Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Menguji


__ADS_3

...💖💖💖...


Elis mencondongkan tubuh nya, mendekatkan wajah nya pada wajah Daniel.


"Seperti nya aku masih harus memeriksakan pasien lain nya!" dokter Herman melangkah meninggalkan ke dua nya.


Cup.


Elis mendaratkan kecupan singkat di bibir Daniel.


"Jangan menyiksa diri mu sendiri, kalo gak sanggup makan pedas!" ucap Elis dengan lembut.


Elis menyeka keringat di kening Daniel. "Seperti nya bulan madu kita harus berakhir di rumah sakit!" ejek Elis, dengan terkekeh.


"Maaf ya! Aku hanya tidak ingin lemah di mata mu karena tidak bisa makan pedas. Aku ingin terlihat kuat, gagah, suami yang dapat di andalkan, bertanggung jawab di mata mu!" cicit Daniel dengan raut wajah penuh sesal, tangan nya menggenggammm jemari Elis dan mengecup nya.


Entah apa yang Elis rasakan, hati nya seakan tersentuh mendengar perkataan Daniel. Sweet sekali, tapi sayang nya kamu malah membuat nya terbalik saat ini hihihi. Dasar Daniel, bisa juga kau bersikap bodohhh.


"Penyesalan mu sudah tidak ada guna nya, Daniel! Sekarang kau istirahat lah! Aku ke luar sebentar." Elis beranjak dari duduk nya, melepaskan jari nya dari genggamannn Daniel.


Daniel menggelengkan kepala nya, semakin erat menggenggammm jemari Elis.


"Ada yang harus aku beli Daniel! Kau tunggu lah di sini! Aku akan segera kembali!" bujuk Elis, dengan raut wajah memohon.


Daniel mengendurkan genggamannn tangan nya, membiarkan Elis pergi meninggalkan nya untuk sesaat.


"Dasar bodohhh, kenapa aku merasa sekarang aku jadi pria yang bodohhh di depan istri ku? Dasar Daniel payah!" sungut Daniel.


Dring dring, dring dring.


Dering telpon berbunyi dari hape Daniel.


...Calling...


...Papa...


"Iya pah! Ada apa?" tanya Daniel setelah menjawab panggilan telepon dari Devano dengan suara lemah.


[ "Heh bocah tengik, kau pasti terlalu lelah ya, hingga suara mu terdengar mati segan hidup pun tidak mau! Kalian pasti semalaman kan bertempur di atas ranjang? Apa sudah ada tanda tanda istri mu akan segera hamil hem?" ] tanya Devano dengan suara kekehan nya.


"Astaga pah, sekolah lagi aja dulu pah! Jangan menggunakan pribahasa, jika papa sendiri masih salah dalam mengucapkan nya!" ejek Daniel, menepuk jidat nya.


[ "Biar saja, suka suka papa... jadi bagaimana, benar kan tebakan papa, semalaman kau bermain dengan Elis? Jangan buat papa kecewa, Daniel!" ]


Daniel menjauhkan hape nya dari daun telinga nya, ia berbicara di depan hape yang ada di depan wajah nya dengan mengumpat sang papa.


"Astaga pah, bisa tidak... gak usah bahas soal ranjang! Jika papa ingin, pergi dan cari lah wanita yang bisa papa ajak bergelut! Aku sibuk membuat adonan, jangan mengganggu!"


Daniel langsung mengakhiri sambungan telepon nya, tanpa memberikan kesempatan untuk Devano bicara lagi.

__ADS_1


Daniel menatap ke arah pintu yang masih tertutup. "Kenapa Elis lama sekali! Dia bilang hanya pergi sebentar!"


Daniel kembali mengerutkan kening nya, ia tidak bisa lagi mendengar apa yang sedang Elis lakukan, sialll... pasti alat itu terjatuh saat dia memapah ku! Kenapa aku ceroboh sekali sih!


Daniel tergesa gesa beranjak dari ranjang rawat, ia bahkan mencabut jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan nya. Hingga darah terlihat ke luar dari bekas jarum infus di cabut.


Street.


Daniel hanya meringis, otak nya sudah tidak bisa lagi di ajak berfikir dengan jernih. Bayangan jika Elis akan membeli sesuatu yang bisa saja membuat nya gagal untuk memiliki keturunan, menari nari di atas kepala nya.


"Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi!" ucap Daniel dengan penuh penekanan.


Daniel melangkah dengan kaki yang berat untuk di ajak melangkah.


Ceklek.


Elis membola di depan pintu, dengan tangan kanan nya yang membawa kantong kresek berisikan buah.


"Daniel, apa yang kau lakukan? Astaga kau ini, gak inget apa kalo lagi sakit!"


Dengan langkah cepat, Elis menghampiri Daniel, memapah tubuh pria yang tubuh nya jauh lebih besar dan tinggi dari nya.


"Aku hanya ingin menyusul mu!" ucap Daniel.


"Jangan bodohhh Daniel! Sekarang kau harus berbaring! Jangan menyusahkan ku lagi! Gak tau apa tubuh kamu itu lebih berat dari ku, tinggi mu juga, gak kasian sama aku? Hem!" Elis membaringkan kembali Daniel di atas ranjaang rawat dengan bibir yang terus mengomel.


Grap.


"Kyaaa!" pekik Elis.


Daniel menarik tangan Elis, membuat wanita itu jatuh di atas dada bidang nya dengan satu tangan di bahu Daniel.


"Aku menyusahkan mu?" tanya Daniel dengan datar, hembusan nafas nya menyapa wajah Elis yang berada dekat dengan wajah nya.


"Iya, kau menyusahkan ku jika kau tidak mau menuruti ku! Sekarang, patuh lah, atau kau ingin aku membiarkan perawat wanita yang merawat mu?" ancam Elis, dengan menyeringai.


Daniel menatap tajam Elis, mau menguji ku, kita lihat. Apa kau benar benar membiarkan suami mu ini di rawat oleh perawat wanita! Jika kau tidak punya perasaan pada ku, kau tidak akan marah, tapi jika kau marah... Daniel menyeringai.


Elis menatap heran, penuh tanya dengan seringai yang di perlihatkan Daniel untuk nya.


"Kenapa? Apa aku salah bicara? Tidak kan?" Elis beranjak dari posisi nya, menjauhkan tubuh nya dari Daniel, ia menekan tombol darurat di atas kepala ranjang Daniel.


"Karena aku tidak ingin menyusahkan mu, aku tidak ingin membuat mu lelah karena harus mengurus ku selama di rumah sakit, aku tidak keberatan jika harus perawat yang merawat ku." ujar Daniel dengan santai.


Daniel menelisik wajah Elis yang tampak berfikir. Tidak langsung memberikan jawaban iya pada nya.


"Kenapa? Kau keberatan? Kan ini ide mu juga, memberikan aku pilihan untuk di rawat perawat rumah sakit! Mereka sudah pasti akan merawat ku dengan baik, aku juga pasti akan dengan cepat pulih!" tambah Daniel lagi, semakin mengompori Elis.


Daniel tersenyum puas, aku yakin... sebagai seorang istri, kau tidak akan menyerahkan tanggung jawab mu pada seorang perawat.

__ADS_1


Ceklek.


"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat yang masuk ke dalam ruang rawat.


"Ini sus, jarum infus nya tolong di pasang kembali." titah Elis, menunjuk pergelangan tangan Daniel.


"Baik Nona! Kenapa bisa lepas ini Tuan?" tanya suster dengan lembut, sembari tangan nya memasangkan kembali jarum infus di pergelangan tangan Daniel yang lain, tidak di tempat yang sama.


Elis duduk di kursi yang ada di dekat ranjang rawat, mengupas kulit jeruk yang tadi ia bi, bibir nya mengerucut tajam, dengan ekor mata yang menatap malas Daniel.


Kurang ajarrr nih Daniel, aku kan mengatakan nya karena kesal, masa iya aku akan membiarkan nya di sentuh perawat wanita, mana roti sobek nya sangat menggoda, tapi aku tidak bisa bilang tidak jika Daniel sendiri yang menginginkan nya. Tapi kan aku istri nya secara sah. Masa sih, sudah lah.


"Tidak sengaja terlepas, sus!" bohong Daniel.


"Buka mulut mu! Kau harus banyak makan! Biar cepat pulih, bisa menjaga ku lagi, kita bisa menyelesaikan nikah kon..."


Elis hampir keceplosan mengatakan nikah kontrak, jika saja Daniel tidak memberikan kode pada nya.


Daniel menatap tajam Elis, kepala nya menggeleng, dengan ekor mata yang melirik ke arah suster.


Elis yang menyadari kode yang di berikan Daniel, langsung mengerucutkan bibir nya.


"Tugas saya sudah selesai, Nona. Saya permisi dulu ya!" ucap suster.


"Tunggu suster, bisa tolong ambilkan saya minum!" pinta Daniel, dengan ekor mata melirik Elis.


Elis mengerutkan kening nya, menatap tajam Daniel dan suster secara bergantian.


"Emmm maaf Tuan, tapi kan ada Nona!" suster wanita muda itu nampak sungkan dan serba salah, untuk melakukan apa yang di minta Daniel, apa lagi saat ini ia juga mendapat tatapan hohor dari Elis. Wanita yang berdiri di depan nya, yang ia tahu adalah istri dari Daniel.


"Pergi aja sus, masih banyak pekerjaan mu yang lain kan!" Elis mengusir suster tanpa mau menatap nya, ia mengambilkan botol mineral yang ada di atas nakas dekat ranjang rawat.


"Nih minum! Tadi minta minum kan!" Elis menyodorkan botol mineral di depan Daniel dengan bibir mengerucut.


"Bagaimana cara nya aku minum, tutup nya saja belum kau buka!" ledek Daniel.


"Ihs! Tinggal buka aja gak bisa!" gerutu Elis, namun tangan nya membuka tutup botol dan menyodorkan nya kembali di depan Daniel.


"Bagaimana cara nya aku minum, sayang! Bantu aku!" Daniel memainkan alis nya naik turun.


Elis membuang nafas nya dengan kasar, sabar Elis, sabar.


Sreek.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2