
...💖💖💖...
"Tadi lietin apa? Serius banget! Baru nyadar ya lo, kalo gue ini keren!" ucap Daniel dengan percaya diri tingkat tinggi, melajukan kembali mobilnya menjauh dari restoran Jepang.
"Uuuuwek!"
Elis pura pura memuntahkan isi perutnya, mendengar pengakuan Daniel yang super percaya diri.
Keesokan harinya di langit yang cerah. Daniel berjalan dengan membawa paper bag yang ia tenteng menyusuri koridor menuju ruang Elis berada.
"Selamat pagi, pak!" sapaan terlontar dari beberapa staf saat berpapasan dengan Daniel.
Begitu pun dengan Daniel yang terkenal ramah, apa lagi setelah para karyawan Sadiki tau, jika Daniel akan menikah dengan Elis, putri bos besarnya.
Rasa hormat dan segan semakin tercurah untuk Daniel, ia rela menutupi jati dirinya yang seorang putra tunggal dari Devano crop hanya untuk bisa selalu bersama dengan Elis.
Ceklek.
Daniel membuka pintu ruang kerja Elis tanpa mengetuknya lebih dulu. Membuat si empunya ruangan tampak marah.
Elis mengomel tanpa mengalihkan perhatiannya pada kesibukannya, meninjau ulang berkas yang baru saja di berikan kepadanya sebelum membubuhi tanda tangannya.
"Anda begitu berani ya! Masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu dulu! Kemana lagi si Meta, punya asisten kok gak becus kerja!"
"Jangan mengomel terus, tidak takut apa kerut di wajah mu lebih awal muncul dari usia mu hem!" Daniel mendaratkan bobot tubuhnya di kursi yang ada di depan Elis, dengan meja kerja Elis sebagai pemisah ke duanya.
"Mau apa kau ke sini? Begitu banyak waktu senggang kah hingga meluangkan waktu ke kantor ku?" tanya Elis dengan sinis.
"Hei, apa aku membuat kesalahan pada mu? Kenapa bicara mu begitu sinis pada ku, sayang?" Daniel meletakkan paper bag di atas meja, ia mengeluarkan isinya dan memperlihatkannya pada Elis.
Elis melirik sekilas dengan ekor matanya, undangan?
"Apa kau tidak ingin memilih sendiri undangan yang akan kita gunakan untuk pernikahan kita, sayang?" Daniel menata Elis dengan penuh cinta.
Elis membuang nafasnya dengan kasar, meletakkan pulpen yang ia pegang dengan kasar di atas meja, lalu menggeser sedikit berkas yang ada di hadapannya.
"Pilih lah yang kau suka!" Elis beranjak dari duduknya, memilih berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di bawah sana yang tampak kecil dari tempat ia berpijak.
Jika saja pernikahan ini ku lakukan dengan seseorang yang aku cintai, mengkin aku akan sangat bersemangat tanpa ingin melewatkan momen penting. Benar benar akan menjadi momen yang paking indah dan penting dalam hidup ku.
"Ini pernikahan kita, sayang! Harusnya kau bahagia, kau tau... kau akan memperlihatkan pada Wiliam, jika kau sudah bisa melupakan pria itu, kekasih yang meninggalkan mu di malam pertunangan. Jangan bilang kau masih mengharapkannya? Dan kau ingin meminta kembali padanya!" tuduh Daniel, dengan tatapan memicing tajam.
__ADS_1
"Siapa bilang aku masih mengharapkannya! Aku hanya, berfikir, jika aku menikah dengan pria yang aku cintai, aku pasti akan sangat bahagia." ucap Elis dengan suara yang datar.
Grap.
Daniel memeluk erat Elis dari belakang, berkata dengan lembut. "Aku akan membuat mu bahagia, aku akan membuat mu menerima pernikahan ini! Kau sendiri yang menawari ku pernikahan kontrak ini kan!"
"Kenapa akhir akhir ini aku merasa ada yang salah dengan jantung ku? Setiap kali aku dekat dengan Daniel, ada rasa yang tidak bisa aku mengerti, perasaan apa ini ya? Ah paling cuma aku kurang istirahat aja." gumam Elis lalu menggelengkan kepalanya.
"Ada yang ingin kau katakan?" kenapa kau bodoh sekali Elis, begitu sulit kah kau merasakan cinta yang ada di hati ku? Daniel mengelusss punggung Elis.
Elis menoleh dan menatap wajah Daniel dari samping, tampak hidungnya yang mancung, dengan garis tegas di rahangnya, memiliki daya tarik tersendiri untuk Daniel di mata wanita.
"Bagaimana jika kita batalkan saja pernikahan kontrak ini?" gurat keraguan nampak di mata Elis.
"Jangan gila Elis! Kita sudah sepakat, apa kau bisa hidup tanpa kemewahan jika membatalkan perjanjian kita ini? Kau akan jadi gelandangan Elis!" terang Daniel.
"Tapi aku ---" belum selesai Elis berkata. Daniel lebih dulu menggendong Elis di bahunya dengan sekali tarikan.
Hap.
"Akhh! Daniel, kau gila! Mau kau bawa kemana aku ini? Heh! Dasar supir bodoh! Di kata aku ini karung beras apa! Turunkan aku, Daniel!" Elisa meronta dan terus memaki Daniel sepanjang jalan, sampai mereka berdua menjadi pusat perhatian karyawan yang melihatnya.
"Romantis banget sif!" ucap staf dengan tatapan berbinar melihat ke duanya.
"Aku akan membuat mu yakin, aku lah yang pantas untuk menjadi suami mu, Elis!" Daniel mendudukan Elis di dalam mobil, ia juga melilittt kan **** balt di tubuh ramping Elis.
Brak.
Daniel membanting pintu saat menutupnya, membuat Elis berjingkat kaget.
"Kau akan membawa ku ke mana, Daniel?" tamya Elis dengan wajah panik saat Daniel mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata rata, untung aja jalan lagi lengang.
"Aku yakin, setelah kau melihatnya... kau akan membenci Wiliam." ucap Daniel.
Kening Elis mengkerut. "Apa lagi yang akan kau perlihatkan pada ku, Daniel?"
"Sesuatu yang akan membuat hati mu meringis, merasakan iba dan kasihan!" ucap Daniel datar.
Daniel menepikan mobilnya saat mereka sudah sampai pada tempat tujuannya.
"Kenapa kau membawa ku ke sini? Apa kau waras, Daniel?" tanya Elis dengan menyelidik.
__ADS_1
"Cih, kau pikir aku gila... bukan aku yang gila, tapi kau Elis! Kau gila karena cinta mu pada Wiliam!" dengus Daniel.
"Cih itu lagi yang di bahas! Menyebalkan!" bibir Elis mengerucut.
"Mau jalan sendiri, atau aku gendong?" tawar Daniel setelah membuka pintu mobil untuk Elis.
"Ihs, gendong lah! Mata mu gak liet apa, tuh jalannya becek yang ada heels ku kotor! Pasti semalam habis turun hujan!" Elis menunjuk jalan yang basahhh, dan ada genangan air di aspal.
"Dasar kau, heels kotor tinggal di cuci aja ribet!" Daniel menggelengkan kepalanya.
Elis tidak bergeming dari duduknya, ia menatap malas pada jalan yang basahhh karena tertimpa air hujan.
"Baik lah, aku gendong kau. Lagi pula aku senang menggendong mu." Daniel menggendong Elis dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Rumah Sakit Sehat!" Elis membaca papan tulisan yang berada tidak jauh darinya.
"Iya lah rumah sakit sehat, karena orang orang yang di rawat di sini semuanya memiliki gangguan kejiwaan." terang Daniel.
"Gila maksud kamu? Lalu kau mau aku di rawat di rumah sakit ini?" tanya Elis dengan tatapan tajam.
Daniel menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, boleh juga jika aku mengerjainya.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan sudut bibir yang ia tarik ke atas.
Elis langsung kelabakan, ia terus menggerakkan ke dua kakinya, meminta Daniel menurunkannya. "Kau yang gila dasar supir pembohong! Turunkan aku! Jangan gila kau Daniel! Daniel! Awas kau ya aku adukan kau pada om Devano! Daniel!"
Elis semakin membola, begitu melihat tujuan langkah kaki Daniel yang mengarah pada sebuah pintu dengan papan tulisan Poliklinik Psikologi.
"Daniel! Turunkan aku! Kau gila! Aku tidak akan membatalkan rencana pernikahan kita!" ucap Elis dengan memejamkan ke dua mata, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daniel, dengan erat pula tangannya saling bertautan.
Ceklek.
"Selamat siang pak Daniel, kali ini anda membawa siapa lagi untuk mengunjungi Saras?" suara seorang wanita menyambut Daniel dengan hangat.
Elis menjauhkan wajahnya dari dada bidang Daniel. "Siapa lagi itu Saras?" tanyanya pada Daniel.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...