
Pagi itu Dandi bersiap-siap berangkat kesekolah. Seperti biasa mereka aka sarapan bersama sebelum pergi ketempat tujuan masing-masing.
"Dandi?" Dinda mengedor-ngedor pintu kamarnya.
"Sebentar!" ucap Dandi kesal. Beberapa saat kemudian dia akhirnya membuka pintu.
"Ngapain sih? lama banget." kesal Dinda yang dari tadi menunggunya.
Kenapa sih kamu harus mampir? aku kan pasti sarapan bersama juga." ucap Dandi.
"Kali ini kamu kelamaan Dandi. Kami bosan menunggu. Mama yang nyuruh buat manggil kamu." balas Dinda lagi. Mereka berdua pun turun dan sarapan bersama.
Selesai sarapan Dandi dan Dinda pun berpamitan untuk berangkat menuju sekolah. Kebetulan setiap akan berangkat kesekolah mereka akan diantar oleh ayahnya. Apalagi antara sekolah Dandi, Dinda dan temoat kerja ayahnya satu arah.
"Ayah, hari ini Dandi dijemput sama teman. Ayah sama Dinda duluan aja." ucap Dandi berdiri didepan pintu mobil saat Dinda dan ayahnya sudah masuk dan akan menjalankan mobinya.
"Siapa? nanti kamu nggak sampai kesekolah." ayahnya khawatir. Takut anaknya itu tidak kesekolah dan terpengaruh dengan pergaulan yang kurang baik.
"Enggak yah. Dandi beneran kesekolah!" balas Dandi meyakinkan ayahnya.
Akhirnya ayahnya dan Dinda pun pergi meninggalkannya yang masih berdiri di bagasi mobil.
Beberapa saat setelah mereka pergi, sebuah mobil terparkir tepat didepan jalan rumahnya. Dengan segera dia berlari menghampiri.
"Ayo masuk!" ajak Dave. Dave lah yang menjemputnya kali ini. Apalagi Dave sudah berjanji akan menjemputnya.
Dandi pun masuk kedalam mobil dan duduk di kursi disamping Dave.
"Kita mau kemana?" tanya Dave.
"Ya kesekolah lah Bang." balas Dandi. Tujuannya memang akan berangkat kesekolah. Itu yang sudah dikatakannya pada ayahnya tadi.
Dave menaikkan satu alisnya. "Apa menurutmu abang menjemputmu hanya untuk mengantarmu kesekolah?" tanya Dave. "Kalau begitu, ngapain abang capek-capek datang." sambung Dave lagi.
"Jadi?" tanya Dandi bingung.
__ADS_1
"Kita bolos. Abang juga akan bolos dari kampus hari ini." ucap Dave percaya diri.
"Bang, jangan deh. aku udah janji sama ayah kalau langsung kesekolah. Aku nggak mau bolos. Takut!" tolak Dandi.
"Udah deh. Jadi anak murid jangan terlalu rajin. Sesekali bolos juga nggak ada ngaruhnya sama masa depan kamu." ucap Dave.
"Nanti kalau ayah aku tau gimana?" tanya Dandi semakin khawatir. Dia tidak ingin ayahnya melihat dan kecewa terhadapnya. Apalagi ini merupakan pengalaman pertamanya bolos sekolah.
"Pandai-pandai kamu Dandi. Kalau kamu kasi tau tentu ayahmu akan marah. Ini kan ayahmu nggak tau." balas Dave lagi.
Iya nggak apa-apa juga kali ya aku bolos? lagian kan nggak ada yang tau. Dinda juga nggak satu sekolah denganku.
"Yaudah terserah abang aja." ucap Dandi pasrah.
Akhirnya Dandi pun bolos sekolah. Pandangannya tetap fokus kearah jalan. Saat mereka melewati sekolahnya, Dandi langsung menunduk saat dia melihat kepala sekolah sedang berdiri didepan pagar sekolah. Menghukum murid-murid yang datang terlambat.
"Ngapain?" tanya Dave heran.
Menunjuk-nunjuk arah luar. "Itu bang. Takut ketahuan." balas Dandi yang masih mengumpet.
Dandi pun segera bangun kembali saat mobil sudah melewati sekolahnya. "Kita mau kemana bang?" tanya Dandi lagi yang memang tidak tau kemana Dave akan membawanya.
"Abang mau ketemu sama cewek kenalan abang." balas Dave.
"Kalau mau ketemu cewek ngapain bawa-bawa aku? nyuruh jadi obat nyamuk gitu?" ucap Dandi kesal. Tiba-tiba saja di menjadi menyesal sudah terpengaruh akibat bujukan Dave.
"Abang mau kenalin ke kamu juga. Abang juga mau minta pendapat kamu. Soalnya nih cewek udah lama abang taksir." balas Dave yang masih fokus menyetir. "Kamu gimana? masa nggak ada cewek yang ditaksir sih? emang sekolah kamu nggak ada ceweknya apa?" tanya Dave sedikit heran. Apa lagi selama mereka bersahabat, Dandi belum pernah bercerita ataupun menunjukkan cewek yang disukainya. Dia berharap Dandi masih normal.
Meremas-remas jemarinya. "Sebenarnya aku juga sedang naksir sama seorang cewek." ucap Dandi malu-malu. Kalau urusan cewek dia memang sangat kurang berpengalaman dan juga masih malu-malu.
Menepuk-nepuk punggung Dandi. "Wih, akhirnya adik abang bisa suka juga sama cewek juga. Abang kira kamu nggak normal," ucap Dave senang. "Siapa cewek yang kamu taksir? anak sekolahan kamu juga? cantik nggak?" tanya Dave kembali.
Dandi segera menggeleng. Bukan murid cewek di sekolah nya yang sedang ditaksirnya. Melainkan seorang mahasiswi dikampus yang tidak jauh dari sekolahnya.
"Aku menyukai seorang mahasiswi." ucap Dandi dan membuat Dave terkejut.
__ADS_1
"Apa? kamu menyukai cewek yang lebih tua?" tanya Dave terkejut. "Kamu sadarkan?" tanya Dave lagi. Takutnya jika Dandi sedang mgelantur atau sedang pura-pura.
"Aku serius." balas Dandi.
"koq bisa sih? anak kampus mana dia?" tanya Dave penasaran.
"Kampus IKP bang." balas Dandi malu-malu.
Dave langsung manggut-manggut. "Apa? bukannya kampus itu nggak jauh dari sekolahmu?" ucap Dave lagi.
"Kenapa bang?" tanya Dandi yang melihat Dave seperti memikirkan sesuatu.
"Cewek yang abang suka juga dari kampus itu." Balas Dave. Bagaimana mungkin mereka berdua menyukai seorang cewek yang berasal dari kampus yang sama. Bukan kebetulan juga kan jika ceweknya juga sama?
Dave segera me geleng-geleng kepalanya saat dia berfikir yang tidak-tidak. Tidak mungkin mereka menyukai cewek yang sama. Apalagi dikampus itu ada ratusan mahasiswi cewek.
Beberapa menit kemudian, Dave menghentikan mobilnya saat sampai disebuah cafe. Mereka pun turun dan masuk.kedalam cafe.
Dandi yang masih takut-takut, menutup wajahnya agar tidak ketahuan. Apalagi sekarang dia masih memakai pakaian seragam sekolah.
Tampak seorang cewek sedang melambai kearah mereka. Dave yang tersadar langsung menarik tangan Dandi yang masih ketakutan setengah mati.
"Kamu ngapain sih? nggak usah takut. Disini nggak ada yang bakalan kenal kamu. Itu ceweknya lagi manggil kita." ucap Dave.
Dandi pun dengan sedikit ragu-ragu meletakkan tasnya kembali yang digunakan untuk menutup wajahnha. Namun kakinya berhenti melangkah saat melihat seorang cewek yang disukainya berada tepat didepan matanya.
"Silahkan duduk!" suruh wanita yang memanggil mereka tadi.
Dave dan Dandi pun segera duduk didepan wanita itu. Tampak wajah mereka masih malu-malu.
Menyenggol lengan Dave. "Bang, ini cewek yang abang suka?" tanya Dandi berbisik-bisik.
"Iya, udah-udah jangan bikin malu. Abang gerogi ini." balas Dave.
Mereka memesan menu makanan dan minuman disana. Mereka pun akhirnya mengobrol setelah tadi saling berkenalan. Arah mata Dandi tidak lekang memandang cewek tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Ternyata mereka menyukai cewek yang sama. Tapi dia tidak ingin membuat pertemuan Dave dan cewek tersebut gagal. Kali ini dia akan menyimpan perasaannya itu.
__ADS_1