
Pagi itu, seperti biasanya sebelum berangkat bekerja. Dave dan keluarga akan sarapan bersama. Biasanya sarapan pagi Dinda yang memasak. Namun setelah Dinda pergi, Kikan mempekerjakan seorang pembantu lagi menggantikan posisi Dinda yang bertugas untuk memasak.
" Dave, apa kamu sudah memikirkan keinginan mama?" tanya Kikan kepada Dave.
Dave terdiam dan sesekali memijit keningnya. Ia sendiri masih belum memikirkan rencananya kedepan.
" Dave setuju untuk menikahi Dinda" jawab Dave santai dan membuat mereka terkejut. Kikan dan Roy begitu tampak bahagia.Dion menyemburkan air saat sedang minum. Terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Dave kepada mereka. Raut wajahnya sangat tidak bersahabat. Sangat jelas arti dibalik raut wajahnya tersebut.
" Apa?" tanya Dion yang masih kaget. Ia tidak mengerti maksud yang dikatakan Dave barusan Bukankan dia kemaren menolak untuk dijodohkan dengan Dinda dan mengatakan Dinda bukanlah tipenya. Tapi kenapa sekarang sudah berubah? dimana pendirian seorang Dave Atmawijaya.
" Jangan kaget begitu. Aku hanya ingin menuruti keinginan kedua orang tua kita. Bukankah orang tua kita sangat menginginkan Dinda kembali lagi kerumah ini? hanya dengan cara menikahinya Dinda akan kembali lagi kerumah ini. Bukankah orang tua kita akan senang?" jawab Dave dengan percaya diri.
" Bukankah kakak tidak ingin menikahinya?" tanya Dion lagi kepada Dave. Mungkin saja Dave sudah lupa apa yang telah dikatakan.
Dave tersenyum. " Setelah aku memikirkan kembali, sepertinya aku sudah mulai tertarik kepadanya." jawab Dave lagi.
Dion hanya menatap dengan wajah ketidak sukaannya. Ia sangat tau arti dibalik senyuman yang Dave berikan kepadanya. Lebih tepatnya sebuah senyuman mengejek.
" Dion, apa kamu tidak bahagia dengan berita ini?" tanya Kikan kepada Dion yang seperti tidak setuju.
Dion hanya terdiam. Ia tidak bisa lagi untuk mencegah jika itu keinginan orang tuanya. Apalagi ia sadar, ia bukanlah anak kandung dan Dinda bukanlah keluarganya yang bisa seenaknya dicegah. Dalam lubuk hati ia sangat menentang pernyataan Dave.
" Dion bahagia ma." jawab Dion singkat.
Dion hanya duduk diam saat berada diruang kerjanya. Pikirannya masih memikirkan Dinda. Ia takut jika Dave menikahi Dinda hanya semata-mata ingin menyakitinya. Bagaimana mungkin menikah tanpa ada rasa cinta.
Perasaannya sedikit cemas. Bagaimana dengan Dinda? apa dia mau menerima pernikahan ini?. Kenapa Kikan hanya memutuskan secara sepihak tanpa harus mendiskusikan dulu kepada Dinda.
Dion meraih ponselnya lalu mencari daftar kontak. Dion mencari nama Dinda. Setelah ketemu, ia langsung menghubungi Dinda.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
__ADS_1
Hanya suara operator dari balik ponsel. Ternyata nomor yang dituju tidak bisa dihubungi.
" Kenapa tidak bisa dihubungi? apa Dinda sudah ganti nomor ponsel?" berkali-kali ia menghubungi, berkali-kali pula ia mendengar suara operator dari balik ponsel.
" Apa aku harus menemui Dinda secara langsung?" Dion memikir dan kemudian beranjak dari kursinya.
" Nanti kalau ada yang mencari saya, bilang saya keluar. Ada keperluan sebentar" ucap Dion kepada bawahannya saat keluar dari ruangannya.
Dion tau sekarang masih waktu jam kerja. Namun rasa penasaran dan khawatir membuatnya bertindak lebih cepat.
Dion melajukan kendaraannya untuk menuju ke kediaman Dinda. Saat diperjalanan, ia menyempatkan untuk membeli buah kesukaan Dinda.
Dion turun dari mobilnya saat sampai didepan pagar kediaman Dinda. Ia lalu menekan tombol bell hingga akhirnya pintu terbuka.
Tampak seorang anak kecil yang tidak lain adalah adik bungsu Adit, tempat tinggal Dinda sekarang.
Selamat siang cantik. Apa kak Dindanya ada dirumah?" tanya Dion kepada seorang anak kecil yang tampak sangat cantik. Rambut yang dikucir dan pakaian ala princess.
" Tatak Dinda enggak ada dilumah. Tatak Dinda pelgi cama kakak Dandi. Lika enggak tau tatak Dinda dan tatak Dandi kemana." jawab gadis itu polos dengan aksen yang masih pelat.
" Maaf adik, Dandi itu siapa?" tanya Dion penasaran.
" Tatak Dandi tembaran tatak Dinda. Dia balu pulang kecini malam tadi." jawab anak itu lagi.
Kembaran? bukankah kembaran Dinda sudah meninggal? bagaimana bisa dia hidup lagi? jadi mayat siapa yang polisi temukan saat rumah mereka terbakar? Dion mencoba berpikir kembali setelah mengingat kejadian yang pernah menimpa Dinda.
"Oh gitu ya. Nggak apa-apa. Kakak titip ini aja ya. Nanti kalau kak Dinda sudah pulang jangan lupa berikan." ucap Dion sambil menyerahkan bungkusan yang berisi buah kesukaan Dinda.
Dion pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah orang yang ingin ditemuinya tidak berada ditempat.
Selang beberapa menit, Dinda dan Dandi pun kembali kerumah.
__ADS_1
" Tatak dali mana? tadi ada yang cali." ucap Lika saat Dinda dan Dandi masuk kedalam rumah.
Dinda bingung, siapa orang yang mencarinya. " Apa Dave mencariku? tapi kenapa?" pikiran Dinda penuh dengan pikiran-pikiran negatif tentang Dave.
" Siapa yang mencarimu Dinda?" tanya Dandi yang juga penasaran. Dinda mengangkat kedua bahunya menyatakan tidak tahu.
" Tatak itu ganteng. Tatak itu membeli ini untuk dikaci tama tatak." Lika memberi bungkusan yang sudah dititipkan kepadanya.
Dinda mengambil bungkusan tersebut dan membuka ikatan bungkus tersebut. Dinda tersenyum setelah membuka dan melihat isi didalam kantong tersebut. Buah jeruk kesukaan Dinda yang sudah dititipkan kepada Lika.
" Jadi kakak yang mencari Dinda." ucap Dinda sambil mengeluarkan buah jeruk dan memasukkan kedalam mangkuk besar.
" Kakak siapa lagi?" tanya Dandi setelah mendengar Dinda mengatakan sebutan kakak.
Dinda lupa, ia sama sekali belum menceritakan bahwa ia pernah tinggal serumah bersama Dave. Dion, laki-laki baik hati yang sangat perhatian kepadanya.
" Kakak Dion. Dia kakak yang sangat baik." jawab Dinda jujur.
Dandi hanya menatap Dinda dengan raut sedikit bingung. Laki-laki mana lagi yang mendekati Dinda selama ia tidak ada. Apa laki-laki itu sangat baik atau jahat seperti Dave?
" Dion? siapa dia?" tanya Dandi sedikit khawatir. Ia tidak ingin ada laki-laki yang mencoba mendekati Dinda. Apalagi jika ada niat jahat dan memanfaatkan kepolosan Dinda kembaran nya.
Dinda terdiam. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya. Namun ia tidak bisa. Jika ia menceritakan hal yang sebenar, maka ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Dion. Begitupun sebaliknya.
" Dion itu teman Dinda. Dia juga pernah menolong Dinda," balas Dinda sedikit gugup. Ia hanya tidak ingin Dandi berpikiran yang bukan-bukan tentang Dion, sama halnya dengan Dave
****
Dave tampak memikirkan sesuatu. Tampak dari raut wajahnya yang cemas. Ia hanya sibuk mondar-mandir tidak jelas
" Bagaimana caranya agar aku bisa menikahi Dinda?" Dave tau, pasti Dinda tidak akan mau menikahinya. Tapi bagaimanapun ia harus berusaha agar bisa menikahi Dinda. Hanya itu satu-satu cara yang bisa ia lakukan untuk membuat Dandi kembali menderita.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan rate bintang 5 nya ya
Jangan lupa juga di like😊