
Saat ini, Dandi duduk merenung di jendela kamarnya. Tentu saja ia memikirkan Dinda dan nasibnya kedepan. Saat itu juga, Adit masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dandi tersadar dari lamunannya. "Bisa nggak sih kamu ketuk dulu pintu sebelum masuk kekamar aku." pinta Dandi dengan sedikit kesal.
Adit hanya diam. Ia hanya memejamkan matanya sejenak. "Ini rumahku, dan ini juga kamarku." balas Adit cuek.
Dandi terkejut dengan sikap Adit yang berubah secara tiba-tiba. Biasanya ia akan segan dan sopan kepadanya, kini dia sudah berani melawan dan bahkan tidak lagi hormat kepadanya.
Kenapa di jadi begini. Dimana Adit yang pernah aku kenal. Apa sebegitu nya dia marah kepadaku?. Gumam Dandi penasaran. Sepertinya semenjak kemaren Adit tidak mau berbicara kepadanya.
"Kamu kenapa? kenapa sikapmu berubah terhadapku?" tanya Dandi lagi.
Adit lagi-lagi diam. Ia menghembuskan nafas kasar sambil menggigit bibir bawahnya. "Kenapa kau selalu saja membuat Dinda menderita." balas Adit sedikit emosi.
Dandi tertunduk dan diam. Apa yang dikatakan Adit ada benarnya juga. Semuanya berawal dari ulah nya sendiri. Kini Adit pun terkena imbasnya.
"Kau tau keluargaku kini menanggung malu. Sedangkan kau disini hanya duduk manis tanpa melakukan apa-apa." ucap Adit lagi.
"Maafkan aku Dit. ini semua gara-gara aku." balas Adit menyesal.
"Aku sudah melaporkan kejadian ini ke polisi. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi nanti. Tujuanku sekarang hanya Dinda." ucap Adit sedikit lirih. Ia merasa begitu sedih setelah dua kali kehilangan Dinda. Orang yang begitu disayanginya.
"Dit, sebaiknya kamu cabut saja laporan itu. Aku nggak mau nantinya kamu kenapa-napa. Dave bukan orang sembarangan Dit. Aku nggak mau kamu bernasib sama seperti aku dan Dinda." Dandi memohon agar Adit mencabut laporannya tersebut.
"Udah aku bilang Dan, aku tidak peduli. Aku hanya ingin Dinda kembali." balas Adit.
Dandi hanya menghembus nafas kesal. Ia tidak bisa lagi membujuk Adit. Apa yang dilakukan Adit memang sudah benar. Tapi semua akan sia-sia.jika Dave dan anak buahnya mengetahuinya.
Kenapa semuanya jadi begini. Kenapa aku menjadi orang yang tidak berguna." kesal Dandi dengan keadaannya sekarang.
Dandi keluar meninggalkan Adit dikamar. Saat ia keluar dan turun, orang tua Adit menatapnya dengan wajah penuh kekesalan.
"Dandi." panggil Ayah Adit yang duduk diruang keluarga. Dandi pun menghampiri lalu duduk berhadapan.
__ADS_1
"Ada apa om?" tanya Dandi menunduk. Ia merasa sangat malu jika harus bertatap wajah.
"Kamu lihat kan apa yang terjadi sekarang?" tanya ibu Adit dan Dandi mengangguk.
"Dandi tau tante. Dandi minta maaf." ucap Dandi lagi. Ia tidak mengira keadaannya akan menjadi sangat sulit.
"Maaf saja tidak cukup Dan. Kami sekeluarga harus menanggung malu karena kejadian kemaren." ucap ibu Adit. Tanpa sadar air mata beliau jatuh.
"Jadi apa yang harus Dandi lakukan sekarang?" tanya Dandi putus asa. Sekarang ia sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Mulai hari ini, jangan lagi tinggal disini!" pinta Ibu Adit dengan terpaksa. kini ia menganggap bahwa Dandi pembawa sial dirumahnya.
Dandi mengangkat kepalanya lagi dan menatap lurus kearah orang tua Adit. Memperlihatkan raut wajah terkejut. Bagaimana mungkin orang tua Adit mengusirnya. Ia sudah menganggap orang tua Adit sebagai orang tuanya sendiri.
"Kenapa tante, om?" tanya Dandi tidak percaya.
Ibu Adit hanya hanya diam dan terus saja menangis. Sebenarnya ia juga tidak tega. Apalagi Dandi dan Dinda sudah tidak punya tempat tinggal dan orang tua. Demi membersihkan nama baik keluarganya, ia terpaksa mengusir Dandi dari rumahnya. Bukankah semua berawal dari ulah Dandi dimasa lalu.
Dari kejauhan, Adit yang mendengarkan pembicaraan mereka juga sangat terkejut. Kenapa orang tuanya begitu cepat mengambil keputusan.
Walau ia sebenarnya juga merasakan kekesalan terhadap Dandi, namun ia juga merasa tidak tega jika hal ini terjadi pada Dandi. Bagaimana dia bisa hidup diluar sana. Apalagi selama Dandi tinggal dirumahnya, ia sama sekali tidak bekerja.
"Dandi." sapa Adit menghampiri sambil menepuk-nepuk punggung Dandi untuk menenangkan nya.
Dandi spontan memeluk Adit. Kini ia merasa sangat dipojokkan oleh orang-orang dan keluarga Adit. Tidak ada tempat mengadu dan tidak ada lagi tempat untuk berlindung.
"Semua ini gara-gara aku." ucap Dandi sedih.
"Sudah Dan. Tidak semuanya salah kamu. Kamu jangan lemah begini. Kita harus balas mereka." ucap Adit untuk meyakinkan Dandi. Walaupun ia sedang kesal terhadap Dandi, namun dia juga memiliki kepedulian yang tinggi.
Dandi buru-buru melepaskan pelukannya dan menatap Adit dengan wajah tidak percaya. Ternyata Adit masih peduli kepadanya.
"Aku akan bantu kamu mencarikan tempat tinggal dan pekerjaan." ucap Adit tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih Adit. Aku benar-benar berharap kamu yang akan menjadi suami Dinda nantinya." balas Dandi senang.
*****
Keesokan harinya
Pagi itu Dinda dipaksa oleh Dave untuk mengenakan pakaian pengantin.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau menikah denganmu." tolak Dinda. Ia hanya menginginkan Adit yang menjadi suaminya.
"Kau menolak?" tanya Dave.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan mau menikah denganmu. Kau bukan laki-laki yang baik. Kau kejam." balas Dinda dengan emosi. Ia tidak mampu lagi menahan emosinya yang sudah membeludak. Apalagi harus dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya.
Dave yang kini tingkat emosinya sudah mencapai ubun-ubun, lalu menarik paksa Dinda dengan kasar. Ia mengurung Dinda didalam kamar.
"Buka , buka pintunya. Aku mau keluar. Aku tidak mau disini." pinta Dinda sambil terus mengedor-ngedor pintu.
"Aku tidak akan membuka pintu dan tidak akan memberimu makan jika kau menolak menikah denganku." balas Dave kembali mengancam. Kali ini ia tidak main-main.
Dinda terdiam. Bagaimana mungkin dia hanya berkurung diri dikamar tanpa diberi makan. Segitu kejamnya kah Dave kepadanya.
"Terserah. Aku tidak akan mau menerima." ucap Dinda yakin. Keputusannya sudah bulat. Apapun yang akan terjadi padanya, ia sama sekali tidak akan mau menikah dengan Dave. Dihatinya cuma ada nama Adit, bukan Dave.
Dave yang mendengar jawaban Dinda tersebut semakin kesal. Ia lalu menendang pintu kamar tersebut dengan kasar. Kali ini, Ia tidak mau melampiaskan kekesalannya kepada Dinda sekarang.
Dave turun kebawah. Duduk sambil menyilangkan kakinya. Hari ini dia memang mengambil cuti. Tujuannya sudah pasti ingin menikah, walaupun harus secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh orang tuanya ataupun orang-orang dikantornya. Namun mengingat Dinda masih menolak, kini ia hanya bisa menunggunya.
Saat itu, ponsel Dave berdering. Ia lalu menjawab panggilan yang ternyata dari anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Dave.
"Bos, saya sudah mencari tau siapa yang melaporkan bos ke polisi." balas anak buahnya.
__ADS_1