
...💖💖💖...
Hap.
Daniel menahan kepalan tangan Wiliam, yang hendak melayangkan kembali pukulan di wajah mulus Daniel sebelah kiri.
Maid yang ikut bersama dengan Daniel langsung menepuk tangan, memanggil penjaga yang bertugas di depan pos.
Pok pok pok.
"Pak, tolong pak!" seru maid ke arah penjaga, mereka berdua langsung berlari menghampiri maid.
"Kau harus tau batasan mu, Tuan Wiliam yang terhormat!" ucap Daniel dengan sinis.
"Kau yang harus tau batasan mu, supir! Ingat status mu yang hanya sebatas supir. Dan kau bukan apa apa di mata Elis!" Wiliam kembali menyerang Daniel dengan membabi buta.
Sementara Daniel bertahan dan menghindar dari serangan yang di arahkan Wiliam.
Bugh bag big bugh tak.
Sreek.
Bugh.
Daniel menarik lengan Wiliam, membuat pria itu berbalik membelakangi Daniel dengan ke dua tangan yang di tahan Daniel di belakang punggung Wiliam.
"Tuan!" seru penjaga yang berniat membantu Daniel.
"Kau lihat, mereka pasti akan mendepak mu dari rumah ini!" Wiliam berkata dengan sinis.
Wiliam sudah mengira jika penjaga akan membelanya. Membantu Wiliam untuk menyingkirkan Daniel yang menghalangi langkahnya untuk menemui Elis.
"Oh ya? Jadi begitu pemikiran mu, Tuan? Kau lihat dan buktikan lah!" ujar Daniel dengan melepaskan tangannya dari lengan Wiliam yang ia tahan, lalu di dorongnya tubuh Wiliam.
Wiliam berdiri dengan mengamati tangannya yang tadi di cekal Daniel, ia juga menyapu sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Lalu Wiliam berkata dengan angkuhnya pada penjaga.
__ADS_1
"Kalian tunggu apa lagi? Cepat singkirkan supir ini dari hadapan ku! Beraninya dia menghalangi ku untuk bertemu dengan Elis!"
Daniel memberikan perintah pada penjaga dengan gerakan kepalanya, yang di balas anggukan kepala.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat usir supir sialannn itu!" titah Wiliam dengan wajah panik saat ke dua penjaga memegangi tangan kanan dan kirinya.
"Seharusnya Tuan sadar, sedang berhadapan dengan siapa!" gerutu pengawal.
Ke dua pengawal menarik paksaaa Wiliam dengan kasar dari depan pintu besar yang menjulang tinggi. Wiliam terus memberontak, meminta penjaga melepaskan, cacian dan makin terlontar dari bibirnya untuk Daniel.
"Apa apaan kalian ini! Yang harusnya kalian usir itu dia! Dia hanya supir di rumah ini! Hei kalian tuliii, tidak dengar aku bicara dengan kalian!" ucap Wiliam dengan suara yang naik satu oktaf.
"Jaga bicara anda Tuan, Tuan Daniel adalah calon suami Nona Elis. Bukan hanya sekedar seorang supir yang Tuan pikirkan." terang salah seorang pengawal.
"Jika di bandingkan dengan perusahaan keluarga Tuan Wiliam, aku rasa Tuan Wiliam tidak akan bisa menyaingi Tuan Daniel." ujar penjaga satunya lagi.
"Apa maksud kalian? Daniel selama ini bukan supir? Bukan orang biasa?" tanya Wiliam dengan keterkejutannya.
Tubuh Wiliam di hempaskan begitu saja, saat sudah berada di depan mobilnya yang terparkir dengan cantik di parkiran.
Wiliam meninggalkan rumah megah itu dengan perasaan kesal dan tidak habis pikir. Sementara tidak jauh dari gerbang rumah Sadiki, seringai licik terbit di bibir manis sang wanita.
"Aku kan sudah memperingati mu, Wiliam! Harusnya kau menurut pada ku!" ucap Stefani, ia melajukan mobilnya tidak lama mobil Wiliam ke luar dari gerbang.
Devano berdiri di depan pintu, menatap tajam punggung Wiliam yang tengah di tarik paksaaa oleh ke dua penjaga.
"Apa sesulit itu, menyingkirkan satu orang bernama Wiliam, dari rumah ini Daniel?" tanya Devano dengan suara datar.
"Bagi ku, menyingkirkan satu orang Wiliam tidak lah sulit, pah!" Daniel menghampiri Devano, tangannya menggandeng bahu pria tua yang tidak lain adalah papanya.
Ke duanya masuk kembali ke dalam rumah megah bak istana, milik keluarga Brian. Pesta kecil yang di buat Brian dan Devano, yang hanya di hadiri mereka berempat.
"Ingat Daniel, bagaimana pun caranya kau harus buat Elis menjadi istri mu. Papa tidak ingin wanita sebaik Elis, jatuh ke tangan pria hidung belang seperti Wiliam." ucap Devano dengan mewanti wanti sang putra.
"Papa tenang saja, siapa sih pria yang bisa tahan dengan kelakuan manja Elis selama ini?" tanya Daniel dengan alis naik turun.
__ADS_1
"Cih segitu bangga kau ini! Ingat, di luar sana masih banyak pria hidung belang, pria licik yang berusaha mendapatkan hati Elis! Apa lagi kau tahu, Elis pewaris tunggal perusahaan Sadiki Crop." terang Devano.
"Aku tau itu, pah! Beruntungnya papa, karena aku mewarisi sifat papa yang setia pada mama!" ucap Daniel dengan bangga.
"Hei kalian berdua! Jangan bicara terus! Cepat sini, kita nikmati malam pertunangan putra putri kita ini!" Brian melambaikan tangannya, mengajak Devano dan Daniel untuk segera kembali bergabung dengannya.
Elis mengerucutkan bibirnya, menatap potongan daging yang ada di wadah, dan akan di jadikan barberkiyu.
"Pesta mana seru, jika hanya ada 4 orang yang menghadirinya." Elis meraih hapenya yang ada di dalam tas sling bagnya.
Dari samping tangan kiri Daniel merengkuh pinggang ramping Elis, merekatttkan tubuh gadis itu padanya. "Apa yang akan kau lakukan sayang, dengan hape mu itu?" tanya Daniel dengan suara berat di telinga dan leher Elis.
Elis menggeliet, hembusan nafas hangat menyeruak seiring Daniel yang terus bicara dan meniupkan nafasnya di leher jenjang Elis.
"Daniel, singkirkan tangan mu! Aku mau menghubungi Erik dan yang lain, memintanya datang ke sini. Sayangkan, kita berpesta tapi tidak mengundangnya!" ucap Elis dengan manja, tangannya menempelkan benda pipih di telinganya.
Tanpa menyingkirkan tangan kirinya dari pinggang ramping Elis, Daniel melakukan hal yang sama dengan Elis. Menghubungi beberapa teman dekatnya lewat benda pipihnya.
"Ehem begitu ya, baik lah. Aku juga akan menghubungi beberapa teman dekat, sekalian kita umumkan, jika kau hanya milik ku! Milik ku seorang!"
Dengan tatapan bahagia, Brian tunjukkan saat melihat Elis dan Daniel, lalu mengfokuskan pandangannya pada Devano yang duduk di sebelahnya.
"Apa tadi Wiliam membuat masalah lagi?" tanya Brian.
"Seperti tebakan mu, Wiliam berusaha masuk ke dalam. Namun di cegah Daniel dengan bantuan ke dua penjaga." terang Devano.
"Apa wanita yang di ajak bekerja sama dengan Daniel, tidak melakukan tugasnya dengan baik?" tanya Brian dengan penuh selidik.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...