Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Papa kutuk


__ADS_3

...💖💖💖...


[ "Halo Brian! Kita punya durian runtuh sekarang!" ] seru papa Devano, saat sambungan terjawab di sebrang sana.


^^^"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti! Bicara lah dengan jelas!" umpat papa Brian yang gak jelas dengar nya.^^^


[ "Ah kau ini! Kau sedang di mana sekarang? Cepat ke sini, rumah putra putri kita!" ] ajak papa Devano, tanpa memperhatikan wajah putra dan menantu nya yang saling menatap dengan heran.


^^^"Aku sedang di jalan, nanti saja kita berkabar ya! Jalan macet nih, seperti nya sedang ada kerusuhan di depan jalan yang akan aku lewati."^^^


[ "Ah kau ini, kau di jalan mana? Kau mendengar aku kan, Brian! ] tanya papa Devano dengan senyum yang pudar sedikit.


^^^"Aku ---"^^^


...Tut tut tut tut...


Belum usai papa Brian mengatakan diri nya berada di mana, sambungan telpon nya langsung terputus.


Papa Devano membuang nafas kecewa, saat suara sang besan tidak terdengar lagi.


"Ah sialll, sedang apa sih papa mu itu nak! Sok sibuk sekali. Gak tau apa kalo papa ini mau memberikan kabar yang luar biasa untuk papa mu!" umpat papa Devano dengan jengkel.


"Sudah lah pah, jangan terus mengumpat. Papa ke sini mau apa sih? Mau menjenguk ku, atau mau bertemu dengan menantu kesayangan mu, pah?" tanya Daniel, gak mau ambil pusing.


Elis menyuapkan salad buah ke mulut Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana rasa nya? Enak kan?" tanya Elis, menatap Daniel penuh selidik.


"Sudah pasti enak, ini kali pertama kau membuat kan nya untuk ku!" ucap Daniel dengan mata berbinar, menerima suapan demi suapan buah yang sudah di potonggg Elis.


"Kalian sedang makan apa?" tanya papa Devano yang penasaran dan berjalan ke arah menantu dan putra nya, sofa panjang yang ada di dekat balkon.


"Salad buah pah! Ayo sini papa cicipi, enak loh!" Elis menawarkan papa mertua nya, menunjukkan salad buah yang ada dalam mangkuk besar ke arah nya.


Papa Devano menggelengkan kepala nya, "Yakin kalian... mau menghabiskan salad buah sebanyak itu berdua?" dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Siapa bilang berdua pah! Kan ada dede utun yang ikut memakan nya juga hehehe!" Elis terkekeh, mengelusss perut nya yang masih rata dengan tangan nya.


"Jaga kandungan mu ya nak! Omong omong, apa sudah bisa papa tahu jenis kelamin nya?" tanya papa dengan menepuk bahu sang menantu, Elis.


"Heh kau bocah, berani nya mentertawakan papa mu ini! Dosa kau, papa kutuk keturunan ya biar keturunan mu itu jauh lebih sukses dari mu!" papa Devano mengacungkan Daniel dengan jari telunjuk nya, dengan wajah marah.


Mengundang gelak tawa untuk Elis. "Ahahhahaha pah, papa mah bercanda ihs... aku baru dengar di kutuk jadi lebih sukses... di mana mana di kutuk jadi batu pah!" goda Elis setelah berhasil menghentikan tawa nya, tangan kanan nya menyeka bulir bening yang ke luar dari sudut mata nya karena tertawa.


"Iya ada, itu barusan papa yang mengutuk keturunan kalian. Biar kalian selalu hidup dalam kecukupan, jangan lupa dengan karyawan kalian, sejahterakan kehidupan mereka juga!" pesan papa Devano.


"Iya pah, sudah pasti itu!" ucap Daniel.


"Bagaimana dengan luka mu? Papa dengar kau berkelahi dengan Wiliam di kantor? Masalah kalian belum selesai?" cecar papa Devano, menyandarkan pinggang nya pada dinding pembatas balkon, menatap Daniel dengan penuh selidik.


Daniel mengambil alih mangkuk berisi salad buah dari pangkuan Elis, lalu tangan nya mengelusss pipi sang istri.

__ADS_1


"Sayang, tolong ya... ambilkan papa minum, papa pasti haus setelah mengutuk keturunan kita!" seru Daniel dengan tatapan memohon.


"Papa mau aku buatkan minum apa? Kopi, teh, sirup atau susu?" tawar Elis.


"Apa pun yang di buatkan menantu papa, pasti akan papa minum." jelas papa Devano, dengan senyum melengkung.


"Aku buatkan ya! Kau mau sekalian?" Elis beranjak, lalu menawarkan minum juga untuk Daniel.


"Apa aja boleh, sayang!" seru Daniel.


"Kalian ngobrol lah, biar aku buatkan minum dulu." Elis melangkah meninggalkan ke dua nya.


"Jadi, apa kau sudah menghabisiii pria itu? Pria yang bernama Wiliam?" tanya papa Devano, setelah memastikan pintu tertutup rapat, Elis sudah meninggal kan mereka berdua.


"Papa tenang aja!" seru Daniel dengan senyum kemenangan.


...💖💖💖...


Bersambung...


Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau 🤭🤭


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2