MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Sebenarnya


__ADS_3

Detik berganti detik. Menit berganti menit. Jam berganti jam. Hari berganti hari. Dandi tetap menghindari Naumi dan mengabaikan pesan darinya. Menurutnya itu sudah tepat dia lakukan agar luka lama tidak tergores kembali.


Hari ini merupakan hari libur. Dia hanya tinggal sendirian setelah Dinda dan Dave pindah ke apartemen mereka. Tidak ada yang akan dilakukannya dihari libur. Mandi pagi dan hanya berbaring dan memeluk bantal guling sepanjang hari. Melepaskan kepenatan diri dari penatnya bekerja.


Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Dia bangun dari berbaring untuk keluar minum air. Tenggorokannya terasa kering.


Tok tok tok


Suara pintu rumahnha ada yang mengetuk. Dandi bergegas berlari untuk membukakan pintu. Pasti Dinda dan Dave sedang mengunjunginya. Apalagi mereka berjanji akan datang berkunjung jika waktu libur kerja.


"Aku tau kalian pasti datang," senyum yang tadi mengembang kini memudar setelah tau siapa yang mengetuk pintunya.


"Dandi," sapa Nazumi.


Dandi buru-buru menutup pintu. Nazumi menahan agar pintu tidak ditutup. "Tunggu Dandi, jangan tutup pintunya!" mohon Nazumi. Dia sudah jauh-jauh datang dan membuang rasa malu untuk menemui Dandi dirumahnya. Tapi sang punya rumah ternyata tidak menginginkan kedatangannya.


"Ngapain kamu datang kerumahku?" tanya Dandi yang masih menahan pintu agar Nazumi tidak bisa masuk.


"Aku hanya ingin kita bicara. Aku bosan kau selalu menghindariku," ucap Nazumi sedih. Dia sudah mengikuti Dandi beberapa hari ini hingga dia bisa tau dimana tempat tinggal Dandi. Hal terbodoh yang pernah dilakukannya demi mengejar orang yang dicintainya. Walaupun kenyataannya orang yang dicintainya tidak membalas cintanya.


"Masuklah!" suruh Dandi. Dia tidak tega mendengar Nazumi menangis dan terpaksa mengajaknya untuk masuk.


Dandi membukakan pintu dan Nazumi pun masuk kedalam. Duduk di kursi plastik yang sudah tersedia disana. Mereka duduk saling berhadapan hadapan.


Nazumi menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit berdebar dan tidak tau harus memulainya dari mana.


"Dari mana kau tau tempat tinggal ku? apa kau mengirimkan orang untuk memata mataiku?" tanya Dandi serius. Setaunya tidak ada yang tau tempat tinggalnya kecuali Dave, Dion dan orang tua mereka.


Nazumi segera menggeleng. Bukan dia mengirim orang untuk memata-matai Dandi. Tapi dia sendirilah yang menjadi mata-matanya.


"Atau kau yang memata-mataiku?" tanya Dandi menyelidik.


Nazumi membulatkan matanya. Kali ini tebakan Dandi tepat sasaran dan membuatnya semakin terpojok. "Aku minta maaf!" ucap Nazumi.


"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu," balas Dandi dengan muka datar nya. Dia memaafkan tindakan bodoh Nazumi. Tapi tidak dengan masa lalunya.


Nazumi yang mendengar sontak kaget sekaligus senang. Tanpa permisi dia langsung menghambur lalu memeluk tubuh Dandi.

__ADS_1


Dandi yang kaget buru-buru melepaskan dan mendorong tubuh Nazumi agar menjauh.


"Maaf!" hanya itu yang bisa dikatakan atas tindakan bodohnya.


"Sudahlah, lebih baik kau pergi! tidak baik istri orang lain datang kerumah laki-laki yang belum menikah dan memeluknya. Takut nanti jadi fitnah. Aku tidak mau disebut perebut istri orang." ucap Dandi memperingatkan. Apalagi waktu itu dia mendengar jika Nazumi sudah mempunyai anak. Otomatis tentunya dia pasti memiliki suami.


"Tidak Dandi, aku tidak akan pergi! aku datang ingin menemui mu dan ingin mengatakan sesuatu." tolak Nazumi saat dia diusir.


Dandi menyipitkan matanya. Apalagi yang ingin dikatakan wanita ini? tidak cukupkah sakit hati yang pernah dia beri selama ini?


"Apa yang ingin kau katakan? cepat! aku tidak suka bertele-tele," peringat Dandi yang sudah bosan dengan Nazumi.


"Aku menyukaimu. Tolong terimalah cintaku!" ucap Nazumi sambil mengulurkan sebuah kotak kecil sebagai hadiah.


Dandi menatap kotak kecil tersebut sambil terkekeh. "Kenapa kau begitu terang-terangan berselingkuh?" ucap Dandi merendahkan.


Nazumi mengangkat kepalanya dan menatap Dandi lekat. "Aku tidak sedang mengajakmu selingkuh. Aku sudah tidak punya suami lagi dan aku seorang janda." balas Nazumi. Sepertinya selama ini Dandi salah paham kepadanya yang menganggapnya masih bersuami.


"Janda?" tanya Dandi tidak percaya. Setelah menyakitinya dulu dan kini dia menjadi seorang janda barulah kembali dengannya lagi.


"Aku sudah bercerai dengan suamiku 4 tahun lalu." ucap Nazumi dengan lantang agar Dandi percaya dengannya.


"Berapa umur anakmu?" tanya Dandi tiba-tiba.


" 3 tahun." balas Nazumi cepat.


Dandi semakin memicingkan matanya. Bagaimana mungkin anaknya sekarang berumur 3 tahun jika dia dan suaminya sudah bercerai 4 tahun. Lalu, anak dari pria mana yang dia lahirkan? apa anak diluar nikah?


"Kau fikir aku mau menerima perempuan sepertimu? apa kau tidak ingat bagaimana perlakuanmu terhadapku dimasa lalu?" tanya Dandi kesal.


" Apa maksudmu?" tanya Nazumi bingung.


" Sudahlah Naomi, tidak perlu pura-pura. Aku tau kau hanya bersandiwara denganku. Dan anak yang kau katakan itu anak dari pria mana lagi hah,"ucap Dandi yang semakin kesal. Kali ini dia sudah tidak bisa lagi mengikuti permainan Naomi. Dia sudah lelah dan muak.


Nazumi bangkit dari duduknya dan menutup mulutnya kaget. Menatap Dandi yang sedang menatapnya dengan tatapan benci.


"Kenapa? sudah tidak bisa berbohong lagi?" tanya Dandi menahan amarah.

__ADS_1


"Jadi, jadi... "


"Sekarang keluar dari rumahku!" pernah Dandi. Dia menarik tangan Nazumi dan mendorongnya keluar.


"Dandi, Dandi tunggu. Aku bukan Naomi!" ucap Nazumi berusaha bangkit setelah tadi jatuh saat didorong Dandi.


"Bohong!" balas Dandi yang sudah tidak bisa lagi mngontrol amarahnya.


"Mbak Nazumi? ada apa ini Dandi?" tanya Dinda yang tiba-tiba datang bersama Dave.


"Kenapa kamu mengusirnya? ayo mbak kita masuk," ajak Dinda. Mereka pun akhirnya masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Dandi tidak bisa lagi mengusirnya setelah dimarahi Dinda.


"Kamu," ucap Nazumi saat menyadari Dave datang bersama Dinda.


Dave hanya cengengesan. Nazumi pasti mengingatnya waktu dicafe waktu itu. Dia juga tidak mengerti dengan situasi sekarang.


"Dia suami saya mbak," ucap Dinda dan membuat Nazumi sedikit terkejut. Ternyata laki-laki sok kenal waktu itu sudah memiliki istri.


Mereka berempat pun akhirnya duduk bersama. Setelah tadi Dave berjuang memujuk Dandi agar ikut bergabung. Kali ini Nazumi ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.


"Ayo katakan!" suruh Dandi tidak sabaran.


"Percayalah! aku bukan Naomi." ucap Nazumi dan dibalas senyum kecut oleh Dandi. Dia masih tidak percaya dengan kata-kata Nazumi dan menganggap itu hanya omongan kosong.


"Ah sudah, aku bosan mendengar kata-kata pembohong sepertimu." ucap Dandi kesal. Dia berusaha bangkit ingin meninggalkan mereka. Tapi dengan sigap Dinda menahannya.


"Dandi, tenangkan diri kamu. Duduklah! sekarang kita dengarkan dulu apa yang akan disampaikan mbak Nazumi," ucap Dinda dengan lembut. Dandi pun akhirnya menurut dan duduk kembali. Namun dia tidak mau menatap wajah Nazumi.


"Boleh aku bertanya?" Dave membuka suara. Dia juga sedikit curiga terhadap Nazumi.


"Apa kau tidak mengenaliku?" tanya Dave lagi.


Nazumi hanya menggeleng. Dia memang tidak mengenali suami Dinda. Nama saja dia tidak pernah tau. "Maaf, aku sama sekali tidak mengenali mu. Kita hanya pernah bertemu sekali waktu dicafe." balas Nazumi.


Dinda hanya mendengarkan. Dia tidak cemburu jika wanita didepannya ini dulu adalah mantan suaminya. Toh itu hanya masa lalu. Apalagi dia juga sudah tau cerita sebenarnya setelah diceritakan oleh Dave.


"Boleh aku bertanya lagi?" tanya Dave dan dibalas anggukan oleh Nazumi."Apa kau menegenal Naomi?"

__ADS_1


Nazumi membalasnya dengan tersenyum. "Aku sangat mengenali nya." ucap Nazumi.


__ADS_2