
Dandi mengerem mendadak saat sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka. Tanpa pikir panjang, Dandi keluar lalu segala sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Bawa mobil itu yang benar. Kalau nggak bisa nyetir mobil, bawa odong-odong aja." ucap Dandi ketika emosinya membludak.
Pemilik mobil yang menghadang mereka keluar dengan membawa pistol ditangan. Nyali yang tadi besar kini ciut.
Dandi dan Adit dikeroyok ditempat. Tempat yang sunyi dan jalanan yang lengang, membuat mereka lebih leluasa melancarkan aksi.
Dandi dibawa paksa oleh mereka. Sedangkan Adit ditinggal begitu saja dengan luka-luka disekujur wajah.
"Mau kalian bawa kemana aku?" tanya Dandi merintih. Wajahnya sudah babak belur dan berlumuran darah.
Mereka hanya diam tidak menjawab. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah tempat. Mereka membawa Dandi dengan paksa dan mendorong Dandi hingga terjatuh.
Saat Dandi ingin bangun, seseorang telah berdiri tepat dihadapannya. Dandi menatap dari bawah hingga keatas. Betapa terkejutnya saat mengetahui orang tersebut adalah Dave.
"Ternyata kau," Dandi hendak melawan, namun tangannya sudah ditahan.
"Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa melawanku." ucap Dave angkuh.
"Apa yang kau mau dariku? dimana Dinda?" tanya Dandi panik. Ia menduga pasti Dave lah dalang dibalik semua ini.
"Tenanglah, tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin kau menikahkan Dinda denganku." balas Dave sambil tersenyuman mematikan.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkan kau menyentuh Dinda." ucap Dandi dengan emosinya. Dave hanya tertawa sambil bertepuk-tepuk tangan.
"Begitukah? aku suka kau seperti ini." ucap Dave lagi.
"Aku tak akan mau menikahkan Dinda jika kau suaminya. Yang berhak menjadi suami dia hanya Adit. Gara-gara kau, semuanya hancur." emosi Dandi tak terbendung lagi. Ia menarik kerah baju Dave dengan kesalnya.
Dave hanya diam tidak melawan. Menikmati permainan yang dilakukan Dandi kepadanya.
"Sudah puas?" tanya Dave kepada Dandi. Dandi pun melepaskan cengkaraman tangannya saat menarik kerah baju Dave.
"Dimana Dinda?" tanya Dandi yang semakin meluapkan emosi.
Dave hanya tersenyum sinis. "Kau ingin Dinda?" Dave mendekat dan memiringkan kepalanya. "Aku tidak akan memberikan Dinda kepada kau. Dia akan menjadi milikku." ucap Dave dengan sombongnya.
__ADS_1
"Brengsek." Dandi mendorong keras tubuh Dave dan membuat Dave terjatuh. Namun Dave tidak melawan dan mencoba bangkit.
Saat Dandi ingin mendaratkan pukulan kearah Dave, dengan cepat anak buah Dave menahannya. Hingga ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Bawa dia kesana!" perintah Dave. Dandi pun dibawa ke ruangan dimana Dinda berada.
"Dandi." teriak Dinda saat melihat Dandi datang, namun dipegang oleh anak buah Dave.
Dandi terkejut, sorot matanya beralih kearah Dave yang berdiri disampingnya dengan tatapan kemarahan. Lebih sialnya lagi, Dave hanya menertawainya.
"Kau lihat bagaimana Dinda sekarang?" Dave mendekat kearah Dinda dan memegang dagu Dinda dengan kasar.
"Sa sakit," Dinda mengerang kesakitan.air matanya jatuh, tak kuasa melihat perlakuan yang diberikan Dave kepadanya.
"Jangan kau sentuh dia. Lepaskan tanganmu!" Dandi ingin melawan, namun masih ditahan oleh anak buah Dave.
"Baik, aku tidak akan menyakitinya lagi. Tapi dengan satu syarat." pinta Dave. Tentu saja syarat tersebut adalah sebuah pernikahan.
"Kau harus menikahkan aku dengan Dinda!" pinta Dave dengan suara pelan namun penuh dengan pemaksaan.
"Aku tidak akan mau menikahkan Dinda denganmu. Kau tidak pantas. Kau hanya akan menyakitinya." ucap Dandi yang tidak terima dengan syarat yang diberikan Dave.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dandi khawatir. Bukankah Dave seorang yang kejam dan akan melakukan apa saja jika keinginannya tidak dituruti.
"Hajar!" perintah Dave dan anak buahnya dengan sigap membantai Dandi hingga babak belur dan tak berdaya.
Dinda menangis tersedu-sesu saat melihat Dandi sudah terkapar berlumuran darah. Ia tidak bisa menolong, namun karena ikatan tersebut, ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hentikan!!" suara Dinda yang terdengar sangat berat. Ia tak mampu lagi mengatakan dengan tegas.
"Aku sangat senang kalian hancur." ucap Dave lalu tertawa dengan senangnya.
"Kau boleh menyiksaku. Tapi tolong lepaskan Dinda. Dia tidak bersalah." ucap Dandi memohon. Ia tidak bisa terus menerus melihat Dinda disakiti hanya karena asal muasal kesalahannya di masa lalu.
"Aku tidak akan melepaskan dia. Dia akan menjadi istriku nantinya." ucap Dave lagi.
"Sudahlah, Dinda tidak bersalah dalam hal ini. Aku lah yang bersalah. Aku berjanji akan melunasi semua hutangku." ucap Dandi sambil memegang kaki Dave memohon.
__ADS_1
Dave diam, tidak menjawab permohonan Dandi. Sebenarnya memang benar, Dinda tidak bersalah dalam hal ini. Namun rasa kebenciannya terhadap Dandi akan masa lalu telah membuatnya gelap mata.
Dave meninggalkan Dandi begitu saja. Pikirannya sudah kacau. Ia tidak ingin emosinya membeludak dan Dinda menjadi sasaran kemarahannya. Bukankah akan terlihat tidak jantan jika terus menjadikan wanita objek kemarahannya.
Dandi kemudian dipaksa bangun oleh anak buah Dave dan membawanya untuk masuk kedalam mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi hingga sampai di suatu tempat yang agak sunyi.
Dandi diturunkan dengan paksa dan ditinggal begitu saja oleh mereka.
"Tunggu," Dandi melambai-lambai kearah mobil yang sudah meninggalkannya. Ia mencoba mengejar dan berkali-kali pula ia terjatuh.
"Dimana aku sekarang?" tanya ia saat melihat sekeliling yang penuh dengan pohon-pohon rindang dan sunyi.
Dandi terus berjalan melewati jalanan yang sunyi tersebut. Dengan langkah kakinya yang masih tertatih, ia terus melihat kearah belakang dan kedepan jalan berharap ada orang yang lewat lewat.
****
"Aduh." Adit mengerang kesakitan. Ia mencoba bangun fan berjalan dengan tertatih memasuki mobil.
"Siapa mereka? keman Dandi dibawa?" tanya ia saat mengingat Dandi dibawa oleh orang yang tidak dikenal.
Adit bingung kemana ia harus pergi. Pakaian pengantin yang ia kenakan sudah kotor dan penuh dengan darah. Ia tidak ingat sama sekali jika tujuan mereka adalah kekantor polisi.
Karena badannya yang sudah terasa sakit dan penuh luka, dengan cepat Adit menghidupkan mobil dan melaju untuk pulang kembali kerumah.
Sesampainya dirumah, mereka semua terkejut dengan kondisi Adit yang sudah babak belur dan wajah yang penuh dengan luka.
"Kamu kenapa Adit? kenapa wajahmu begini?" tanya ibu Adit yang panik dengan kondisi anaknya.
"Dimana Dandi?" tanya Ayah Adit dan membuat Adit kembali mengingat tujuannya.
Ah sial, kenapa aku tidak ingat. Seharusnya langsung saja melaporkan kejadian ini ke polisi. Gumamnya.
"Adit tidak tau Dandi kemana. Saat diperjalanan dia dibawa oleh orang. Ah sial." ucapnya spontan setelah mengingat kembali kejadian yang menimpa mereka.
"Ada apa Adit?" tanya Ibu Adit kembali. Pasti ada sesuatu jika anaknya sudah melontarkan kata-kata seperti itu.
"Nggak ada apa-apa bu." jawab Adit. Ia tidak ingin keluarganya menjadi khawatir. Ia juga tidak ingin kedua orang tuanya menjadi sedih. Apalagi dengan kejadian yang telah menimpanya.
__ADS_1
Adit hanya menghela napas dan membayangkan pernikahannya yang gagal dan hancur.