
...💖💖💖...
"Ayo lah sayang! Kau tidak akan menyesal jika menerima bantuan dari ku, justru akan berterima kasih pada ku!" ucap Daniel dengan yakin.
Hap.
"Kyaaaa!"
Tubuh Elis melayang, ia dalam sekejap berada dalam gendongan Daniel.
...----...
Ke dua nya kini berada di dalam mobil, menuju suatu tempat yang tidak lain adalah mall, meski cukup jauh dari villa untuk sampai ke mall.
"Memang apa sih yang kau cari, harus banget gitu ke mall? Gak ada tempat lain untuk mendapatkan barang yang kamu inginkan?" cecar Daniel, pasal nya Elis tidak kunjung mengatakan pada nya apa yang ingin ia beli.
"Kau ini bawel sekali ya! Kalo gak mau anter juga gak apa, aku bisa pergi sendiri untuk membeli nya!" cicit Elis dengan bibir mengerucut.
"Jangan bilang kau mau beli alat kontrasepsi, atau mau beli obat pencegah kehamilan!" tebak Daniel dengan tatapan tajam pada Elis.
Elis tertegun, menelan saliva nya dengan sulit, sialll... kenapa Daniel bisa tau apa yang ingin aku beli! Tapi gak mungkin juga aku bilang iya, aku harus bisa ngeles nih. Poko nya kalo udah nyampe di mall, aku harus bisa alihin perhatian Daniel, jangan sampe dia tau apa yang ingin aku beli.
"Eh malah bengong, bearti benar kan tebakan ku? Gak bisa ini mah, kita balik aja ke villa." Daniel mengurungkan niet nya untuk mengantar Elis pada tujuan nya.
Grap.
Elis mencengrammm pergelangan tangan Daniel, berkata dengan bohong meski harus terbata bata, karena Elis sendiri bukan tipikal anak yang suka bohong.
"Emm gak, gak bi- bisa gi- gitu! Si- siapa juga yang mau be- beli apa itu?" Elis tampak berfikir untuk menyebutkan kontrasepsi.
"Kontrasepsi! Obat pencegah kehamilan!" ucap Daniel datar, dengan menyingkirkan tangan Elis dari pergelangan tangan nya.
"I- iya itu, a- apa lah nama nya... gue gak ngerti maksud omongan lu, itu juga asing di telinga gue! Ki- kita tetep jadi ke mall. Gak tau apa gue pengen banget nonton film di bi- bioskop! Nah iya itu...gue pengen nonton film di bioskop."
Daniel menghembuskan nafas nya dengan kasar, semakin gue cegah, yang ada Elis semakin membenci gue, yang ada dia makin jauh sama gue, bisa gawat kalo dia berusaha buat dapetin benda itu dari orang lain, mending saat ini gue ikutin mau nya Elis aja lah dulu.
"Oke, kita ke mall. Tapi awas ya, kalo aku sampe tau kamu mau beli itu alat kontrasepsiii, abis kamu sama aku! Gak bakal kamu aku izinkan ke luar rumah sampe kamu benar benar mengandung benihhh ku!" ucap Daniel dengan datar, tatapan nya pun tampak menyeramkan di mata Elis.
Elis menelan saliva nya dengan sulit, astagaaa yang mengajak nya nikah kontrak itu kan aku, harus nya kendali permainan ada di tangan ku, kenapa jadi aku takut sama dia! Gak bisa di biarin ini mah!
Elis membenarkan posisi duduk nya menjadi tegakkk, ke dua tangan nya menyilang di depan dada.
"Heh Daniel! Jangan lupa ya, aku pihak pertama yang mengajak mu untuk menikah secara kontrak dengan ku! Dan kau, juga sudah menandatangani surat perjanjian di antar kita, jadi gak ada alasan buat lo gak patuh sama apa yang udah gue ucapin, emm pasti tertuang dalam surat perjanjian itu! Ngerti kan sekarang, gue bos nya!" ucap Elis dengan penuh percaya diri.
"Oke, kamu itu bos nya!" Daniel mengiyakan apa yang di katakan Elis tanpa membantah.
__ADS_1
Elis menatap dengan sinis Daniel dengan ekor mata nya, dasar Daniel, baru nyaho kan lo, tau gini... gue ancem aja dari tadi.
Daniel melirik Elis yang tersenyum dengan penuh kemenangan, sekarang lo bisa menang sayang. Tapi tidak untuk selanjut nya, aku yang akan membuat mu takluk dengan cinta ku! Akan ku buat kau tidak bisa jauh dari ku.
Elis berjalan lebih dulu, ia bahkan masih kesal dengan Daniel, dan tidak ingin di gandeng.
Pluk.
Daniel mengelusss kepala Elis dan turun ke punggung, ia juga menyelipkan rambut Elis ke belakang daun telinga nya.
Elis menepis tangan Daniel. "Apa yang kau lakukan, Daniel! Mau kau perlihatkan pada siapa kemesraan kita ini?"
Tanpa berniat menjawab apa yang di ucapkan Elis, Daniel memilih mengalihkan perhatian nya. Menghindari kecurigaan yang bisa saja muncul pada Elis.
"Kau jalan lah dulu... ada barang ku yang tertinggal di mobil." ucap Daniel.
"Dasar pelupa! Mau bilang gitu aja sampe nyentuh nyentuh rambut gue!" sungut Elis dengan berjalan santai.
Elis berjalan meninggalkan basman, tempat mobil di parkir Daniel. Berjalan dengan bersungut menuju pintu masuk mall.
"Gilaaa, aku kan sudah berendam lama di air hangat, kenapa masih terasa perih! Jika saja aku tidak ingat untuk membeli obat itu, mana mungkin aku mau jalan dengan keadaan yang seperti ini!"
Sejuk nya pendingin ruang yang ada di mall, membuat sedikit demi sedikit kekesalan di hati Elis memudar. Tujuan nya semakin dekat untuk mendapat benda yang bisa membawa nya pada keberuntungan.
Elis menoleh ke belakang, memastikan tidak ada Daniel di dekat nya.
"Selamat siang kaka, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang apoteker wanita muda, yang berdiri di depan Elis dengan etalase sebagai penghalang di antara ke dua nya.
"Mba, aku mau cari alat kontrasepsi, buat pencegah kehamilan." ucap Elis dengan suara pelan.
"Tunggu sebentar ya ka, biar saya carikan obat nya." ucap apoteker, ia berjalan ke belakang, memasuki pintu yang ada di sana.
Elis menunggu dengan gelisah, ia meremasss ke dua tangan nya sendiri, menoleh kiri dan kanan serta ke arah pintu masuk menuju apotik yang ia masuki.
"Kenapa si mbak itu lama sekali sih! Gimana kalo Daniel sampe tau, bisa abis aku... tapi kenapa juga aku harus takut! Ingat Elis, di sini yang bos nya itu ya gue!" Elis membenarkan sendiri perkataan nya.
"Maaf ya ka, agak lama." ucap apoteker, ia kembali dengan obat di tangan nya.
"Iya mbak, bisa tolong cepat mbak! Aku gak punya waktu banyak nih!" ucap Elis dengan tergesa gesa.
"Mau saya jelaskan cara pakai nya, atau mau di tulis di kemasan obat nya ka?" tawar sang apoteker dengan ramah.
"Di tulis aja deh, biar cepat... semua nya jadi berapa mbak?" tanya Elis lagi dengan mengeluarkan dompet dari dalam tas selempang nya.
"Semua nya gratis ka, kami sedang ada program keluarga berencana, jadi setiap pembelian kontrasepsi akan di gratis kan!"
__ADS_1
"Ooohhh gitu ya! Makasih deh kalo gitu, ini buat mbak nya. Makasih ya!" Elis menyerahkan uang ratusan ribu pada si apoteker.
"Ini buat saya, ka?" tanya sang apoteker.
"Iya!" jawab Elis dengan berlalu, ke luar meninggalkan apotik dengan perasaan senang.
Elis mengedarkan pandangan nya, kini tatapan nya tertuju pada sebuah otlet penjual minuman.
Tanpa pikir panjang lagi, Elis langsung melangkah ke otlet penjual minuman.
Elis mendudukan diri nya di sebuah kursi kayu, menoleh ke kiri dan kanan.
Glek glek glek.
Tanpa menaruh rasa curiga pada Daniel yang belum kunjung menghampiri nya, dan apoteker yang memberikan nya dua bungkus obat yang berbeda. Elis menelan obat yang baru saja ia dapatkan dari apotik. Obat yang ia pikir adalah obat yang ia inginkan dan ia butuhkan.
Elis beranjak dari duduk nya, mengayunkan langkah kaki nya menuju sebuah restoran korea.
Elis menikmati makanan yang ia pesan, memakan nya dengan lahap. Tatapan nya kini mengarah pada benda pipih milik nya yang ada di atas meja.
"Enak juga, tapi kemana Daniel ya? Apa Daniel gak tau aku ada di sini? Apa aku perlu menghubungi nya ya?"
Benda pipih yang sudah ada di genggamannn tangan nya pun ia letakkan kembali di atas meja. Elis mengurungkan niat nya untuk menghubungi Daniel.
"Biar saja lah, biar dia cari aku aja sendiri! Mustahil dia gak bisa cari aku!" gumam Elis.
Daniel yang berada tidak jauh dari Elis berada hanya bisa mengelusss dada nya yang bidang, dengan seringai di bibir nya.
"Kau itu pintar Elis, tapi aku jauh lebih pintar." ucap Daniel.
Cup.
Daniel mengecup pucuk kepala Elis yang tengah menikmati makanan nya, baru lah Daniel duduk di kursi yang ada di sisi Elis.
"Enak makanan nya?" tanya Daniel.
"Tentu saja, jika kau ingin, pesan aja." ucap Elis.
Sreek.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...