
"Jadi selama ini kamu tinggal sama dia?" Adit sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi terhadap wanita yang disukainya.
Dinda hanya mengangguk pelan. Air matanya kembali jatuh. Rasa sakit itu tidak akan pernah hilang saat Dave menyiksanya.
"Dinda, kita harus melaporkan semua kejahatannya kekantor polisi." ajak Adit namun ditolak oleh Dinda
"Kak, Dinda sudah tidak ingin berurusan dengan yang namanya Dave lagi kak. Dinda udah nggak sanggup. Cukup sudah penderitaan yang Dinda rasakan selama ini. Dinda akan memulai kehidupan baru bersama kakak dan keluarga kakak saja." balas Dinda sambil menghapus air mata dan berusaha tersenyum.
Adit merasa sangat iba. Namun ia berjanji akan selalu melindungi Dinda sampai kapanpun.
****
Dua minggu kemudian
Dinda semakin hari semakin ceria, terlihat dari raut wajahnya. Ia sudah melupakan semua tentang masa lalu yang menyakitkan tersebut. Ia sangat bahagia bisa bersama dengan orang yang ia sukai.
"Dinda, boleh kakak masuk?" Adit mengetuk pintu kamar Dinda dan membuka pintu setelah diberi izin oleh sang punya kamar.
"Ih adik kakak, makin cantik aja." goda Adit yang gemas melihat Dinda.
"Kak Adit mah, suka godain Dinda mulu." balas Dinda manja.
"Dinda, kakak mau ngomong serius sama kamu." Adit memasang muka serius karena ada sesuatu yang akan disampaikannya.
"Ada apa kak?" tanya Dinda bingung dan menatap serius Adit.
"Dinda, kita udah lama kenal. Kita juga udah sama-sama tau dengan sifat dan perilaku masing-masing. Sebenarnya kakak sudah lama ingin mengatakan ini. Tapi kakak tidak punya keberanian untuk mengungkapkan. Sekaranglah waktu yang tepat buat kakak untuk mengatakan semua yang ada di fikiran kakak.
Din, kakak suka sama kamu." Adit mengutarakan isi hatinya.
Dinda tidak mengatakan apa-apa. Matanya berkaca-kaca, ternyata orang yang ia sukai selama ini juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Dinda segera memeluk Adit.
"Dinda juga suka sama kakak." balas Dinda jujur.
Mereka pun larut dalam kebahagiaan yang selama ini mereka harapkan. Inilah moment yang tidak akan mereka lupakan. Mulai saat itu mereka sangat dekat dan selalu bersama.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, setiap pagi setelah sarapan Adit akan berangkat bekerja.
Adit merupakan direktur disebuah Bank XXX. Dulunya ia hanya seorang pegawai biasa. Dengan kegigihan dan keuletannya dalam bekerja, maka ia diangkat menjadi Direktur di Bank tersebut.
"Kak, hati-hati berangkat kerjanya ya." ucap Dinda sambil mencium punggung tangan Adit.
"Iya Dinda, kamu semoga betah disini ya." balas Adit lalu mencium kening Dinda dan membuat Dinda kaget dan sedikit malu.
__ADS_1
" Itu ciuman untuk orang yang sangat kakak cintai." ucap Adit lagi lalu pergi memasuki mobil dan meninggalkan kediamannya.
Dinda hanya berdiri sambil melambaikan tangan atas kepergian Adit. Hingga Adit menghilang dari pandangannya.
"Ini ciuman pertama dalam hidupku." ucap Dinda sambil tersenyum memegang dahi yang baru disosor Adit.
Sebelumnya, Jang sudah mencari keberadaan Dinda. Ia mampir ke kediaman Dinda yang sudah terbakar. Saat ia duduk didalam mobil, tidak sengaja matanya menangkap seorang wanita yang ia khawatirkan sedang tampak riang bersama seorang laki-laki.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Jang penasaran.
Jang memantau dari kejauhan. Setelah dilihatnya Dinda tidak berada ditempat dan hanya laki-laki tersebut sendiri, ia memberanikan diri untuk mendekati.
"Permisi," ucap Jang saat mendekati Adit yang sedang duduk.
Adit menoleh kearah sumber suara dan langsung berdiri saat melihat seorang polisi sedang menyapanya.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Adit yang sedikit gugup.
Kenapa ada polisi disini? apa aku akan ditangkap atas tuduhan menyembunyikan Dinda? Gumam Adit karena ia merasa seperti sedang menyembunyikan Dinda.
"Tidak perlu takut. Saya kesini hanya ingin memastikan sesuatu." ucap Jang tersenyum.
"Kamu siapa nya Dinda?" tanya Jang penasaran. Karena sepanjang ia memantau, Dinda tampak sangat bahagia bersama laki-laki dihadapannya saat ini.
"Maaf pak, saya hanya gugup. Saya Adit, tetangga Dinda saat ia masih tinggal disini." Kenal Adit sambil mengulurkan tangan.
"Sebelumnya orangtua asuhnya sudah melaporkan kehilangan Dinda dikantor. Kami telah mencarinya kemana-mana namun tidak bertemu. Hingga akhirnya laporan tersebut dicabut. Tapi sepertinya sangat kebetulan sekali orang yang kami cari beberapa hari ini berada ditempat yang aman." Jang menjelaskan dengan detail.
"Jadi mereka sudah pernah melaporkan atas kehilangan Dinda?" tanya Adit lagi. Ia tidak mengetahui apalagi Dinda karena orangtua asuhnya sangat mengkhawatirkan Dinda.
"Iya, saya hanya ingin kamu tetap menjaga Dinda. Saya akan menyampaikan ini kepada orang tuanya agar tidak mengkhawatirkannya lagi dan segera menemui Dinda di rumah mu." balas Jang lalu pamit meninggalkan Adit saat melihat Dinda akan menuju kearah mereka berbincang-bincang.
Dirumah Armawijaya
Hari-hari Kikan sangat tidak baik seperti biasanya. Setelah kepergian Dinda, ia seperti tidak selera melakukan aktivitas dirumah. Kikan selalu termenung dan terkadang menangis mengenang Dinda.
"Ma, ayo dong dimakan makanannya," suruh Dion melihat Kikan hanya memain-mainkan sendok makan.
"Mama kangen sama Dinda." ucap Kikan lirih.
Dinda lagi, Dinda lagi. Apa sih hebatnya anak itu sampai-sampai kalian begitu menginginkan dia kembali. Gumam Dave kesal karena tidak suka setiap hari mama nya selalu menyebut nama Dinda.
"Ma, sudahlah. Nggak usah terus-terusan menangis hanya karena Dinda. Biarkan saja dia pergi. Dia udah nggak mau lagi tinggal disini." ucap Dave sedikit kesal.
"Kak, kenapa ngomong begitu sama mama? mama kan lagi sedih. Seharusnya kakak juga berusaha mencari Dinda." balas Dion yang tidak terima Dave lancang kepada mama nya.
__ADS_1
Dave membuang napas dengan kasar menandakan ia sangat tidak menyukai apa yang barusan Dion katakan.
"Jika kau mau, cari saja sendiri." Dave menatap Dion lalu berdiri dan beranjak pergi dari ruang makan dengan emosi.
Dion terdiam dan menatap punggung Dave dengan lekat. Ia tau jika selama ini Dave sangat tidak menyukainya apalagi ia bukanlah adik kandung Dave.
"Dave." panggil Kikan yang kaget melihat reaksi Dave.
"Sudah ma, biarkan saja. Mungkin kakak sedang capek." pujuk Dion kepada Kikan.
Setelah selesai makan, Dave langsung masuk kekamar. Sedangkan Kikan, Roy dan Dion sedang duduk di kursi ruang keluarga sambil terus menanti informasi tentang Dinda dari polisi.
Saat mereka sedang asik mengobrol, ponsel Kikan berdering dan dilihat panggilan tersebut dari Jang.
📞Hallo. Sapa Kikan
📞Hallo buk selamat malam saya Jang.
*
*
*
*
*
📞 Benarkah? Alhamdulillah. Terima kasih pak Jang atas informasinya. Kami akan kesana besok.
Kikan menutup telepon dengan ekspresi sangat bahagia dan diikuti oleh Roy dan Dion yang juga mengetahui maksud tersebut.
"Alhamdulillah ma, akhirnya Dinda ketemu." ucap Roy lalu memeluk istrinya dan diikuti Dion karena sangat bahagia dengan kabar tersebut.
Disisi lain, Dave hanya memandang datar tingkah kedua orang tuanya dengan wajah tidak suka. Ia mendengar semua pembicaraan tersebut.
"Aku tak akan membiarkan dia masuk kerumah ini lagi." ucap Dave sambil masuk kembali ke kamar nya dan membanting pintu dengan kesal.
Kikan yang mendengar bantingan pintu seketika terdiam dan menatap kearah kamar Dave. Perasaan bingung dan tidak percaya dengan tingkah Dave yang berubah akhir-akhir ini.
Hay teman-teman, terima kasih sudah setia dengan karya autor.
Tetap dukung karya author dengan cara Vote dan Rate bintang 5 nya ya.
Like nya juga jangan lupa😊
__ADS_1
Terima kasih😊😊