
Dinda membuka matanya. Ada sosok laki-laki yang sedang menatapnya.
"Kamu tau sekarang pukul berapa?" menjauhkan wajahnya dan berdiri menyilangkan tangan kedada.
Aku telat bangun? Bagaimana bisa?
Dinda bangun, menatap sekeliling dan melihat suasana yang sudah sangat terang. Pancaran sinar matahari telah menunjukkan bahwa dia bangun kesiangan. Apalagi setelah dia melihat jam telah menunjukkan pukul 8 lewat.
Mati aku. Apa yang harus aku lakukan? Pasti kak Dave marah.
"Kenapa?" masih berdiri dihadapan Dinda yang tampak gelisah.
Duduk berlutut diatas sofa dan menyatukan kedua telapak tangan lalu menempelkan didepan kening. "Ampun kak Dave, Dinda minta maaf. Dinda nggak akan mengulanginya lagi. Dinda mohon jangan marah Dinda." ucapnya gemetar.
Dave hanya tersenyum melihat tingkah Dinda sepeti anak kecil yang meminta ampun kepada ibunya karena telah membuat kesalahan. Karena merasa lucu, Dave sepertinya berfikiran ingin mengerjai Dinda lagi. "Apa yang bisa kau lakukan supaya aku memaafkanmu?" tanya Dave pura-pura marah.
Dinda mendungakkan kepalanya keatas. "Kak Dave, ampuni Dinda. Apapun yang kak Dave perintah akan Dinda lakukan." ucap Dinda ketakutan. Dia tidak ingin Dave terus-terusan marah. Itu akan membuatnya semakin terpojok.
Sebenarnya Dave sudah tidak tahan melihat tingkah Dinda. Ingin sekali dia tertawa lepas. Tapi karena tidak ingin rencananya gagal, dia masih tetap menahannya.
Kau tampak ketakutan Tapi itu sangat terlihat lucu bagiku. Apa kau masih berfikir aku akan mengasarimu lagi? Dinda, Dinda.
"Sekarang kau pergi mandi. Bersihkan ilermu itu." menunjuk samping bibir Dinda.
Dinda buru-buru mengelap samping bibirnya dengan tangannya. Walaupun sebenarnya dia tidur tidak pernah ileran. "Baik kak." beranjak dari sofa dan pergi kekamar.
Sepeninggalan Dinda, Dave memuaskan tawanya yang tadi tertahan. Sepertinya dia sangat senang bisa mengerjai Dinda.
Apa ya yang harus aku perintahkan untuk Dinda? Aku juga bingung harus menyuruh dia apa.
Setelah hampir sejam Dave duduk dan menunggu Dinda selesai mandi dan bersiap, akhirnya orang yang ditunggu turun.
Kenapa wajahmu tegang sekali? Apa kau takut aku akan menghukum mu? tertawa dalam hati.
"Kenapa lama sekali? Kau mandi atau menyuci?" menyipitkan mata menatap Dinda.
Apa aku lama? Mati, lengkap sudah penderitaan ku. Batin Dinda ketakutan.
"Maaf kak." berdiri menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ayo kita sarapan. Aku sudah membuatkan sandwich." ajak Dave lalu berjalan menuju dapur. Lalu duduk di kursi meja makan.
Apa? dia membuat sandwich? itu berarti dia yang memasak.
Dinda hanya diam. Dia hanya sibuk memperhatikan dua potong sandwich yang ada didalam piring nya.
Apa ini sandwich yang dia buat? sama sekali tidak terlihat seperti sandwich. Menahan tawa agar Dave tidak memarahinya.
Dave memperhatikan gelagat Dinda yang mencurigakan. Sepanjang dia menatap Dinda, yang ditangkapnya sepertinya Dinda meremehkan sandwich buatannya. Itu sangat jelas dari bibir Dinda yang seperti menahan tawa.
Kau pasti sedang mengejek sandwich buatan ku. Tidak apa kau menertawakanku. Tapi tunggu balasan ku nanti. Tersenyum jahat.
"Ayo dimakan. Jangan cuma dilihat." segera menggigit sandwich buatannya.
Kenapa rasanya aneh. Apa ada yang salah dengan sandwich buatan ku ini? Rasanya aku tidak mungkin salah. Mengunyah perlahan-lahan. Karena sejujurnya rasa sandwich itu lebih dominan rasa garam. Entah berapa banyak garam yang dimasukkannya didalam dadar telur tadi.
Dinda menyantap sandwich buatan Dave dengan lahap hingga tak bersisa. Mungkin karena rasa laparnya, dia tidak merasa ada yang salah dari sandwich yang dimakan.
Apa dia tidak merasakan apa yang aku rasa? Kenapa sepertinya dia sangat menikmati? tersenyum bangga karena Dinda menghabiskan sandwich buatannya.
"Kau ingin lagi?" mengulurkan satu potong sandwich.
"Benarkah?" tanya Dave sedikit tidak percaya.
"Iya kak. Dinda sudah kenyang. Sandwich buatan kakak enak." ucap Dinda dan membuat Dave mengulum senyum bahagia.
Dia memuji sandwich buatanku.
Karena Dave sudah tidak sanggup lagi untuk makan, apalagi rasa telurnya sangat asin. Dia memutuskan untuk menyudahi sarapannya.
"Kenapa nggak dihabisin kak?" tanya Dinda yang melihat Dave sudah akan beranjak dari kursi.
"Aku sudah kenyang. Jika kau mau, makan saja." berdiri dan mengambil tas kerjanya.
"Aku akan pergi bekerja. Hukumanmu akan aku pikirkan nanti. Kau harus selalu siaga kapanpun nanti aku memerintahkanmu. Selalu periksa ponselmu. Aku akan mengirimkan pesan padamu nanti." ucap Dave lalu pergi meninggalkan Dinda yang masih berdiri mematung.
Setelah Dave pergi kekantor, Dinda buru-buru berlari kekamar mandi. Dia langsung memuntahkan apa yang barusan dimakannya tadi. Benar, Dinda juga merasakan apa yang Dave rasakan. Tapi karena dia tidak ingin dimarahi Dave, maka dengan terpaksa dia memakan hingga tak bersisa.
"Sandwich buatanmu sama sekali tidak enak." ucap Dinda sambil membersihkan mulutnya.
__ADS_1
Setalah selesai membersihkan mulut dan membereskan meja makan, Dinda segera merebahkan diri disofa. Dia masih bingung ingin melakukan apa. Dia memutuskan untuk berdiam diri dirumah saja. Jika nanti dia pergi keluar dan menemui Dandi, maka disana dia akan bertemu Adit. Sedangkan Dave lelah melarangnya.
"Huff, apa yang harus aku lakukan dirumah ini? sepertinya aku kembali ke kehidupan ku yang dulu." ucapnya mengeluh.
Jam menunjukkan pukul 11 siang. Dinda masih bermalas-malasan disofa. Sambil sesekali memeriksa ponselnya.
Triiing
Sebuah pesan masuk. Dinda buru-buru memeriksa ponselnya. Sebuah pesan dari Dave.
Sebagai hukumanku hari ini, aku memerintahkanmu untuk membuat kan ku makan siang dan menfantarkannya langsung ke kantor ku. Pukul 1 siang kamu harus ada di kantor ku.
"Apa-apaan ini." ucapnya kesal. "Kenapa juga dia harus menyuruhku mengantarkan makan siangnya. Bukankah selama ini dia makan diluar." melempar ponsel dan melipatkan tangan kedada.
"Aduh, kenapa lama sekali sih taksi nya sampai?" kesal Dinda sambil melihat jam tangannya. Entah kenapa hari ini dia merasa kesal sekali.
Setelah hampir 10 menitan dia menunggu, akhirnya taksi pesanannya sampai.
"Kenapa lama banget sih pak? ayo cepat pak. Nanti saya terlambat." membuka pintu mobil lalu masuk.
Mobil pun berjalan menuju tujuan Dinda yaitu kantor Dave. Tidak lupa juga para pengawal membututi mereka dari belakang.
Taksi tumpangan Dinda akhirnya sampai dikantor Dave. Dinda turun dari taksi dan membawa bekal makan siang Dave.
"Besar sekali kantornya?" ucap Dinda takjub. Apalagi tatanan pepohonan dan Bunga tertata rapi.
Dinda melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Disana tampak dua satpam berdiri berjaga dan dua perempuan sedang duduk dan tampak mencatat.
"Ada keperluan apa mbak?" tanya salah seorang wanita didepan.
"Saya mau bertemu Dave. Apa dia ada?" jawab Dinda jujur.
Tampak mereka saling memandang satu sama lain. Memperhatikan penampilan Dinda dari atas hingga kebawah.
"Kamu yakin mau bertemu Dave?" tanya pegawai itu remeh.
"Iya mbak. Tadi dia nyuruh saya ngantar makan siangnya. Ini dia bekalnya." mengangkat kotak makan yang dipegangnya.
"Emang kamu siapa nya? Pacar?" tanya mereka yang masih tertawa.
__ADS_1
"Saya adiknya mbak." balas Dinda.