
...💖💖💖...
"Maaf ya, aku tidak bermaksud menuduh mu. Aku hanya takut kau termakan ucapan manis nya lagi!" ucap Daniel.
"Setiap perkataan yang terucap dari bibir mu, jauh lebih manis dari yang sekedar ia ucapkan pada ku, sayang!" ledek Elis.
"Benar kah? Aku lebih dari segala nya jika di bandingkan dengan nya kan?" tanya Daniel.
"Bisa di bilang begitu." jawab Elis datar.
"Setelah makan siang, tidak ada meeting lagi kan?" tanya Daniel menatap Elis dengan serius.
"Gak ada sih, tapi aku belum selesai dengan berkas yang ada di atas meja kerja ku!" cicit Elis.
"Baik lah, aku kan langsung mengantar mu kembali ke kantor." ujar Daniel.
"Begitu seharus nya! Apa yang kau lakukan dengan Ella? Bukan kah ia kau tugaskan untuk menjadi supir pribadi ku? Sekarang dia mengerjakan apa?" tanya Elis ingin tahu.
"Mengerjakan apa ya! Kenapa kau ingin tau? Apa kau merubah keputusan mu, ingin menjadi kan Ella supir pribadi mu, atau sekretaris pribadi mu?" cicit Daniel.
"Gak jadi lah, males aku berdebat dengan mu! Aku cuma bertanya! Kasihan kan anak orang, baru di pekerjaan sehari... langsung jadi pengangguran." celetuk Elis.
"Dia masih aku pekerjakan, aku harap kau tidak akan menyapa nya lebih dulu jika melihat nya!" ucap Daniel, seolah memberikan pesan pada Elis secara tidak langsung.
"Cihs memang siapa dia, sampai aku yang menyapa nya lebih dulu saat bertemu dengan nya! Dasar aneh!" gerutu Elis.
"Ya mungkin saja, saat kau melihat nya kembali. Kau akan sedikit syok saat melihat nya dengan orang yang kau kenal." ucap Daniel.
Elis membuang nafas nya dengan kasar. "Terserah apa kata mu saja lah! Yang pasti, aku tidak akan menyapa nya lebih dulu!"
"Baik lah, aku percaya pada mu!" cicit Elis.
Daniel benar benar menepati perkataan nya, mengantar Elis kembali ke kantor nya setelah mereka makan siang bersama.
"Siang Nona!" seru Nami.
"Siang!" jawab Elis.
Ke dua nya melewati meja resepsionis, dengan tangan Daniel yang tetap merekat pada pinggang Elis dengan posesif nya.
"Selamat siang, Nona!" sapa Dito yang berdiri di depan lift eklusif.
"Untuk apa kau di sini?" tanya Elis.
"Untuk menunggu Nona!" jawab Dito, dengan tangan yang kini membawa tas Nona Muda nya.
"Kau hanya mengantar ku sampai sini?" tanya Elis dengan tatapan menajam pada Daniel.
Daniel menyeringai. "Apa kau ingin aku mengantar mu sampai pintu ruang kerja mu, sayang?" tanya Daniel dengan tatapan menggoda.
"Ihsss nyebelin!" Elis melangkah masuk ke dalam lift, saat Dito menekan tombol buka pada dinding lift.
__ADS_1
Cup.
Daniel mengecup bibir Elis sekilas.
"Selamat bekerja, sayang!" cicit Daniel.
"Dasar mesummm, tidak tau malu!" sungut Elis dengan acuh.
"Saya permisi, Tuan!" cicit Dito, menyusul Elis masuk ke dalam lift dan menekan tombol tutup.
...----...
Skip satu bulan berikut nya.
"Morning sayang!" ucap Daniel melihat Elis yang menggeliattt dalam tidur nya.
"Heem! Jam berapa sekarang?" tanya Elis.
Daniel berdiri di samping ranjang Elis, dengan tubuh yang condong ke depan. Menatap nya dengan penuh kasih sayang pada sang istri.
"Lima, ayo kita subuh dulu!" cicit Daniel, mengelusss pipi Elis dengan lembut.
Cup cup cup.
Daniel mendarat kan kecupan kecupan singkat pada pipi, kening dan bibir Elis.
"Kau mengusik tidur ku, sayang!" cicit Elis.
Elis menggelengkan kepala nya, membuka ke dua mata nya dengan malas.
Grap.
Elis melingkarkan ke dua tangan nya pada leher Daniel.
"Aku bolong dulu ya! Sekali ini aja! Aku ngantuk!" rengek Elis dengan manja.
"Gak bisa, sayang! Kau boleh bolos subuh, kalo kamu sedang berhalangan." terang Daniel dengan menjawil hidung Elis yang mancung ke depan.
"Gendong!" rengek Elis.
Hap.
Daniel benar benar menggendong Elis, membawa istri nya ke dalam kamar mandi. Lalu menurunkan nya setelah berada tepat di depan keran air.
"Buka mata mu sayang! Kau ambil wudhu, dan aku siapkan perlengkapan sholat kita ya!" ujar Daniel dengan senyum mengembang.
Elis mengangguk.
Elis mengambil wudhu dengan perasaan yang tidak enak. Pikiran nya melayang layang entah ke mana.
"Harus nya aku sudah datang bulan kan bulan ini, tapi kenapa aku melewatkan nya ya?" monolog Elis pada diri nya sendiri.
__ADS_1
"Sayang!" seru Daniel dengan suara nya yang terdengar hangat.
"Kau sakit?" tanya Daniel saat melihat Elis yang sudah berdiri di belakang nya.
"Tidak, sudah sana ke tempat mu!" usir Elis, ia mengenakan mukena nya.
Selama satu bulan ini, ke dua nya menjalankan sholat subuh bersama, secara berjamaah. Dan Elis masih mengkonsumsi obat, yang ia tau adalah obat untuk pencegah kehamilan.
"Kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Daniel yang melihat Elis di meja makan, namun melamun di tengah sarapan ke dua nya.
"Tidak ada, emmm ada sih! Cuma masalah kecil." elak Elis.
Elis menelan saliva nya dengan sulit. Menatap Daniel dengan sungkan, kembali menunduk saat Daniel menatap nya.
Gak mungkin aku katakan sama Daniel, yang ada Daniel tau kalo selama ini aku mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Tau sendiri, papa Devano, papa Brian dan Daniel sangat ingin aku mengandung. Bisa habis aku di marahi ke tiga pria tampan itu!
Daniel yang memperhatikan Elis pun jadi tidak tenang. Mencuri pandang dan terus berfikir, mencoba mencari jawaban, apa yang membuat Elis jadi tidak nyaman saat berhadapan dengan nya kini.
Ada apa dengan Elis ya? Apa yang sedang Elis sembunyikan dari ku? William sudah aku bereskan, tapi apa lagi sekarang yang mengusik ketenangan Elis?
Grap.
Daniel menggenggammm jemari Elis yang ada di atas meja.
"Jangan sembunyi kan apa pun dari ku, kita ini suami istri. Jika ada yang mengganjal, katakan pada ku!" cicit Daniel.
Elis menarik tabgan nya dari genggamannn Daniel.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, sayang! Makan lah, aku ada pertemuan penting pagi ini! Jadi aku harus datang pagi pagi sekali!" elak Elis.
"Tapi sarapan mu belum habis, sayang!" Daniel melihat makanan Elis yang tampak masih banyak.
Sedikit sekali sarapan nya!
"Aku kenyang! Aku tunggu kau di mobil, sayang! Jangan lupa, bawa kan tas ku!" Elis mengingatkan kembali Daniel, dengan tangan yang menunjuk pada tas nya yang ada di atas meja makan.
Di dalam mobil, Elis mengutak utik hape nya dengan kening mengkerut. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam hati nya. Pertanyaan yang seketika mengusik ketenangan nya.
Tatapan nya menelusuri pada aplikasi pencarian.
"Ini gak mungkin salah kan?" Elis menelan saliva nya dengan sulit.
Menatap tajam pada layar hape nya, setelah nampak apa yang ia cari.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...