
...💖💖💖...
"Sialannn kau!" umpat Wiliam.
Dito menyerahkan tas Elis pada tangan Daniel yang terulur. Sementara sekotak coklat telah berpindah tangan ke Elis.
"Kerja mu sangat bagus!" puji Daniel pada Dito setelah melepaskan tautan bibir nya.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tuan." ucap Dito.
"Elis, aku perlu bicara dengan mu!" ucap Wiliam yang sudah berdiri di depan Elis, tepat di samping Dito.
"Ya udah, bicara aja... tinggal ngomong kan!" ucap Elis acuh, tangan nya dengan lihai membuka kotak coklat yang sedang ia pegang.
Daniel melingkarkan tangan nya di pinggang Elis dengan posesif nya, menatap Wiliam dengan tatapan mengejek.
"Tidak bisa, aku mau kita bicara berdua." pinta Wiliam dengan tatapan penuh harap.
"Ya udah, ngomong aja berdua sama Dito! Ayo sayang! Aku udah laper!" Elis menoleh ke arah Dito, lalu mengajak Daniel pergi dari sana.
"Emmm nyam nyam nyam ini rasa nya enak sayang!" Elis dengan lahap, mengunyah coklat yang ada di dalam mulut nya.
"Selamat menikmati makan siang Nona!" Dito melambaikan tangan nya pada Elis dan Daniel yang meninggal lobby.
Grap.
"Elisabeth!" seru Wiliam.
Baru juga mengayunkan kaki nya, langkah nya kini harus terhenti dengan tangan nya yang di cekal Dito.
"Lepas Dito! Aku tidak ada urusan nya dengan mu!" ucap Wiliam dengan penuh penekan.
"Tapi sayang nya, saya tidak akan melepaskan Tuan, sebelum Nona Elis dan Tuan Daniel benar benar meninggalkan kantor." ucap Dito dengan santai.
'Ya ampun Tuan, nyadar diri banget sih... ampe bawa mawar kuning, lagi berduka ya? Hahahha.' ledek Reina dengan suara nyaring dari belakang meja resepsionis, melihat Wiliam dan Dito.
'Yah nama nya juga cinta, wajar kali kalo cinta di tolak, hilang akal yang bertindak!' timpal Nami dengan terkekeh.
Reina dan Nami, sama sama mentertawakan kebodohan Wiliam yang membawakan buket mawar kuning.
Wiliam menatap Reina dan Nami, dengan tatapan kesal.
Sreek.
Wiliam menepis tangan Dito dengan kencang, hingga tangan Dito akhir nya terlepas juga dari tangan nya.
__ADS_1
"Urusan gue belom selesai sama lo!" sungut Wiliam, menatap jengkel Dito dengan nada penuh penekanan.
"Saya tidak masalah Tuan, saya bukan pria yang terbiasa lari dari kenyataan." ucap Dito dengan sabar, membiarkan Wiliam berlalu.
"Selamat siang Nona, Tuan!" ucap pak satpam, melihat Elis dan Daniel melewati pintu utama.
Ketika Daniel akan melewati satpam, yang tadi pagi bertemu dengan nya. Daniel berkata dengan pelan.
"Kerja mu tidak becus, mencegah satu pria saja tidak bisa!" maki Daniel dengan suara penuh penekanan, menatap dingin pak satpam.
"A- apa maksud Tuan?" tanya pak satpam dengan tatapan bingung.
"Apa yang kau katakan, Daniel?" tanya Elis, yang samar samar mendengar Daniel bicara.
"Tidak penting!"
"Kenapa sikap mu begitu manis saat bertemu dengan ku tadi? Apa karena ada mantan kekasih mu hem?" selidik Daniel di belakang setir kemudi.
Elis membuang nafas nya dengan kasar. "Bukan, kenapa juga kau berfikir seperti itu? Jangan bilang jika kau berfikir... aku yang mengundang Wiliam ke kantor?"
Elis menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi, memangku sekotak coklat yang sejak tadi ia makan. Sementara buket bunga mawar mewar, di letakkan di dasbor mobil depan Elis duduk oleh Daniel.
"Kau fikir, siapa yang berani mengundang pria itu ke sana? Jika bukan kau sendiri yang menginginkan nya?" tanya balik Daniel dengan nada sinis.
"Kau sedang bertanya atau menuduh ku, Daniel?" Elis menatap Daniel dengan tatapan marah.
"Jangan balik bertanya jika kau sudah tau jawaban nya, sayang!" ucap Daniel dengan dingin.
"Terserah jika kau tidak percaya pada ku! Aku tidak perduli itu!" Elis menyimpan kotak coklat nya, mendadak selera makan nya pun hilang.
"Kau mau makan siang di mana?" tanya Daniel, mengerutkan kening nya melihat Elis yang menyudahi makan coklat nya.
"Terserah kau saja!" makan saja sendiri! Aku sudah tidak berselera. Enak saja... mentang mentang jadi suami ku, seenak nya saja menuduh ku.
Elis dan Daniel memasuki restoran mewah yang tidak jauh dari kantor ke dua nya.
"Kau mau makan apa?" tanya Daniel dengan datar, menatap daftar menu dalam buku yang tengah ia pegang.
"Es krim 1 ya, mba!" ucap Elis pada wanita yang sedang berdiri di antara diri nya dan Daniel.
Daniel mengerutkan kening nya, menyerahkan daftar menu pada pelayan wanita, menyebutkan apa yang ingin ia pesan pada pelayan.
"Kenapa kau pesan banyak makanan? Aku kan hanya akan menghabiskan es krim." gerutu Elis dengan bibir mengerucut.
"Kita yang akan menghabiskan nya bersama. Jika kau tidak membantu ku untuk menghabiskan nya." Daniel menatap Elis dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Apa?" tanya Elis dengan polos nya.
Daniel menumpukkan ke dua tangan nya di atas meja, mendekatkan wajah nya ke depan, hingga kini ia dan Elis hanya berjarak sejengkal kurang.
Deru nafas Daniel yang mint, dapat Elis rasakan di indra penciuman nya.
Apa yang mau Daniel lakukan si sebenar nya. tanya Elis dalam hati nya.
"Aku akan menghabisiii mu di atas tempat tidur! Membuat mu tidak akan bisa bergerak esok pagi nya!" ucap Daniel dengan seringai di bibir nya, memainkan alis nya naik turun.
Bruuuk.
Elis mendorong wajah Daniel mundur dan menjauh dari nya dengan telapak tangan kanan nya.
"Dasar kau gila, Daniel! Hidung belanggg! Pria mesummm! Aku kutuk kau, batanggg mu tidak akan bisa berdiri lama!" cecar Elis dengan menatap sebal Daniel.
Daniel tergelak. "Kau yakin mengutuk batanggg ku, tidak bisa berdiri dengan lama? Lalu bagaimana cara ku bisa memuaskan goa milik ku, sayang?" ucap Daniel dengan suara pelan, menatap Elis dengan serius, setelah berhasil menghentikan tawa nya.
Elis diam, otak nya mencerna setiap perkataan Daniel.
Benar juga ya, kalo aku gak puas. Aku bakal... Elis menatap tajam Daniel. Sialannn gue lagi yang kena di permainkan.
Tak.
Elis menjitak kening Daniel dengan kepalannn tangan nya cukup keras. Membuat Daniel memekik.
"Awwwhhhhh, ini sakit sayang!" Daniel mengelusss kening nya yang di jitak Elis.
"Sukurin lo!" cibir Elis.
Elis tidak lagi marah, Daniel juga bisa kembali mengendalikan emosi nya. Mereka berdua menghabiskan makan siang mereka dengan canda tawa dan obrolan ringan, jauh dari hal yang berhubungan dengan ranjang.
"Maaf ya, aku tidak bermaksud menuduh mu. Aku hanya takut kau termakan ucapan manis nya lagi!" ucap Daniel.
"Setiap perkataan yang terucap dari bibir mu, jauh lebih manis dari yang sekedar ia ucapkan pada ku, sayang!" ledek Elis.
"Benar kah? Aku lebih dari segala nya jika di bandingkan dengan nya kan?" tanya Daniel.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...