Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
62. menggoda


__ADS_3

...💖💖...


"Itu pasti sakit kan!" ucap Daniel dengan berbisik di telinga Elis.


"Jangan menggoda ku!" pipi Elis merona.


"Selamat pagi Nona!" sapa wanita yang Elis sendiri gak kenal.


Daniel mendudukan diri nya di kursi kebesaran nya, dengan Elis yang berada di atas pangkuan nya.


"Selamat pagi juga. Anda siapa ya? Apa rekan bisnis suami saya?" tanya Elis dengan ramah, tapi tatapan nya menyelidik.


"Dia ini pengacara, yang menangani kasus Wiliam. Konsultan hukum di perusahaan papa." jelas Daniel dengan jemari nya yang bermain di ujung rambut Elis.


"Owwwh hebat ya, pasti sudah banyak kasus yang anda tangani!" puji Elis.


"Bukan hebat lagi Nona, tapi luar biasa." puji Kevin, dengan tatapan yang masih memuja Weny.


"Tidak juga, Kevin ini hanya melebih lebihkan saja!" bantah Weny dengan senyum getir nya.


'Andai saja, yang memberikan aku pujian itu adalah kamu, Daniel. Aku pasti akan sangat senang.' batin Weny.


"Ayo lah Wen... kau itu wanita hebat, pengacara wanita terhebat yang pernah aku temui. Tapi sejak dulu kau itu memang ahli dalam memecah permasalahan." puji Kevin.


"Kau bicara terus, kapan kita mulai membahas kasus Tuan Wiliam?" tegur Weny.


"Iya iya iya, kau dan Daniel. Sama nya, suka kerja. Tapi sekarang Daniel sudah punya penakluk nya, dan kau... penakluk mu ada di hadapan mu, Nona manis!" goda Kevin dengan kerlingan mata nya pada Weny.


Elis membuang nafas lega, melihat interaksi Weny dan Kevin. 'Aku rasa Kevin ini menyukai Nona Weny! Jadi untuk apa aku khawatir dengan kedekatan Weny dan Daniel?'


"Saya bukan siapa siapa Nona, masih ada yang lebih hebat dari saya." jelas Weny merendah.


"Apa aku tidak sebaik nya ke luar aja? Takut menggangu pembicaraan kalian bertiga." ujar Elis.


"Tidak perlu, kau di sini saja. Sekalian nanti pengacara Weny pasti akan mengajukan pertanyaan untuk mu!" ucap Daniel.


"Weny, nama yang bagus, cantik!" puji Elis lagi dengan tulus.


"Ah Nona bisa aja, jauh lebih cantik anda Nona. Bisa menggoyahkan keras nya si batu karang." ucap Weny dengan tatapan penuh arti pada Daniel.


"Apa kau mengerti maksud nya sayang?" tanya Elis dengan manja, menyandar kan kepala nya pada dada bidang Daniel. Jemari Elis memainkan dasi yang melingkar di kerah kemeja Daniel.


"Aduuuhh kalian ini, pasangan yang suka sekali membuat siapa saja yang melihat jadi iri!" keluh Kevin.

__ADS_1


"Minum ini!" Daniel menyerahkan secangkir kopi susu, dan meminumkan nya pada Elis.


"Si batu karang itu ya Daniel, Nona." terang Kevin, merasa jika Daniel tidak akan menjawab pertanyaan Elis.


Daniel meletakkan kembali cangkir kopi nya di atas meja.


Elis mengerutkan kening nya. 'Panggilan sayang Nona Weny untuk Daniel atau apa nih? Kok aku jadi gak nyaman gini ya?'


"Bukan apa apa kok Nona, gak usah di ambil pusing. Jadi kita lanjutkan saja ya untuk membahas lebih jauh kasus Tuan Wiliam." ujar Weny, kembali pada pembicaraan topik utama nya.


Ke empat orang yang ada di dalam ruang kerja Daniel pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius. Hingga tanpa sadar, waktu untuk makan siang pun tiba. Membuat ke empat nya harus mengakhiri obrolan mereka.


"Bro, udah masuk jam makan siang nih!" ucap Kevin setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.


"Ya udah, meeting saya akhiri ya! Saya tunggu kabar baik dari bu Weny. Untuk lebih jauh nya, kau bisa tanyakan langsung sama Kevin." terang Daniel.


"Apa kita bisa makan siang bersama?" pinta Weny dengan tatapan penuh harap pada Daniel.


"Emmm maksud Nona Weny, kita berempat makan siang bersama!" sanggah Kevin, saat mendapat sorot mata tajam dari Daniel.


"Maaf Nona Weny, kita berdua sudah ada janji lebih dulu dengan papa saya, gak enak kalo di batalin mendadak. Papa udah nunggu kita sayang!" tolak Elis dengan berat hati.


Dalam diam Daniel merasa puas dengan keputusan Elis. 'Anak pintar, tau saja jika aku akan menolak ajakan Weny.'


Elis menatap Daniel, menunggu reaksi apa yang akan di berikan Daniel.


Weny menatap punggung Daniel dengan tatapan sendu. 'Kenapa aku selalu kalah dengan nya? Aku pikir Daniel tidak akan pernah mendapat kan cinta nya, tapi ternyata aku salah. Bahkan mereka sudah menikah.'


"Hei, apa yang kau lamunkan? Mereka berdua paling suka menghabiskan waktu bersama, mungkin setelah jam istirahat kantor usai, mereka tidak akan kembali." ujar Kevin, memecah lamunan Weny.


"Kenapa? Bukan nya jam kantor masih harus sampai sore?" gumam Weny.


"Jam kantor berlaku hanya untuk karyawan, tidak untuk anak bos. Mereka berdua sama sama pewaris tunggal. Asal mengerjakan hal yang penting, yah seperti meeting yang memang tidak bisa mereka tinggali, mereka pasti akan kembali." Kevin merapihkan segala berkas yang masih ada di atas meja. Menumpuk nya menjadi satu.


"Boleh aku tanya pada mu, Kevin!"


"Apa? Jika ku bisa jawab, pasti akan aku jawab." ucap Kevin dengan hati hati, sebelum mengiyakan untuk menjawab.


"Apa mereka menikah atas dasar cinta? Apa cinta Daniel pada wanita itu terbalaskan?" tanya Weny dengan serius.


Kevin tersenyum penuh makna. "Masalah cinta itu adalah perasaan. Perasaan manusia itu tidak ada yang tau selain orang itu sendiri."


Weny mengerutkan kening nya, menatap kesal Kevin. "Maksud mu? Aku kan bertanya, apa perasaan Daniel pada wanita itu terbalas atau tidak! Kenapa kau malah mengajak ku bermain teka teki sih!"

__ADS_1


"Aku mau makan siang, ikut lah dengan ku! Aku yang akan mentraktir mu makan siang kali ini! Anggap saja aku lagi senang." Kevin berjalan mendahului Weny.


"Dasar pria gak jelas. Kau tau, kau dan Kevin itu sama sama menyebalkan. Pria tidak jelas!" gerutu Weny, mengikuti langkah kaki Kevin yang berjalan di depan nya.


"Pria tidak jelas, tapi kau menyukai nya!" ledek Kevin.


"Apa lah daya ku! Hati ku mentog pada Daniel!" keluh Weny.


Bugh.


Kevin menghentikan langkah kaki nya dan berbalik badan ke belakang, membuat Weny yang hanya menatap lantai langsung menubruk dada bidang Kevin.


"Akkkhhhh!" pekik Weny.


Tangan kekar Kevin lebih lincah, menopang punggung Weny dengan melingkarkan tangan nya pada pinggang Weny. Membuat posisi tubuh Weny menjadi kayang.


"Kau tidak apa apa kan?" tanya Kevin.


...----...


Sementara di tempat lain, Elis tidak bisa lagi mengendalikan rasa cemburu nya. Ia benar benar menunjukkan sikap tidak suka pada Daniel. Tidak suka jika ada wanita yang lebih perhatian, dan lebih mengenal Daniel melebihi diri nya sendiri.


"Turunkan aku, Daniel! Aku tidak suka di sentuh oleh mu! Dasar pria tebar pesona, kau sungguh membuat aku muak Daniel! Kau tidak jauh beda dengan Wiliam, benar benar menjengkelkan!" umpat Elis dengan kasal.


Elia terus saja memberontak saat ke dua nya memasuki lift, meminta Daniel untuk menurunkan nya.


"Apa sih sayang! Jangan seperti ini. Jika aku turunkan kau sekarang, goa mu pasti akan terasa nyeri saat berjalan." kekeh Daniel, Daniel tidak ingin menurunkan Elis dari gendongan nya.


Hingga pintu lift pun tertutup. Hanya ada Daniel dan Elis di dalam kotak besi, tapi Daniel sudah nyaman dengan menggendong Elis dengan ke dua lengan kekar nya.


"Biar saja sakit, nyeri, perih, aku yang rasa. Bukan kau! Jadi, apa perduli mu! Cepat turunkan aku!" rengek Elis, kedua kaki nya terus bergerak gerak.


"Astaga Elis, tenang lah sedikit!" pinta Daniel.


"Aku tidak akan tenang sebelum kau tu-- mmmppl!"


Bibir Daniel membungakam Elis yang terus mengoceh dengan bibir nya.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2