
...💖💖💖...
Stefani menatap jengkel ke arah pintu, ingin melihat siapa orang yang sudah berani merusak pertunjukan nya untuk Elis.
'Aku ingin lihat, siapa sih orang yang sudah dengan lancang berani merusak kesenangan ku, pertunjukan ku belum usai untuk mu Elis.' batin Stefani, dengan tangan yang berada di atas meja mengepalll.
William di bawa masuk ke dalam ruang kerja Elis, dengan ke dua lengan yang di pegangi pihak keamanan kantor.
William meronta untuk di lepaskan. "Lepaskan tangan kalian! Aku ingin menghampiri calon istri ku! Kalian lihat kan! Elis masih mau bertemu dengan saya! Itu arti nya masih ada kesempatan untuk saya bersama kembali dengan nya!" ucap Wiliam dengan menatap ke arah Elis, tatapan nya penuh cinta.
Stefani langsung beranjak dari duduk nya. Menghampiri Wiliam dengan tatapan yang sulit di percaya.
'Jadi selama ini aku salah, Wiliam lah yang terus saja mencoba mendekati Elis kembali! Kau keterlaluan Wiliam, kau tega pada ku! Kamu gak bisa giniin aku, harus nya kamu berterima kasih sama aku. Karena aku, kamu gak perlu menikahi adik sepupu ku yang gila itu! Kau jahat Wiliam!' batin Stefani menatap kecewa Wiliam.
"Stefani, se- sejak kapan kau ada di sini?" tanya Wiliam dengan membola.
Plak, plak.
Ke dua petugas keamanan, dengan spontan melepaskannn ke dua lengan Wiliam yang mereka pegangi.
Stefani mendaratkan tamparan keras, pada ke dua pipi Wiliam, kiri dan kanan. Tampak di ke dua mata Stefani yang menatap Wiliam dengan tatapan penuh kecewa, ia sudah berharap banyak pada pria yang kini berdiri di depan nya.
"Uuuhhh!" ringis Wiliam, dengan tangan kanan nya menyapu sudut bibir nya yang mengeluarkan cairan merah berwarna darah.
Sreek.
Stefani menarik kerah kemeja yang di kenakan Wiliam, dengan ke dua cengramannn tangan nya.
"Kau benar benar pria tidak punya hati! Kau tau! Aku, aku sedang mengandung benih mu! Ini benih cinta kita! Ingat itu Wiliam! Kau yang menjamah ku! Kau harus bertanggung jawab, Wiliam! Lupakan Elis! Dia bukan untuk mu!" ucap Stefani dengan penuh penekanan, bulir bening membasahi ke dua pipi nya, raut putus asa dan frustasi kini melebur menjadi satu.
Sreek.
Wiliam menepis tangan Stefani dari kerah kemeja nya.
Bugh.
Stefani jatuh terjerembab di atas lantai.
"Akkkkkkhhh!" pekik Stefani, ke dua tangan nya memegangi perut nya yang terasa sakit, bak di cengrammm keras.
"Itu bukan benih ku! Itu bukan anak ku!" tolak Wiliam dengan penuh amarah.
Elis dan Daniel langsung menghampiri Stefani.
__ADS_1
"Kau tidak apa apa?" tanya Elis dengan khawatir.
"Tahan dia pak! Bawa dia ke kantor polisi!" titah Daniel pada ke dua petugas keamanan, yang langsung di angguki.
"Dito, cepat kau telpon ambulans!" titah Daniel lagi.
"Baik Tuan!" ucap Dito.
"Pe- perut ku, sa- sakit!" ucap Stefani dengan wajah yang kini pucat.
"Bertahan lah! Semua akan baik baik aja! Kau akan menikah dengan Wiliam, bukan?" ucap Elis, dengan nada menghibur Stefani.
"Jangan gila kau, Elis!" ucap Stefani di sela rintihan nya.
'Kenapa kau selalu baik pada ku, aku sudah menyakiti mu! Aku merebut Wiliam dari mu!' batin Stefani menatap Elis tanda tanya besar di hati nya.
"Elis, aku mencintai mu! Jangan pergi Elis! Wanita itu bohong!" teriak Wiliam, dengan kaki yang menendang angin.
Wiliam di tarikkk ke luar dari ruang kerja Elis. Sementara Daniel kini membawa Stefani ke lobby. Dan tidak lama memasukkan tubuh Stefani ke dalam mobil ambulans. Stefani langsung di larikan ke rumah sakit, untuk mendapat kan pertolongan dan perawatan.
"Ehem, bisa kau jelaskan pada ku, Daniel!" tanya Elis dengan tatapan menyelidik.
Rimbun nya pohon pohon di taman kantor, dengan udara yang sejuk, tampak nya tidak menyurut kan kegelisahan dalam hati Daniel.
"Jelaskan apa lagi sayang?" tanya Daniel dengan menggenggammm jemari Elis.
"Jangan terus berpura pura tidak tahu, Daniel! Aku tahu ada yang kau dan Stefani sembunyikan dari ku! Sekarang, katakan pada ku, sejak kapan kau tahu Stefani mengandung? Itu benar anak Wiliam kan!" cecar Elis tatapan nya tidak lepas dari sepasang mata Daniel.
Daniel membuang nafas nya dengan lega, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
A- aku pikir, Elis ingin mempertanyakan sejauh mana keterlibatan ku dengan Wiliam... huh menegangkan saja! batin Daniel tampak lega, setelah mendengar apa yang menjadi pertanyaan Elis.
"Beberapa hari yang lalu." jawab Daniel, ia membawa jemari Elis dan mengecup nya berkali kali.
"Aku mencintai mu, istri ku!" cicit Daniel.
"Hei kau, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku! Jangan kau pikir, aku tidak tahu... jika kau sedang mengalihkan pertanyaan ku, Daniel!" ucap Elis dengan nada tinggi.
"Siapa yang menghindari pertanyaan mu, sayang!" jawab Daniel dengan setenang mungkin.
"Kalo begitu, katakan sekarang juga, apa yang kau tahu tentang Stefani dan Wiliam!" pinta Elis dengan tatapan tajam.
"Aku hanya tau jika mereka berdua menjalin hubungan, hubungan yang seperti kita ini, meski ke dua nya tidak dalam ikatan pernikahan." ucap Daniel.
__ADS_1
"Apa Stefani sendiri yang mengatakan pada mu, jika ia tengah mengandung?" tanya Elis.
"Tidak juga sayang! Aku tahu dari Ella. Ella aku tugaskan untuk mengawasi grak grik Wiliam. Kau ingatkan, siapa itu Ella!" ujar Daniel dengan meyakinkan Elis.
Jeger.
Tidak ada awan mendung, atau pun gerimis yang mendakan, akan turun nya hujan di langit yang tengah cerah berawan itu. Tiba tiba saja bunyi sambaran petir. Membuyarkan keseriusan Elis pada Daniel.
"Akkkkk!" pekik Elis.
Elis dengan spontan melingkarkan ke dua tangan nya pada pinggang Daniel. Ia bahkan menyembunyikan wajah nya pada dada bidang suami nya.
"Kau tahu sayang, alam semesta saja... marah saat hati mu mulai meragukan ku!" cicit Daniel dengan mengelusss rambut panjang Elis.
Bugh.
Kepalan tangan manja, mendarat di dada bidang Daniel, setelah ia menjarak tubuh ke dua nya.
"Dasar pembualll ulung! Bisa nya kau memanfaatkan bunyi nya suara petir! Itu beneran ihs!" sungut Elis dengan kesal.
Byuuurrrrr.
Tidak berselang lama, hujan deras turun membasahi ibu kota yang padat akan kesibukan kantor nya.
Daniel memayungi kepala Elis dengan jas milik nya. Mereka berdua melangkah meninggalkan taman kantor.
"Apa aku bilang. Semesta benar benar mengerti apa yang aku inginkan, sayang!" cicit Daniel, menatap Elis dengan tatapan genit nya, yang mengadahkan wajah nya ke arah nya.
Bruuukkk.
Daniel menginjak genangan air yang ada di atas lantai. Membuat nya mau tidak mau, hilang keseimbangan dan jatuh terjerembab dengan membawa serta Elis.
"Awwwhhh!" pekik Elis.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1
Mampir sini nyok, kepoin karya baru author gabut ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤