MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Masa Lalu Dandi Part 5


__ADS_3

Bel sekolah telah berbunyi. Itu menandakan waktu belajar mengajar telah habis. Bagai anak ayam yang lepas dari kandang, para murid-murid langsung berhamburan keluar dari kelas untuk pulang menuju rumah masing-masing.


Dandi yang baru keluar dari kelas segera mempercepat langkahnya. Dia pulang akan menaiki angkot seperti biasanya.


Saat Dandi telah melewati gerbang sekolah, matanya langsung tertuju kearah sebuah mobil sport yang terparkir disana. Siapapun akan langsung tertuju pada mobil sport yang terparkir diluar gerbang sekolah. Hanya mobil tersebut yang menjadi pusat perhatian para siswa dan orang tua yang sedang menjemput anak-anak mereka. Siapa lagi kalau bukan mobil Dave. Ternyata Dave sudah menunggunya disana. Entah sejak kapan dia sudah berada disana.


"Wih, keren banget mobilnya. Siapa kamu Dan?" tanya Raka teman Dandi yang kebetulan keluar bersama-sama. Dia juga melihat pria bermobil tersebut sedang melambai dan memanggil nama Dandi.


"Bukan siapa-siapa koq." jawab Dandi.


"Koq bukan siapa-siapa sih? itu dia manggil-manggil kamu dari tadi. Kasihan dia jadi pusat perhatian. Ayo buruan sana!" ucap Raka sambil mendorong tubuh Dandi agar mendekat kearah Dave.


"Hy bang, aku Raka temannya Dandi." ucap Raka sambil mengulurkan tangannya.


Dave hanya menatap tangan Raka tanpa membalas uluran tangan tersebut. "Aku Dave, abangnya Dandi." balas Dave cuek.


Raka langsung menarik tangannya kembali setelah tadi Dave tidak membalas uluran tangannya. Rasanya sangat malu sekali. Akhirnya dia pun pergi setelah berpamitan dengan Dandi dan Dave.


Menepuk-nepuk bahu Dandi. "Kamu kenapa sih? abang telpon nggak aktif-aktif ponselnya. Ayo!" ajak Dave. Dia pun masuk kedalam mobil.


Dandi hanya diam mematung didepan pintu. Sebenarnya dia juga tidak tau harus berbuat apa. Dia juga tidak tau bagaimana hatinya saat ini. Dia memang merasa sangat marah. Tapi tidak tau harus marah kesiapa.


"Membuka kaca mobil sisi kiri. "Ngapain malah bengong sih? ayo masuk!" ajak Dave lagi.


Dandi masih mematung. Fikiran nya masih membayangkan saat Naomi dan Dave berciuman.


"Astaga!" keluar dari mobil dan menghampiri Dandi kembali.


"Kamu kenapa sih Dandi? apa abang ada salah? kalau ada kasi tau dimana salah abang. Jangan cuma diam-diam aja. Abang juga bingung jadinya." ucap Dave lagi. Dia begitu bingung dengan perubahan sikap Dandi yang tiba-tiba.


Membuka pintu sisi kiri dan mendorong Dandi agar masuk dan duduk disana. "Udah ya, kita harus bicara. Abang nggak mau ada kesalahpahaman." menutup kembali pintu mobil. Lalu dia kembali lagi masuk ke posisi nya dibalik kemudi.

__ADS_1


Akhirnya Dave pun menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.


Diperjalanan pulang Dandi hanya diam. Tidak seperti biasanya jika mereka bersama, Dandi akan banyak bicara. Tapi kali ini dia hanya diam. Itu yang membuat Dave semakin bingung.


"Kamu kenapa sih Dandi? dari tadi kamu diamin abang mulu," tanya Dave penasaran.


"Nggak ada apa-apa koq bang." balas Dandi tanpa menoleh.


"Nggak mungkin nggak ada apa-apa kalau dari kemaren kamu diamin abang." ucap Dave lagi. Semenjak saat malam itu Dandi meminta izin untuk pulang duluan, hingga sekarang sikapnya menjadi dingin terhadapnya. Setiap dia menelpon tidak pernah diangkat dan setiap dia mengirim pesan tidak pernah dibalas.


"Ayo ikut abang!" ajak Dave.


"Kemana?" tanya Dandi yang masih bersikap dingin.


"Kita harus bicara. Ke tempat biasa kita nongkrong." balas Dave.


"Nggak bisa bang. Aku harus pulang. Aku nggak mau nanti bunda nyariin." balas Dandi khawatir. Bundanya sudah berpesan jika pulang sekolah harus langsung pulang kerumah. Tidak boleh keluyuran kemana-mana lagi.


"Tapi nggak ada yang harus kita bicarakan bang. Antar aku pulang aja!" tolak Dandi. Rasanya tidak ada yang harus dibicarakan. Mereka juga tidak punya masalah serius.


"Abang nggak akan anter kamu pulang. Masih banyak yang harus abang tanyakan kekamu. Sekarang telpon bunda kamu. Kasi tau kalau kamu nggak pulang. Buruan!" suruh Dave tidak sabaran.


Mengambil ponsel disaku ranselnya. "Iya-iya." ucap Dandi. Dia segera menghubungi bundanya.


"Udah, bunda ngizinin. Tapi nggak boleh sampai malam. Aku belum ganti baju soalnya." ucap Dandi saat selesai menelpon bundanya.


Dave pun segera melajukan mobilnya menuju tempat biasa mereka nongkrong. Tapi sebelum itu, dia membeli beberapa cemilan dan nasi kotak untuk makan siang. Biar ada tenaga hingga mereka pulang nanti.


"Nggak ada orang ternyata," ucap Dave saat mereka sudah sampai disebuah stadion yang kosong dan terbengkalai. Biasanya banyak muda-mudi yang hanya sekedar duduk-duduk atau mojok ditempat tersebut.


"Ayo makan! Isi tenaga dulu." ucap Dave sambil menyodorkan satu kotak nasi kepada Dandi. Dia tau Dandi pasti sudah lapar. Apalagi sudah waktunya makam siang walaupun sudah telat.

__ADS_1


Dandi yang memang sudah kelaparan pun menerima kotak nasi tersebut dan memakannya hingga lahap.


Setalah selesai makan, Dandi segera membuang sampah ditempatnya. Apalagi mereka berdua sangat menjaga kebersihan. Itu menjadi kesamaan mereka dan membuat mereka semakin dekat.


"Kamu kenapa diamin abang?" tanya Dave langsung ke permasalahannya. Karena dia memang suka to the point.


"Aku nggak merasa diamin abang koq. Aku biasa aja." balas Dandi cepat.


"Yang nggak merasa ya cuma kamu. Tapi abang sangat merasa. Apalagi sikap kamu ke abang juga berbeda." ucap Dave. "Sebenarnya gara-gara apa sih? malam tadi juga kamu tiba-tiba langsung pulang," sambung Dave lagi.


Fikiran Dandi langsung terbayang disaat Naomi dan Dave berciuman. Sakit memang, tapi rasanya Dave juga tidak bersalah disini. Mereka juga sudah tau isi hati masing-masing. Mereka juga sudah terang-terangan tentang wanita yang sama-sama mereka sukai.


"Aku ditolak bang." ucap Dandi sedih.


Dave yang mendengar pun sedikit kaget. Jadi Dandi berubah karena ditolak Naomi?


"Dia bilang apa sama kamu?" tanya Dave penasaran.


"Dia bilang umur sangat berpengaruh terhadapnya. Dia tidak bisa menerima laki-laki yang lebih muda darinya." balas Dandi yang masih larut dalam kesedihan. Dia menceritakan bagaimana dia memulai menyatakan cintanya kepada Naomi hingga akhirnya ditolak mentah-mentah.


"Abang nggak bisa ngapa-ngapain sih kalau itu udah keputusannya. Kamu jangan terlalu bersedih, masih banyak wanita yang lebih cantik dan lebih baik dari dia. Lupakan lah dia." ucap Dave menyemangati.


"Aku belum bisa bang. Sudah hampir tiga tahun aku menyukainya. Tidak mudah bagiku untuk melupakan dan mencari yang lain." balas Dandi. Dia memang merupakan laki-laki yang sangat setia. Tapi nyatanya kesetiaannya sama sekali tidak berbuah manis.


"Jadi karena ditolak sama Naomi kamu diamin abang? aneh tau. Makanya cerita, jangan dipendam aja. Kan abang jadi bingung." ucap Dave sambil menepuk-nepuk punggung Dandi.


"Siapa bilang aku diamin abang karena ditolak?" ucap Dandi dan membuat Dave terkejut sekaligus heran.


"Terus gara-gara apa? abang belum jadian koq sama dia. Dia masih belum menjawab sampai sekarang." ucap Dave mengingatkan. Jika karena dia jadian dengan Naomi yang membuat Dandi berubah terhadapnya.


"Kenapa kalian berciuman?" tanya Dandi marah. Sejak kemaren adegan tersebut selalu membekas di kepala nya.

__ADS_1


Dave menggigit bibir atasnya sedikit terkejut dan panik. Ternyata Dandi melihat mereka berciuman. Jadi ini penyebab Dandi marah dengannya?


__ADS_2