
...💖💖💖...
"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Elis.
"Aku tidak sedang bermimpi kan, sayang?" tanya Daniel dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu pikir apa?" tanya Elis dengan manja.
"Ini seperti mimpi bagi ku, kamu mau mengambil kan ku cemilan, biasa nya aku yang akan melayani mu!" jelas Daniel dengan bibir mengerucut.
"Kamu itu terluka karena aku, gak ada salah nya jika aku gantian melayani mu! Hanya mengambil cemilan kan!" ledek Elis l, dengan jemari nya yang menyusuri wajah tampan sang suami.
"Sayang, ini seperti mimpi bagi ku!" goda Daniel, dengan sok imut di depan Elis, Daniel mengerlingkan mata nya.
Kreeek.
Dengan gemasss, Elis mencubittt punggung tangan Daniel yang menggenggammm pergelangan tangan nya dengan tangan Elis yang lain nya.
"Awwwhhh sayang! Kau berani mencubittt ku?" pekik Daniel, dengan tatapan membola, ada rasa terkejut tapi senang dalam hati.
"Biarin weekkkk! Siapa suruh menahannn ku, hubby!" ledek Elis, melangkah menjauh dari Daniel, lau menjulurkan lidah nya dan menghilang di balik pintu.
Daniel membola lalu berseru, berusaha memanggil sang istri kembali.
"Elis! Tadi kamu bilang apa? Aku ingin mendengar nya sekali lagi sayang!" teraik Daniel.
Namun sayang nya, biar kata Elis mendengar nya, ia akan tetap berjalan menuju dapur, mengabaikan Daniel dengan terkekeh.
"Hihihi Daniel, aku baru tau, kamu bisa seimut itu. Pasti saat ini kamu lagi mikir, aku ini mimpi atau nyata karena memanggil mu hubby!" gumam Elis.
"Sore Non, apa ada yang bisa saya bantu Non?" tanya koki Adi yang tengah standby di dapur.
__ADS_1
"Untuk saat ini, aku belum butuh bantuan bapak." ucap Elis yang kini mengeluarkan beberapa buah dan meletakkan nya di wadah yang sudah ia ambil sebelum nya.
Elis memotonggg motonggg buah itu menjadi dadu dengan ukuran kecil, lalu meletakkan nya di dalam mangkuk berukuran besar.
Asisten koki menelan saliva nya dengan sulit. 'Nona Elis apa gak salah, memotonggg buah sebanyak itu... itu yang makan buat berapa orang? Apa akan habis dalam sekali makan?''
"Nona yakin, mau membuat nya sendiri?" tanya asisten koki yang ikut memperhatikan tangan Elis yang cekatan dalam memotonggg buah.
"Yakin lah, kenapa harus gak yakin?" tanya Elis kembali pada asisten koki.
"Ini Nona, Nona harus gunakan ini agar rasa nya lebih enak dan segar." ujar koki Adi, meletakkan kemasan mayonaise bergambar buah di depan Elis.
"Benar kah begitu? Aku pikir hanya menggunakan susu yang sudah di fermentasi kan aja." Elis mengerucutkan bibir nya saat koki Adi menggeleng kan kepala nya.
Ceklek.
Pintu kamar di buka dengan di ikuti langkah kaki seseorang yang memasuki kamar Elis dan Daniel.
Papa Devano mengerutkan keningnya, "Apa aku tidak salah dengar, Daniel putra ku punya panggilan yang cocok untuk ku? Panggilan apa? Awas aja kalo dia memilih panggilan yang buruk untuk ku!" gumam papa Devano pelan.
Pluk.
Papa Devano berdiri di belakang sofa, tempat di mana Daniel saat ini duduk menyandar dengan lengan nya bukan dengan punggung nya.
Dua tangan kini berada di bahu Daniel, lalu memberikan pijatan di sana.
"Baik banget sih sayang, kata nya mau bawain aku cemilan, mana cemilan nya?" tanya Daniel yang menagih cemilan.
"Cemilan apa?" tanya papa Devano dengan suara bas nya.
"Pa- pah? Kenapa papa yang ada di sini? Elis mana?" tanya Daniel dengan terkejut, mengadahkan wajah nya, menatap sang papa penuh dengan selidik.
__ADS_1
"Kamu mencari ku, hubby? Kan aku lagi buatin ini buat kamu! Pasti kamu suka." dari arah pintu, Elis melangkah dengan pasti, membawa semangkuk besar salad buah buatan nya.
"Aku pikir tadi kamu sayang, gak tau nya papa!" Daniel merajuk, mentap sendu Elis.
Pyuuung.
Devano menoyorrr kepala putra nya itu dengan gemasss dengan tangan nya.
"Ihssss pah!" gerutu Daniel.
"Halah kamu itu Daniel! Sejak kapan bersikap manja?" ledek Devano dengan tergelak, gak tahan lihat wajah merajuk sang putra.
"Sejak Elis mengandung, mungkin!" ujar Daniel dengan sedikit berpikir.
"Hah? Kamu beneran mengandung, Elis? Papa gak salah dengar kan? Ini kabar baik Elis." seru papa Devano girang yang gak terbendung, belir bening meluncur dari sudut mata nya.
Papa Devano langsung mengeluarkan hape nya, dan men deal nomor seseorang.
[ "Halo Brian! Kita punya durian runtuh sekarang!" ] seru papa Devano, saat sambungan terjawab di sebrang sana.
^^^"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti! Bicara lah dengan jelas!" umpat papa Brian yang gak jelas dengar nya.^^^
Bersambung...
...💖💖💖...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1