Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Pertengkaran


__ADS_3

...💖💖💖...


"Sini, biar aku cek... apa ada yang salah dengan susu nya, sayang!" seru Daniel dengan sungguh sungguh.


"Jangan coba coba menyentuh ku Daniel!" sarkas Elis, dengan tatapan nyalang. Jelas ia sedang memperlihatkan kemarahan nya.


Elis menepis tangan Daniel.


Trang.


Elis melemparkan gelas yang masih ada susu nya itu hingga tumpah dan gelas nya pecah berserakan di lantai.


"Apa yang kau lakukan, sayang?" tanya Daniel, masih belum mengerti apa yang terjadi dengan Elis, yang seketika berubah sikap.


Pak Didi yang berniat menghampiri Tuan nya pun urung ia lakukan, ia lebih memilih bersiaga, tidak jauh dari Tuan nya berada.


Sementara koki Adi yang mendengar suara gelas pecah, hanya berani melihat nya sejenak, lalu menyibukkan kembali pada pekerjaan yang belum selesai ia lakukan dengan di bantu asisten nya. Ke dua nya menyusun dan menatap barang belanjaan Tuan nya.


"Apa Nyonya dan Tuan, sedang bertengkar, koki Adi?" tanya sang asisten koki, dengan tangan yang sibuk menata cemilan di dalam kulkas.


"Jangan banyak bertanya, anggap saja kau tidak lihat apa apa!" seru koki Adi.


Sang asisten koki hanya membuang nafas kasar. 'Baru kali ini aku, melihat Nyonya dan Tuan bertengkar, apa yang menjadi pertengkaran mereka ya?' batin asisten koki.


"Jawab pertanyaan ku dengan jujur, Daniel Wijaya! Dan kau, jangan coba coba mendekat!" ucap Elis dengan penuh amarah, mencegah Daniel yang hendak menghampiri nya dengan mengulur kan tangan kanan nya ke depan dengan jemari yang terbuka.


Nafas Elis seketika tidak beraturan, mata indah nya tampak mengembun meski terpancar kemarahan.


"Kita bisa kan bicara baik baik! Gak enak di dengar yang lain, sayang!" bujuk Daniel, mencoba menenangkan Elis.


'Apa yang membuat Elis semarah ini? Kesalahan apa yang aku perbuat? Tadi dia baik baik aja, kenapa sekarang sikap nya berubah 180 derajat?' otak Daniel penuh tanya akan perubahan sikap Elis.


Elis mengepakkan tangan nya, mata nya melotot tajam pada Daniel, pria yang saja bersikap gak tau apa apa, pria yang tampak bingung dengan perubahan sikap yang ia perlihatkan.


'Sabar Elis, kau harus bisa mengendalikan emosi mu! Gak baik juga kalo pak Didi, koki Adi dan para pekerja mendengar suara mu, kau marah, tapi gak seharus nya mereka tau permasalahan ku dengan Daniel!' batin Elis mencoba bernegosiasi pada diri nya sendiri.


"Kita bicara di kamar!" seru Elis, berjalan lebih dulu dengan langkah kaki yang lebar, tidak memperdulikan langkah kaki nya, yang tanpa sengaja kaki kanan nya menginjak pecahan gelas yang tadi ia lempar.


Kreeek.

__ADS_1


"Uhhhhh!" ringis Elis pelan, mengepakan tangan nya dengan erat, berusaha tidak merasakan sakit di telapak kaki nya yang kini mulai berdarah darah.


Daniel yang masih belum sadar pun, hanya bisa mengikuti langkah kaki sang istri. Tanpa menatap ke lantai, Daniel menatap punggung Elis dengan rasa yang berkecamuk.


Ke dua nya menaiki anak tangga, menuju kamar yang ada di lantai 2.


Daniel membuang nafas nya dengan kasar, mengingat ingat jika tadi di mall ia meninggal kan Elis cukup lama dengan Mela.


'Apa mungkin, Elis bisa berubah drastis... karena ada sangkut paut nya dengan wanita yang mengaku mengenal ku?' batin Daniel.


"Apa yang Mela katakan pada mu, sayang? Kamu berubah sikap seperti ini, pasti karena ada perkataan Mela yang mengganjal di hati mu kan?" tebak Daniel asal.


Elis geleng geleng kepala, mendengar tebakan Daniel. 'Dasar Daniel Wijaya bodohhh, bisa bisa nya kau menipu ku. Sudah jelas kau yang salah, masih bisa bisa nya kau menyalahkan orang lain!'


Elis membuka pintu dan membanting nya dengan kasar.


Blam.


Ceklek.


Daniel masuk ke kamar, berniat mengunci pintu, namun tatapan nya kini membola, melihat lantai yang ada di depan pintu, hingga ia melongo ke anak tangga, nampak menyisakan darah segar di lantai.


"Kecurangan apa yang kau lakukan pada ku, Daniel Wijaya! Apa saja yang sudah kau lakukan hingga membuat aku mengandung benih mu! Ini pasti ada campur tangan mu kan!" ucap Elis dengan suara yang naik satu oktaf, bulir bening meluncur bebas dari pelupuk mata nya.


Elis bahkan menunjuk Daniel dengan jari telunjuk kanan nya. Elis benar benar menunjukkan kemarah nya, yang kini melebur dengan rasa kecewa yang amat dalam.


Bukan nya menjawab pertanyaan Elis, Daniel justru menggendong Elis dengan ke dua tangan nya.


Hap.


"Kyaaa! Daniel! Aku sedang marah pada mu! Aku tidak ingin di sentuh oleh mu! Turun kan aku Daniel! Aku bahkan tidak sudi untuk kau sentuh!" umpat Elis dengan sesenggukan, dengan ke dua tangan terus memukulll mukulll bahu Daniel.


Daniel mendudukan Elis di tepian ranjang dengan hati hati. "Aku akan menjawab semua pertanyaan mu, tapi biarkan aku mengobati kaki mu!" ujar Daniel, tangan nya terulur menyeka air mata yang ada di pipi Elis, Elis langsung memalingkan wajah nya.


Daniel mengayunkan langkah kaki nya, mengambil kotak obat di dalam laci meja hias, yang ada di dalam kamar mereka.


Prang.


Elis melemparkan kotak obat yang Daniel letakkan di tepian kasur.

__ADS_1


"Aku bisa mengobati nya sendiri! Kau katakan saja kecurangan mu itu pada ku, Daniel Wijaya!" ucap Elis, dengan nada suara yang masih marah, bulir bening kembali menerobos dari pelupuk mata indah nya.


Daniel yang sejak tadi diam, kini mencengkrammm wajah Elis dengan tangan kiri nya, membuat wanita itu menatap nya, masih dengan tatapan marah dan kecewa.


"Jangan buat kesabaran ku habis Elis! Kau lupa, aku ini suami mu! Jangan lupa kan status mu sebagai istri ku, Elisabeth Sadiki. Di mata hukum dan agama, kau itu sah istri ku! Aku berhak meminta mu mengandung benih ku! Aku berhak menggauliii mu! Aku berhak atas tubuh mu! Camkan itu Elisabeth Sadiki!" ucap Daniel, dengan mengacungkan jari telunjuk kanan nya di depan wajah Elis.


Deg.


Dada Elis seakan terpukul tanpa berdarah, namun sakit nya sungguh terasa di dada nya, mendengar apa yang di katakan Daniel.


Daniel memunguti apa saja yang ada di dalam kotak obat, yang berserakan di lantai karena di lempar Elis.


Kini Daniel duduk di lantai, di depan Elis yang duduk di tepian ranjang. Daniel membawa kaki kanan Elis yang luka, dan meletakkan nya di atas lutut nya yang ia tekuk.


Membuka sepatu flat yang Elis kenakan dengan hati hati, setelah mencabut pecahan gelas dari kaki Elis.


Elis meringis kesakitan, dengan ke dua tangan yang mencengkrammm kain sprei.


Daniel mengobati nya dengan hati hati, membalut kaki Elis dengan perban.


"Jangan bertindak bodoh Elis! Aku salah, aku memang curang, tapi aku melakukan ini semua untuk rumah tangga kita! Aku tidak ingin kita berpisah! Kita akhiri saja pernikahan kontrak itu, jadi lah kau ratu di rumah ini! Jadi lah kau satu satu nya istri ku, ibu dari calon anak anak ku!" pinta Daniel dengan tatapan memohon, mengecup punggung tangan Elis, setelah usai membalut luka pada kaki Elis.


Bugh.


Elis mendorong bahu Daniel, membuat pria itu jatuh tersungkur ke belakang.


"Tinggalkan aku, Daniel Wijaya! Tinggalkan aku sendiri!" ucap Elis dengan penuh emosi.


"Aku akan memberi mu waktu Elis! Aku ada di depan, kapan pun kau butuh. Aku akan ada untuk mu!" ucap Daniel, dengan langkah berat. Meninggalkan Elis di kamar seorang diri.


Prangggg


...💖💖💖...


Bersambung...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2