MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Ketakutan Dinda


__ADS_3

Dinda berusaha membuka mata yang masih berat dari tidur nyenyak nya. Ia mengeliat dan memukul-mukul pundaknya untuk mengembalikan tenaga paginya. Setelah matanya terbuka fan nyawanya sudah terkumpul, ia baru menyadari dimana ia sekarang. Ternyata ia telah tertidur sepanjang malam di sofa ruang tamu.


"Kenapa aku tidur disini?" matanya membesar dan terkejut. Ia tidak ingin Dave marah ataupun mengasarinya. Apalagi selama mereka menjadi suami istri, Dinda selalu tidur dilantai kamar dan tidak boleh tidur diluar ataupun di ranjang milik Dave.


"Bagaimana ini?" ucap Dinda panik. Lalu ia berlari menuju kekamar.


Dinda membuka pintu pelan-pelan. Sebenarnya rasa trauma itu masih menghantuinya. Apalagi jika mengingat perlakuan Dave kepadanya kemaren.


Dinda memasukkan separuh kepala untuk melihat keadaan didalam. Rasa traumanya lebih besar daripada rasa takut akan dikasari atau dimarahi Dave.


Saat melihat kedalam, ia tidak melihat ada siapa-siapa disana. Dengan takut-takut, Dinda memberanikan diri untuk masuk. Ia melihat keadaan sekitar. Tidak tampak Dave disana. Ia berjalan mendekati kamar mandi dan mendekatkan kuping nya untuk memastikan apakah Dave sedang mandi.


Tiba-tiba ia merasa Dejavu. Takut kejadian kemaren terulang kembali. Dinda menutup mata dan berdoa agar ia tidak diperlakukan seperti kemaren oleh Dave.


Dinda melirik dengan perlahan kearah belakangnya. Ia merasa bersyukur karena Dave tidak berada dibelakangnya dan tidak melakukan hal yang sama seperti kemaren. Daat Dave tiba-tiba Dinda dipeluk dan diciumi oleh Dave dengan rakus.


"Apa dia tidak berada dirumah? Tapi kenapa dia tidak pulang?" rasa penasaran masih menghantuinya.


Dinda sangat bersyukur Dave tidak berada bersamanya sekarang. Itu tentu membuatnya lebih leluasa untuk bergerak dan tidak akan diperlakukan seperti pelayan.


Namun, ia juga merasa takut jika Dave pulang secara tiba-tiba. Ia tidak ingin berhadapan dan bertemu dengan pria itu. Kini rasa takut dan trauma menghantuinya.


Dinda memutuskan untuk membersihkan diri dikamar mandi. Bukankah untuk sekarang ia lebih aman dan lebih bebas hanya untuk sekedar mandi. Biasanya ia akan mandi setelah membuatkan sarapan dan setelah Dave pergi bekerja pukul sembilan pagi.


Kini Dinda merasa segar karena mandi lebih awal dari biasanya. Ia memutuskan untuk kebawah dan memasak sarapan pagi.


Dinda menatap meja yang masih terhidang makanan. Makanan yang ia masak tadi malam untuk makan malam Dave. Dinda mengeluh, kini makanan tersebut sudah berbau dan tidak layak untuk dimakan. Dinda pun membuang makanan tersebut kedalam tong sampah.

__ADS_1


Setelah selesai menyuci.piring, ia lalu memutuskan untuk memasak nasi goreng. Namun ia ragu untuk memasak lebih. Ia takut nantinya Dave tidak memakannya dan akan terbuang dengan sia-sia.


"Apa aku masak untukku sendiri saja? Tapi jika Dave pulang? Bagaimana jika Dave marah?" Dinda masih memikirkan berapa porsi akan dimasaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk memasak dua porsi nasi goreng. Untuknya sendiri dan untuk Dave saat dia pulang nanti.


Dinda masih antusias memasak di dapur. Tanpa ia sadari, Dave pulang dan memperhatikannya dengan lekat.


****


Dave baru bangun dari tidurnya. Dave menatap sekeliling ruangan yang begitu asing baginya.


Dimana aku sekarang? Kenapa tempat ini sangat berbeda dari apertemenku? Dave menatap sekeliling dengan kebingungan.


Kepalanya begitu sakit untuk mengingat-ingat. Dave melirik jam tangan yang dipakai ditangan kirinya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Astaga, aku kesiangan? keluh Dave panik.


Dave memegangi kepalanya dan kembali mengumpulkan ingatannya. Setelah ingatannya kembali, ia lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar yang sangat asing baginya.


"Mau kemana Dave?" tanya Bro.


Ternyata, Dave telah dibawa oleh Bro untuk menginap diapartemannya. Dave begitu banyak minum dan telah menjadi sangat mabuk. Ia tidak tau harus membawa Dave kemana. Ia tidak tau alamat apartemen Dave. Jika ia membawa Dave kerumah kebesaran Atmawijaya, maka orang tuanya akan tau kebiasaan buruk anaknya. Maka dengan itu, Bro memutuskan untuk membawa Dave keapartemennya.


"Aku harus pulang." balas Dave sambil berjalan melewati Bro.


Ia harus pulang dengan cepat. Apalagi ia harus kekantor dan bekerja. Jika ia berlama-lama ditempat ini, maka ia akan terlambat untuk bekerja.


"Tunggu Dave, kita sarapan dulu. Aku akan memesan sarapan untuk kita." Bro menahan tangan Dave. Bukan sahabat namanya membiarkan Dave pulang sebelum sarapan.

__ADS_1


Dave bersikeras akan pulang dan menolak tawaran Bro. Ia harus segera pulang ke apartemen nya.


"Yasudah jika kamu nggak mau. Aku nggak akan memaksanya. Kamu hati-hati pulangnya." balas Bro sambil membukakan pintu apartemennya.


"Kenapa dia begitu bersikeras ingin pulang? Biasanya dia tidak ingin pulang cepat-cepat. Apa ada yang menunggunya dirumah? Tapi siapa?" Bro merasa aneh dan penasaran dengan sikap Dave. Namun setelah itu, ia membuang rasa curiga nya kepada Dave. Tidak mungkin orang tua Dave menunggunya diapartemen.


Dave melajukan mobilnya untuk segera sampai keapartemen. Tujuannya pulang hanyalah ingin menemui Dinda. Jika bukan karena rasa bersalahnya kepada Dinda setelah melakukan perbuatan tidak terpuji, mana mungkin ia ingin pulang cepat-cepat. Jika hanya untuk tidak terlambat kekantor, ia masih bisa mengandalkan asistennya jika ia terlambat. Tidak ada masalah selagi itu perusahaan miliknya.


"Kenapa aku begitu merasa bersalah kepada Dinda? Bukankah dia pantas mendapatkannya?" Dave memijit-mijit pangkal hidungnya. Ia begitu stres memikirkan kejadian kemaren.


Dave akhirnya sampai ke apartemen nya. Perasaan kali ini begitu cemas. Ia takut untuk berhadapan dengan Dinda. Tidak tau kenapa perasaannya bisa berubah. Dave menekan tombol sandi pintu. Setelah pintu terbuka, ia masuk dengan langkah pelan-pelan seperti seorang maling.


Saat ia masuk dan akan menuju kekamar, ia tidak sengaja melihat Dinda sedang memasak di dapur. Kebetulan ruang tamu dan dapur bersebelahan.


Hatinya berdebar melihat Dinda. Bukankah yang seharusnya berdebar itu Dinda saat melihat dia. Tapi kenapa sekarang keadaannya berbalik.


Dave mematung dan menatap Dinda disana dengan lekat. Tiba-tiba nafsunya kembali muncul. Ingin sekali ia memeluk Dinda.


"Ka ka kamu sudah pulang?" tanya Dinda terbata-bata setelah menyadari Dave berdiri dipintu. Dirinya sangat takut kepada Dave, apalalagi saat ini Dave menatapnya seperti singa lapar.


Dinda berjalan mundur saat Dave mendekatinya. Ia begitu takut jika Dave melakukan hal yang sama lagi kepada dirinya. Kali ini, ia berada diposisi yang sama. Ia sudah mentok di pintu kulkas. Tangannya sudah dipegang oleh Dave dengan tatapan buasnya.


"Dave, le le lepaskan aku." Dinda berkata dengan gagap. Ia tidak tau kenapa dia menjadi sangat gagap dan takut bertemu Dave.


"Aku..."


Dave melepaskan cengkeraman tangannya. Ia berhasil menahan nafsu gairahnya saat melihat Dinda mulai menangis.

__ADS_1


__ADS_2