
"Kenapa Dinda nggak pernah jenguk aku lagi?" ucap Dave penuh tanda tanya. Sejujurnya dia begitu sangat rindu akan sosok yang dicintainya itu.
"Mbak-mbak," panggil Dave saat seorang polwan sedang melintas didepan selnya.
"Polwan tersebut mendekat. "Ada apa pak Dave?" tanya polwan itu.
"Apa istri saya datang?" tanya Dave.
"Maaf Pak Dave, istri anda belum datang. Jika nanti dia datang, saya akan memanggil anda," balas polwan itu.
"Iya mbak, makasih. Kalau dia datang jangan lupa panggil saya!" sahut Dave.
"Kemana dia? apa dia tidak merindukan suaminya?" ucap Dave penasaran.
Masa tahanan nya hanya tinggal sebulan lagi. Selama tiga bulan terakhir, Dinda sama sekali tidak menjenguknya.
Terakhir Dinda datang saat dia menceritakan kisahnya dengan Dandi.
"Dinda, dimana kamu sayang? aku rindu!" ucap Dave.
Dinda sedang berada dirumahnya. Dia sedang termenung di kursi teras rumah. Sembari menunggu kepulangan Dandi dari bekerja.
Sejujurnya Dinda sangat kangen sama kamu kak Dave. Tapi untuk saat ini Dinda tidak bisa datang. Perasaan Dinda masih ragu.
"Ngapain duduk diluar?" tanya Dandi yang baru pulang bekerja.
"Cuma mau duduk aja Dan. Bosan didalam," balas Dinda.
"Yaudah, aku masuk dulu, mau mandi." ucap Dandi lalu masuk kedalam rumah.
Hari semakin gelap, langitpun semakin mendung. Menandakan akan segera turun hujan.
Hujan pun turun dengan sangat lebat malam ini. Dinda dan Dandi berkutat dengan pekerjaan mereka. Menampung air hujan untuk kebutuhan mereka.
Aku melihat Dandi sosok yang baik. Dia selalu menjagaku. Tidak mungkin Dandi melakukan itu, apalagi waktu itu masih sekolah. Apakah nafsu tidak memandang umur dan status?
"Kamu kenapa?" tanya Dandi saat Dinda melamun.
"Eh iya Dan," balas Dinda kaget.
Setelah selesai menampung dan menyusun ember disaluran atap, mereka pun kembali masuk kedalam rumah untuk berteduh.
__ADS_1
Duduk santai di kursi plastik sambil menonton film yang diputar diponsel. "Kamu kenapa sih Din? beberapa hari ini aku sering liat kamu melamun," tanya Dandi.
Dia sampai memperhatikan aku sedetail itu? se perhatian itukah dia denganku?
"Aku nggak apa-apa koq Dan. Aku hanya capek aja," balas Dinda.
"Kalau capek istirahat Din, jangan ngelamun. Itu tidak baik," ucap Dandi mengingatkan.
"Iya Dan." sambung Dinda lagi.
"Kamu kenapa nggak jenguk Dave lagi? berantem?" tanya Dave sembari mengunyah keripik singkong yang dibelinya diwarung.
"Nggak apa-apa koq Dan. Aku sama kak Dave baik-baik aja." balas Dinda.
"Terus kenapa nggak pernah jenguk lagi. Bukannya dia bulan depan bebas? terus kamu nggak kepikiran gitu kalau dia bebas akan ikut dia lagi?" ucap Dandi lagi.
Entahlah aku juga masih bingung. Aku memang mencintainya, tapi aku sedikit kurang yakin dengannya. Apalagi kamu pernah bilang untuk tidak mempercayainya. Kamu yang membuat aku tidak yakin dengannya.
"Coba jenguk dia. Pasti dia menunggumu. Udah hampir tiga bulan lho kamu nggak kesana. Gimana perasaan dia?" ucap Dandi menyarankan.
"Iya Dan, aku akan kesana besok." balas Dinda. "Dan, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dinda.
"Apa?" masih mengunyah keripik singkongnya.
Kenapa dia masih mengingatkan aku dengan wanita ular itu? apa yang sudah Dave katakan?
"Sudahlah Din, jangan bahas itu lagi. Itu hanya masa lalu. Aku sudah melupakannya." balas Dandi.
"Tapi kenapa kamu sampai..." belum sempat Dinda bertanya namun sudah dipotong duluan oleh Dandi.
"Jangan bahas itu lagi. Aku tidak suka!" bentak Dandi tiba-tiba dan membuat Dinda kaget. Belum pernah Dandi membentaknya. Tapi malam ini, dengan cerita masa lalunya dia berani membentaknya.
Dandi mengusap wajahnya kasar. " Aku minta maaf Dinda. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Dandi menyesal saat melihat mata Dinda berkaca-kaca.
Dia segera memeluk tubuh Dinda dan mengucapkan kata-kata maaf. Setiap yang berhubungan dengan masa lalunya dia begitu sangat sensitif. Entahlah, apakah masa lalu itu membuatnya trauma dan menyesal hingga saat ini.
"Dandi, aku tau kamu marah. Tapi tolong, jangan pernah sembunyikan sesuatu dari aku. Kita kembar dan kamu satu-satunya saudara yang aku miliki. Aku juga menyayangimu Dan." ucap Dinda senggugukan sambil memeluk erat Dandi.
"Aku juga menyayangimu Din. Tapi aku hanya ingin kamu tidak membahasnya lagi." balas Dandi. "Mulai sekarang aku akan selalu terbuka denganmu. Tapi untuk masa lalu aku sudah menutup dan melupakannya. Tidak ada lagi masa lalu dan hanya ada masa depan." sambungnya lagi.
Sebenarnya dia juga ingin mendengar langsung dari mulut Dandi. Tapi Dandi sudah mengatakan tidak akan mengungkit dan mengenang masa lalu itu lagi. Dia juga tidak ingin dengan mengungkit masa lalu Dandi akan membuat Dandi semakin marah.
__ADS_1
"Jenguklah suamimu, dia pasti rindu. Jangan pernah membahas tentangku saat bersamanya. Aku hanya ingin kamu bahagia tanpa melibatkan aku." ucap Dandi dan dibalas anggukan oleh Dinda.
Keesokan harinya, Dinda memutuskan untuk kembali mnjenguk Dave. Perasaan rindu begitu bergejolak dihatinya.
"Pak Dave, istri anda datang," ucap polwan tersebut kepada Dave yanh tampak melamun.
Bangkit dari duduknya dan segera menghampiri polwan yang berdiri diselnya. "Benaran mbak? saya ingin menemuinya mbak!" ucap Dave tidak sabaran.
Polwan tersebut pun membukakan kunci sel dan membawanya ketempat pertemuan.
Senyum Dave mengembang saat melihat Dinda sudah duduk disana. Tampak Dinda juga membalas senyumannya. Hatinya begitu sangat senang. "Dinda," sapa Dave bahagia.
"Iya kak Dave, Dinda datang," balas Dinda.
"Kemana aja kamu selama ini Dinda? apa kamu nggak kangen sama aku? apa kamu nggak tau betapa kangennya aku sama kamu Din?" ucap Dave mengatakan keluh kesahnya.
Dinda tersenyum, dimana senyuman tersebut membuat Dave sedikit nafsu. Jika tidak ada kaca, maka sudah dilahapnya bibir ranum istrinya itu.
"Dinda juga kangen koq kak," balas Dinda malu-malu.
"Terus kenapa nggak pernah datang lagi?" tanya Dave kembali.
"Dinda hanya... "
"Apa Dandi melarangmu? anak itu, paling suka sekali merusak kebahagiaan orang." ucap Dave kesal.
Dinda segera menggeleng. "Tidak kak Dave! Dandi tidak pernah melarang. Justru dialah yang menyuruh Dinda kesini," balas Dinda.
"Oh," balas Dave cuek.
Sebegitu bencinya kah kak Dave dengan Dandi? mau sampai kapan mereka musuhan seperti ini?
"Kak Dave, cobalah untuk memaafkan Dandi. Dinda nggak mau kalian musuhan terus. Dinda juga bingung berada ditengah-tengah kalian." ucap Dinda.
"Bisa kan nggak usah bahas dia kalau kamu datang? aku hanya rindu sama kamu bukan sama Dandi!" ucap Dave kesal.
Bodoh! kenapa juga aku membawa-bawa nama Dandi. Bukannya aku sudah berjanji sama Dandi tidak akan membawa-bawa namanya lagi.
"Maaf kak, Dinda nggak bermaksud seperti itu," balas Dinda menyesal.
"Kenapa kamu yang minta maaf sih. Kamu nggak salah koq. Aku tau gimana perasaan kamu sekarang. Pasti khawatir banget kan?" ucap Dave.
__ADS_1
Dia tidak terlalu egois yang hanya mementingkan perasaan sendiri. Dia tau posisi Dinda. Pasti dia merasa serbasalah. Bingung dengan pilihan didepannya. Dia suaminya, sedangkan Dandi kembaran nya. Tentu dia menyayangi keduanya dan tidak akan meninggalkan salah satu diantaranya.