
Saat ini Dave sudah dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas tuduhan yang menimpanya.
Kedua tangannya diborgol dan dibawa ke ruang khusus.
"Pak, saya tidak korupsi dan tidak menggelapkan uang. Bagaimana bisa saya melakukan itu di perusahaan saya sendiri. Saya pasti difitnah dan pasti ada yang menjebak saya." ucap Dave
Ia tidak tau apa-apa perihal tuduhan yang menimpanya. Selama ini ia sama sekali tidak pernah berurusan dengan yang namanya korupsi ataupun penggelapan uang. Apalagi hal tersebut sangat dibenci oleh masyarakat karena dapat merugikan semua pihak.
Dirumah Atmawijaya
Dinda tiba didepan gerbang rumah. Ia kebingungan saat ada tetangga yang memandangi nya dengan penuh selidik dan kemudian berbisik-bisik sesama tetangga lainnya. Namun Dinda hanya membalas dengan senyuman.
"Mbak ngapain kerumah Pak Atmawijaya?" tanya tetangga tersebut.
Mungkin saja mereka bingung apalagi Dinda selama tinggal dirumah tersebut tidak pernah menampakkan diri kepada tetangga sekitar.
"Saya Dinda buk, saya tinggal dan bekerja disini."Dinda mengulurkan tangan dan kemudian mencium punggung tangan tetangga tersebut dengan sopan dan membuat tetangga tersebut kagum karena kesopanannya.
"Koq kita-kita tidak pernah melihat ya?" ucap tetangga tersebut lagi
"Saya baru disini buk. Lagian saya juga jarang keluar. Maaf karena belum sempat berkenalan sesama tetangga." balas Dinda dengan senyuman.
"Oh gitu, nggak apa-apa koq. Kamu sopan gini aja kita udah senang kan ibuk-ibuk?" Para tetangga saling tersenyum.
Setelah mengobrol-ngobrol dan berkenalan cukup lama dengan para tetangga, ia baru sadar jika ia tidak boleh terlalu lama diluar karena takut Dave dan para anak buahnya mengetahui tempat persembunyiannya. Ia pun pamit dan kemudian bergegas masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa.
Saat Dinda masuk kedalam rumah, ia melihat Roy, Dion dan Kikan yang sedang menangis dan hal tersebut membuatnya penasaran. Dinda pun mencoba menghampiri mereka .
"Tante, kenapa ini?" tanya Dinda khawatir saat melihat mata Kikan sudah sembab.
Kikan tidak menjawab dan terus saja menangis begitupun Roy dan Dion juga tidak menjawab dan sibuk menenangkan Kikan.
Ada apa ini? kenapa tante Kikan menangis? apa mungkin ...
Tiba-tiba saja ia berfikir mungkin saja apa yang dikhawatirnya terjadi.
Dinda semakin gelisah dan sangat merasa bersalah. Ia hanya terpaku berdiam diri menyaksikan tangisan Kikan. Mungkin saja mereka mencelakai Kikan dan keluarganya saat ini.
"Dinda, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Dion saat melihat Dinda seperti orang yang gelisah.
"Hah, nggak apa-apa koq kak."
__ADS_1
Dinda kaget, dan tidak menyadari Dion menghampirinya. Pikirannya sekarang sangat kacau.
"Dinda, kakak Dave ditangkap polisi." ucap Dion sedih.
Mata Dinda terbelalak saat mendengar nama Dave terucap dari mulut Dion. Bagaimana bisa ia bersembunyi dan tinggal dirumah orang yang sedang mengincarnya. Sama saja masuk kedalam kandang harimau.
"Apa?" Dinda kaget.
Saat mendengar nama Dave ia sangat ketakutan dan khawatir. Namun saat Dion mengatakan dibawa oleh polisi ia sepertinya juga tampak lega.
Apa? bagaimana bisa aku tinggal dirumah Dave. Tapi aku sangat bersyukur jika kau sudah ditangkap.
Pikirannya sangat kacau. Saat ini ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari rumah ini sebelum anak buah Dave mengetahuinya.
"Dinda, kemari sayang." ajak Kikan dan kemudian Dinda pun menghampiri Kikan yang duduk disofa.
Tante, maaf mungkin tante sangat terpukul dengan tertangkapnya anak tante. Tapi dia harus mempertanggungjawabkan semua kejahatannya selama ini.
"Dinda, kamu belum berkenalankan sama kak Dave kan?" tanya Kikan dan Dinda hanya menggeleng.
Aku sangat mengenalnya tente.
"Kenapa mereka jahat sama Dave? Dave tidak bersalah dan tidak mungkin melakukan itu. Tante bersumpah akan membenci orang yang sudah menjebak anak tante." ucap Kikan lirih.
Tiba-tiba saja air matanya jatuh tak terbendung memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti jika Kikan mengetahui orangnya adalah dia.
"Pa, Dave nggak mungkin korupsi." lirih Kikan lagi.
Apa? Korupsi? bukan karena pembakaran rumah dan pembunuhan berencana? apa yang terjadi?
Dinda segera menghapus air matanya yang sedari tadi berjatuhan. Bagaimana bisa Dave bukanlah seorang Dave yang ia kenal.
"Dinda, Dave difitnah orang. Dave tidak mungkin korupsi apalagi menggelapkan uang. Tante yakin pasti banyak yang iri dengan kesuksesannya." ucap Kikan lagi.
Jadi Dave anak tante bukan Dave kejam yang aku kenal? Ya tuhan kenapa aku jadi berburuk sangka begini hanya karena namanya yang sama. Udah jelas mereka semua orang baik. Bodoh sekali aku.
"Tante, kebenaran akan terungkap koq tante. Kita berdoa saja agar kak Dave tidak melakukan atas apa yang dituduhkan." ucap Dinda yakin.
Dikantor
"Mbak maaf, Pak Dave nya sedang tidak berada diruangannya. saya juga tidak tau kenapa dia tidak datang." ucap Celine kepada Cindy yang sedari tadi ngotot ingin bertemu Dave.
__ADS_1
Kemana dia? tidak seperti biasanya. Aduh kenapa nomornya juga tidak aktif sih?Cindy mencoba menghubungi ponsel Dave namun nomor yang dituju tersebut tidak aktif.
Cindy memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut untuk mencari Dave. Saat tiba diparkiran mobil, tiba-tiba ponselnya berdering dan ia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Iya Hallo, Apa? Bagaimana bisa?"
"Oke-oke, aku kesana sekarang."
Cindy dengan tergesa-gesa masuk kedalam mobil dan meninggalkan parkiran untuk menuju tujuan yang diberikan oleh penelpon tersebut.
Sementara itu dikantor polisi sudah tampak Kikan, Roy dan Dion yang sedang menunggu diruang tunggu untuk menjenguk Dave. Saat itu juga Cindy tiba-tiba datang menyelonong.
"Kak Cindy." sapa Dion saat melihat Cindy masuk dengan wajah cemas.
Dion sangat mengenali Cindy. Apalagi yang ia tau Dave masih menjalin hubungan dengan Cindy.
"Dion, Om, tante." Cindy menghampiri dan menyapa mereka.
"Kamu siapa?" tanya Kikan bingung.
Cindy terkejut saat kedua orang tua Dave tidak mengenalinya. Padahal ia pernah mengisi hati anaknya. Disinilah kesempatan Cindy untuk mendekatkan diri kepada keluarga Dave.
"Saya Cindy tante, pacar Dave." ucap Cindy yakin.
Kikan yang mendengar terkejut dan sekaligus senang. Apalagi selama ini ia sangat menginginkan Dave untuk menikah.
"Saya yakin koq tante, Dave pasti tidak bersalah. Dave orang baik. Pasti ada yang mencoba menjatuhkannya." ucap Cindy lagi.
Kemudian Cindy memeluk Kikan dengan sangat hangat dan diterima Kikan dengan senang hati.
Beruntung kamu Dave memiliki pacar yang cantik dan sangat perhatian.
Sementara dirumah Dinda hanya duduk termenung di jendela kamarnya. Ia tidak berani ikut kekantor polisi karena takut akan diketahui oleh anak buah Dave.
Kak Dave, aku sangat ingin sekali berjumpa dengan kakak. Padahal kita serumah namun tidak pernah bertemu satu sama lain. Pasti kakak orangnya baik sama seperti keluarga kakak.
Tapi kenapa kakak harus namanya juga Dave sih?
Hai teman-teman semua😊, jangan lupa Vote dan rate ya biar autor semangat bikin novelnya.
Jangan lupa juga like nya ya😚
__ADS_1
Terima kasih☺