
Hari ini merupakan hari yang sangat dinantikan Dinda. Hari ini merupakan hari dimana Dave akan dibebaskan.
Dengan langkah kaki cepat dan membawa satu buah bunga sebagai hadiah kebebasan suaminya.
Hari ini dia tidak datang sendiri. Dion juga ikut menyambut Dave. Hanya saja orang tua Dave yang tidak mau datang. Mereka masih begitu kecewa.
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya yang di tunggu pun keluar. Tampak raut wajah bahagia dari keduanya.
Dinda bangkit dari duduknya dan berlari berhamburan memeluk suaminya. Rindunya sudah tidak tertahan. Dave pun dengan senang hati membalas pelukan istrinya. Begitupun dengannya yang amat merindukan istrinya itu.
"Hmm, sampai kapan kalian pelukan terus? apa nggak liat aku juga ada disini?" ucap Dion sedikit kesal. Kerinduan dua sejoli di depannya membuatnya seperti obat nyamuk saja.
Dave dan Dinda melepaskan pelukan. "Maaf kak Dion, soalnya Dinda kangen sama kak Dave." ucap Dinda cengengesan.
Dave melihat ke penjuru . Melihat setiap orang yang lalu lalang. "Dimana Papa dan Mama?" tanya Dave.
Dinda dan Dion hanya menarik nafas pelan. "Mereka tidak datang," ucap Dion tertunduk.
"Kak, jangan sedih," mengelus punggung Dave. "Beri mereka waktu," sambung Dinda.
"Aku tau koq mereka masih marah. Tidak apa-apa, aku tidak sedih," ucap Dave.
Mereka pun akhirnya meninggakan tempat tersebut. Akhirnya mereka tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki disana lagi.
"Kita mau kemana?" tanya Dion yang fokus menyetir.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? soalnya Dinda udah lapar. Dinda nggak sempat sarapan tadi pagi," ucap Dinda.
Mobil pun melaju ke sebuah restoran terkenal disana. Restoran tersebut juga merupakan tempat favorite keluarga Atmawijaya. Apalagi makanan disana sangat enak dan lezat.
Mereka masuk dan langsung duduk dimeja yang sudah disediakan disana. Memesan menu yang ada disana. Saat pesanan sampai, mereka pun langsung makan dengan lahapnya.
"Bagaimana dengan perusahaan ku?" tanya Dave kepada Dion. Saat dipenjara, dia tidak tau bagaimana keadaan kantornya selama dia tidak ada.
"Perusahaan kakak baik-baik saja. Aku sudah menanganinya." balas Dion.
Jika Hotel sudah diambil alih kembali oleh orang tuanya, hanya perusahaannyalah yang menjadi satu-satunya sumber pencahariannya. Apalagi perusahaan tersebut merupakan hasil jerih payahnya sendiri selama ini.
"Terima kasih karena kau sudah banyak membantuku. Jika tidak ada kau mungkin perusahaanku sudah bangkrut. Aku sangat berhutang budi denganmu," ucap Dave.
__ADS_1
"Tidak, tidak kak, aku melakukannya ikhlas. Kita kan saudara," balas Dion.
Tidak ada rasa terpaksa atau ingin merebut saat dia menangani perusahaan Dave. Dia melakukannya dengan ikhlas sebagai saudara.
Mereka selesai makan dan akan beranjak dari tempat tersebut. Berjalan keluar dan masuk kembali kedalam mobil.
"Jadi kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Dion.
"Pulang," balas Dave.
Dion dan Dinda terdiam. Mereka tau kemana tujuan pulang yang dikatakan Dave. Apalagi kalau bukan kerumah orang tua mereka.
"Kak, sebaiknya kakak jangan dulu pulang kerumah kita!" peringat Dion. Dia masih ingat pesan orang tuanya jika Dave keluar untuk tidak langsung pulang kerumah. Mereka masih ingin membuat Dave jera.
Dave tertunduk lesu, dia tau jika orang tuanya masih marah dan kecewa dengannya.
"Kak, bagaimana kalau kita pulang kerumah Dinda aja dulu. Bagaimana pun Dandi harus tau jika nantinya kita pindah dan kembali keapartemen." ucap Dinda.
Malas sekali aku bertemu dengannya.
"Kak, Dinda tau apa yang kakak fikirkan. Ayo lah, dia juga harus tau." ucap Dinda lagi.
Dengan hati yang berat, Dave pun mengangguk dan mengikuti kemauan Dinda. Bagaimnaa pun dia harus berterima kasih kepada Dandi karena sudah menjaga isterinya selama dia dipenjara.
"Ini rumah kalian?" tanya Dave sedikit heran. Rumah kecil dan kurang layak untuk ditinggali. Apa ini rumah yang ditinggali istrinya saat dia tidak ada. Sama sekali tidak layak.
"Kak Dave, jangan begitu. Rumah ini juga bagus dan bersih. Mereka juga tidak pernah mempermasalahkan," ucap Dion saat melihat ekspresi Dave yang berubah. Dia tau bagaimana khawatirnya Dave dengan istrinya saat pertama kali melihat rumah yang ditinggali mereka. Apalagi Dave tidak pernah hidup dan tinggal dirumah seperti ini. Berbeda-beda dengan dirinya dan Dinda yang sudah terbiasa hidup sederhana.
"Aku hanya tidak suka istriku tinggal ditempat ini. Apa ini dinamakan rumah?" menunjuk dinding yang retak dan atap yang tampak sedikit bolong.
"Kak, Dinda dan Dandi nyaman koq tinggal disini. Kakak nggak perlu khawatir." ucap Dinda.
Akhirnya Dave pun tidak mempermasalahkan lagi. Walaupun dia sangat ingin cepat-cepat pergi keapartemen dan membawa Dinda dari sini. Tapi dia harus menunggu Dandi pulang kerja dan meminta izin terlebih dahulu.
Hari semakin sore, Dion pamit untuk pulang. "Kak Dave, aku pulang dulu. Dinda, kakak pamit. Semoga kalian bahagia," ucap Dion sembari berjalan meninggalkan Dave dan Dinda.
"Mana kamar kamu?" tanya Dave tiba-tiba saat Dion sudah pergi.
"Disana!" menunjuk sebuah pintu. "Kenapa?" tanya Dinda penasaran.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Dave lalu menarik tangan Dinda membawanya masuk kekamar.
Dave duduk dikasur. Matanya tetap melihat sekeliling. "Lumayan rapi dan bersih walaupun kecil," puji Dave.
"Terima kasih," balas Dinda malu-malu.
"Ayo sini!" suruh Dave sambil menepuk-nepuk kasur disebelahnya.
Dinda berjalan kearah kasur lalu duduk disana.
Dave langsung memeluk erat tubuh Dinda, rasanya dia ingin sekali melepas semua rasa rindunya sekarang juga. Apalagi dia menahannya hampir 7 bulan lamanya.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Dinda. Dadanya begitu sesak saat Dave memeluknya begitu kencang.
Dave melepaskan pelukannya. Dia meraih wajah Dinda dan menatapnya dengan sangat dalam. "Aku mencintaimu," ucap Dave lalu mendaratkan ciuman ke bibir Dinda.
Dinda kaget dengan perlakuan Dave yang tiba-tiba menciumnya. Dia tidak menolak seperti dulu dan membiarkan Dave menciumnya. Dia membalas ciuman tersebut. Mereka sudah mengakui perasaan masing-masing dan Dave berhak atas dirinya.
Dari mencium bibir, kini Dave beralih mencium leher dan memberi banyak tanda kepemilikan disana.
Dari leher, kini berpindah ke dada dan membuat tubuh Dinda bergetar hebat. Pengalaman pertama dalam hidupnya hingga membuatnya sedikit mendesah.
Desahan tersebut membuat Dave semakin bernafsu untuk mencumbu Dinda. Dia terus mencumbu Dinda. Satu tangannya meraih kancing baju dan membukanya perlahan.
Dia mendorong tubuh Dinda hingga terbaring dan menindihnya. Nafsunya begitu sudah tidak bisa terkontrol. Membuka pakaian Dinda dengan tidak sabaran.
Melahap pemandangan indah didepannya. Jari-jari tangan Dave terus bermain diarea dada. Meremas dengan lembut dua gunung dan terus saja mencumbu.
Setelah area dada, kini tangannya sudah sampai diarea yang sangat intim. Ingin segera membenamkan miliknya dan milik Dinda menjadi satu.
Dengan diri yang tersulut nafsu, "Boleh kan?" tanya Dave memelas.
Dinda mengangguk, dia tidak kuasa menolak. Walaupun sebenarnya dia capek. Bagaimana pun Dave suaminya dan dia wajib melayani.
Saat Dave akan menyatukan cinta mereka.
"Dindaaaaa," panggil Dandi.
Sontak mereka kaget dan langsung cepat-cepat bangun. Menyudahi kegiatan yang sedikit lagi berhasil.
__ADS_1
Memakai pakaiannya kembali dengan buru-buru. "Iya Dandi, kamu sudah pulang?" berjalan membuka pintu kamarnya dan keluar.
Ah sial, kenapa suka sekali mengganggu sih?. kesal Dave kepada Dandi yang entah dari mana tiba-tiba saja datang.