Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Salah kan dia


__ADS_3

...💖💖💖...


"Pasti ada yang di ingin kan Elis, maka nya dia meminta mu langsung berhenti saat itu juga!" pikir dokter Zee, dengan asumsi nya.


"Mungkin juga si Nona." ujar Ella membenarkan.


"Apa kau tau, apa yang di lihat Elis?" tanya dokter Zee dengan penasaran.


Ella menggelengkan kepala nya. "Sayang nya aku gak tahu, Nona!"


Dokter Zee menghembus nafas nya dengan kasar. "Kau tidak memberi tahukan hal ini pada Wiliam kan, Ella?" tanya dokter Zee, hendak menyuapkan potongan daging rendang ke dalam mulut nya.


"Tadi nya aku gak mau mengabari Tuan Wiliam, tapi belum lama ini. Sebelum Nona Zee datang, Tuan Wiliam menelpon ku. Ya aku bilang aja, aku belum bisa menjalan kan rencana ku." ujar Ella, menggantung perkataan nya, sambil melanjutkan makan siang nya.


"Lalu?" tanya dokter Zee penasaran.


"Lalu aku bilang, hari ini aku sudah membuat Tuan Daniel sangat banyak mengeluarkan uang, belum lagi aku hampir membuat Nona Elis hampir celaka, dan akkhhhh Nona Zeeeeee!" teriak Ella, lantaran dokter Zee menyemburkan apa yang ada dalam mulut nya ke luar.


"Byuuuurrrrr! Apa?" pekik dokter Zee, dengan mata membola.


Ella menyingkirkan sisa sisa makanan yang mengenai wajah nya, begitu pun dengan dokter Zee.


"Maaf maaf! Ini semua juga karena mu, Ella! Bisa bisa nya kamu ini berterus terang begitu sama Wiliam!" gerutu dokter Zee.


"Kenapa jadi menyalahkan ku? Nona Zee aja tuh, udah tau lagi makan. Malah aku di sembur! Aku masih lapar! Mana bisa di makan makanan nya uuuhhh menyebalkan Nona dokter nih!" umpat Ella, menatap makanan yang sudah buat hilang nafsuuu makan nya, tapi rasa perih dalam perut nya masih menyeruak.


"Ihss kau ini! Masih aja gak ngerti salah mu di mana! Sebagai permintaan maaf ku, cepat bersiap lah! Kita cari makan di luar!" titah dokter Zee, memberi kode dengan gerakan kepala, untuk Ella lekas bergegas.


Ella beranjak dari duduk nya, mengacungkan jari telunjuk nya di depan dokter Zee.


"Kalo bukan laper, kalo bukan rasa hormat ku karena dokter terus membantu ku, gak mau aku di ajak diri mu, dokter Zee! Sungguh dokter yang menyebalkan." umpat Ella dengan wajah menjengkelkan, lalu berlalu meninggalkan dokter Zee.


"Dasar bocah!" umpat dokter Zee, ia langsung membereskan sisa makanan yang ada di atas meja, yang gak mungkin akan mereka habiskan lagi.


Beberapa menit menunggu, namun yang di tunggu belum juga ke luar dari kamar nya.


"Hei Ella! Kau masih lama? Cepat sedikit lah!" seru dokter Zee yang kini berdiri di ambang pintu utama.


"Tunggu sebentar." balas Ella dengan teriak nyari dari dalam kamar nya.


"Aku tunggu di dalam mobil! Jangan lama El! Aku masih harus kembali ke rumah sakit!" seru dokter Zee, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.


"Jangan! Dokter Zee, bisa minta tolong gak! Aku butuh bantuan mu... kali ini aja!" Ella menyembulkan kepala nya di depan pintu kamar nya, dengan wajah memelas pada dokter Zee.


Dokter Zee mengerutkan kening nya, menatap waspada pada Ella. "Aku mencium ada yang aneh! Awas aja kalo kau meminta ku melakukan hal aneh! Malas aku bertemu dengan mu lagi!" ancam dokter Zee.


Dengan langkah malas dokter Zee terpaksaaa mengayunkan langkah kaki nya memasuki kembali rumah Ella.


"Mau minta tolong apa lagi hem?" tanya dokter Zee dengan datar, setelah berdiri di depan kamar Ella, dengan kepala Ella yang menyembul di pintu.


Dengan canggung, dengan terkekeh, akhir nya Ella mengatakan nya pada dokter Zee.


"Hehehe bisa gak, tapi harus bisa deh. Aku datang bulan, dan sialll nya lagi aku lupa untuk membeli pembaluttt, di kamar juga gak ada stok. Aku mau dokter Zee belikan aku! Tolong! Aku ganti 2 kali lipat dari harga beli nya! Gimana?" pinta Ella, setengah memohon, setengah menjanjikan pada dokter Zee.


Tak.


Dokter Zee mendaratkan kepalannn tangan kanan nya di kening Ella dengan keras.


"Awwwhhh sakit!" pekik Ella, mengelusss kening nya yang di jitak dokter Zee.


"Ini! Cepat pakai! Aku tunggu di dalam mobil! Kalo lama, aku tinggal!" dokter Zee meletakkan selembar pembaluttt di atas telapak tangan Ella.


Tanpa menunggu Ella berkata, dokter Zee langsung berlalu.


"Emang dokter paling the best, makasih dokter Zee!" seru Ella dengan mata berbinar, menatap pembaluttt yang ada di tangan nya.


...-----...


Daniel berdiri di depan meja, menatap jengkel Mela, yang sejak tadi terus menunduk, menatap lantai. Dengan Elis yang masih mencoba memberikan ketenangan pada Mela.


"Sabar ya! Laen kali... kamu harus lebih hati hati, jangan mudah percaya sama orang di telpon, mau orang itu teman lama sekali pun! Tetap aja harus hati hati!" ucap Elis dengan gerakan kepala nya, menyuruh Daniel menyingkir, lalu menatap kursi kebesaran suami nya itu.


"Huaaaa kenapa nasib aku kaya gini banget ya Nona! Aku kan cuma berniat baik, kasian kan pak Arsandi di sana sendirian, gak ada kerabat, gak ada yang dia kenal. Pas bapak itu telpon, ngabarin saya kalo harus di transfer sejumlah uang, buat ngurusin pak Arsandi... aku langsung tanya pak Daniel. Tapi pak Daniel jawab nya gantung, udah gitu... itu orang terus telpon saya mulu Nona. Jadi mau gak mau saya transfer huaaa itu tabungan saya Nona." ucap Mela dengan tangis yang belum juga reda.


Daniel mendecih, lalu menggeleng kan kepala nya.


"Dasar kau, jangan menyalahkan ku, salah kan diri mu sendiri yang terlalu bodohhh dan mudah untuk di bodohiii orang lain!" sungut Daniel, semakin kesal pada Mela, nama nya ikut terseret.


"Daniel!" seru Elis dengan tegas.


"Apa sih sayang! Itu benar kan! Salah kan dia yang gak bisa berfikir dengan jernih! Bisa rugi perusahaan ku, jika aku memiliki bagian keuangan seperti mu!" oceh Daniel, omongan nya semakin melekit di indra pendengaran Mela.


"Nona! A- aku bukan bagian keuangan. Mana mungkin aku bisa merugikan mu Tuan." ucap Mela, menatap Elis dan Daniel secara bergantian dengan tatapan mengiba.


'Gila aja, gue baru masuk kerja di perusahaan ini, masa iya udah langsung kena tipu, sialannn itu orang. Berani banget nipu gue. Gak tau apa itu tabungan gue selama kerja paruh waktu!' umpat Mela dalam hati, merasa jengkel dengan orang yang sudah menipu nya.


"Iya aku tau, sekarang tenangin diri mu! Cuci muka dan kembali ke ruang kerja mu! Untuk soal uang tabungan mu itu, biar aku bicarakan dengan suami ku ya! Bisa di ganti atau gimana nya." ujar Elis, dengan senyum terlukis di bibir nya, senyum yang dapat menenangkan hati Mela.


'Adeeem banget kalo udah liet senyum Nona!' batin Mela malah bengong, larut dalam tatapan Elis yang teduh.

__ADS_1


"Kau tunggu apa lagi? Cepat kembali ke ruang kerja mu! Pelajari semua berkas yang di berikan Arsandi pada mu!" titah Daniel dengan sorot mata tajam pada Mela, dengan suara yang meninggi.


Mela berjingkat kaget. Menoleh ke arah Daniel dengan kesal.


"Apa kau? Berani menatap ku dengan sorot mata mu yang seperti itu?" tantang Daniel, saat Mela menatap nya dengan melotot.


"Daniel, udah dong. Kamu tuh kenapa jadi marah marah mulu sih! Pelankan suara mu!" titah Elis dengan suara yang terdengar lembut namun tegas.


Daniel membuang bafas nya kasar, menggaruk frustasi kepala nya.


'Bisa bisa nya Elis berkata lembut dengan bocah itu... sedangkan dengan ku, tadi aja dia merajuk dan sulit di bujuk.' batin Daniel, gak habis pikir dengan perubahan sikap Elis.


Mela beranjak dari duduk nya. "Makasih Nona, kau sungguh bos yang dapat di andalkan, berbeda dengan nya! Jahat! Gak punya perasaan!" cicit Mela, berkata dengan penuh marah sambil menunjuk Daniel dengan jari telunjuk nya.


"Kau?" seru Daniel, menatap tajam Mela.


"Udah sana! Jangan memancing kemarahan suami ku!" usir Elis pada Mela dengan cara halusss.


Belum juga Mela meninggalkan ruang kerja atasan nya itu, suara dering telpon yang ada di atas meja Daniel berdering.


Dring dring dring dring.


"Siapa tuh yg telpon?" Mela menoleh ke arah meja kerja Daniel, dengan tangan kiri meraih hendle pintu.


Elis membuang nafas kasar, melihat Mela yang belum kunjung meninggalkan ruang kerja suami nya.


Dengan gerakan kepala, Elis menyuruh Mela meninggalkan ruang kerja Daniel.


"Ini mau pergi kok, Nona!" seru Mela dengan wajah malu karena ketahuan ingin menguping, ingin tau siapa yang menghubungi Daniel.


"Kau salah, memperkerjakan nya sayang!" gumam Daniel dengan suara pelan, menatap Elis yang masih menoleh ke arah pintu, seakan memastikan Mela lenyap dari ruang kerja Daniel.


Telpon yang ada di atas meja kembali berdering.


Dring dring dring dring.


Daniel mendudukan diri nya di tepian meja kerja nya, lalu meraih dan mengangkat gagang telepon yang sejak tadi menjerittt.


[ "Ada apa lagi?" ] tanya Daniel, setelah gagang telpon menempelll di daun telinga kanan nya.


^^^"Maaf mengganggu Tuan, tapi di lobby ada Tuan Wiliam. Sejak tadi memaksaaa ingin naik ke atas, ingin bertemu dengan Nona." suara Nami terdengar panik lewat sambungan telepon.^^^


Daniel mengerutkan kening nya, menoleh ke arah Elis dan menatap nya.


'Mau apa lagi Wiliam bertemu dengan Elis?' batin Daniel penuh tanya.


[ "Jangan biarkan dia masuk! Kalo perlu, usir dari kantor ku!" ] titah Daniel dengan tegas.


Daniel mengembalikan gagang telpon ke tempat nya. Tatapan nya kini mengikuti pergerakan Elis.


"Ada apa? Tampang mu gak enak banget di pandang!" Elis berdiri di depan Daniel, tangan nya terulur mengelusss pipi Daniel yang halus tanpa celah jerawat.


"Mantan mu ada di bawah, apa kau mau menemui nya?" tanya Daniel dengan tatapan menyelidik.


Elis mengerutkan kening nya. "Mantan? Siapa? Yang mana?" pertanyaan bodohhh meluncur bebas dari bibir Elis, menatap Daniel dengan tatapan penuh tanya.


Grap.


Ke dua tangan Daniel merekattt di pinggul Elis.


Sreek.


Daniel menarik tubuh Elis lebih dekat lagi dengan nya, membuat ke dua nya tanpa jarak.


"Akkhhhh!" pekik Elis, saat tubuh nya terdorong ke depan, hingga tangan nya mendarat di bahu Daniel, sementara tubuh depan nya menempelll dengan dada bidang Daniel yang di baluttt kemeja hitam.


"Jangan menggoda ku, sayang!" ucap Daniel, menyapu wajah Elis dengan deru nafas mint nya, apa lagi saat kening mereka berdua saling bertautannn.


"Aku gak lagi menggoda mu, tapi kamu aja yang menilai ku begitu!" bantah Elis dengan suara manja, jemari nya melukis di tengkuk leher Daniel.


"Yakin kau tidak sedang menggoda ku?" tanya Daniel dengan sorot mata mendamba.


"Ehem, jangan bilang kau menginginkan nya lagi! Kan belum lama kita sudah melakukan nya, di ruang rahasia mu! Di ruang ini!" seru Elis dengan suara lembut nan menggoda di telinga Daniel.


Ke dua mata Elis terus saja mengerjap, bak terhipnotis dengan tatapan teduh Daniel. Membawa nya dalam buaian yang kian larut.


"Ahhhhhh Daniel, kau nakal!" pekik Elis dengan suara tertahan, saat merasakan tangan hangat Daniel menelusuppp di balik bluse yang ia kenakan.


Daniel menarik sudut bibir nya ke atas, "Aku terua menginginkan mu!" seru Daniel menyapu leher jenjang Elis dengan bibir nya.


"Sayang! Jangan! Tadi kan udah!" tangan Elis mencoba menahannn tangan Daniel yang ada di balik bluse nya, agar tidak terus bergerak nakalll pada tubuh nya.


Hap.


Sekali tarikan, Daniel berhasil membawa Elis ke dalam gendongan nya.


"Tadi kan udah ihhhsss! Turunin aku! Aku mau pulang aja lah! Di sini aku hanya akan menggangu waktu kerja mu, sayang!" pinta Elis, memainan kerah leher kemeja Daniel.


"Aku tidak akan membiarkan mu pulang! Kita bisa pulang bersama, tapi setelah aku menjenguk baby utun lagi hehehe!" Daniel terkekeh melihat wajah Elis yang merona.

__ADS_1


"Dasar curang!" umpat Elis.


Daniel membaringkan Elis di atas kasur berukuran single itu. Menatap nya dengan penuh nafsuuu. Apa lagi saat Elis sudah berada di bawah kungkungan nya.


Grap.


Elis menggenggammm jemari Daniel, saat pria itu hendak melepasss ikat pinggang milik nya.


"Kunci dulu pintu nya! Gimana kalo Mela masuk kembali lagi ke ruang kerja mu, atau bahkan ada orang lain yang mencari mu!" Elis melirik ke arah pintu ruang pribadi Daniel yang belum di kunci.


Cup.


Daniel mengecup bibir Elis sekilas, sebelum ia beranjak.


"Kau benar sayang! Aku harus tetap mengunci pintu ini. Biar pun ini ruang rahasia yang ada di dalam ruang kerja ku!" seru Daniel.


"Akkkhhh geli!" pekik Elis dengan manja.


...---...


Di depan lobby kantor.


Dengan wajah khawatir, ke dua tangan mengepalll, Wiliam melangkah lebar untuk memasuki lobby gedung berlantai 3 itu.


"Maaf Tuan, ada keperluan apa Tuan datang ke sini?" tanya security berbadan besar. Menghalau langkah kaki Wiliam yang hendak memasuki lobby kantor.


Wiliam menatap tajam pria yang ada di depan nya.


"Biar kan aku masuk!" ucap Wiliam datar.


"Maaf Tuan, karena sebelum nya. Tuan di larang memasuki kantor ini. Dan atas dasar itu pula, kami gak bisa memberikan izin Tuan untuk masuk ke dalam!" ucap security dengan tegas namun sopan.


"Aku ingin bertemu Elis! Elis pasti ada di dalam kan!" seru Wiliam menahan amarah, dengan wajah merah padam menatap nyalang ke depan.


"Maaf Tuan, kami tidak bisa!" tolak security itu dengan kening mengkerut.


'Sialannn Daniel, kau masih memperlakukan aku sama seperti terakhir kali aku memasuki kantor mu ini! Kau selalu saja mengekor di belakang Elis!' gerutu Wiliam dengan tangan yang semakin kencanggg terkepalll.


"Biarkan aku masuk!" Wiliam memaksa masuk, berusaha menerobosss pertahanan security yang menghalau langkah nya.


Bugh.


Security mendorong tubuh Wiliam dengan cukup keras, hingga membuat Wiliam terjungak ke belakang.


"Sialll kau, berani kau berbuat kasar pada ku!" umpat Wiliam, setelah bangkit dari jatuh nya.


"Maaf Tuan, Tuan yang memaksaaa saya berbuat kasar." bantah security dengan wajah tanpa berdosa.


Wiliam kembali tertahan tanpa bisa memasuki lobby, karena kini dua security berbadan besar menghalau langkah nya.


"Daniel! Aku tau kau ada di dalam! Ke luar kau Daniel! Berani nya kau menyembunyikan Elis dari ku! Daniel!" teriak Wiliam, memancing perhatian dari karyawan yang berlalu lalang.


"Elis! Aku sangat merindukan mu Elis! Elis, turun lah! Aku hanya ingin melihat mu! Elis!" teriak Wiliam lagi.


'Kasian banget sih ini orang! Maka nya pak, dulu tuh Nona jangan di sia siain, sekarang aja. Nona udah bahagia, lo mau ngusik Nona!' umpat salah satu security yang menatap Wiliam dengan sinis.


"Maaf Tuan Wiliam, jangan membuat onar. Lebih baik Tuan tinggalkan gedung ini!" titah salah satu security, dengan sorot mata kasihan pada Wiliam.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku melihat Elis. Aku harus memastikan wanita itu baik baik aja!" ucap Wiliam tegas.


"Nona baik baik aja Tuan. Tadi kami melihat nya sendiri. Nona tidak terluka, Nona baik baik aja!" ucap security, meyakinkan Wiliam agar mau meninggalkan gedung.


"Kalian banyak bicara, aku belum melihat nya sendiri!" ucap Wiliam dengan penuh marah, mendorong tubuh security yang ada di depan nya.


Dorong mendorong pun terjadi di antara security dan Wiliam. Memancing perhatian para karyawan yang memang sedang berada di lobby.


"Nami, coba kamu tanyakan dulu sama pak Daniel, kali aja mau ketemu sama pak Wiliam!" seorang karyawan berdiri di depan meja resepsionis, mengatakan nya pada Nami dengan suara yang ngos ngosan.


"Kenapa lo?" tanya Nami.


"Itu, di depan lobby, ada orang yang ngaku nama nya Wiliam... lagi kisruh dah sama pak security. Udah lu telpon dah itu pak Daniel. Tuan Wiliam pengen masuk tapi gak di kasih sama security." ucap nya menjelaskan pada Nami.


Nami langsung meraih gagang telepon yang ada di hadapan nya, lalu menyambung kan nya ke ruang kerja Daniel.


Singkat kata, Nami langsung berlari ke arah para security dan Wiliam yang tengah debat bahkan adu jotosss.


"Berhenti! Apa yang kalian lakukan? Ini kantor, bukan arena tanding buat adu jotosss!" ucap Nami dengan kesal.


Mereka semua langsung menoleh ke arah Nami dengan nafas yang ngos ngosan. Lelah berkelahi, Wiliam menatap jengkel wanita yang berani menghentikan aksi nya dengan suara yang cukup lantang.


'Mau apa lagi dengan wanita ini? Apa dia akan membiarkan aku menemui Daniel? Atau Elis?' batin Wiliam.


Bersambung


... 💖💖💖...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2