MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Menghilang


__ADS_3

"Jadi ternyata kau anak yang dipungut orang tuaku? Bagus sekali jika kau sendiri yang menyerahkan diri kepadaku." Dave tersenyum dengan sinis.


"Lepaskan Dinda kak Dave!" pinta Dinda.


"Aku bukan kakakmu. Panggi aku Tuan." balas Dave yang terus mencengkram tangan Dinda.


Air mata Dinda semakin tak terbendung. Ia berusaha mencoba melepaskan cengkeraman tangan Dave yang membuat pergelangan tangannya terasa sakit.


Dave yang seperti tersulut rasa emosi langsung menarik rambut Dinda dan membawanya kekamar dan melemparkan kelantai dengan kasar.


Dinda meringis kesakitan saat lantai kamarnya menghantam lututnya. Dinda mencoba bangun, namun kaki nya tidak kuat menahan berat tubuhnya dan akhirnya Dinda kembali jatuh.


"Tuan, jangan sakiti Dinda!" Dinda berusaha mundur saat Dave mencoba mendekatinya.


"Aku tidak akan menyakitimu, tapi aku akan memberimu pelajaran," Dave langsung menampar pipi Dinda terus menerus tanpa ampun.


Dinda merasakan perih dikedua pipinya. Ia tidak mampu bangkit apalagi melawan. Tenaganya sudah tidak kuat dan lemah.


Dave yang seperti kesetanan terus menerus menyerang tanpa ampun hingga akhirnya ia tersadar saat Dinda sudah tidak bereaksi.


"Ini akibatnya jika berani menentangku." Dave lalu pergi meninggalkan Dinda dikamar tersebut.


Dinda hanya bisa terdiam tak berdaya dan berdoa agar ia bisa selamat.


***


Dion menyempatkan mampir ke sebuah toko setelah pulang bekerja untuk membeli buku. Saat ia sedang mencari-cari buku yang akan ia beli, tanpa sengaja ia melihat boneka doraemon yang tersusun rapi disudut rak buku.


"Cantik, pasti Dinda suka." Dion tersenyum lalu mengambil boneka pilihannya untuk diberikan kepada Dinda.


Sesampai dirumah, Dion langsung berlari menuju lantai atas. Dion tersenyum dan bersemangat.


"Dinda, kamu didalam?" Dion mengetuk pintu kamar Dinda dengan wajah penuh senyuman. Ia sudah membayangkan bagaimana reaksi Dinda saat ia diberikan boneka nanti.


Berkali-kali Dion mengetuk pintu kamar Dinda, namun tidak ada jawaban sama sekali. Dion penasaran apa yang dilakukan Dinda didalam sana.


"Nggak ada." Dion membuka pintu dan mendapati Dinda tidak berada di kamar nya.


Dion meletakkan boneka tersebut di ranjang milik Dinda agar nanti bisa menjadi teman tidur.


" Kemana ya si Dinda?" Dion melihat ke sekitar kamar Dinda dan kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.

__ADS_1


Malam hari seperti biasa mereka akan makan malam bersama. Saat Kikan mendatangi dapur untuk melihat Dinda, ia kaget orang yang ingin ditemuinya tidak berada ditempat dan hidangan makan malam belum tersedia.


"Kemana Dinda? kenapa makan malam belum disediakan?" Kikan kebingungan sekaligus khawatir. Mungkin saja Dinda sedang tidak enak badan pikirnya.


Kikan kemudian berlari kecil menuju lantai atas untuk melihat Dinda di kamar nya. Namun betapa kaget nya Kikan melihat Dinda juga tidak berada di kamar nya.


"Dion, kamu ada lihat Dinda?" Dion hanya menggelengkan kepala.


"Di dapur mungkin masak." balas Dion santai.


Kikan semakin panik, tidak seperti biasanya Dinda seperti ini.


Suasana rumah pun menjadi sangat panik. Mereka sibuk mencari dan memanggil-manggil nama Dinda. Namun orang yang dicari tak kunjung ditemui.


"Dinda, dimana kamu nak? jangan bikin tante panik." Kikan tak kuasa menahan kesedihan dan kepanikan saat mencari keberadaan Dinda.


"Dinda, kamu dimana? jangan main petak umpet dong." Dion terus menyusur sudut-sudut rumah untuk mencari keberadaan Dinda.


Sudah hampir satu jam mereka mencari Dinda. Mulai dari taman belakang yang selalu Dinda kunjungi hingga ke tempat-tempat tersembunyi rumah Atmawijaya.


"Kalian sedang mencari apa?" tanya Dave yang heran melihat orang tuanya yang sedang sibuk seperti mencari sesuatu benda yang hilang.


Dave terdiam, ternyata mereka sampai sepanik itu kehilangan Dinda.


"Kemana anak sialan itu?" Dave geram, ternyata Dinda masih sempat melarikan diri.


"Kita lapor polisi saja ma." usul Dion yang kewalahan mencari keberadaan Dinda.


"Ngapain lapor polisi, palingan bentar lagi dia muncul." balas Dave yang seperti tidak suka keluarganya terlalu peduli kepada Dinda.


Kikan yang mendengar pun mengurungkan niat untuk melaporkan kehilangan Dinda karena kurang dari dua puluh empat jam.


Malam itu, semua keluarga Atmawijaya berjaga sepanjang malam menunggu kepulangan Dinda.


Keesokan harinya.


Tanpa mereka sadari, mereka semua tertidur diruang keluarga karena semalaman menunggu kepulangan Dinda. Namun hingga saat ini orang yang ditunggu masih tidak kunjung menampakkan wajahnya.


"Masih nggak ada ma." ucap Dion yang baru naik dari bawah untuk melihat Dinda didapur.


"Dimana kamu nak? mama nggak mau kamu kenapa-napa." lirih Kikan.

__ADS_1


Karena lebih dari dua puluh empat jam, akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan kehilangan Dinda dikantor polisi.


Dikantor polisi.


"Pak, tolong cari anak saya sampai ketemu pak. Saya sayang sama dia pak." Kikan tak henti memohon kepada polisi agar segera menemukan Dinda.


"Ibuk sabar, kita akan berusaha mencari." balas polisi tersebut.


Jang sedang bersantai di ruangannya dan seketika mendengar riuh dari arah luar. Karena penasaran, ia bangkit dari duduknya untuk melihat keadaan sekitar.


"Ngapain mereka kemari?" Jang kebingungan saat melihat Dave dan anggota keluarganya berada disana dan ibunya sedang menangis.


"Ada apa ini?" tanya Jang menghampiri.


"Pak, cari anak saya pak. Anak saya hilang." lirih Kikan lagi.


Jang hanya memandangi Dave dengan raut penuh tanda-tanya. Ia masih ingat betul saat Dinda mengatakan tinggal dirumah Dave. Bagaimana bisa pelakunya juga ikut melaporkan kehilangan Dinda. Apa ini permainannya juga?


Jang memberi kode kepada Dave. Dave yang menyadari kode tersebut lalu mengikuti Jang untuk masuk ke ruangan nya.


"Drama macam apa ini? bagaimana bisa pelaku ikut melaporkan kehilangan incaran nya sedangkan penculiknya berada bersama mereka." Jang memulai dengan sebuah sindiran.


Dave hanya diam. Di fikirannya hanya bimbang dengan nasibnya kedepan. Bagaimana nantinya Dinda membongkar semua rahasia kepada keluarganya.


"Tunggu, bagaimana kau tau itu Dinda?" Dave baru menyadari tuduhan yang dilontarkan Jang kepadanya.


Jang tersenyum. Tentu ia sangat tau apalagi saat baru pertama kali bertemu ia sudah mengenal Dinda.


"Aku tau saat kemaren dia mendatangi kantor untuk menemuimu." Jang tertawa dengan senangnya dan tentu membuat Dave kebingungan.


"Maksudnya?" Dave kembali bertanya.


"Aku tidak menyangka dia gadis yang polos. Tinggal serumah namun tidak pernah bertemu satu sama lain. Dan kau tau, dia sangat ingin bertemu denganmu karena dia yakin kau orang yang baik." Jang bertepuk tangan dan tertawa lepas dengan drama yang terjadi pada Dave.


"Jadi, kemana kau sembunyikan gadis itu?" Tanya Jang, karena ia sangat meyakini Dave lah pelaku hilangnya Dinda. Hatinya juga merasa khawatir.


"Aku tidak tau, aku tidak menculiknya." bantah Dave dan membuat mata Jang melotot seolah tidak percaya.


"Bagaimana bisa? jadi dimana anak itu?" Jang meninggikan suaranya dan membuat Dave bingung.


Jangan lupa Vote, Rate bintang 5 dan tombol like nya ya😊

__ADS_1


__ADS_2