MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Masa Lalu Dandi Part 3


__ADS_3

"Bang, batalin aja deh bang. Aku enggak berani." ucap Dandi takut.


"Selow aja. Masa mau nembak cewek aja takut. Kapan bisa dapat cewek kalau nyali masih ciut." ejek Dave.


"Aku gerogi bang." balas Dandi lagi.


Sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai disebuah tempat karaoke. Dave sengaja mengajak Naomi bertemu disana.


Dengan cepat Dave turun dari mobil dan mempercepat langkahnya menuju ruang yang sudah di boking nya. Kebetulan Naomi juga sudah menunggunya disana.


"Bang, aku pulang aja ya bang. Abang aja yang ketemu sama Naomi." ucap Dandi sambil memundurkan langkahnya.


Dengan cepat Dave menggapai tangan Dandi lalu menariknya. "Kita udah sampai. Ngapain nyerah. Lemah banget jadi cowok." marah Dave.


Sesampainya didepan pintu ruangan yang sudah dipesannya, Dave lalu membuka pintu tersebut. Tampak Naomi sudah duduk manis disana.


Mereka saling tatap-tatapan. Begitupun Naomi yang tampak terkejut. Pasalnya, Dave tidak mengatakan kepadanya jika akan mengajak Dandi bersama.


"Koq ada dia?" tanya Naomi heran.


Dandi yang mendengar hanya bisa tertunduk dan sedikit kecewa. Ternyata Naomi tidak menginginkan keberadaannya.


"Maaf ya kalau aku nggak ngasi tau kamu duluan. Aku sengaja membawanya." balas Dave cengengesan. Dia lupa untuk memberitahu Naomi jika mereka akan bertemu bertiga bukan berdua.


Tampak raut wajah Naomi sedikit kecewa. "Oh gitu? nggak apa-apa deh." ucap Naomi.


Dave segera menarik Dandi untuk duduk. Dia sengaja mendudukkan Dandi disebelah Naomi.


"Sekarang waktunya. Abang keluar dulu ya." bisik Dave.


Tampak wajah Dandi seperti tidak menerima saran Dave. Tapi karena gerogi dan salting saat berada disebelah Naomi, maka dia hanya bisa menatap Dave panik tanpa bisa menyanggah.


"Mau kemana Dave?" tanya Naomi tiba-tiba saat Dave berdiri.


"Aku mau ke toilet sebentar. Kalian tunggu aja disini dulu. Nggak lama koq." balas Dave lalu keluar meninggalkan mereka berdua.


Didalam ruangan, mereka hanya diam. Naomi sibuk memainkan ponselnya. Sebaiknya, Dandi tampak begitu pucat. Dia tidak tau harus bagaimana memulainya.


"Nggak nyanyi?" tanya Dandi basa-basi yang masih berdebar.


Naomi hanya menoleh sembari memberi senyuman kecut.


Koq dia beda dari yang pernah aku kenal? kenapa dia tiba-tiba berubah dingin seperti ini?

__ADS_1


"Kalau nggak nyanyi, sia-sia dong bang Dave ngajak kita kesini." sambung Dandi lagi.


"Kalau kamu mau nyanyi ya nyanyi aja. Aku nanti aja kalau Dave udah kembali." balas Naomi tanpa menoleh dan masih asyik memainkan ponselnya.


Apa itu artinya dia juga menyukai bang Dave?


Dandi segera membuang fikiran-fikiran tersebut. Walaupun nampak Naomi menunjukkan gelagat menyukai Dave dan tidak menyukainya.


Apa yang harus aku lakukan? sepertinya dia menyukai bang Dave. Tapi bang Dave bilang untuk mengatakannya. Suka atau tidak itu urusan belakangan. Tapi bagaimana aku bisa mengatakannya jika aku gerogi dan udah menyerah gini.


"Kamu kenapa?" tanya Naomi dan membuat Dandi sontak kaget.


"Nggak ada apa-apa." balas Dandi yang masih gerogi.


Dandi segera mengatur nafas. Dia tidak ingin terlihat memalukan dihadapan Naomi. Sebenarnya ini juga momen-momen yang ditunggunya. Bisa bertemu dan duduk berduaan.


"Naomi, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dandi memberanikan diri.


Naomi segera menoleh. "Kenapa manggil nama? kan tuaan aku dari kamu." ucap Naomi sedikit kaget.


Dandi hanya cengengesan. "Maaf kalau aku tidak sopan. Tapi aku nggak bisa manggil kamu kakak." balas Dandi lagi dan membuat Naomi menatapnya bingung.


"Kenapa? bukannya kalau kamu manggil aku dengan sebutan nama kedengarannya seperti kita sebaya." ucap Naomi.


Memegang dagu seraya berfikir. "Sebenarnya nggak apa-apa sih kalau kamu manggil aku nama. Aku tidak mempermasalahkan nya. Tapi kedengarannya agak aneh aja sih." ucap Naomi lagi.


"Kalau gitu aku manggil kamu Naomi aja ya?" tanya Dandi memastikan kembali.


Nia anak koq sewot amat ya?


"Terserah kamu aja deh." balas Naomi cuek. "BTW, kamu mau nanya apa?" tanya Naomi lagi.


Hati dan tubuh, aku mohon bekerja samalah!


Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu udah punya pacar?" tanya Dandi hati-hati.


"Nggak ada sih, kenapa?" Naomi balik bertanya.


"Nggak ada, aku hanya nanya aja." balas Dandi lagi.


Aku ngomong apaan sih? koq kaku banget. Tidak-tidak, aku harus maju dan mengatakan semuanya. Aku tidak mau nanti bang Dave marah.


Dandi segera membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Lalu memberinya dengan tangan yang masih gemetar ke Naomi. "Ini bu buat kamu." ucap Dandi sambil mengulurkan kotak kecil tersebut kepada Naomi.

__ADS_1


Naomi tampak kaget. "Untuk aku?" sambil menunjuk dirinya sendiri. Dia masih heran kenapa Dandi memberinya hadiah secara tiba-tiba.


"Iya, ini untuk kamu. Ambillah!" suruh Dandi.


Naomi dengan sedikit ragu-ragu akhirnya menerima hadiah tersebut lalu membukanya. "Kenapa kamu memberi aku cincin?" tanya Naomi heran setelah melihat isi hadiah yang diberikan Dandi kepadanya.


Dandi segera menarik kedua tangan Naomi dan menggenggamnya erat. "Sebenarnya aku suka sama kamu." ucap Dandi yakin. Entah dari mana keberanian itu muncul.


Naomi hanya bisa diam. Dia masih begitu terkejut dan syok dengan tingkah dan ucapan Dandi yang jauh dari bayangannya. "Apa? kenapa?" tanya Naomi keheranan.


"Aku tidak tau. Aku menyukaimu hampir tiga tahun lamanya. Selama itu nama kamu tidak pernah tergantikan dihati aku." balas Dandi.


"Kamu masih sadar kan?" tanya Naomi lagi. Dia hanya takut jika bocah didepannya ini sedang berhalusinasi atau sedang ngelantur.


"Aku sadar dan aku serius." diam sejenak sambil mengumpulkan keberanian. "Kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Dandi lagi.


Menarik dan melepaskan kembali tangannya yang digenggam Dandi. Naomi hanya bisa tertawa. Dia begitu tidak bisa menahan tawanya setelah mendengar ajakan Dandi kepadanya.


Menghentak-hentak tangannya ke sofa. "Kamu mau ngajak aku pacaran?" masih tertawa. "Umur kamu berapa sih? berani-beraninya ngomong gitu ke aku?" tanya Naomi lagi. Dia begitu geli mendengarnya.


Raut wajah Dandi seketika berubah. Tampak kekecewaan setelah Naomi menertawakannya. "Kenapa kamu tertawa disaat aku mengatakannya dengan serius?" tanya Dandi kecewa. "Aku hanya ingin jawaban bukan ketawa ejekan." sambung Dandi lagi.


Naomi segera menghentikan ketawanya. Dia menatap Dandi yang tampak seperti menahan kekesalan. Tidak seharusnya dia menertawakannya tadi. Hanya karena merasa lucu dia kebablasan tanpa memikirkan perasaan Dandi.


"Maaf, aku tidak bermaksud menertawakan mu." ucap Naomi sedikit merasa bersalah.


Dandi hanya diam. Matanya masih tetap menatap Naomi lekat. Dia ingin mendengarkan sendiri jawaban atas ajakannya tadi.


Meremas-remas jemarinya sambil sesekali melirik kearah Dandi. "Dandi, maafkan aku. Aku tidak bisa menerima kamu. Kamu tau kan jarak umur kita sangat jauh. Aku tidak pantas menjadi pacarmu. Apa kata orang jika kamu pacaran sama wanita yang lebih tua." balas Naomi.


"Jadi kamu menolak hanya karena umur? aku tidak memperdulikan masalah umur. Aku menyukaimu tulus dari hati." ucap Dandi lagi.


"Tapi maaf, umur sangat berpengaruh terhadapku. Aku tidak bisa pacaran dengan laki-laki yang umurnya lebih muda dariku." balas Naomi dengan ekspresi bingung sekaligus serbasalah.


"Kamu yakin hanya itu alasan kamu menolak ku?" tanya Dandi lagi.


Nih bocah koq banyak nanya banget sih. Kan jadi ngeselin.


Naomi hanya cengengesan. Aku nggak suka sama kamu bocah. Kamu buka tipeku.


"Kalau kamu nggak bisa nerima aku sekarang nggak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kamu mau menerima aku."


Aku nggak akan mau menerima kamu. Tolong sadar dirilah!

__ADS_1


__ADS_2