MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Peraturan Dave


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap. Dandi menyelesaikan pekerjaannya setelah tadi Dinda merengek-rengek ingin membantunya. Setelah pintu ditutup dan dikunci, mereka keluar dari gedung tersebut.


"Dandi, apa aku boleh melihat tempat tinggalmu?" tanya Dinda disela-sela berjalan.


Menghentikan langkah dan menatap Dinda. " Kenapa?" dia tidak ingin Dinda mengetahui tempat tinggalnya. Dia tidak ingin Dinda sedih melihat kondisi tempat tinggalnya sekarang. Jauh dari kata layak. Karena hanya itu tempat yang murah yang bisa dibayar setiap bulan. Apalagi dengan gaji sebagai cleaning service.


Memunyunkan bibir. "Aku hanya ingin lihat. Aku nggak akan nangis koq. Kan tadi kamu bilang tempatnya jauh dari kata layak. Aku akan tetap terima." menepuk bahu Dandi dan melanjutkan berjalan meninggalkan Dandi yang masih mematung.


Berlari mendekat dan menyeingi langkah kaki Dinda. "Kamu yakin? ini udah gelap lho. Apa Dave nggak bakalan marah?"


Dinda menghentikan langkahnya saat sampai dipinggir jalan. Dia bahkan melupakan Dave dan orang yang memantaunya diseberang sana. Bagaimana dia bisa lupa. Kini gantian Dinda yang gemetar dan ketakutan. Bagaimana nanti Dave marah kepadanya.


Suara deringan ponsel membuyarkan kekhawatirannya. Dia segera meraih ponsel didalam tas dan melihat Dave yang memanggilnya.


Mati aku. Kenapa aku bisa lupa diri.


Ragu-ragu mengangkat panggilan. " Hallo kak Dave." ucap Dinda.


"Iya kak Dave, Dinda akan segera pulang." menutup panggilan.


"Sudah disuruh pulang?" tanya Dandi melihat kekhawatiran di wajah Dinda.


Dinda mengangguk. Perasaannya sedikit cemas. Apa yang akan terjadi nanti saat dia sampai dirumah. Apalagi saat Dave menelponnya suaranya sangat datar dan terdengar mengerikan. Dan lebih membuatnya takut lagi bahwa Dave sudah terlebih dahulu sampai dirumah sedangkan dia masih berada diluar.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya." melangkahkan kaki untuk mendekati taksi online yang sudah dipesannya barusan.


"Tunggu!" panggil Dandi. Dia berlari mendekati Dinda sambil mengeluarkan ponselnya. "Beri aku nomor ponselmu."


Sambil melihat kiri kana, Dinda memberikan nomor ponsel barunya kepada Dandi. Siapa tau nanti Dandi memngirimnya nomor ponsel Adit.


Setelah selesai, Dinda masuk kedalam taksi. Taksipun meninggalkan Dandi yang masih berdiri. Tidak berselang lama, mobil para anak buah Dave yang memantau mengikuti taksi yang dinaiki Dinda dari belakang.


"Semoga kamu baik-baik saja Dinda." ucap Dave sepeninggalan Dinda. Lalu dia berlari melewati jalan yang dilalui banyak kendaraan. Karena rumah tempat tinggalnya masih gang diseberang jalan. Sengaja dia mencari tempat tinggal yang tidak jauh dati tempatnya bekerja. Karena akan memudahkan nya untuk sampai lebih awal dan tidak akan mengeluarkan ongkos untuk menaiki kendaraan.


Taksi yang ditumpangi Dinda sampai diarea apartemen. Dinda turun dan berpamitan kepada supir tersebut.

__ADS_1


Dimda mempercepat langkahnya agar cepat sampai. Sepanjang perjalanan, hatinya begitu sangat gelisah.


Dinda telah sampai tepat didepan pintu apartemen. Dia masih sibuk mondar mandir. Perasaan takutnya begitu sangat besar. Dinda pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka kunci pintu.


Setelah pintu terbuka, Dinda dibuat kaget saat Dave sudah berdiri didepan dengan melipatkan tangan ke dada. Apalagi tatapan Dave sangat tidak bersahabat kepadanya.


"Hebat ya, sudah dikasi kebebasan malah dimanfaatin." tanpa babibu langsung mencerca.


Nyali Dinda semakin ciut. Dia semakin terpojok. "Ma maaf kak Dave." hanya kata maaf yang bisa dia katakan sekarang. Ini memang salahnya yang tidak ingat waktu. Padahal sebelumnya Dave sudah mengingatkannya untuk berada dirumah pukul lima sore. Sedangkan sekarang sudah pukul tujuh malam. Dia sudah telat dua jam.


"Maaf? Apa dengan kata maaf sudah cukup?" menghembus nafas kasar. " Baiklah. Kali ini aku akan maafkan. Tapi jika nanti kamu melakukannya lagi, maka aku yang akan menyeretmu pulang." berjalan meninggalkan Dinda yang masih mematung. Ya, Dave akan murka jika mereka tidak bisa mendengarkan kata-katanya dan tidak pernah menjalankan perintahnya. Begitupun sekarang yang dilakukan Dinda kepadanya.


Ini memang salahku. Aku terima kakak marah. Memang kakak tidak suka orang yang pembantah kan?


Dinda melangkahkan kaki untuk menuju kamar. Dia harus segera mandi. Apalagi badannya sudah berkeringat dan terasa lengket.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Dinda kembali turun untuk masak makan malam. Saat dia akan melangkahkan kaki menuju dapur, langkahnya terhenti saat Dave memanggilnya.


"Ada apa kak Dave?" tanya Dinda khawatir. Apa kak Dave akan marah lagi? berjalan mendekati Dave.


"Kamu mau masak?" tanya Dave dan dibalas anggukan oleh Dinda. " Tidak usah masak lagi. Aku akan memesan makanan untuk makan malam kita. Aku tau kamu pasti capek." mengeluarkan ponsel dan memesan makanan secara online.


"Duduk!" suruh Dave menepuk-nepuk sofa kosong disebelahnya.


Dinda mengangguk dan mendaratkan bokongnya disofa. Duduk disebelah Dave atas perintahnya.


"Kamu bertemu Dandi?" tanya Dave.


"Iya kak, Dinda menemuinya di kantor tempat kerja Adit." balas Dinda semangat.


Wajah Dave langsung murung saat Dinda menyebut nama Adit. Dinda yang menyadari hanya tertunduk.


Apa yang salah? Kenapa wajah kak Dave berubah? Apa aku ada salah omong ya? Dinda


Untung kamu hari ini nggak ketemu Adit. Jika tidak, pasti nama Adit akan terus keluar dari mulutmu itu. Dave

__ADS_1


"Apa kamu bahagia?" tanya Dave merubah suasana moodnya.


Bahagia? Bahagia bagaimana maksud kak Dave?


"Aku bahagia kak." jawab Dinda bingung. Dari pada nanti Dave marah lagi, lebih baik jawab yang baik-baik saja pertanyaannya.


Bahagia kata Dinda? Apa beneran kamu sudah bahagia?


Saat itu, bel apartemennya berbunyi. Menandakan pesanan makanan mereka sudah sampai. Setelah pesanan sudah ditangan, Dave membawanya dimeja makan.


"Dinda, ayo kita makan!" membuka satu persatu plastik hitam yang membungkus pesanannya.


Dinda beranjak dari sofa dan berjalan mendekati meja makan. Duduk disana sambil menunggu Dave membuka.


"Ini untuk kamu." menyerahkan satu kotak nasi yang dipesannya.


"Terima kasih kak Dave." menerima kotak nasi tersebut dan membukanya.


Selain dua kotak nasi yang dipesan Dave, masih ada dua minuman panas dan buah-buahan yang sudah dipesannya tadi. Mereka pun makan pesanan tadi dengan lahap. Kebetulan mereka sangat lapar. Memakannya hingga tuntas dan tak bersisa.


Setelah selesai, Dinda bertugas membersihkan sisa-sisa sampah bekas makan mereka tadi. Dave hanya duduk memantau nya saja di kursi meja makan. Sambil sesekali tersenyum melihat keuletan Dinda dalam bekerja.


"Dinda, duduklah sebentar." suruh Dave saat melihat Dinda selesai membereskan pekerjaannya.


Dinda menurut dan duduk di kursi meja makannya tadi. "Iya kak."


"Dinda, kamu tau kan apa kesalahanmu hari ini?" tanya Dave mengingatkan.


Dinda kembali tertunduk. "Iya kak. Dinda telat pulang dari jadwal yang sudah ditentukan." balas Dinda.


Melipatkan tangan kedada. "Aku punya satu peraturan lagi."


menegakkan kepala menatap Dave. Berharap peraturan yang dibuat Dave tidak memberatkan nya. "Peraturan apa kak?" tanya Dinda penasaran.


Diam sejenak dan seolah memikir. "Aku sudah memberimu izin untuk keluar. Tapi, kamu tidak boleh menemui Adit mulai detik ini." merasa sangat puas.

__ADS_1


Dinda membelalakkan matanya tidak percaya. Jelas-jelas dia ingin menemui Adit. Tapi kenapa Dave melarangnya. Peraturan ini mengada-ngada dan sangat merugikannya.


"Kak." mata Dinda berkaca-kaca. Dia tidak mungkin bisa menepati peraturan itu.


__ADS_2