
...💖💖💖...
Ceklek.
"Selamat siang pak Daniel, kali ini anda membawa siapa lagi untuk mengunjungi Saras?" suara seorang wanita menyambut Daniel dengan hangat.
Elis menjauhkan wajahnya dari dada bidang Daniel. "Siapa lagi itu Saras?" tanyanya pada Daniel.
"Kau bisa tanyakan langsung pada dokter Embun." ucap Daniel setelah mendudukkan Elis di kursi yang terdapat di depan meja dokter muda berhijab itu.
"Ihs memang siapa yang membawa ku ke sini! Dasar pria aneh! Gila kau Daniel!" gerutu Elis dengan menatap malas Daniel.
Embun melihat Daniel dan wanita yang bersamanya secara bergantian. "Jadi kalian sedang bertengkar? Lebih baik selesaikan dulu masalah kalian berdua, baru kembali lagi ke sini! Waktu ku akan terbuang percuma jika hanya menyaksikan pertengkaran kalian!" ucap Embun dengan wajah datar.
"Wah wah wah to the poin sekali kau bicara pada teman mu ini, dokter." Daniel menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki.
Embun melototkan matanya pada Daniel, "Aku serius Daniel!" ucapnya tegas.
"Ihs dengarkan aku, calon istri ku ini belum yakin untuk meninggalkan seorang pria yang sudah jelas jelas mencampakkannya di malam pertunangan mereka." terang Daniel.
Elis mencubit dengan gemas paha Daniel, membuat pria itu menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang menahan sakit karena cubitan Elis.
"Makanya jangan ember mulut mu!" ketus Elis.
Embun menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ke duanya. "Ehem. Bisa kau perlihatkan aku foto pria itu, Nona?" tanya Embun dengan ramah.
"Tunggu dulu, aku masih menyimpat fotonya di hape ku." cicit Elis dengan mencari cari cari tasnya.
"Foto mantan masih di simpan!" sungut Daniel.
"Daniel, tas ku ada di dalam mobil!"
"Langsung saja lah, dokter. Bagaimana dengan keadaan Saras? Apa keadaannya sudah lebih membaik atau tambah buruk?" tanya Daniel pada intinya.
"Sejauh ini mulai ada kemajuan, tapi masih harus tetap di kontrol emosinya, Nona Saras masih belum bisa mendengar kabar yang mengejutkan, karena itu akan berdampak buruk pada mentalnya kembali." ujar dokter Embun.
"Bisakan dok, aku membawa calon istri ku untuk melihatnya? Dari jauh pun tidak masalah." terang Daniel.
"Memangnya siapa sih Saras itu? Apa hubungannya dengan Wiliam?" cecar Elis ingin tahu.
__ADS_1
Dari pintu yang terbuka sedikit, Elis dan Daniel memperhatikan seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan memangku sebuah boneka, tampak melihat ke luar jendela kamarnya.
"Siapa wanita itu?" tanya Elis.
"Salah satu wanita yang menjadi korban Wiliam Smith." ucap Daniel datar.
"Korban apa? Kenapa bisa sampe wanita itu masuk sini?"
"Wiliam menghamilinya, namun saat Saras meminta Wiliam untuk menikahinya, Wiliam menolak. Ia justru menyarankan Saras untuk menggugurkan kandungannya hingga ia berakhir di sini." terang Daniel.
Suara isakan ke luar dari bibir Elis. "Apa aku bisa percaya dengan perkataan mu, Daniel? Kenapa Wiliam jahat sekali padanya?"
"Aku tidak suka berbohong, Elis!"
"Tidak suka berbohong? Tapi kenapa kau membohongi ku akan status mu hem!" pertanyaan menohok meluncur bebas dari bibir Elis, ia menghapus air mata di pipinya dengan kasar.
"Itu beda lagi sayang! Aku hanya ingin terus bersama mu! Mengikuti mu! Perjuangan cinta ku untuk memenangkan hati mu!" Daniel melingkarkan tangannya di perut Elis, membuat punggung Elis menempal pada punggung Daniel.
"Ehem, kalian sedang apa di sini?" suara yang sangat di kenal Elis, membuat ke duanya berbalik badan ke belakang, memastikan wanita yang bertanya pada mereka.
"Stefani, ada perlu apa kau di rumah sakit ini?" bukannya menjawab, Elis justru bertanya.
"Tebakan mu benar! Aku hanya ingin calon istri ku mengetahui rahasia besar Wiliam!" Daniel menggenggammm jemari Elis.
"Apa kau ingin melihatnya? Bicara dengannya?" Stefani menunjuk ke arah wanita yang tadi di perhatikan Elis dan Daniel.
"Apa boleh? Tapi siapa Saras? Apa kau juga mengenalnya?" cecar Elis.
"Dia adik sepupu ku, salah satu korban rayuan, kebejatan Wiliam." Stefani melangkah masuk ke dalam ruang rawat Saras di ikuti Elis dan Daniel.
Elis tampak memikirkan pengakuan Stefani, aku tidak tahu Stefani memiliki adik sepupu Saras. Apa lagi yang tidak aku ketahui dari Wiliam? Kenapa aku merasa Stefani dan Daniel tau banyak akan sifat Wiliam?
Wajah senang di perlihatkan Saras saat melihat kedatangan Stefani.
"Kaka? Kau baru datang? Di mana pak Will? Lihat ini, sejak tadi Sari menangis terus, ia merindukan papanya ka! Cepat hubungi pak Will, minta ia untuk menjenguk ku dan Sari!" rengek Saras layaknya anak kecil yang merengek minta di belikan mainan pada orang tuanya.
"Maaf ya Saras, pak Will akan ke sini lain waktu, ia masih sibuk dengan pekerjaannya!" Stefani mengelusss lembut rambut adik sepupunya itu, tidak ada kesan menyebalkan dari Stefani, yang ada hanya sifatnya yang dewasa dan penuh kasih sayang.
Wajah kecewa nampak di perlihatkan Saras, ke dua matanya yang teduh menatap Elis dan Daniel secara bergantian. Seperkian detik wajah itu kembali menunjukkan rasa bahagianya dengan sesekali bertepuk tangan.
__ADS_1
"Kaka cantik, pasti istrinya ka Daniel ya? Waaaah aku juga kaka cantik, sebentar lagi aku jadi istrinya pak Will, dan putri ku akan memiliki ayah. Ahahahha iya kan kaka Stef!" ucap Saras dengan memeluk erat boneka yang ada di pangkuannya.
Saras melupakan keberadaan 3 orang itu, ia asik berbicara sendiri dengan tangannya yang sesekali mengelusss wajah dan kepala boneka yang ia anggap adalah Sari.
"Sayang, sabar ya... nanti papa Will akan membawa kita pulang! Nanti mama akan menikah, pakai gaun pengantin yang indah, pasti mama cantik, mama akan terlihat cantik, sayang jangan nangis ya!"
Deg.
Hati Elis seperti tertampar melihat tingkah Saras. Apa yang sudah terjadi pada Saras? Apa mungkin Wiliam tega melakukan ini pada Saras?
Stefani menceritakan segalanya hingga berakhirnya Saras di rumah sakit waras.
Flashback Saras.
Sore hari di bawah teriknya matahari, dengan begron pantai, desir ombak yang bergulung, angin sepoi yang menerpa helaian rambut indah yang menjuntai dari seorang model yang tengah berpose mengikuti arahan sang fotografer.
Dering telpon terus menjerit di hape Stefani yang mengusik fokus dari para kru yang terlibat di dalam pemotretan itu sendiri.
Dring dring dring dring.
"Lebih baik kau jawab dulu panggilan mu itu, mungkin saja penting!" ucap fotografer dengan membuang nafasnya dengan kasar.
"Kau ini kenapa menelpon ku? Gak tau apa aku ini lagi ada pemotretan!" ucap Stefani dengan kesal setelah menjawab panggilan teleponnya.
Suara Saras langsung terdengar di sambungan telpon Stefani. [ "Kaka aku yang tercantik, tersayang, model terkenal, nanti malam jemput lah adik sepupu mu ini ya! Hari ini aku harus lembur ka. Pekerjaan ku sangat banyak, dan semuanya harus selesai malam ini juga. Bisa kan kaka menjemput ku?" ]
"Ihs kau ini menyusahkan saja, bilang bos mu! Kalo nyuruh lembur itu harusnya tanggung jawab buat anterin pulang karyawan! Gimana sih! Merepotkan ku saja!" omel Stefani.
[ "Iya iya, nanti aku akan bilang. Aku tunggu kaka sampai datang ya! Jangan sampai telat ya ka! Muach aku menyayangi mu kaka model ku!" ] dengan cerianya Saras memutuskan sambungan teleponnya.
"Dasar bocah pandai merayu! Baru tau apa kalo aku ini model cantik, model terkenal di kota ini!" sungut Stefani.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...