Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Seliar dan sebar bar


__ADS_3

...💖💖💖...


Cici menelan saliva nya, saat menyadari si mbok yang tidak lagi mengekori nya.


Bruk.


Cici menjatuhkan bawaan yang ia tenteng dengan ke dua tangan nya ke lantai. Lalu menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Mboooooook!" teriak Cici.


"Sssttttt jangan berteriak, ini rumah sakit. Banyak orang sakit yang di rwat di dalam sana." tegur seseorang yang berjalan di belakang Cici.


"Emang gue pikirin!" sungut Cici dengan menghentakkan kaki nya ke lantai.


Si mbok nampak kocar kacir berlari ke arah Cici, dengan nafas yang ngos ngosan lalu duduk kembali di kursi stainlis yang ada di samping Cici.


"Ada apa sih ndok! Si mbok denger suara kamu teriak toh yo!" ucap si mbok.


"Mbok dari mana aja? Aku pikir mbok dari tadi jalan di belakang aku! Aku udah kaya orang gila tau gak, ngomong sendiri!" keluh Cici yang kini ikut mendudukan diri nya di sebelah si mbok.


Si mbok menyeka keringat yang ada di kening nya dengan lengan baju nya. "Si mbok tadi berhenti dulu di kursi yang ada di balik dinding itu! Mbok yo cape lah, jalan terus dari tadi! Kamu ndak bantuin si mbok ngerjain pekerjaan rumah, ya mbok cape toh!"


"Ihs mbok, nyusain aja sih! Nanti kalo aku udah nikah sama kang Daniel, mbok gak perlu cape cape kerja, bakal aku suruh kang Daniel buat cari asisten rumah tangga baru. Biar mbok ungkang ungkang kaki aja toh di rumah!" usul Cici, tangan nya terulur mengelusss punggung sang ibu.


Si mbok menepis nya. "Mimpi to yo jangan ketinggian toh ndok! Inget kita itu siapa! Harus sadar diri dengan posisi kita ini!" si mbok berlalu meninggalkan putri nya.


"Ihs mbok mah kalo di bilang suka gitu, aku serius mbok. Aku gak lagi mimpi, wong dalam mimpi aku aja nikah toh sama kang Daniel!" ucap Cici dengan manja, kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar Daniel di rawat.


Ceklek.


"Akaaaang, ya ampun kenapa bisa begini akang? Astagaaa kemana atuh si sundel kota itu kang? Kenapa sundel kota gak ada di sini? Dia teh pasti gak mau rawat akang kan?" cecar Cici, langsung menundukkan diri nya di tepian ranjang rawat, tangan nya menyentuh tubuh Daniel tanpa sungkan.


"Cici, atuh kamu teh jangan begitu gelis. Biarin atuh aden Daniel istirahat. Sok atuh kemari, bantu mbok tata ini di meja dan lemari pendingin." pinta si mbok, menyadari Daniel yang tidak nyaman dengan keberadaan Cici di dekat nya.


"Aihs si mbok mah ganggu week kerjaan nya, akang Daniel teh malah seneng atuh mbok, Cici pan cinta sama akang. Biar bae Cici yang rawat akang selama akang di mari tah!" ujar Cici tanpa ragu, menatap Daniel dengan tatapan memohon.


Daniel terus menggerakkan tangan nya, bahkan tidak segan menyingkirkan tangan Cici yang mencoba meraba wajah nya.


Di kuar dugaan Cici dan si mbok, Daniel mengusir Cici dengan suara penuh penekan, bahkan wajah nya tampak tidak bersahabat.


"Pergi Ci!!! Jangan pernah muncul di hadapan ku, Ci! Aku bilang pergi!!!"

__ADS_1


Cici tersentak kaget, langsung turun dari tempat nya duduk. "Akang jahat! Akang teh gak ngertiin perasaan Cici!" bulir bening seakan tidak bisa lagi terbendung, merangsek menerobos pertahanan pelupuk mata Cici.


Cici mengumpat dengan terisak. "Cici teh cinta sama akan, tapi akan gak pernah ngertiin Cici! Akang jahat!" ucap Cici, menyeka dengan kasar bulir bening yang mengalir di pipi nya dengan kasar, lalu berlari ke luar dari ruang rawat Daniel.


Bugh.


Brak.


Baru juga beberapa langkah dari luar ruang rawat Daniel, Cici kini menubruk Elis, hingga ke dua wanita itu jatuh terduduk di buat nya.


"Astagaaa apa lagi sih ini! Apes banget gue hari ini!" keluh Elis, mengelusss bokonggg nya yang mencium lantai rumah sakit dengan cukup keras.


Cici menyipitkan ke dua mata nya, menatap dengan tajam wanita yang ada di hadapan nya.


"Ini semua teh gara gara kamu, sundel kota, demit kota! Kalo gak ada kamu, akang Daniel teh pasti nya bakal nikah sama saya!" ucap Cici dengan penuh kemarahan.


Rasa sakit di bokonggg nya tidak lagi cici perdulikan, yang ada hanya rasa sakit di hati nya, secara tidak langsung Daniel menolak cinta yang di berikan Cici. Daniel lebih membela wanita kota yang sekarang menjadi istri nya.


Dengan nafas yang memburu, Cici beranjak dari posisi nya dan bertumpu pada ke dua lutut nya, di luar dugaan Elis. Wanita yang tengah cemburu itu menyerang Elis, membuat Elis yang tidak siap pun terjerembab, dengan bar bar nya Cici menaiki tubuh Elis lalu mencekikkk wanita yang kini ada di bawah nya.


"Biar mati kamu teh sundel kota, saya teh gak ikhlas pisan akang Daniel jadi milik kamu!" ucap Cici dengan tersenyum tipis.


"Le- lepas, ka- kau bi- bisa mem- bu- nuh ku!" Elis berusaha melepaskan tangan Cici dari leher nya.


"To- tolong!" Elis berusaha berteriak, ke dua kaki nya menendang angin.


Sayang nya lantai itu khusus VVIP, tidak banyak pasien yang di rawat di lantai itu. Pos penjagaan suster juga cukup jauh jarak nya.


Kurang ajar nih Cici, aku emang udah curiga sama sikap nya selama ini. Tapi aku gak nyangka sikap nya bisa seliar dan sebar bar ini, kalo gue gak bisa lepas dari nya, yang ada gue mati konyol. Dasar Daniel gila, bisa bisa nya ada cewek gila di dekat lo dan lo gak tau!


Kreeek.


Dengan keringat dingin, Elis berusaha menggapai rambut Cici dan menjambak nya.


"Awhhhh!" pekik Cici, merasakan sakit yang luar biasa, saat rambut panjang nya di jambakkk sekuat tenaga oleh Elis.


Cekikan di leher Elis pun mengendur. Berbarengan dengan si mbok yang langsung menahan Cici yang hendak kembali menyerang Elis.


"Emang kamu pikir kamu siapa heh! Bercermin dulu jika kau ingin di bilang pantas untuk Daniel!" ucap Elis dengan memegangi leher nya, ia berusaha untuk duduk.


"Anda baik baik saja, Nona?" tanya seorang suster yang kini membantu Elis untuk berdiri.

__ADS_1


"Gak apa sus, untung saja... kalian kenapa baru datang? Aku hampir mati karena gadis gila ini!" ucap Elis dengan menatap kesal Cici.


"Maaf Nona, tadi saya tidak melihat CCTV." ucap suster dengan cemas melihat keadaan Elis yang pucat.


"Kamu jangan keterlaluan, Ci! Nona gelis teh istri nya kang Daniel! Kamu teh bener bener nyak... udah hilang akal! Eling Ci, eling!" pinta si mbok, menatap putri semata wayang nya dengan tatapan iba.


Kini si mbok menatap ke arah Elis. "Non gelis gak apa apa kan? Gak ada yang luka kan?" tanya nya dengan khawatir.


"Mbok urus putri mbok! Aku gak mau melihat nya lagi!" ucap Elis. Aku kasihan sama si mbok, tapi mau bagaimana lagi. Daniel pasti setuju dengan ide ku.


"Pak tolong bawa Nona ini ke luar dari rumah sakit! Jangan biarkan Nona ini menginjakkan kaki nya ke rumah sakit ini lagi!" titah suster saat melihat scurity.


Daniel yang sudah lebih baik keadaan nya, langsung mendudukan diri nya begitu melihat Elis masuk ke dalam ruang rawat nya dengan di papah seorang suster.


"Kenapa dengan istri saya, sus?" tanya Daniel, kini menurunkan ke dua kaki dari atas ranjang.


"Ini semua karena wanita desa gila itu Daniel!" ucap Elis dengan ketus.


"Sus!" seru Daniel, meminta suster untuk menjelaskan nya.


Suster mendudukkan Elis di sofa, merawat memarrr yang ada di leher Elis dengan obat.


"Tadi di bilukan dekat ruang rawat Tuan, istri Tuan di serang oleh seorang gadis desa. Gadis itu tampak mengekik istri Tuan." jelas suster, mengatakan apa yang ia lihat.


Daniel mengayunkan ke dua kaki nya dengan lebar, membawa Elis ke dalam pelukan nya.


"Saya permisi Tuan, tugas saya sudah selesai." suster undur diri meninggalkan ruang rawat dengan pipi merona, aisshh pasangan romantis, pasti Tuan Daniel bakal meluttt bibir ranum Nona, bikin iri huaaaaa.


"Daniel, menyingkir dari ku. Apa kau juga sama seperti gadis gila itu? Tapi memang benar sih, kalo di pikir pikir kalian sama gila nya!" celetuk Elis dalam dekapan Danie.


Daniel melerai pelukan nya, menatap dalam sepasang mata indah Elis.


Tak.


"Awhhhh!" pekik Elis.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2