
"Aku sebentar lagi akan bebas. Tapi... " Dave menggantungkan ucapannya.
"Dinda akan membujuk mereka. Kakak nggak perlu khawatir. Pasti mereka akan memaafkan kakak," sambung Dinda yang mengerti akan maksud kata Dave.
"Aku harap begitu." balas Dave.
"Kak Dave, gimana dengan kak Adit? apa mereka sudah menemukannya?" tanya Dinda setelah mengingat permintaannya kepada Dave tempo dulu. Sampai sekarang pun dia belum bisa menemukan keberadaan Adit. Dia juga sudah berusaha mencari Adit kesana kemari. Namun hingga saat ini pun dia masih belum bisa menemukannya.
Dave menggeleng. Anak buahnya pun tidak berhasil menemukan dimana Adit berada. Padahal sudah hampir 3 bulan mereka mencari. Tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Anak buah ku sama sekali tidak menemukan keberadaannya. Aku harap kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya lagi. Biarkan dia pergi dan menjalani hidupnya." ucap Dave.
Dia memang tidak suka jika Dinda selalu mengkhawatirkan Adit. Tapi karena dia sudah berjanji akan membantu, mau tidak mau suka tidak suka dia terpaksa melakukannya. Setelah hampir 3 bulan anak buahnya mencari namun hasilnya nihil, dia berharap Dinda tidak mengingatnya lagi dan lebih memprioritaskan dirinya sebagai suami.
"Dinda tau kak. Tapi tidak salah kan kalau kami berteman lagi? Ya untuk menyambung silaturahmi gitu," ucapnya takut-takut.
Dave menghembuskan nafas kasar. Kenapa juga Dinda masih memikirkannya. "Kamu masih ada perasaan sama dia?" tanya Dave tidak suka.
Dinda menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak kak! Dinda sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama kak Adit. Tapi Dinda tidak mau sampai putus silaturahmi. Dinda merasa bersalah kak sama kak Adit. Dinda harap kakak bisa mengerti." balas Dinda.
"Yaudah, aku ngerti koq. Aku cuma berharap kamu tetap menjaga hati untukku. Aku tidak mau kamu terlalu memikirkan laki-laki lain selain aku!" peringat Dave. Entah sejak kapan dia begitu menjadi cemburuan. Padahal saat masih bersama Cindy dia tidak begitu-begitu amat. Mungkin ini yang dinamakan cinta yang sesungguhnya.
"Pulanglah kerumah kita! Mau sampai kapan kamu terus-terusan menumpang dengan Dandi?" ucap Dave. Dia memiliki apartemen, otomatis apartemen tersebut juga milik Dinda. Jika punya rumah, Lalu untuk apa harus tinggal dirumah orang lain. Walaupun harus tinggal dirumah saudara sendiri.
"Dinda takut tinggal sendirian kak. Dinda nunggu kakak bebas aja baru kita pulang kerumah kita sama-sama." balas Dinda dan membuat Dave senang. Ternyata dia tidak sabar menunggunya bebas.
"Yaudah, nggak apa-apa. Masa tahananku hanya tinggal sebulan lagi. Setelah aku bebas kita akan pulang kembali kerumah kita. Aku harap kamu tetap sabar menungguku hingga bebas." sambung Dave.
Dinda mengangguk. "Iya kak, Dinda akan setia menunggu kakak bebas." balas Dinda.
__ADS_1
Setelah masa kunjungan habis, Dinda pun berpamitan dan pergi dari tempat tersebut.
Saat dia keluar dari pintu, dia langsung didorong oleh seseorang hingga terjatuh.
Dengan menahan rasa sakit, dia mencoba untuk bangkit hingga akhirnya bisa berdiri.
"Mbak Cindy? kenapa lakukan ini sama Dinda? apa salah Dinda?" tanya Dinda yang memang tidak tau apa-apa. Tiba-tiba saja Cindy mendorongnya.
Sebenarnya Cindy juga akan mengunjungi Dave. Namun karena melihat Dinda juga berada disana, dia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Dave dan menunggu Dinda keluar untuk memberinya pembalasan.
"Apa? kamu nggak tau apa salah kamu? punya kaca kan?" ucap Cindy emosi.
"Dinda sama sekali nggak ngerti yang mbak katakan," ucap Dinda lagi.
Plaaak
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Dia mengaduh kesakitan. "Kenapa mbak menampar Dinda? kenapa?" ucapnya sambil memegang pipinya menahan rasa sakit.
"Emang apa salah Dinda kalau menjadi istri kak Dave? " tanya Dinda.
"Nggak salah kata kamu? ha? nggak salah?"
"Aku ini pacarnya. Jadi hanya aku yang berhak menjadi istrinya. Bukan kamu!" kembali mendorong tubuh Dinda.
"Dinda tau mbak pacarnya. Lebih tepatnya mantan pacar. Tapi mbak harus ingat, Dinda dan kak Dave sudah menikah. Jadi jangan coba-coba mengganggu hubungan kami!" balas Dinda menantang.
"Siapa yang mengganggu? aku atau kamu?"
"Kamu itu cuma jadi benalu di kehidupan Dave. Kamu sendiri gimana? masih sempat-sempatnya selingkuh dibelakang Dave. Ada otak nggak kamu?" ucap Cindy semakin emosi.
__ADS_1
"Maaf mbak, Dinda sama sekali tidak pernah selingkuh dibelakang kak Dave. Kalau mbak nggak percaya? bisa tanyakan langsung sama kak Dave. Dia juga udah tau semuanya. Jadi jangan jadikan itu sebagai alasan agar hubungan kami retak. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah berpisah karena kami saling mencintai. Tolong pergi dari kehidupan kami. Sesungguhnya, mbak lah benalu di kehidupan kami." ucap Dinda lalu pergi meninggalkan Cindy yang tampak semakin kesal.
"Siallllll, awas kamu Dinda. Aku akan rebut Dave kembali. Berani-beraninya kamu mengambil milikku." ucap Cindy emosi. Kali ini dia sudah kalah dari Dinda.
Dengan perasaan yang masih kesal, Cindy pun akhirnya pergi dari tempat tersebut. Dia mengurungkan niatnya kembali untuk menjenguk Dave. Padahal masih ada gelombang kedua jika ingin mengunjungi.
Dinda masuk kedalam mobil taksi yang sudah dipesannya tadi. Sepulang dari menjenguk Dave, dia memutuskan untuk pergi ke supermarket untuk belanja. Persediaan makanan dirumahnya sudah mulai habis. Jadi dia harus membelinya lagi sebagai stok.
Dinda sampai disebuah supermarket. Kebetulan supermarket itu tidak jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Jadi saat keluar dari supermarket, dia bisa berjalan kaki untuk pulang tanpa harus mengeluarkan ongkos lagi.
"Beli apa ya?" ucap Dinda sambil melihat-lihat rak-rak sayuran dan buah-buahan segar. Serta kebutuhan-kebutuhan dapur lainnya.
"Beli ini ah, udah lama nggak makan ini," ucapnya saat sampai didepan rak yang berisi buah jeruk kesukaannya.
Dia terus mendorong trolinya kesana kemari mencari barang-barang yang akan dibelinya. Karena terlalu bersemangat, sampai-sampai dia tidak sadar sudah menabrak seorang wanita.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja," ucap Dinda membungkukkan badannya sembari terus meminta maaf.
Wanita itu menoleh, "Tidak apa-apa, aku juga tidak kenapa-napa. Lain kali hati-hati ya!" ucap wanita tersebut sambil tersenyum sembari pergi meninggalkannya yang masih merasa bersalah.
"Mbak itu baik banget." ucapnya lagi.
Akhirnya dia pun selesai membeli belanjaan. Dia berjalan sambil bersenandung agar bisa cepat sampai dirumahnya.
"Eh eh, itu mbak tadi kan? wah, ternyata orang kaya," puji Dinda saat tanpa sengaja melihat wanita tersebut dibukakan pintu mobil oleh seorang laki-laki yang tampak seperti seorang bodyguard.
"Masih ada rupanya orang kaya yang tidak sombong didunia ini. Biasanya aku sering bertemu dengan orang kaya yang sombong dan angkuh." ucapnya seraya melangkahkan kakinya kembali.
Hy teman-teman, terima kasih sudah menjadi pembaca setia karya author ya.
__ADS_1
Jangan lupa untuk terus dukung karya ini.
Jangan lupa Vote, rate dan Like nya ya😊