dan membuat Dinda tersadar dari lamunannya. Dinda melangkahkan kaki dengan berhati-hati menuju kamar mandi.


"Aaaaaaaaaaa." Dinda kaget saat Dave sudah berendam di bak dengan dada yang terbuka. Dinda buru-buru memalingkan wajahnya. Pipinya sudah memerah menahan malu.

__ADS_1


"Kemari lah. Gosok badanku!" dengan senyuman jahilnya. Sepertinya seru juga menjahili dia.


Masih sambil memalingkan wajah, Dinda menyeret kakinya menuju pinggiran bak. Meraba-raba temoat sabun yang terletak disana.


Kenapa dia sangat santai begini sih? Kan aku yang malu.


"Dinda."


"Ya kak Dave."


"Gosok yang benar. Kenapa juga sih harus memalingkan muka?" kesal Dave. Apalagi Dinda menggosok punggungnya asal-asalan.


Aku malu bodoh. Apa kau tidak malu memperlakukan aku seperti ini? Oh ya ya, aku lupa. Pasti kau sering meminta perempuanmu melakukan seperti ini. Menjijikkan!!!


"A a aku tidak terbiasa." ucap Dinda jujur. Seumur hidupnya belum pernah dia membantu laki-laki mandi. Ah yang benar saja. Bisa gila jika itu terjadi pada dirinya.


Kak Dave tidak akan melakukan sesuatu kan?


"Mulai sekarang lakukanlah. Kau harus membantu menggosok punggungku ketika mandi!" pinta Dave.


Apa! apa dia sudah gila. Emang siapa dia seenaknya memerintah.


"Karena kau istriku." dengan percaya dirinya Dave mengatakannya.


Ya ya aku istrimu yang bertugas sebagai babu.


Dinda hanya diam tertunduk. Kenapa sih hidupku harus berakhir seprti ini? Aku rindu hidupku yang dulu. Aku ingin bebas.


Dave menoleh." Kenapa hanya diam? Ayo lanjutkan!" suruh Dave lagi.


Sepanjang memasak, Dinda hanya diam. Pikirannya selalu saja mengingat Dandi dan Adit. Ingin sekali menemui mereka. Namun bagaimana caranya jika Dave mengurungnya dipenjara ini?


Adit, aku sangat rindu hiks. Dandi aku juga merindukanmu. Kenapa kau pergi saat aku tidak berdaya. Aku bosan disini. Aku ingin pulang.


"Sudah selesai melamun nya?"


Dinda lalu tersadar dari lamunannya. Suara Dave sudah mengagetkannya. Dinda hanya membalas dengan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Mereka memakan sarapan pagi yang sudah dihidangkan. Sarapan dalam keheningan.


Dinda hanya mengaduk-ngaduk nasinya tanpa memakan. Pikirannya begitu kacau. Bayangan Adit selalu terngiang di kepalanya.


Dave yang melihat seperti tidak senang. Apalagi sedari tadi Dinda tidak memakan dan hanya mengaduk-ngaduk saja. Sama sekali tidak menghargai dia yang sedang makan. bersamanya.


"Makan!" perintah Dave dengan nada tegas dan membuat Dinda tersadar.


"Iya kak." menyendok nasi dan memasukkan kedalam mulutnya. Sebenarnya dia sudah tidak selera makan. Mau tidak mau harus makan dari pada di marah.


"Aku tidak mau kau hanya memain-mainkan makananmu saat makan bersamaku!"suruh Dave dengan tatapan kesalnya.


Dinda yang mendengar seketika merinding. Bulu kuduknya berdiri. Ternyata Dave sama sekali tetap memperlakukannya seperti dulu. Membentak dan memerintah dengan sesuka hati. Dan bodohnya lagi harus dipatuhi dengan senang hati.


"Iya kak." bibirnya bergetar menahan debaran. Bukan debaran karena jatuh hati melainkan debaran ketakutan.


Dave hanya tersenyum. Ternyata Dinda ketakutan kepadanya. Terlihat dari raut wajah yang memucat.


"Sudahlah. Jangan takut begitu. Aku hanya tidak suka kau melakukan itu." ucapnya dengan pelan.


Setelah selesai sarapan pagi, seperti biasanya Dave akan berangkat bekerja. Sebelum itu, Dinda akan bersalaman dan mencium punggung Dave seperti perintahnya waktu itu. Walau dia melakukan dengan terpaksa, namun harus dilakukan juga mengingat itu sudah menjadi keputusan Dave yang harus dilakukannya tanpa bisa disanggah atau ditolak.


"Aku pergi bekerja dulu. Baik-baik dirumah." ucap Dave sambil mencium kening Dinda.


Dinda meremas-remas jemarinya dan menggigit bibir bawahnya. Seperti ada yang ingin disampaikan namun masih tersekat ditenggorokan. Semua itu tidak luput dari pandangan Dave.


Cih, pasti kamu ingin menemui Adit kan? Aku bisa melihat dari sikapmu itu. Jangan harap aku mengizinkan.


Dave lalu pergi dan menutup pintu dengan kesal. Sepanjang jalan dia hanya sibuk mencela dan memaki nama pria yang masih bertengger dihati Dinda.


Kenapa aku tidak punya keberanian sih untuk mengatakan? Padahal aku sudah menahannya beberapa hati ini.


Dinda menghela nafas panjang. Menyesal karena tidak berani mengatakannya. Sebenarnya perasaan takut itu masih ada. Apalagi nanti jika Dave murka.


Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bosan disini. Aku bosan dikurung terus. Aku ingin keluar!


Seketika air mata Dinda jatuh dengan sendirinya. Kenapa hidupnya menjadi sulit seperti ini.

__ADS_1


"Aku ingin keluar! aku bosan disini." isak tangisnya semakin menjadi. Hanya dengan menagis yang bisa dilakukannya. Setidaknya itu akan meredakan suasana hati dan beban hidupnya.


Disisi lain Dinda juga sangat berterima kasih kepada Dave karena sekarang dia sudah tidak menyiksanya lagi seperti dulu. Mini tingkat penyiksaan nya sudah turun level. Walaupun terkadang Dave masih membentaknya. Itu tidak mengapa. Ia masih bisa menghadapinya. Asalkan dia tidak pernah lagi dikasari secara fisik.


__ADS_2