
Setelah menemui Adit, Dinda memutuskan untuk pulang. Dia tidak ingin ada yang mencurigainya.
"Ah capek sekali." merentangkan tubuhnya disofa.
"Apa kak Dave belum pulang-pulang? kemana dia sebenarnya?" kali ini dia merasa seperti kehilangan.
"Ah tidak-tidak. Ada apa dengan otakku. Untuk apa juga aku mengkhawatirkan dia. Bukankah bagus jika dia tidak berada dirumah." tersenyum bahagia.
Dering ponsel membuyarkan kebahagiaan Dinda. Dengan cepat dia mengambil ponsel yang berada didalam tasnya.
"Hallo? ini siapa?" tanya Dinda. Fia tidak tau siapa yang menghubunginya. Karena nomor tersebut tidak ada dikontak ponselnya.
"Apa? koq bisa?" baik lah. Saya akan kesana." buru-buru menyimpan ponselnya dan kemudian bergegas keluar dari apartemen menuju tempat yang sudah diarahkan sipenelpon.
Selang 20 menit, Dinda akhirnya sampai di kantor polisi. Dia juga tidak tau kenapa dia harus mendatangi kantor itu. Tapi mendengar nama Dave hatinya menjadi khawatir.
"Maaf, bisa saya bertemu Dave Atmawijaya?" tanya Dinda kepada pegawai yang berjaga dibagian depan.
"Anda Dinda? Dave ada diruang interogasi. Sekarang dia disana. Sini saya antar." Dinda akhirnya mengikuti langkah pegawai tersebut.
Sesampai didepan pintu, hatinya terasa gugup. Beberapa kali dia menepuk dadanya untuk meredakan jantungnya yang berdebar. Baru kali ini dia berurusan dengan polisi. Apalagi sampai harus diinterogasi.
Tapi kenapa? kenapa namanya dibawa-bawa? sebenarnya apa yang terjadi?
Dinda menghembuskan nafas teratur agar debarannya mereda.
Alangkah terkejutnya Dinda saat masuk ke ruangan itu. Disana ada Dandi dan Adit sedang duduk menatap Dave dengan bengisnya.
"Kenapa kalian disini?" tanya Dinda penasaran.
"Menurutmu kenapa kita dibawa kesini?" tanya Adit balik.
Dinda menyerngitkan dahinya. Dia benar-benar tidak tau dan tidak mengerti dengan suasana ini. Kenapa hawanya begitu panas. Sedangkan diruangan itu sangat Dingin.
"Maksud kak Adit apa? emang kenapa dengan kak Dave?" tanya Dinda lagi. Fikiran nya sama sekali tidak bisa mencerna.
__ADS_1
"Ini tentang masa lalu kalian. Aku sangat senang akhirnya kita akan menang." ucap Adit puas. Kali ini dia merasa sangat senang pada akhirnya Dave kena batunya.
"Kak Dave, ada apa ini sebenarnya? Dinda sama sekali tidak mengerti." mengalihkan pandangannya kearah Dave yang tampak murung.
"Aku pantas mendapatkannya. Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku menghancurkan kalian." ucap Dave menyesal.
Apa yang dikatakan kak Dave? apa dia benar-benar sudah berubah? ada apa denganku? kenapa aku sangat kasihan kepadanya? bukankah ini bagus? pada akhirnya aku bisa bebas.
"Silahkan duduk!" suruh salah seorang polisi yang berada diruangan itu kepada Dinda. Dinda pun menurut dan duduk disamping Dave. Karena hanya disebelah Dave kursi yang kosong.
"Apa anda isterinya?" tanya polisi itu kepada Dinda.
Dinda mengangguk. "Benar pak. Saya isterinya." balas Dinda.
"Begini. Kami sedang mendalami kasus yang sudah 8 bulan lalu masuk. Baru sekarang kasus itu diangkat lagi." jelas polisi itu.
"Dave, apa benar kamu yang membakar rumah mereka dan menculik Dinda untuk dijadikan PSK?" tanya polisi itu pada Dave.
Dave menatap Dinda sekilas. "Benar Pak. Rumah mereka dibakar atas perintah saya. Saya juga menyuruh mereka menjadikan Dinda sebagai PSK untuk melunasi utang-utang Dandi kembaran nya." jelas Dave. Rasanya dia begitu sangat menyesal pernah melakukan kejahatan itu kepada Dinda dan Dandi.
Dave hanya menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa menyesal.
"Apa benar anda juga yang memaksa Dinda menikah dengan anda?" tanya polisi itu lagi. Kali ini dia benar-benar dicerca bermacam-macam pertanyaan.
"Benar Pak." ucap Dave. Dia seringkali menatap Dinda. "Saya dan Dinda hanya menikah secara siri." sambung Dave lagi.
"Sekarang, ceraikan Dinda. Aku tidak ingin Dinda terus menderita hidup bersama penjahat sepertimu." marah Adit. Hari ini merupakan hari yang sangat di nanti-nanti kan nya. Setelah Dave menceraikan Dinda, maka dia akan bisa kembali lagi bersama Dinda.
Dave diam dan terus menatap Dinda. Tampak bulir-bulir air matanya seakan mau jatuh. Begitupun Dinda. Dia merasa sangat sakit hatinya mendengar kata cerai yang dilontarkan Adit.
Ada apa ini? kenapa aku sangat tidak senang ketika Kak Adit menyuruhnya untuk menceraikan aku? apa aku tidak ingin berpisah dengannya? tapi bukankah itu yang kuharapkan dari dulu.
"Apa anda ingin berpisah dengan suami anda?" tanya polisi itu lagi.
Dinda hanya dia dan sama sekali tidak menjawab.Hanya air mata yang jatuh membasahi pipinya. Benar, dia sama sekali tidak ingin berpisah. Entah dari mana fikiran itu datang. Tapi dia benar-benar tidak ingin berpisah untuk saat ini.
__ADS_1
Cinta? mungkin saat ini dihatinya masih ada nama Adit. Tapi tidak salahkan untuk mencoba mencintai Dave suaminya dan melupakan Adit masa lalunya. Tapi bagaimana dengan Adit? pasti dia sangat kecewa. Tapi hatinya tidak menginginkan perpisahan.
Ada apa ini? aku tidak ingin berpisah dengan kak Dave. Tapi sejujurnya hati ini masih memiliki rasa dengan kak Adit. Tuhan, kenapa dengan hati ini. Aku tidak ingin menjadi perempuan tidak berguna yang menginginkan kedua laki-laki ini.
Akhirnya, mereka semua telah selesai diinterogasi. Belum ada jawaban mengenai perpisahan dari Dinda maupun Dave. Mereka sama-sama bungkam dan menutup rapat jawabannya.
"Pak Dave, anda akan di sidang. Bersiap-siaplah." ucap polisi itu.
Dinda, Dandi dan Adit keluar dari ruangan itu. Hanya tinggal Dave yang masih duduk disana.
"Dandi, kak Dave masih didalam." ucap Dinda khawatir.
"Biarkan saja dia disana. Mungkin dia lagi menyesali perbuatannya." jawab Dandi menenangkan Dinda.
"Kalian kenapa? bukankah seharusnya kalian senang? tapi kenapa kalian terlihat mengkhawatirkan dia." tanya Adit penasaran. Bukankah ini yang mereka harapkan selama ini? tapi kenapa sekarang sepertinya harapan itu berubah.
"Adit, Dinda masih isteri Dave. Wajar dia mengkhawatirkan suaminya." balas Dandi.
Adit merasa kurang senang dengan jawaban yang dikatakan Dandi kepadanya. Dinda memang isteri Dave. Tapi hati Dinda masih tersimpan namanya.
"Dinda, kamu tidak mungkinkan menaruh hati pada Dave?" tanya Adit penasaran. Perasaannya begitu khawatir. Apa jadinya nanti jika Dinda tiba-tiba menaruh hati kepada Dave. Lalu bagaimana dengannya?
"Kak Adit, Dinda ke toilet dulu." ucap Dinda lalu meninggalkan Dandi dan Adit yang masih menunggu jawaban darinya. Dia tidak bisa memberi jawabannya. Dia juga tidak tau pasti dengan perasaannya saat ini.
Kabar itu pun telah didengar oleh orang tua Dave dan Cindy. Kedua orang tua Dave begitu sangat kecewa terhadap putranya. Mereka tidak menyangka anaknya sendirilah dalang dari semua kekacauan hidup Dinda dan Dandi.
"Mama benar-benar sangat kecewa sama anak kita Pa. Kenapa dia melakukan ini? dia sudah bikin malu kita pa." ucap Kikan sedih.
"Sudah ma. Jangan ditangisi lagi. Dia pantas mendapatkannya atas apa yang pernah diperbuat. Sekarang, kita harus lebih memperhatikan Dinda ma. Bagaimanapun dia sudah menjadi isteri anak kita. Bukankah Dinda yang kita ingin untuk menjadi isteri anak kita?" ucap Roy untuk menenangkan isterinya.
"Benar pa. Kita harus memperhatikan Dinda. Dinda menderita karena anak kita pa." balas Kikan lagi.
"Kurang ajar. Jadi selama ini perempuan itu sudah menjadi isterinya. Jadi perjuanganku selama ini sia-sia?" kesal Cindy yang baru saja mendapat kabar tersebut.
Dia begitu sangat marah. Perempuan yang selama ini yang diketahuinya sebagai adik angkat Dave ternyata isteri Dave. Laki-laki yang sangat dicintainya.
__ADS_1