Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Mencari alasan


__ADS_3

...💖💖💖...


"Biar saja sakit, nyeri, perih, aku yang rasa. Bukan kau! Jadi, apa perduli mu! Cepat turunkan aku!" rengek Elis, dengan ke dua kaki nya yang terus bergerak gerak.


"Astaga Elis, tenang lah sedikit!" pinta Daniel.


"Aku tidak akan tenang sebelum kau tu-- mmmppl!"


Bibir Daniel membungkam Elis yang terus mengoceh dengan bibir nya.


Elis memukulll dada bidang Daniel, bukan Daniel jika harus menyerah, Daniel semakin memperdalam ciuman nya, dengan tatapan tajam.


Kreeek.


Elis mencubit dada bidang Daniel dengan jemari nya. Daniel hanya menikmati cubitan Elis, yang seakan menggelitik tubuh nya.


Elis tampak ngos ngosan, dengan tatapan yang memburu. 'Daniel sialannn, bisa bisa nya kau bersikap seperti ini pada ku! Pria suka tebar pesona! Ihhhhsss aku membenci mu!'


Daniel melangkah ke luar dari lift, dengan sesekali melirik Elis yang sejak tadi menunduk kan kepala nya, ke dua tangan nya kini mengalung di leher Daniel.


'Apa aku ini benar benar mencintai nya ya? Bagaimana jika aku hamil beneran, seperti nya aku harus memeriksakan diri ke dokter kandungan. Tapi harus tanpa Daniel. Jika aku membawa serta Daniel, yang ada Daniel akan tau... jika selama ini aku mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.' batin Elis, dengan ekor mata yang sesekali melirik Daniel, ada perasaan bersalah yang bersarang dalam relung hati nya.


"Terima kasih!" ucap Elis singkat, saat Daniel memasang kan sabuk pengaman pada tubuh nya.


Daniel hanya mengelusss puncak kepala Elis dengan seutas senyum di bibir nya, tanpa sepatah kata pun.


Daniel mulai melajukan kemudi nya, meninggalkan pelataran parkir gedung pencakar langit.


"Jangan membenci ku! Aku minta maaf, apa yang membuat mu tiba tiba marah pada ku tadi, hem?" tanya Daniel dengan lembut. Melirik sekilas wajah Elis yang kini masam.


Elis berkata dengan menggebu gebu, serta meninggikan suara nya. Mencari cari alasan, dengan dalih kontrak pernikahan yang sudah mereka sepakati.


"Masih berani bertanya, harus nya kau itu sadar, kau itu sudah menikah. Kau terikat kontrak pernikahan dengan ku! Bisa bisa nya... kau berduaan dengan wanita lain di saat aku tidak ada, itu melanggar kontrak, Daniel!"


Daniel menyunggingkan senyum nya. 'Elis cemburu, dia hanya mencari alasan hahaha, aku tidak salah, Elis sudah mencintai ku.' batin Daniel penuh kemenangan.


"Terus apa lagi? Apa masih ada lagi kesalahan yang aku lakukan?" tanya Daniel dengan menggoda, memainkan alis nya naik turun.


Elis menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada. Niat hati ingin marah lagi, siap mengeluarkan jurus bibir bawel nya.


"Kau itu!" Elis di buat terpaku, dengan senyum Daniel yang tampak menggoda.


"Kau apa? Kau mencintai ku?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Iya karena aku mencintai mu, aku gak rela melihat mu berduaan dengan wanita lain!" cerocos Elis, tanpa sadar mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak tadi. Saat melihat Daniel bersama dengan Weny.


"Aku tidak berdua sayang, ada Kevin. Kevin ada di antara aku, Weny dan Kevin. Lalu datang kau. Kita jadi berempat kan?" terang Daniel, memberikan penjelasan pada Elis dengan sabar tanpa meninggikan suara nya.


"I- iya sih kalian bertiga, tapi aku tidak suka. Melihat mu dekat dengan nya! Dia menaruh harapan pada mu, Daniel!" keluh Elis dengan manja, bibir nya mengerucut.


"Tapi aku tidak akan pernah tergoda, mau berapa banyak wanita yang menggoda. Aku hanya akan tergoda dengan mu, satu wanita, yang menggoyahkan iman ku." terang Daniel, dengan gerakan bibir yang mengecup Elis dari jauh.


"Sudah lah, aku lapar! Marah marah membuat ku lapar dan ingin makan!" gerutu Elis.


"Iya, ini kita mau makan. Apa kita jadi makan siang bersama dengan papa Brian?" ledek Daniel.


"Kau mengejek ku?" Elis menatap tajam Daniel.


"Tidak sayang!"


"Stop! Berhenti berhenti, kata ku berhenti Daniel!" pinta Elis dengan tangan yang memukulll mukulll lengan Daniel. Namun tatapan nya mengarah ke arah luar jendela.


"Ia ini aku berhenti sayang! Kita mau apa di sini? Kita kan mau makan siang!" Daniel menepikan mobil nya ke bahu jalan.


"Kita makan siang di sini!" ucap Elis, sebelum ke luar dari mobil.


Ceklek.


Daniel menggeleng kan kepala nya, melihat Elis yang tengah menyantap jajanan pinggir jalan dengan lahap.


Tangan kanan Elis memegang plastik yang berisi kan cilung, sedangkan tangan kanan nya mengarahkan cilung ke mulut nya.


"Neng, ini bakso tusuk nya!" seru si penjual bakso tusuk, mengulurkan tangan kanan nya yang memegang plastik, berisikan bakso dengan saus pedas, serta kayu panjang alias tusuk sate untuk mencolok bakso nya.


"Ini neng, sosis bakar pake mayones tanpa kecap nya neng!" seru penjual lain nya.


"Neng, siomay nya mau pake pare atau gak?"


"Es kelapa muda nya, neng!"


"Daniel! Tolong aku!" rengek Elis, dengan ke dua tangan yang memegang aneka jajanan, yang berbeda jenis dalam setiap kantong plastik.


"Apa kau akan menghabiskan ini semua, sayang?" tanya Daniel, dengan sulit menelan saliva nya, melihat banyak nya jajanan pinggir jalan yang di beli Elis.


Elis mengangguk kan kepala nya dengan cepat, lalu dengan senyum yang merekah, berganti menjadi gelengan kepala.


Di bawah rindang nya pohon buah Bintaro. Ke dua nya duduk dengan menggunakan kursi plastik, kursi yang di sediakan oleh penjual mie ayam bakso.

__ADS_1


"Kenapa? Kau mau mencoba nya? Ini enak kok!" ujar Daniel, mana kala diri nya memergoki Elis yang menoleh ke arah mangkok yang tengah ia pegang. Menikmati mie ayam tanpa sambal dan hanya sedikit saus.


Elis menggelengkan kepala nya dengan mantap. "Apa rasa nya? Gak pedas!" cibir Elis.


"Enak sekali! Kau makan sambal atau makan bakso? Itu banyak sekali lo sambal nya, apa gak sakit perut, sayang?" tanya Daniel.


Elis menatap mangkuk yang ada di tangan kiri nya. Sementara tangan kanan nya, sibuk menyuapkan bakso ke dalam mulut nya.


"Gak pedas kok, ini seger malah! Kamu jagan cobain ya! Nanti kamu yang bisa sakit perut, yank!" ujar Elis dengan sesekali hi'ham karena kepedasan, keringat pun mengalir dari kening nya.


Dalam pandangan Elis, kuah bakso yang Elis pesan, tampak segar dengan kuah berwarna merah, dengan banyak nya biji cabe yang berenang di sana.


Setelah puas menikmati makan siang nya. Elis dan Daniel kembali masuk ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah mereka.


Elis yang tengah santai, dengan punggung menyandar pada sandaran kursi yang ia duduki, tangan nya mengelus perut nya yang masih rata.


Elis membuang nafas nya dengan lega. "Kenyang sekali rasa nya perut ku ini, apa kau tau Daniel! Itu kali pertama aku makan sebanyak ini." ucap Elis dengan bersemangat.


"Benar kah? Bearti hari ini rekor untuk mu ya, kau banyak sekali makan hari ini!" ujar Daniel, dengan tatapan yang sulit di percaya.


"Rekor aku makan banyak, tapi kau jangan bilang bialng papa ya! Papa melarang ku makan ini itu! Hanya dengan mu saja, aku bebas makan apa pun yang aku mau." ujar Elis dengan mata berbinar, ada rasa senang yang terpancar dari wajah nya.


"Apa pun yang kau ingin kan, pasti akan aku turuti. Nyawa ku pun, akan aku berikan untuk mu!" ujar Daniel dengan serius.


"Bicara apa sih kau ini! Aku gak suka ya, kamu ngomong kaya gitu, lebeh!" gerutu Elis, membuang pandangan nya pada jendela mobil, menatap jalan yang mereka lalui.


Elis mengerutkan kening nya, mau tidak mau ia menoleh, menatap Daniel dengan tatapan yang menyelidik.


"Ini kan, kita gak balik kantor?" tanya Elis, saat mengenali jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju rumah baru mereka.


"Apa masih perlu untuk ku menjawab nya?" ledek Daniel.


"Ihsss kau ini!"


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2