Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Perkara mekar


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kalo bapak gak mau memberikan nomor ponsel bapak, aku sih gak masalah. Terus jika aku menemukan kendala di saat bapak gak ada di kantor, aku harus tanya ke siapa?" tanya Mela panjang kali lebar, menyadarkan Arsandi dari pikiran buruk nya terhadap Mela.


"Kau sedang mengancam ku?" tanya Arsandi dengan jengkel.


Mela menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada, memutar bola mata nya dengan malas terhadap pria yang ada di depan nya.


"Aku tinggal bertanya aja sama Tuan Daniel, kalo ada yang aku tidak mengerti. Gitu aja kok repot!" gerutu Mela dengan melirik ekor mata nya.


Arsandi mendengus kesal. Lalu mengambil kertas kecil berbentuk persegi panjang yang ada di atas meja nya. Menyodorkan nya pada Mela.


"Awas saja, jika kau menghungi ku untuk hal yang tidak penting!" sungut Arsandi.


"Apaan nih! Nomor asisten kok susah buat di ingat! Nomor tuh harus cantik, kaya nomor ponsel milik ku!" ejek Mela, mengambil kertas itu dan menatap nya sinis.


"Ini, bawa ke meja mu! Dan pelajari itu sendiri!" titah Arsandi, menggeser beberapa berkas yang ada di atas, hingga ke hadapan Mela.


"Oke, segini sih kecil!" Mela membawa semua berkas itu bersama nya dan meninggalkan ruang kerja Arsandi.


"Wanita aneh, bisa bisa nya Daniel memperkerjakan seorang sekretaris seperti dia!" gumam Arsandi, merapihkan meja kerja nya, lalu berlalu dengan membawa tas yang berisi laptop.


"Aku sudah menyerahkan berkas berkas yang ada kaitan nya untuk jadwal 3 hari kedepan pada sekretaris baru anda Tuan." jelas Arsandi, berdiri di depan meja kerja Daniel.


"Kau usut sampai tuntas masalah yang ada si Malang. Jika urusan di sana sudah selesai, segera lah kembali!" titah Daniel.


"Baik Tuan, semoga sekretaris baru Tuan tidak menyusahkan Tuan." ucap Arsandi sebelum meninggalkan ruang kerja bos nya.


"Sialannn kau! Pergi sana! Dasar asisten bodohhh!" umpat Daniel.


Sementara di rumah megah yang di huni Elis. Tepat nya taman belakang, dengan kolam renang yang terdapat ayunan kayu di pinggir nya.


"Gimana pak, bisa kan?" tanya Elis, yang duduk di ayunan dekat kolam renang, dengan tangan sibuk memasukkan pop corn ke dalam mulut nya.


"Sudah pasti bisa Nona. Apa lagi selain ini Nona?" ujar pak Didi, dengan berjongkok, ke dua tangan nya sibuk menanam benih biji bunga matahari dan mawar merah.


"Itu aja dulu, pak. Nanti kalo pohon nya udah tumbuh, terus berbunga. Baru aku suruh bapak untuk menanam nya lagi, tapi kalo bunga nya mekar dengan gak bagus. Aku mau bapak langsung ganti dengan benih bunga yang lain." ujar Elis panjang lebar dengan bibir mengerucut.


"Pasti cantik Nona, sama seperti pemilik kebun ini. Bunga bunga nya pasti akan mekar dengan cantik, apa lagi jika Nona merawat nya dengan kasih sayang, memberi nya pupuk dan rutin menyirami nya." ujar pak Didi.


Elis langsung beranjak dari ayunan, menatap nyalang pak Didi.

__ADS_1


"Jadi menurut bapak, kalo aku gak merawat tanaman bunga ku dengan baik, mereka tidak akan bermekaran dengan cantik. Begitu pak?" ucap Elis dengan ketus namun terdengar bergetar, ke dua mata nya bahkan tampak berkaca kaca.


Pak Didi langsung menoleh ke arah Nona Muda nya. 'Mati aku, seperti nya aku salah bicara, jangan sampai hanya karena perkara mekar, aku kehilangan pekerjaan.' umpat pak Didi meski hanya dalam hati.


"Maaf Nona, mau Nona atau siapa pun juga yang merawat nya, pasti bunga bunga ini akan tumbuh dan mekar dengan sangat indah." ralat pak Didi, dengan wajah bersalah melihat Nona Muda terus menatap nya seolah diri nya tengah di musuhi.


"Dasar penjilat! Gak punya pendirian! Tadi aja gak bilang gitu! Aku kesel! Aku mau ke kamar aja!" umpat Elis, menyimpan pop corn yang ada di tangan nya di atas ayunan. Lalu berjalan dengan ke dua kaki yang ia hentakkan di atas lantai.


"Astagaaa Nona, mimpi apa aku, menghadap tingkah Nona yang seperti ini!" gumam pak Didi, menggelengkan kepala nya menatap punggung Elis yang kian menjauh, meninggalkan taman.


"Apa Nona membutuhkan suatu?" tanya koki Adi, melihat Elis duduk di kursi bar mini yang ada di sapur.


"Buatkan aku jus melon tapi hangat! Aku gak mau yang dingin. Antar ke kamar! Gak pake lama!" titah Elis, lalu beranjak dan kursi itu dan berlalu menuju lantai 2.


'Astagaaa lama lama permintaan Nona kenapa jadi aneh di telinga ya!' batin koki Adi, dengan menelan saliva nya dengan sulit.


Dari anak tangga, Elis mendelik saat tatapan nya melihat pak Didi.


"Menyebalkan!" umpat Elis, lalu memalingkan wajah nya ke arah lain.


Brak.


Elis menutup pintu dengan di bantinggg, terdengar cukup keras hingga sampai ke lantai bawah.


"Sttttt jaga bicara mu! Jika sampai Tuan dan Nona mendengar, bisa habis riwayat mu di rumah ini! Tau arti nya?" ujar pak Didi yang kini mencuci tangan nya di wastafel dapur.


"Arti nya apa memang, pak?" tanya asisten koki dengan gelengan kepala. Tidak mengerti dengan maksud pak Didi.


"Itu sama dengan kau di pecat! Begitu aja gak ngerti!" gerutu koki Adi, yang sedang menyajikan jus melon sesuai permintaan Nona Muda nya.


Kreeek.


Elis menarik sofa empuk yang ada di dekat tempat tidur nya, lebih dekat ke arah balkon dengan susah payah.


"Hah, akhir nya aku bisa juga membawa mu ke sini!" Elis membuang nafas lega, lalu menyeka keringat yang membasahi kening nya.


Elis mendudukkan diri nya, di depan balkon dengan menyandarkan punggung nya pada sandaran sofa. Kaki nya saling berselinjor dengan saling menyilang, panjang sofa yang cukup panjang, dapat membuat nya nyaman dan betah berlama lama duduk di sofa itu.


["Kau sedang apa?" ] tanya Elis dengan merajuk, setelah sambungan telpon nya tersambung.


^^^"Aku sedang memeriksa ulang, berkas yang akan di persentasi kan nanti untuk meeting sayang. Kau sedang apa? Apa ada yang membuat mu tidak nyaman?"^^^

__ADS_1


[ "Ada, aku kesal dengan cara kerja pak Didi. Dia membuat ku jengkel!" ] ucap Elis dengan manja.


^^^"Memang apa yang di lakukan pak Didi? Sampai membuat mu jengkel hem?"^^^


[ "Dia bilang taman bunga ku gak akan mekar dengan indah, kalo aku gak merawat tanaman ku. Apa aku seburuk itu, sampai bunga bunga ku gak mekar dengan indah hem? Jawab pertanyaan ku?" ] tuntut Elis, suara nya yang merajuk semakin membuat Daniel yang mendengar nya gemas.


^^^"Kau mau aku jawab apa sayang?"^^^


Elis menatap layar hape nya, lalu berkata dengan mengumpat, sesekali bibir nya mengerucut, memutar bola mata nya dengan jengkel.


[ "Daniel! Kau sama aja kaya pak Didi, pokok nya nanti malam kamu gak boleh tidur di kamar! Kamu harus tidur di luar! Dasar pria menjengkelkan!" ]


Tut tut tut.


Brak.


Setelah memutuskan sambungan telpon nya, Elis langsung melempar kan benda pipih itu ke sembarangan arah.


"Awhhhh! Kepala ku sakit sekali!" pekik Ella, yang ternyata benda pipih Elis neba di atas kepala nya lebih dulu, sebelom benda pipih itu terkapar di lantai dekat kaki Ella berpijak.


"Kau? Apa yang kau lakukan di kamar ku?" tanya Elis, setelah menoleh ke arah suara yang ia kenal itu adalah Ella.


"Aku sudah berbaik hati loh Nona, nganterin jus melon hangat untuk Nona. Tapi aku malah di timpuk dengan hape. Malah hape Nona itu barang mahal. Apa gak sayang kalo hape Nona ini rusak?" cicit Ella.


Ella mengelusss kepala nya yang kena timpuk hape Elis, meski gak sengaja mengenai nya. Sementara tangan lain nya membawa segelas jus melon hangat untuk Elis.


"Siapa suruh kau datang di saat yang gak tepat!" sungut Elis, menatap jengkel Ella. Kembali menatap indah nya awan yang bergerak di atas langit.


'Astagaaa Nona Elis ini, apa gak salah... aku sedang berhadapan dengan siapa? Kenapa bersikap seperti itu sih! Buat jengkelin aja sih!' batin Ella gak terima dengan jawaban Elis.


"Kalo salah itu ya minta maaf, Nona!" seru Ella lagi, memungut hape Elis yang tergeletak di atas lantai dan meletakkan nya di atas tepian kasur Elis.


"Tetap di sana!" ucap Elis menatap marah Ella yang hendak melangkah menghampiri nya.


...💖💖💖...


Bersambung...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2