Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Tabrakan beruntun


__ADS_3

...💖💖💖...


"Iya, gak apa kan? Sebagai rasa penebusan salah ku, aku akan duduk di sini, menemani mu sampai tempat tujuan. Tapi setelah urusan mu selesai, gantian ... kamu yang temani aku di kantor! Oke sayang!" ucap Daniel dengan tegas, mengutarakan ke putusan nya yang gak bisa di ganggu gugat.


Elis diem, menatap lekat wajah sang suami dengan tatapan tajam.


"Gak ada yang lagi di sembunyikan dari ku kan?" tanya Elis dengan menyelidik.


"Apa lagi yang bisa aku sembunyikan dari mu, hem?" tanya Daniel dengan tatapan menggoda.


"Ada, bisa aja kan... sebelum kamu sampai ke rumah, kamu ketemuan dulu sama wanita cantik yang menggoda mu di pinggir jalan!" sungut Elis.


Daniel mengerutkan kening nya. "Gak ada sayang, dari kantor aku langsung ke sini untuk menjemput mu!" jelas Daniel.


"Benar kan? Lalu di mana Mela dan Arsandi? Kenapa hanya kamu sendiri yang pulang untuk mengantar ku meeting!" cecar Elis, semakin menyudut kan Daniel.


"Arsandi harus terbang ke Malang hari ini juga, menyelesaikan masalah yang terjadi pada perusahaan retail ku yang ada di sana. Sedangkan Mela, aku tinggal di kantor, biar dia bisa mempelajari bahan untuk aku meeting selama tidak ada Arsandi." ujar Daniel dengan mode serius.


Elis menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada. Menatap Daniel dengan menelisik.


"Kamu gak lagi bohong kan?" tanya Elis dengan wajah datar, belom percaya pada Daniel.


"Aku gak bohong sayang. Atau kamu mau aku telpon Arsand saat ini juga, tanya dia lagi di mana?" Daniel gak kehabisan akal biar di percaya Elis.


Daniel merogoh saku jas dalam nya, mengeluarkan benda pipih milik nya dari sana.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Elis, malah gak ngerti deh apa yang akan di lakukan Daniel.


"Tentu aja menghungi Arsandi, memang kau pikir aku akan apa?" Daniel malah bertanya balik pada Elis.


..."Nomor telpon yang anda hubungi, sedang berada di luar jangkauan. Silah kan hubungi beberapa saat lagi!" suara mba operator langsung terdengar nyaring dari hape Daniel....


Ella berdehem tak ayal nya seorang bos yang mengusik ketenangan karyawan nya.


"Gimana bisa, Arsandi menonaktif kan hape nya!" gumam Daniel dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar Elis.


"Bilang aja takut ketawan, ketawan bohongin aku!" umpat Elis, memalingkan wajah dari Daniel.


'Bisa bisa nya, Daniel membohongi ku! Gak tau aku ini lagi mengandung benihhh nya apa!' pikiran buruk Elis meski hanya dalam hati.


'Saking sibuk sama prasangka buruk Nona Elis ke Tuan. Ke dua nya sampe gak nyadar apa ya kalo ini mobil belum juga melaju!' batin Ella.


"Ehem ehem maaf Nona, Tuan. Apa kita sudah bisa mulai perjalanan nya?" tanya Ella, melirik ke dua majikan nya lewat kaca spion.


"Astagaaa Ella, begitu aja perlu minta izin? Dasar bodohhh! Harus nya mobil sudah melaju dari tadi!" umpat Daniel.


"Kau berani memarahi Ella? Hanya aku yang boleh memarahi Ella, Ella itu bawahan ku!" ujar Elis dengan mata melotot tajam pada Daniel, lalu memalingkan wajah nya lagi dari Daniel.


"Iya iya iya maaf, aku tidak bermaksud memarahi Ella, sayang! Jangan marah lagi pada ku ya!" Daniel melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang Elis, dengan tubuh yang membungkuk, menempel kan wajah nya di depan perut sang istri.


"Ayo, bujuk mama mu sayang! Mama mu dari tadi memarahi daddy terus!" Daniel merajuk, seolah tengah mengadu pada cabang bayi yang tengah berada di dalam kandungan Elis.


'Aku tidak habis fikir, bisa bisa nya Elis menuduh ku membohongi nya!' batin Daniel, mengelusss perut Elis yang rata dengan wajah nya.


Ella menahan tawa, melihat tingkah konyol Daniel yang menurut nya gak masuk akal.


'Astagaaa benar benar aneh dan gak masuk akal kelakukan Nona Elis dan Tuan Daniel. Tuhan, jangan kau buat otak ku bergeser setelah bekerja pada ke dua nya! Aku masih ingin waras dan normal!' do'a Ella meski dalam hati.


"Kamu menyerah sayang? Gak mau mencoba menghubungi kembali asisten kesayangan mu itu?" sindir Elis dengan tatapan menyelidik, ingat jika Daniel masih hutang penjelasan pada nya.


Daniel menggelengkan kepala nya, beranjak dari posisi nya. "Tapi aku sungguh tidak berbohong sayang! Percaya lah pada ku! Aku ini setia loh! Berbeda dengan mantan mu itu!" cicit Daniel dengan wajah di tekuk, saat Elis melotot tajam.


"Gak usah bahas mantan." ketus Elis.


"Maaf Tuan, Nona, saya menyela... dengan terpaksaaa ikut berkomentar. Emang pak Arsandi ke Malang naik apa ya?" tanya Ella, dengan pandangan melirik kaca spion mobil.


"Pesawat." jawab Daniel singkat.


"Emang kenapa El? Kenapa kau tanyakan itu?" tanya Elis.


"Nona sama Tuan masih belom mengerti?" tanya Ella.


Elis dan Daniel saling tatap. Lalu menggeleng kompak.


"Paling pak Arsandi lagi di dalam pesawat, jadi nomor nya gak aktif dan sulit di hubungi." terang Ella.


"Astagaaa, kenapa aku baru kepikiran ke arah itu. Apa yang di katakan Ella itu benar sayang!" ucap Daniel, menatap Elis agar mau percaya pada nya.


"Harga kepercayaan itu mahal Daniel! Awas aja kalo kamu sampe ketawan bohong, aku pecat kamu dari calon daddy nya baby utun!" ucap Elis dengan nada suara yang mengancammm.


"Aku gak berani bohong sayang! Kenapa akhir akhir ini... kamu selalu menuduh ku melakukan hal yang tidak aku lakukan?" tanya Daniel dengan tatapan mengiba, ke dua tangan menarik daun telinga nya sendiri. Seolah ia sedang menghukum diri nya sendiri.


"Masa kehamilan Tuan. Sah sah aja sih, kan hormon wanita hamil itu lagi gak nentu, begitu juga sama mood nya. Yang bisa naik dan bisa turun, gak bisa di prediksi, gak bisa di tebak. Sebentar ceria, sebentar ngambek gak jelas." cicit Ella.


Daniel mengerutkan kening nya, menyimak kata demi kata yang terlontar dari bibir Ella. Ke dua tangan nya kini terlepas dari ke dua daun telinga nya.


Daniel menggaruk kening nya sendiri, "Aku seperti nya pernah mendengar penjelasan mu itu, tapi dari siapa ya!" otak Daniel berfikir dengan keras, mengingat ingat siapa yang pernah mengatakan hal itu pada nya.


Elis tersenyum tipis. 'Ella benar bertemu dengan Zee, itu kata kata yang pernah di ucapkan Zee pada ku dan Daniel, saat di rumah sakit. Saat aku melakukan pemeriksaan untuk yang pertama kali nya.'


"Kamu gak mengingat nya, Daniel?" tanya Elis angkat suara, dengan tatapan menggoda Daniel.


Daniel menggelengkan kepala nya lagi dengan bibir mengerucut, otak nya gak bisa di ajak buat mikir lebih jauh lagi.


'Bisa bisa nya Elis menggoda ku, setelah membuat otak ku mumet dan hampir pecah.' batin Daniel menelan saliva nya, ingin rasa nya menerkammm Elis saat ini juga.


Elis menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu menoleh ke arah jendela, tatapan nya langsung berbinar dan seenak jidat nya ia menyuruh Ella untuk berhenti. Tanpa memikirkan akibat buruk untuk mereka semua.


"Ella! Berenti!" titah Elis dengan suara yang bersemangat.


Ciiiiit.


Ella mendengar kata berhenti, langsung tanpa pikir panjang menginjak pedal rem.


Brak.


Tak ayal membuat kendaraan yang ada di belakang nya pun gak bisa menginjak rem lagi, saat mobil yang ada di depan nya alias mobil yang di tumpangi Elis berhenti mendadak di pinggir jalan tanpa menepi.


Daniel yang merasakan mobil nya di tubruk dari belakang, langsung membawa Elis dalam dekapannn nya dengan posisi membungkuk, satu tangan ia gunakan untuk melindungi kepala Elis.


Brak.


Brak.


Brak.


Tiiiiiin.


Tabrakan beruntun gak lagi bisa terhindari.


"Auhhhh!!" rintih Elis.


"Kamu gak apa apa, sayang?" tanya Daniel dengan mengendurkan pelukan nya dari Elis.


Ke dua nya bangkit dari posisi nya yang membungkuk.


"Aku gak apa, cuma terguncanggg sedikit." ucap Elis.


"Nona dan Tuan gak apa kan?" tanya Ella, menoleh ke belakang dengan rambut yang gak berbentuk alias berantakan.


"Kamu luka itu El!" Daniel menujuk pelipis Ella yang mengeluarkan darahhh segar.


"Gak apa Tuan, ini gak sakit kok." ucap Ella dengan tergugup dengan tubuh bergetar.


'Gak mungkin aku berdarahhh... aku bisa, masa cuma darah aku gak kuat!' batin Ella, memberanikan diri menyentuh pelipis nya dengan jemari nya.


"Apa itu sakit Ella?" tanya Elis dengan wajah prihatin.


Tangan Ella benar benar terulur, menyentuh pelipis nya yang tampak basahhh, dan saat ke dua mata Ella melihat jelas darahhh segar di jemari nya, pusing seketika mendera kepala nya.


Bugh.


Seketika tubuh Ella lemas seakan tidak bertulang, dengan pandangan yang kabur dan akhir nya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ella!" seru Elis dengan wajah panik.


"Ella!" seru Daniel dengan bersikap setenang mungkin.


Belum hilang keterkejutan ke dua nya, kini terdengar suara yang gak kalah membuat suasana seakan mencekammm.


Dugh.


Dugh.


Dugh.


Suara gedorannn, terdengar jelas dari luar jendela mobil yang di tumpangi Elis. Di susul dengan suara teriakan, umpatan, seruan dari orang orang yang ada di luar dengan tampang marah.


"Turun woy! Udah bikin acak kadut jalan, turun woy!" umpat seorang pria paruh baya, dengan tangan mengepalll gemasss menggedor kaca jendela mobil di sebelah Elis.


"Woy! Mabokkk lo ya! Berenti seenak jidat lo!" umpat seorang pria muda, yang menggedor kaca jendela samping kemudi.


"Woy! Tanggung jawab woy!" umpat pria berpenampilan preman mencoba membuka pintu mobil Daniel.


"Daniel, mereka kelihatan nya marah banget." ujar Elis, mengedarkan pandangan nya ke penjuru arah.


"Kamu tunggu di sini ya! Biar aku ke luar untuk menjelaskan pada mereka." Daniel mengecup bibir Elis dengan singkat, sebelum ia ke luar dari mobil.


Bugh.


"Uuhhhhh!" sebuah tonjokannn melayang di perut Daniel, membuat Daniel meringis menahan sakit.


Elis membekappp mulut nya sendiri, bulir bening meluncur bebas melihat bagai mana Daniel mendapatkan serangan secara tiba tiba dari seseorang yang gak mereka kenal.


Beberapa menit kemudian.


Elis duduk menyandar di sofa, menunggu Ella yang masih hilang kesadaran.


Sementara Daniel, kini harus mengurus administrasi dari para korban tabrakan beruntun, yang terjadi karena ulah mobil nya yang berhenti mendadak.


"Maka nya mas, laen kali kalo bawa mobil tuh hati hati!" umpat bapak tua dengan kumis menjuntai menutupi mulut nya.


"Iya pak." jawab Daniel.


"Mas, coba yang jadi istri nya itu saya... gak bakal deh kejadian kaya gini! Sayang banget lo. Duit nya pasti udah ke luar banyak!" goda seorang wanita muda, dengan tangan kiri di perban. Salah satu korban tabrakan beruntun.


Daniel berlalu, meninggalkan korban tabrakan beruntun yang sedang mendapat perawatan medis.


Ceklek.


Daniel membuka pintu ruang rawat Ella.


Grap.


Elis langsung berlari dan memeluk tubuh Daniel dengan erat, degup jantung nya pun gak karuan.


"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Daniel dengan suara yang menghangat, tangan nya terulur semengelusss punggung Elis dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku! Ini semua kesalahan ku!" ucap Elis dengan lirih.


'Andai saja aku gak meminta Ella untuk berhenti saat itu juga, kejadian ini pasti gak akan terjadi.' pikir Elis dengan terisak.


Daniel mengendurkan pelukan Elis, mencengrammm lembut lengan wanita yang tengah mengandung benih nya.


"Semua nya akan baik baik aja, Alhamdulillah mereka hanya mengalami luka ringan dan cedera ringan. Kendaraan mereka juga sudah aku urus dengan pihak asuransi. Jangan nangis lagi ya!" bujuk Daniel.


"Lalu bagai mana dengan Ella. Ella belum juga siuman." ujar Elis, menatap ke arah ranjang rawat, di mana Ella terbaring dengan ke dua mata terpejam.


Daniel menggiring Elis, mendekat ke arah ranjang rawat Ella.


"Sebentar lagi juga Ella akan siuman. Sabar ya!" Daniel menyunggingkan senyum tipis nya.


"Kamu pasti mengeluarkan banyak uang untuk ku! Maaf!" ucap Elis dengan lirih.


"Gak apa, yang penting gak terjadi apa apa sama kamu dan baby utun!" Daniel mengelusss perut Elis yang masih rata.


"Cepat buka mata mu, Ella!" seru Elis, yang kini sudah berada di depan ranjang rawat Ella.


Ella membuka mata nya, di ruang yang berbau obat dengan nuansa berwarna putih, dan hanya Daniel lah orang yang ada di sana menemani nya.


"Tuan!" seru Ella yang berusaha beranjak dari tidur nya.


"Ukkkhhhhh!" pekik Ella, merasakan kepala nya berdenyut.


"Dasar ceroboh! Kalo sakit ya jangan di paksaaa untuk bangkit!" omel Daniel, membantu Ella untuk duduk bersandar pada kepala ranjang rawat nya.


Deg deg deg deg.


'Kenapa rasa nya sakit saat Tuan Daniel mengomel, dengan jarak seperti ini, sedekat ini, astagaaa apa aku punya perasaan sama Tuan Daniel? Jangan sampai... ini bukan perasaan cinta kan?' umpat Ella, dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan Daniel.


Ella dapat merasakan hembusan nafas mint dari Daniel menyeruak menyapa wajah nya.


"Maaf Tuan, Nona gimana Tuan?" tanya Ella, setelah berhasil mengembalikan degup jantung nya.


"Baik, kau sudah merasa baikan? Kamu bisa menginap di rumah sakit, jika itu kau perlukan." ujar Daniel, yang kini berdiri di depan Ella dengan wajah datar.


"Gak perlu, aku mau pulang aja. Tugas ku juga belum selesai. Gimana dengan meeting Nona, Tuan?" tanya Ella dengan mengadahkan wajah nya, menatap wajah tampan sang Tuan.


"Meeting Elis di tunda hingga beberapa jam ke depan, pekerjaan mu hari ini sudah selesai, apa ada lagi yang mau kau tanyakan?" tanya Daniel dengan menghembus kan nafas nya dengan kasar.


"Kenapa di tunda Tuan? Maksud nya pekerjaan ku sudah selesai, aku di pecat Tuan?" tanya Ella dengan tatapan penuh tanya.


"Elis tidak mungkin meninggalkan mu di sini seorang diri. Elis yang meminta meeting di undur. Kamu berharap aku memecat mu, setelah banyak nya uang yang harus aku keluarkan untuk kesalahan yang kau perbuat?" tanya Daniel dengan sorot mata tajam.


"A- a- aku merugikan Tuan? Karena apa Tuan? A- aku melakukan kesalahan?" tanya Ella dengan tatapan bingung, mencoba mencerna apa yang di katakan Elis.


Ceklek.


"Kamu udah siuman, Ella?" tanya Elis yang baru aja ke luar dari toilet yang ada di ruang perawatan Ella.


"Nona Elis? Sejak tadi Nona di situ?" tanya Ella.


"Iya, memang kamu pikir aku pergi meninggalkan mu? Gimana keadaan mu? Apa nya yang sakit, El?" tanya Elis yang kini berdiri di samping Daniel.


Wajah senang Elis, saat melihat Ella yang kini sudah membuka ke dua mata nya tampak nyata dan tulus.


Daniel langsung mengeratkan tangan nya pada pinggang Elis dengan posesif nya, dengan tubuh yang saling menempelll tanpa jarak.


Deg.


'Kenapa dengan hati ku, terasa sakit, tapi gak berdarah!' batin Ella, menatap tangan Daniel yang melingkar di pinggang Elis. Tanpa sadar, tangan Ella bergerak menyentuh dada nya yang seakan sakit dan sesak.


"Hei! Kau dengar apa yang di katakan istri ku? Elis sedang bertanya pada mu!" seru Daniel dengan suara datar dan judes.


"Bisa gak sih! Suara mu di pelankan! Gak bisa apa lebih lembut sedikit! Gak tau kalo Ella lagi sakit?" cecar Elis dengan tatapan mendelik pada suami nya.


Tring tring tring.


Telpon berdering, dari benda pipih milik Daniel yang ada di saku jas nya.


Daniel menjawab sambungan telpon nya, menjauh dari ke dua nya.


[ "Maaf Tuan, saya mengganggu waktu Tuan. Tapi ini benar keadaan yang darurat Tuan." ] ucap Mela yang terdengar panik dari sambungan telpon nya.


^^^"Ada apa? Coba tenang dulu! Baru jelaskan pada saya secara perlahan!" jelas Daniel dengan datar, kening mengkerut.^^^


'Apa yang membuat Mela begitu panik?' batin Daniel penuh tanya.


Mela pun menceritakan pada Daniel secara jelas dan terperinci, apa yang baru saja ia alami, hingga membuat nya bingung dan kalang kabut sendiri.


[ "Jadi begini Tuan, beberapa menit yang lalu. Saya mendapatkan telpon, dari seorang pria yang mengaku orang yang udah menemukan pak Arsandi, terus orang itu bilang... jika pak Arsandi mengalami kecelakaan kerja. Saya di minta untuk mengirimkan sejumlah uang, agar mereka bisa langsung menangani pak Arsandi, saya bingung Tuan... saya harus bagaimana?" ] tanya Mela dengan suara yang terdengar sesenggukan.


Daniel menghembuskan nafas nya dengan kasar, ingin rasa nya ia tertawa, tapi ia tahan.


[ "Tuan, Tuan masih ada di sana kan? Saya harus bagaimana Tuan? Jangan buat saya bingung Tuan!" ] suara Mela lagi yang terdengar frustasi.


^^^"Tidak perlu, kau tidak perlu mendengar kan orang yang menelpon mu, biar saja Arsandi tidak ada yang mengurus di sana, paling dia hanya patah tangan atau patah kaki. Paling tidak dia hanya tidak bisa berjalan selama 2 bulan." ucap Daniel dengan datar.^^^

__ADS_1


[ "Astagaaa Tuan sejahat itu sama pak Arsandi? Biar gimana pun juga, pak Arsandi itu orang kepercayaan Tuan. Orang yang bekerja untuk Tuan, Tuan sejahat itu? Saya gak nyangka, Tuan gak punya hati sama karyawan nya sendiri!" ] umpat Mela dengan suara meninggi, makin terdengar keras isak tangis nya.


^^^"Astagaaa Mela! Kamu bilang aku tidak punya hati? Tidak punya perasaan? Aku lagi di rumah sakit bersama istri ku, kami menemani salah satu karyawan. Apa itu aku tidak punya perasaan?" umpat Daniel dengan kilatan amarah di mata nya.^^^


[ "Tapi kenapa Tuan bisa setega itu sama pak Arsandi! Dia itu udah bela belain terbang ke luar kota, cuma buat menyelesaikan masalah pada perusahaan Tuan yang di Malang. Tapi balasan Tuan untuk pak Arsan--" ] Mela menggantung perkataan nya.


^^^"Kau sudah mengerti kan apa maksud saya?" Daniel langsung mengakhiri sambungan telpon nya, tanpa menunggu persetujuan dari Mela.^^^


"Bocah itu, bisa bisa nya aku terjebak dengan 2 karyawan yang gak berfikir dengan otak sebelum mengambil keputusan." umpat Daniel, menggelengkan kepala nya, menatap layar benda pipih nya.


Pluk.


Elis menepuk bahu Daniel.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Elis yang kini berdiri di depan Daniel.


"Hanya masalah kecil, Mela bisa mengurus nya." ujar Daniel, mengelusss kepala Elis, lalu menyimpan hape nya ke dalam saku jas nya.


Dengan mobil yang di antar oleh orang suruhan nya, kini Daniel mengemudi membawa Elis dan juga Ella.


"Pokok nya aku gak mau tau, kamu sembuhin dulu sakit kamu itu! Kalo udah sembuh, baru mulai kerja lagi, oke!" titah Elis panjang kali lebar, sesekali menoleh ke belakang tempat Ella duduk.


"Tapi kalo gitu gimana dengan hutang saya, Nona. Saya sudah berhutang banyak sama Tuan dan Nona karena kejadian tadi pagi itu!" ucap Ella dengan gak enak hati.


"Itu bukan salah mu sepenuh nya Ella... tapi aku juga salah, coba aku gak minta kamu untuk berhenti... pasti gak akan gini kejadian nya." ucap Elis dengan senyum yang terpaksa.


Elis menatap Daniel yang tengah fokus pada setir kemudi, dan ruas jalan yang ia lalui.


'Maaf kan aku Daniel... aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan terbaik untuk mu. Anggap aja ini cara ku untuk menebus kesalahan ku hari ini.' batin Elis dengan wajah sendu.


'Maaf kan aku Tuan Daniel, coba aja aku gak bersikap cerobah. Gak langsung menelan apa yang di katakan Nona. Tuan gak akan mengalami kerugian sebesar ini.' batin Ella menatap Daniel dengan tatapan penuh penyesalan.


"Maaf Daniel!" seru Elis.


"Maaf Tuan!" seru Ella.


Ella dan Elis saling tatap, dengan perasaan canggung.


"Apa kamu merasakan hal yang sama, Ella?" tanya Elis dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku benar benar menyesal Nona. Aku mearsa bersalah sama Tuan." ucap Ella dengan wajah di tekuk, gak ada semangat nya.


Daniel menoleh ke arah ke dua nya. "Gak usah di pikirin lagi. Kalian cukup jangan ulangi lagi, jangan main main dengan nyawa. Mengerti?" titah Daniel dengan tegas pada ke dua nya.


"Iya." jawab Elis dengan menyandar kan punggung nya pada sandaran kursi, namun tatapan nya tertuju pada Daniel.


'Terbuat dari apa hati mu Daniel, kamu orang baik. Aku salah karena bersikap ketus dan gak jelas sama kamu! Apa kamu akan bersikap baik dan lembut pada semua wanita?' batin Elis.


'Terima kasih Tuan, coba aja aku bertemu Tuan lebih awal. Pasti akan aku kejer cinta Tuan sampai aku benar benar mendapat kan hati Tuan. Beruntung sekali Nona Elis, bisa memiliki Tuan sebagai suami nya.' batin Ella menatap Daniel dan Elis bergantian.


Kini di mobil hanya menyisakan Elis dan Daniel, setelah mereka mengantarkan Ella sampai di rumah nya dengan selamat.


"Sekarang waktu nya aku menemani mu meeting, restoran Jangan Pulang!" seru Daniel, mengelusss perut Elis yang masih rata, dengan satu tangan yang fokus pada setir kemudi.


"Iya, aku beruntung memiliki ku Daniel!" seru Elis dengan senyum merekah.


"Aku juga beruntung memiliki istri seperti mu!" ucap Daniel.


'Apa ini waktu nya untuk ku menerima pernikahan ini? Tanpa ada nya surat kontrak?' batin Elis dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Ayo turun!" seru Daniel setelah membukakan pintu mobil untuk Elis.


"Kita sudah sampai? Sejak kapan?" tanya Elis, gak nyadar kalo sudah berada di depan restoran Jangan Pulang.


"Baru saja. Ayo!" Daniel mengulurkan tangan nya pada Elis, menyambut nya ke luar dari mobil, satu tangan masih memegang pintu mobil agar tetap terbuka.


"Makasih sayang!" seru Elis, membiarkan Daniel merengkuh pinggang nya, dan terus berjalan memasuki restoran.


"Selamat datang di restoran Jangan Pulang!" sambut seorang pelayan restoran, melihat Elis dan Daniel memasuki restoran.


"Kami sudah reservasi atas nama Tuan Radi." ucap Daniel pada sang pelayan restoran.


"Silahkan ikuti saya, Tuan, Nona!" pelayan itu pun langsung mengarahkan ke dua nya.


"Selamat siang Nona, senang saya akhir nya bisa bertemu dengan Nona. Nona ini ternyata lebih cantik dari apa yang di bicarakan orang ya!" puji pak Radi, melihat kecantikan yang di miliki Elis, terlebih ia sedang hamil, aura kecantikan nya semakin terpancar.


"Terima kasih atas pujian bapak. Bisa kita langsung ke inti nya aja pak!" ucap Elis, gak mau membuang waktu, takut juga memancing kemarahan Daniel akibat cemburu.


"Maaf sebelum nya, bukan kah harus nya kita meeting bersama dengan asisten anda. Di mana asisten anda? Dan pria ini siapa nya anda?" tanya pak Radi, melihat Daniel yang duduk di samping Elis.


"Sebenar nya kami baru aja mengalami kecelakaan pak. Asisten saya masih syok, jadi gak bisa ikut meeting. Untuk saya membatalkan pertemuan juga gak mungkin, pasti bapak akan kecewa pada pihak saya... jadi lebih baik saya memundurkan aja waktu nya. Dan ini suami saya pak." jelas Elis panjang kali lebar, menjelaskan pada pria yang duduk di depan nya.


"Bapak bisa panggil saya Daniel." ucap Daniel, pada pria itu.


"Kalo begitu, bapak juga panggil saya Radi. Saya turut berduka atas apa yang menimpa kalian ya! Tapi kalo boleh tau, kecelakaan apa ya?" tanya Radi ingin tau.


"Maaf pak Radi, bisa kita langsung ke inti nya... inti dari di adakan nya meeting ini?" ucap Daniel dengan tegas.


"Owh maaf, saya terlalu kepo dan ingin tau. Terlebih pada anda yang akan menjadi relasi bisnis saya, Nona!" ujar Radi.


"Tidak masalah. Selama ada suami saya di sisi saya, pasti bisa terselesaikan kok pak." jelas Elis dengan menatap Daniel dengan kesungguhan.


Daniel tersenyum, melihat jemari nya yang ada di atas meja di genggammm Elis dengan erat.


"Pasangan yang sangat romantis ya kalian berdua ini! Pasti apa pun badai, kalian bisa hadapi bersama!" seru Radi dengan tatapan takjub pada ke dua nya.


Elis dan Radi memulai meeting, dengan Daniel yang diem dan sesekali membantu Elis, untuk menerangkan dan menjelaskan apa yang di inginkan Radi.


Hingga pembicaraan usai, baru juga makan bersama akan di mulai. Radi kedatangan seorang wanita muda dengan yangaan kiri yang di perban, dengan menyanggah pada leher nya.


"Sayang, apa aku terlambat?" tanya wanita muda itu pada Radi.


"Tangan mu kenapa sayang?" tanya Radi, melihat tangan kiri wanita nya di perban.


"Gak apa kok, cuma kecelakaan kecil aja, biasa lah orang kaya kalo banyak duit suka berbuat seenak nya, sayang!" rengek wanita itu dengan manja.


Radi berdiri hendak memperkenalkan wanita nya pada Elis dan Daniel. Icha berdiri dengan membelakangi rekan kerja sang pacar, mata nya seakan teralihkan jika sudah berhubungan dengan Radi.


"Sayang, kenalkan ini adalah Nona Elis dan suami nya Tuan Daniel." Radi memperkenalkan ke dua nya pada sang pacar, Icha.


"Elis!" Elis menyerukan nama nya, membalas uluran tangan Icha.


"Icha!" Icha mengulur kan tangan nya di depan Daniel, namun Daniel tidak membalas uluran tangan nya, membuat Icha merasa malu dan menarik kembali tangan kanan nya.


'Tuan ini bukan nya yang tadi ketemu di rumah sakit? Jadi dia relasi Radi? Aku harus tau nih, lebih kaya dia atau lebih kaya Radi?' batin Icha dengan senyum licik nya.


"Maaf ya, suami ku memang suka begitu sama orang yang baru ia temui." ucap Elis dengan gak enak hati.


"Itu bagus dong Nona, pria yang tidak mudah mengulurkan tangan pada wanita lain... apa lagi wanita yang baru di temui nya." sindir Radi dengan menahan kesal pada Icha.


Elis, Daniel, Radi dan Icha makan siang bersama. Sesekali Icha mencuri pandang Daniel, ia juga tidak sungkan untuk mencari perhatian Daniel.


Tranggg.


Icha dengan sengaja menjatuhkan sendok milik nya ke lantai, lalu kaki nya dengan sengaja menendang kecil ke arah dekat kaki Daniel.


"Upsss maaf, sendok ku jatuh! Bisa Tuan Daniel tolong bantu aku ambilkan?" pinta Icha dengan mengerlingkan mata nya pada Daniel.


"Apa yang kamu lakukan, Icha?" tanya Radi, menggenggammm pergelangan tangan Icha.


"Apa sih sayang! Aku gak ngapa ngapain kok!" kilah Icha dengan wajah gak bersalah.


Bukan nya mengambilkan, Daniel mengacungkan tangan kanan nya ke atas.


"Pelayan!" seru Daniel.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan pria yang kini berdiri di samping Daniel.


...💖💖💖...


Bersambung...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2