Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Kamar tamu


__ADS_3

...💖💖💖...


Hati nya gak terima melihat Elis bisa begitu mesra, dan lepas saat tersenyum bersama dengan Wiliam. Hati nya terbakar cemburu. Entah akan ada berapa lagi teror yang akan ia dapat dari Wiliam, untuk membuat rumah tangga Daniel dan Elis retak.


Daniel tampak terkejut dengan penampakan kamar nya. "Di mana Elis?" Daniel menyusuri ruang.


Ceklek.


"Elis!"


Daniel langsung mematikan shower yang terus mengguyur tubuh Elis, entah sudah berapa lama Elis membiarkan tubuh nya di guyur air shower yang dingin. Tubuh Elis kini menggigil dengan bibir pucat, jangan di tanya akan wajah nya, sudah pasti pucat.


Daniel membawa tubuh Elis ke dalam kamar, membaringkan nya di atas kasur.


"Didi! Cepat bawakan aku kotak obat! Cepat!" teriak Daniel, dari lantai 2 rumah nya.


"Baik Tuan!" seru pak Didi yang berada di lantai bawah, melihat wajah Daniel yang tampak cemas.


"Bawakan teh hangat manis untuk Elis!" titah Daniel dengan lantang, sebelum kembali masuk ke dalam kamar nya.


"Baik Tuan!" seru pak Didi.


"Ada apa dengan Tuan, pak?" tanya koki Adi, yang dengan jelas mendengar suara Tuan nya berteriak dari lantai 2.


"Entah lah, aku rasa terjadi sesuatu dengan Nona Elis." ujar pak Didi, dengan tangan yang sibuk mencari kotak obat di dalam kitchen set.


"Ini, aku sudah buatkan teh hangat manis untuk Nona!" koki Adi meletakkan secangkir teh hangat manis di atas meja dapur.


Sementara di dalam kamar, Daniel langsung menanggalkan pakaian basahhh yang melekat pada tubuh sang istri. Dan menutupi tubuh polos Elis dengan selimut tebal.

__ADS_1


Daniel menyimpan pakaian basahhh Elis di dalam kamar mandi. Lalu kembali lagi dan memakaikan Elis pakaian tanpa menggunakan dalamannn.


"Dasar bodohhh! Apa kau ingin menyakiti diri mu dan anak kita? Tidak cukup kah dengan kau mengamuk? Coba lihat, ini bukan lagi kamar... tapi lebih tepat di sebut kapal pecah? Astagaaa Elis!" gerutu Daniel.


Daniel berusaha menghangatkan jemari Elis, dengan menggosokkan jemari Elis di antara ke dua telapak tangan nya.


Ceklek ceklek.


Daniel melihat hendle pintu yang berusaha di buka dari luar.


"Tunggu sebentar!" seru Daniel, meninggalkan Elis untuk membukakan pintu kamar yang sebelum nya ia kunci dari dalam.


Ceklek.


"Kotak obat dan teh hangat yang Tuan minta." ujar pak Didi, saat pintu di buka.


"Letakkan di nakas, setelah ini... kau siapkan kamar tamu!" titah Daniel, memberi ruang untuk pak Didi bisa masuk ke dalam kamar.


"Apa Nona gak sebaik nya di bawa ke dokter, Tuan?" usul pak Didi, saat melihat Nona Muda nya tampak pucattt.


"Aku sudah memanggil dokter! Cepat kau urus apa yang aku minta!" ucap Daniel tegas, tidak ingin di bantah.


"Baik Tuan, akan saya siapkan." pak Didi langsung ke luar, tidak berani membantah sang Tuan.


Daniel mengambil kotak obat, dan mulai mengobati ulang, pada telapak kaki Elis yang luka, dengan duduk di tepian ranjang.


Kini Daniel duduk di samping Elis, berusaha menyadarkan sang istri. Dengan mendekatkan minyak angin di depan indra penciuman Elis.


Elis melenguhhh, ke dua mata nya mulai mengerjap erjap.

__ADS_1


Dengan perlahan Elis membuka ke dua mata nya. Wajah pria yang paling ia benci, kini ada di depan nya.


"Jangan menatap ku dengan penuh kebencian Elis! Aku ini suami mu! Apa kau ingin papa Brian melihat kondisi mu yang sekarang ini? Apa kau ingin menghancurkan harapan ke dua orang tua kita? Kita hanya sama sama memiliki ayah tanpa ibu. Apa kau ingin kita menjadi sebatang kara tanpa kehadiran papa di tengah tengah kita? Apa itu mau mu?" cecar Daniel dengan tatapan gak kalah tajam.


Elis memalingkan wajah nya dari Daniel, bulir bening kembali menerjang dan menerobosss, tanpa permisi dari ke dua pelupuk mata indah nya.


"Aku belum menghubungi papa Brian dan papa Devano, tapi jika kau terus mengabaikan ku. Mungkin aku akan meminta ke dua nya untuk menghadapi mu!" ucap Daniel tegas.


"Aku harus apa lagi sekarang? Setelah bayi yang ada dalam kandungan ku ini lahir, kita tetap akan berpisah!" ucap Elis, menatap datar wajah Daniel.


"Apa kau pikir, aku akan menyetujui nya? Kau salah Elis, aku tidak akan membiarkan keluarga kecil kita ini berantakan. Jika kau meminta nyawa ku untuk tetap bertahan dengan ku, aku rela." jelas Daniel tanpa keraguan di ke dua mata nya.


Kini Elis dan Daniel berada di kamar tamu, menunggu pak Didi dan beberapa maid merapihkan kembali kamar utama mereka tidak di buat kapal pecah oleh Elis.


"Aku tidak habis pikir, apa yang sebenar nya terjadi pada sahabat ku itu?" tanya dokter Zee.


Kini dokter Zee dan Daniel sama sama menatap ke arah Elis, yang tampak lebih tenang setelah di berikan obat penenang.


"Sejauh mana kau mengenal Wiliam dan Elis?" tanya Daniel tiba tiba.


"Ada apa kau tanyakan itu?" tanya dokter Zee dengan tatapan menyelidik.


...💖💖💖...


Bersambung...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2