MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Masa Lalu Dandi Part 6


__ADS_3

"Kamu marah gara-gara kami ciuman?" tanya Dave memastikan.


"Aku ditolak dan melihat kalian berciuman. Abang tau kan bagaimana rasanya?" ucap Dandi.


Dave menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sakit memang orang yang kita cintai malah bercumbu dengan orang lain. Tapi dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia juga menyukai Naomi dan mereka juga sama-sama menikmatinya.


"Kalau masalah itu abang minta maaf. Abang ciuman karena dia yang minta." ucap Dave sedikit bersalah.


"Abang kan bisa nolak," marah Dandi.


Dave diam. Bagaimana bisa dia menolak kalau dia juga menginginkannya.


Menepuk-nepuk bahu Dandi. "Kita cowok, kita juga perlu yang begituan. Apalagi dia yang ngajak duluan. Nggak mungkin abang tolak. Sedangkan abang juga pengen pada saat itu." ucap Dave.


"Kamu cowok, tidak mungkin fikiran kesana nggak ada. Kamu juga akan merasakannya nanti." diam sejenak. "Kamu nggak bisa marah hanya karena kami ciuman. Kamu juga kan tau kalau abang juga menyukai Naomi. Kamu harus ingat itu!" sambung Dave.


Dandi hanya tertunduk dan mencerna ucapan Dave. Sebenarnya tidak salah jika mereka ciuman. Tapi yang salah hanya karena Naomi. Dia juga mencintai Naomi dan tidak rela jika dia berciuman dengan Dave yang sejatinya sahabat sekaligus abang angkatnya.


"Aku nggak ke fikiran sampai kesana bang. Aku tulus mencintai Naomi. Sama sekali tidak ada fikiran yang aneh-aneh." balas Dandi.


Dave yang mendengar hanya tertawa terbahak-bahak. Ternyata adiknya ini sangat kolot dan kurang pergaulan. Nakal-nakal dikit nggak apa-apa lah ya. Namanya juga jiwa laki-laki.


"Aduh Dandi, kamu laki-laki lho. Kelihatan nggak normal kalau nggak ada otakmu kesana," ucap Dave yang masih merasa lucu. "Makanya sering-sering nonton bokep." sambung Dave lagi.


Dandi hanya membelalakkan matanya kaget. Sesuatu yang negatif belum pernah sama sekali dia tonton ataupun dia praktekkan.


"Bang, aku nggak pernah nonton yang begituan. Dosa bang!" balas Dandi mengingatkan Dave. Mungkin dia tidak sama seprti Dave yang sudah berpengalaman di bidang tersebut. Dia berbeda, dekat wanita aja masih grogi apalagi sampai melakukan itu.


Tring


Beberapa kali ponsel Dandi berdering. Ada beberapa pesan masuk.


"Kalau ada waktu, coba tonton." sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Abang ngirim apa?" tanya Dandi sambil mengecek ponselnya yang ternyata pesan dari Dave.


"Itu vidio bokep. Biar kamu nggak kolot-kolot amat jadi cowok." balas Dave.


Dengan cepat Dandi langsung menonaktifkan ponselnya. Takut tiba-tiba salah tekan dan membuatnya harus melihat yang seharusnya tidak boleh dia lihat.


"Masih marah?" tanya Dave lagi.


Dandi diam, dia juga tidak bisa marah kepada Dave. "Aku udah kalah dari abang. Tidak mungkin aku marah. Bukannya kita udah sepakat!" Balas Dandi.


"Gitu dong, kita ini cowok. Kita harus gentelman." ucap Dave.


Walaupun hatinya tidak baik-baik dan masih menelan kekecewaan, dia harus tetap bisa menerimanya. Dia juga tidak bisa memaksa kehendak dan keputusan seseorang jika itu bertentangan dengan keinginannya.


"Mulai sekarang, cobalah untuk pelan-pelan melupakan Naomi. Abang yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa move on dan menemukan yang terbaik." ucap Dave menyemangati dan dibalas anggukan oleh Dandi.


"Udah sore. ayo kita pulang!" ajak Dave.


Akhirnya mereka pun pulang kerumah masing-masing setelah tadi Dave mengantar Dandi terlebih dahulu.


"Gimana sekolah kalian tadi?" tanya Ayah mereka.


"Seperti biasa ayah." balas Dinda cepat. Memang mereka berdua merupakan murid yang berprestasi. Mereka selalu mendapatkan rangking teratas dan juara umum disekolah. Hal tersebut membuat banyak teman-teman mereka mendekati. Walaupun ada sebagian yang mendekati hanya untuk mendapatkan contekan.


"Ayah bangga sama kalian berdua. Kalian selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda." ucap Ayahnya yang sangat bangga terhadap kedua anaknya itu.


"Kalian harus ingat! kalian sudah kelas 12. Sebentar lagi kalian akan lulus. Bunda mau kalian lulus dengan nilai yang terbaik. Jadi kalian harus belajar yang rajin!" ucap Bundanya.


"Ayah mau tau anak-anak Ayah cita-citanya mau jadi apa sih nanti?" tanya Ayahnya.


"Dinda mau jadi pengusaha Yah. Dinda mau buka toko kue hingga cabang ke seluruh dunia." ucap Dinda semangat. Memang itu cita-citanya selama ini. Apalagi dia begitu mahir membuat berbagai macam makanan.


"Kamu Dandi?" tanya Ayah kepada Dandi.

__ADS_1


"Dandi mau jadi Ceo Yah. Kalau nggak kesampaian jadi CEO, jadi pengusaha kaya Dinda. Tapi Dandi mau jadi pengusaha properti." tutur Dandi tak kalah semangatnya.


"Ayah sangat mendukung cita-cita kalian selama itu positif dan berguna bagi orang banyak. Makanya kalian harus rajin belajar agar nanti bisa diterima di Universitas ternama. Nanti setelah tamat kalian bisa semakin berguna dan bisa menggapai cita-cita kalian." ucap Ayah.


Mereka pun mengangguk serempak. Merekapun berpelukan bersama-sama. Sebagai pelepas rindu dan kebiasaan mereka jika sedang berkumpul bersama.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya mereka kembali kekamar dan tidur. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak kecil. Mereka selalu dididik untuk selalu tepat waktu dan disiplin oleh orang tua mereka.


Dandi sudah berada di kamar nya. Memang waktunya untuk tidur, tapi dia belum mengantuk dan matanya masih belum bisa terpejam.


"Apa aku baca buku aja ya?" ucap Dandi sembari menghampiri rak buku disamping meja belajarnya.


Dia kemudian mengambil sebuah buku. Masih berhubungan dengan pelajaran di sekolah nya. Dia memang suka membaca jika merasa bosan dan menunggu sampai matanya kantuk.


Dandi segera membaringkan tubuhnya. Dia memang suka membaca ambil berbaring. Lebih nyaman katanya.


Baru beberapa halaman Dandi membaca, deringan ponsel mengalihkan perhatiannya. Dia segera menggapai ponsel diatas meja kecil samping ranjangnya.


"Ada apa bang?" tanya Dandi penasaran. Untuk apa juga Dave menelponnya jam segini.


"Untuk beberapa hari abang tidak akan menghubungi ataupun bertemu kamu." ucap Dave.


"Kenapa bang? abang mau kemana?" tanya Dandi penasaran.


"Abang ada studi untuk beberapa hari. Disana tempatnya terpencil dan jaringannya juga susah. Makanya abang kasi tau sekarang." balas Dave.


"Oh yaudah bang. Semoga studi nya berjalan lancar ya bang," ucap Dandi menyemangati.


"Iya terima kasih Dan. Abang tutup dulu ya. Abang lagi beres-beres untuk besok ini." ucap Dave lalu memutuskan panggilan.


Saat Dandi akan meletakkan kembali ponselnya, tanpa sengaja dia menekan sebuah vidio. Dia mencoba untuk mengeluarkannya, tapi karena panik dengan isi vidio nya dan membuatnya malah memperbesar layar.


Sangat jelas terlihat pemandangan didepan layar ponselnya. Tanpa sadar Dandi menikmatinya dan membuat yang dibawah sana menegang.

__ADS_1


Jadi begini rasanya yang dikatakan Dave? begitu nikmat dan malah semakin menagih melihat vidio yang seharusnya tidak boleh dia tonton.


Akhirnya, Dandi pun melihat semua vidio yang sudah dikirimkan Dave kepadanya siang tadi. Ada sekitar 9 vidio yang sudah ditontonnya dengan masing-masing durasi sekitar 20 menitan.


__ADS_2