
...💖💖💖...
"Dasar bocah pandai merayu! Baru tau apa kalo aku ini model cantik, model terkenal di kota ini!" sungut Stefani.
Stefani terjebak kemacetan saat kembali ke kotanya, setelah melakukan pemotretan di pantai. Langit kala itu sudah mulai senja.
"Bisa terlambat aku sampai di tempat kerja Saras, apa aku minta tolong Wiliam aja buat anterin Saras pualng?" Stefani bermonolog sendiri.
Tin tin tin.
"Kenapa macet sekali sih!" gumamnya saat kendaraan beroda empat yang ia kemudikan hanya merayap pelan.
"Sebaiknya putar arah aja, Nona! Di pertigaan sana terjadi kecelakaan, membuat jalan untuk sementara di tutup, untuk menyingkirkan bangkai kendaraan yang membentang di jalan." terang kang parkir yang mengatur jalan.
Mau tidak mau, Stefani memutar jalan, mencari jalan alternatif meski jarak yang ia tempuh semakin jauh.
Stefani menghubungi seseorang lewat hape-nya.
"Hei kau calon pengantin, tolong bantu aku sekali ini saja. Kau antarkan lah adik ku pulang, kau ini seenaknya saja meminta karyawan untuk lembur! Menyusahkan ku tau gak!"
[ "Siapa yang sedang kau bicarakan, Stef?" ] tanya Daniel dari sebrang sana.
"Siapa lagi kalo bukan adik sepupu ku! Dia bekerja di tempat mu! Aku tidak mau tau, antarkan ia pulang sampai di rumah dengan selamat! Kau dengar itu!" Stefani langsung menutup panggialn telponnya dengan kesal.
Hingga awan gelap, mulai menghiasi langit yang mulai mendung.
Wiliam berjalan dengan sempoyongan, menyusuri lorong yang mulai padam lampu penerangnya.
"Bulan depan aku akan bertunangan dengan Elis. Wanita manja itu akan menyusahkan hidup ku saja, lihat saja... aku akan mengambil alih warisan mu, sayang! Semua akan menjadi milik ku, dan kau akan aku buang ahahaha." racau Wiliam dengan tangan yang mengibas bak mengusir anak ayam, dengan langkah yang ke kiri dan ke kanan.
Bugh.
Prang.
William yang limbung menyenggol tong sampah, membuat tong sampah jatuh ke lantai.
"Siapa lagi yang berani menaruh itu di sini! Mengganggu aku jalan saja!" rutuk Wiliam pada tong sampah.
Mata Wiliam tajam pada satu ruang dengan lampu yang menyala terang.
Kreek.
__ADS_1
Wiliam membuka pintu ruang kerja, dengan tubuh menyandar pada tiang pintu, Wiliam bertanya pada wanita yang tengah merapihkan meja kerjanya.
"Hei kau! Apa kau kenal dengan Stefani?" tanya Wiliam dengan berusaha membuat matanya tetap terbuka, mengenali anak buahnya Saras.
Saras menganggukkan kepalanya. "Iya dia kaka sepupu saya, pak!"
"Ayo ikut aku, aku yang akan mengantar mu pulang!" ajak Wiliam dengan gerakan kepalanya.
"Tidak pak, biar saya menunggu ka Stefani aja, saya sudah menghubunginya ko!" tolak Saras.
Wiliam menatap Saras dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan penuh nafsuuu, sesekali ia menyapu air liurnya yang tampak ke luar dari sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
Boleh juga, seksiii apa lagi pada gundukan kembarnya, tampak berisi, dan apa itu... daging tak bertulang yang ada di bokongnya!
Wiliam melangkahkan kakinya, dengan pasti kini ia berdiri di depan Saras.
Grap.
Wiliam menggenggammm erat lengan Saras, ia menatap lekat wajah Saras. Wanita ini cantik, kenapa aku baru tau jika aku memiliki karyawan secantik ini!
"Maaf pak, lepaskan tangan saya!" rasa takut mulai menyelimuti hati Saras, Saras mencoba melepaskan lengannya dari genggaman Wiliam.
Wiliam menyeringai dengan tataapn yang sulit di artikan. Melepaskan? Heh mana bisa sebelum aku menikmati mu.
Saras memalingkan wajahnya, pak Will mabuk, dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Tidak pak, lepaskan tangan saya pak. Pak... saya bisa menunggu kaka saya... bapak mabuk ya!" dengan sekuat tenaga Saras menolak Wiliam, mencoba melepaskan tangannya.
"Baik lah jika kau ingin aku melakukannya di sini! Aku turuti kemauan mu cantik hehehe!" Wiliam mengendurkan dasi yang melilit lehernya, tatapan memburu ia perlihatkan pada Saras.
"Bapak gila! Bapak ini sudah punya pacar, kalian sebentar lagi akan bertunangan!" Saras meraih tasnya yang ada di atas meja, dengan gerakan cepat ia mencoba meloloskan diri dari Wiliam yang mabuk.
Grap.
Brak.
Wiliam mencekal pergelangan tangan Saras, dengan sekali tarikan ia membuat Saras terpojok di dinding.
Deg deg deg.
Jantung Saras berpacu dengan cepat, perasaan semakin takut saat menghdapi bosnya yang mulai di luar kendali.
__ADS_1
"Bapak jangan macam macam ya! Aku bisa berteriak!" seru Saras dengan suara tercekat, tangannya mulai dingin dengan tatapan waspada dengan apa yang akan Wiliam lakukan padanya.
"Berteriak lah jika kau bisa! Kau tidak tahu siapa aku!"
Ke dua tangan Saras kini dalam kendali Wiliam, ia menekannya pada dinding setelah ia tarik ke atas kepala Saras.
"Aaakkh kau jahat, pak! Lepas, ingat dosa pak! Kau mau menikah!" Saras terus meronta, sementara Wiliam mulai menyusuri leher jenjang Saras dengan kecupan dan meninggalkan jejak kepemilikan di beberapa titik.
Saras terus menggeliat, menghindari serangan Wiliam.
"Akkkkhh ----"
Malam itu menjadi malam kelam untuk Saras. Wiliam membobol goa rapat dengan senjatanya secara kasar, jeritan dan rintihan Saras tidak ia perduliakan.
Beberapa jam kemudian.
"Alhamdulillah Non Stefani sudah kembali, ayo Non cepat masuk Non!" seru si mbok saat melihat Stefani memasuki rumah, setelah memarkir mobilnya di garasi.
"Ada apa mbok? Saras sudah kembali kan? Di antar bosnya kan?" cecar Stefani, mengikuti langkah kaki si mbok.
"Iya Non, tapi Non Saras kacau Non... benar benar kacau Non!" si mbok nampak panik untuk menjelaskan kondisi Saras.
Belum lagi Stefani bertanya, ia sudah di kejutkan dengan suara teriakan Saras dari dalam kamarnya.
"Akkkhhh jangan sentuh saya, pergi, pergi kamu! Pergi! Pak Will jahat! Pergi!"
Flashback and.
"Lalu apa yang terjadi pada Saras hingga bisa sampai seperti sekarang ini kondisinya? Bukannya kau bersama dengan Wiliam menghianati ku?" cecar Elis dengan sedikit perasaan tidak percaya.
"Heh kau pikir aku benar benar cinta pada Wiliam? Kau salah besar Elis! Dulu memang aku memiliki rasa pada Wiliam, tapi kau lihat kan, betapa bejatnya dia pada adik sepupu ku!" ucap Stefani dengan geram, ke dua tangannya mengepal, melihat adik sepupunya jadi gila karena Wiliam.
"Lalu kenapa di malam pertunangan ku, kau bersamanya?" tanya Elis.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...